Bab 23
***POV JAYDEN***
Jeik sama Jordan udah ngasih tau gue soal ulang tahun Charlote, awalnya gue males banget dateng. Tapi pas mereka nyebutin Roda bakal ada di sana soalnya temenan sama kakaknya Charlote, yaudah, nggak ada pilihan lain selain ngikut mereka.
Gue udah nggak gangguin Roda lagi, tapi bukan berarti gue nggak merhatiin dia dari jauh. Gue sadar, gue beneran tertarik sama dia dan nggak mau maksa dia lagi.
Kita parkir di tempat acaranya, masuk lewat pintu belakang biar nggak desek-desekan sama badan yang keringetan.
Musik keras banget dari speaker. Kita nyamperin meja tempat Roda sama yang lain duduk. Dia lagi celingak-celinguk, nyeruput dari gelasnya.
Dia cantik banget pake gaun merah, make up-nya juga tipis. Roda tuh nggak perlu usaha keras buat keliatan beda, sama kayak cewek-cewek lain. Dia tuh cantik banget, kadang gue mikir dia bukan manusia.
Lisa juga duduk di sana pake gaun hitam tanpa tali yang bikin tt-nya mau keluar, hampir copot dari gaunnya. Dasar jal*ng nggak tau malu.
"Main game, yuk, guys!" teriak Charlote, semua setuju kecuali Roda yang nolak sambil melotot ke arah gue.
Gue cuma naikin alis ke arah dia, dia buang muka sambil senyum ke cowoknya yang lagi remes-remes tangannya.
Lisa ribut sama dia, akhirnya dia setuju main game sama kita setelah dibujuk sama temennya.
"Udah siap semua?" teriak Charlote. "Gas," kata Jeik. Dia cekikikan terus muter botolnya, dan nunjuk Lisa.
"Oke, Lisa. Jujur atau tantangan?" tanyanya, Lisa nyengir. "Tantangan, lah. Jujur nggak asik buat gue," dia senyum, terus mereka semua ketawa.
"Gue tantang lo buat narik baju cowok," tantang Charlote.
Lisa berdiri, nyamperin gue, terus narik baju hitam gue, nunjukin otot-otot gue yang keliatan dari kaos putih.
"Wow!!" gumam Charlote sambil ngejilat bibirnya. "Charlote, lo bakal nemuin jodoh lo malem ini, jadi berenti ngiler dan buang mata lo dari Jayden," canda Jordan, terus kita semua ketawa.
"Pergi sana," marah Charlote. "Santai aja, sayang. Semoga jodoh lo se-hot dia," Jordan ikutan ngejek Charlote.
"Terserah," dia mengangkat bahu. "Jayden, giliran lo muter botol," katanya, gue pegang botolnya, muter, dan itu nunjuk Roda. Gue ketawa kecil liat ekspresi kagetnya.
"Jujur atau tantangan?" tanya gue, suara gue dibikin dingin biar bikin dia merinding. Dia gemeteran dan nelen ludah.
"Jujur," jawabnya dengan percaya diri. "Siapa dan gimana lo kehilangan ciuman pertama lo?" gue nyengir bikin dia melotot ke gue.
Dia ngeliat cowoknya yang sekarang keliatan marah banget, kayak mau ngapa-ngapain kalo dibiarin buat berantem sama gue. "Gue nggak mau cerita itu," gumamnya sambil nelen wine.
"Oke, Roda, giliran lo muter botol," panggil Charlote, dia ngangguk, muter botolnya, dan itu nunjuk Jordan. "Jujur atau tantangan?" dia nanya sambil ngeliat Jordan.
"Tantangan," jawab Jordan sambil senyum tipis. Dia ngeliat gue, ngelirik Lisa, terus senyum tipis muncul di wajahnya.
"Gue tantang lo buat ciuman lima menit sama Lisa," dia ngelempar bom, dan Lisa langsung naik darah.
