Bab 6
"Kamu mau apa," tanyaku dan seperti biasa dia menyeringai. "Kamu," katanya dan aku memutar bola mata.
"Mimpi aja," kataku sambil mengambil tasku. Aku mau nungguin Luka di tempat lain, pikirku sambil berdiri mau pergi dan dia megang tanganku.
"Nikmatin tontonan kamar mandi? Gue bisa bikin lo menjerit kayak dia, tau," katanya dengan seringai khasnya.
Aku buru-buru menarik tangan dari dia.
"Sana bikin emak lo menjerit," kataku dan tatapannya jadi gelap.
Dia ngangkat tangan mau mukul dan aku merem, nungguin rasa sakitnya. Nggak ngerasain apa-apa setelah beberapa saat, aku buka mata dan ngeliat dia udah pergi.
Aku ngehela napas lega dan pas banget Luka masuk kelas.
"Nunggu lama ya," tanyanya dan aku geleng-geleng kepala.
"Nggak kok, aku asik baca buku," kataku dan dia senyum.
"Boleh liat bukunya?" katanya dan aku ngangguk sambil ngeluarin bukunya dan nunjukkin ke dia.
"Master Damien budak seks," dia baca sambil naikin alisnya.
"Ini cerita dewasa," katanya dan aku ngangguk.
Ini cerita tentang cewek yang dijual sama bapaknya ke master kejam yang bunuh orang tanpa mikir dua kali.
Dia bikin dia jadi budak seks dan bikin dia ngerasain banyak penderitaan.
Di tengah jalan, dia nyelametin nyawanya dengan nahan panah yang harusnya buat dia.
Dari situ, sikapnya berubah ke dia dan dia mulai perlakuin dia dengan baik.
"Aku masih baca pas Jaden motong," kataku dan dia senyum.
"Woah!! Pasti seru banget nih, dari ringkasanmu, aku juga mau baca," katanya.
"Nanti aku kasih kalau udah selesai."
"Kamu bilang Jaden motong? Dia mau apa?" tanyanya dan aku menghela napas.
"Aku liat dia lagi *ena-ena* sama cewek di kamar mandi setelah kita keluar dari taman, jadi dia dateng nanya aku nikmatin tontonannya, dan katanya dia bakal bikin aku menjerit kayak cewek itu menjerit," aku ngehela napas, ngejelasin ke dia.
"Maksudnya kamu liat dia lagi ngelakuinnya?" tanyanya dan aku ngangguk.
"Jaden gila," Luka bergumam dan aku ketawa.
"Lebih gila lagi kalau mikir aku mau ada urusan sama *community dick*," kataku kesal.
"Ayo," katanya dan kita jalan keluar kelas bareng, mau pulang.
*
"Mama!!!" panggilku pas masuk rumah. Aku masuk ruang tamu dan nggak ada siapa-siapa.
Mungkin lagi di dapur, pikirku dan masuk ke dapur dan ngeliat dia lagi ngaduk sesuatu di panci.
Baunya nyebar ke hidungku dan aku ngehirupnya. Aku senyum meluk pinggangnya dan naruh kepala di lehernya.
"Anak mama udah pulang," katanya dan aku ngangguk sambil senyum lebar.
"Gimana sekolah hari ini?" tanyanya dan aku menghela napas, inget hukuman yang bakal aku mulai besok dan aku lupa cuci toilet tadi pas nungguin Luka.
Aku harus lakuin itu pas resesi besok dan ruang ganti, aku bakal ke sekolah kepagian biar kelar sebelum ada orang dateng.
"Sekolah seru kok ma," jawabku, nggak mau cerita apa yang terjadi karena dia bakal ngomong ke ayah dan mereka bakal ngebolehin aku keluar sekolah.
Hal terakhir yang aku mau sekarang adalah pindah sekolah dan aku nggak mau gara-gara Jayden harus pindah sekolah, apalagi aku suka sekolahku.
"Oke sayang, sana mandi, tidur siang, nanti mama suruh Meri buat manggil kamu makan malam kalau mama udah selesai," katanya dan aku senyum.
"Ayah mana?" tanyaku.
"Pergi ke pack house buat rapat," jawabnya dan aku ngangguk, terus pergi masuk kamar.
Aku masuk kamar dan ngelempar tas sekolah ke kasur, buka baju, dan masuk ke kamar mandi buat mandi.
Ngerasa bathtub penuh sama air dan sabun, aku masuk ke dalamnya dan ngehela napas lega karena airnya ngelus kulitku dan nenangin aku. Aku ngehembus napas dan santai di bak mandi, nikmatin rasanya.
Setelah beberapa saat, aku berdiri dan bilas badan sebelum bungkus badan pake handuk. Aku keluar dari kamar mandi dan buka lemari, ngambil celana pendek jins gelap dan baju atas kuning.
Aku taro di kasur dan ngambil *body cream* dari meja rias.
Mencet banyak ke tangan, aku gosok-gosok tangan, olesin ke badan sambil mijet dan mastiin kena semua bagian badan.
Aku ngambil *undies* merah yang cocok, make, dan masukin celana pendek lewat kaki.
Aku pake baju atas kuning yang nunjukin pusarku.
Ngegerai rambut dan ngiket jadi cepol, aku tiduran di kasur dan pelan-pelan ketiduran.
*
*
Aku turun tangga setelah dibangunin Meri bilang makan udah siap dan mereka udah nungguin aku.
Masuk ruang makan, aku nyapa ayah yang udah balik dari rapat. "Selamat malam ayah," sapa ku dan dia senyum.
"Gimana kabarmu sayang?" tanyanya dan aku salting. Aku suka kalau orang tua manggil aku sayang. Maksudnya, mereka manggil aku banyak nama panggilan, tapi aku paling suka dipanggil sayang.
Ya, aku anak perempuan satu-satunya dan anak terakhir di keluarga, aku punya dua kakak laki-laki yang lagi kuliah di luar negeri; Mudi dan Jeri.
"Dengan Jeri jadi yang pertama dan Mudi kakak laki-laki langsungku. Jeri, kakakku yang baik hati yang sayang banget sama aku, beda sama Mudi yang selalu cari ribut sama aku dan nyebelin banget.
Kalau ada aku, Mudi di rumah selalu kayak kucing dan tikus. Tapi dia sayang kok.
Semua keluargaku sayang dan aku bersyukur sama dewi bulan udah ngasih keluarga yang hebat kayak gini.
Aku senyum waktu mama nambahin daging ke makananku. Kalian ngerti kan maksudku? Hehehe!! Gabung sama aku ya, makan makanan enak buatan mama."