"Nggak lucu, Jordan, lo nggak bakal lakuin itu," teriak Lisa, saat Jordan mendekat.
"Emang kenapa nggak boleh?" tanya Jordan sambil narik dia ke dirinya, terus bibirnya nempel sama bibir Lisa.
Gue ketawa kecil dan nyengir ke cewek yang bingung, yang mungkin mikir gue bakal kena imbas dari tantangannya. Apa dia mikir gue punya hubungan lain selain s*ks sama Lisa?
Dia nelen minumannya dengan gugup saat Lisa ngasih dia tatapan mematikan.
"Giliran lo, Jordan," kata Charlote. Jordan muter botolnya dan itu nunjuk Lisa. "Gue tantang lo buat ngasih Luka 'hand job'."
"Apaan?!!" Roda nyembur minuman, dan Lisa cekikikan, berdiri buat ngejalanin tantangannya. Tentu aja, dia nggak bakal nolak karena dia mau bikin Roda sedih.
Mata Luka membelalak saat Lisa mendekat.
"Permisi, gue boleh minum?" tanyanya, Charlote ketawa. Tentu aja nggak, minuman cuma buat orang yang ditantang. Karena Lisa nggak mau nolak tantangannya, lo harus nurut.
Dia nelen ludah dan natap Roda yang sekarang lagi minum wine banyak-banyak.
Lisa membungkuk, buka celananya, dan ngeluarin 'baling-baling'nya. Nyengir ke Roda, dan bukannya 'hand job', dia malah ngubur wajahnya di sana.
Roda membanting tangannya ke meja dan berdiri dengan marah, menghentak-hentakkan kaki keluar dari rumah dengan botol wine di tangannya.
Lisa masih 'ngurus' Luka yang sekarang matanya merem mungkin karena malu atau mungkin karena nikmat. Siapa tau.
Gue pamit dan keluar rumah buat nyari Roda.
***POV RHODA***
Game bodoh apa itu. Gimana bisa jal*ng itu mikir buat ngelakuin itu ke cowok gue. Dan Luka. Gue kecewa banget sama dia. Apa dia nggak bisa nolak omong kosong itu?
Gue tau dia nggak bisa, tapi demi apa pun, ini kan game, apa dia nggak coba buat cari cara nolak game bodoh itu. Malah dia biarin mulut bodoh dia ada di 'burung'nya.
Gue nelen sisa wine di botol dan ngelempar botol sialan itu, sempoyongan keluar dari halaman ke jalanan yang dingin.
Gue sempoyongan maju nggak bisa liat jelas dan kaki gue, berat banget buat diangkat.
Gue coba jalan lagi tapi nggak bisa, gue duduk di lantai, coba buat tetep buka mata gue yang mau merem.
"Lo ngapain, Roda?" gue denger suara yang nggak asing di belakang gue dan noleh ke arahnya.
"Lo mau apa? Ini semua salah lo, Lo nyuruh dia ngelakuin itu ke Luka, kan?" gue teriak sambil nunjuk dia dengan jari gue yang lemah, air mata ngalir di pipi gue, jatuh ke dada gue.
"Roda, gue nggak ngelakuin hal kayak gitu," jawabnya mencoba narik gue berdiri. "Pergi sana!" gue teriak sambil mukul tangannya dengan lemah.
"Lo mabuk, Roda, ayo gue anterin lo pulang buat istirahat," katanya sambil narik gue, dan pas gue coba nolak, dia ngangkat gue ke bahunya dan jalan ke arah mobilnya.
"Turunin gue, lo binatang nggak punya hati!" gue teriak sambil mukul punggungnya dengan marah. Dia nggak peduli sama omelan gue dan buka pintu mobil, naruh gue di kursi penumpang dan masang sabuk pengaman.
"Gue benci lo!!!!" gue teriak, tapi bahkan nggak bisa ngomong jelas sebelum gue pingsan.