Bab 47
Gue nggak sabar nunggu resesi, biar bisa ketemu sama pacar gue, Luka. Dia nelpon gue tadi, tapi gue nggak ngerasa apa-apa, kayak yang selalu Rose bilang. Semuanya sama aja kayak biasanya.
"Rose, gimana perasaan lo ke pacar lo?" Gue nggak bisa nggak nanya lagi ke Rose.
"Lo bakal bisa Cium ikatan kuat dari pacar lo kalau lo makin deket sama dia," kata dia, dan gue ngangguk.
Gue belum ketemu Luka, jadi gue tebak gue bakal ngerasain dia pas resesi.
Pak guru masuk, dan kita semua langsung fokus.
Bel resesi bunyi, dan Rein langsung loncat. "Pacar!!!!" Dia teriak, dan gue ketawa.
"Ayo Rose!!!" Gue teriak, dan dia ketawa. "Santai, kita bakal sampai kantin, mau jalan atau lari."
Duh!!! Ayo lari, lebih cepet sampai daripada jalan," Gue narik tangannya, lari, dan menuju kantin.
"Luka!" Gue teriak, nabrak dia, tapi langsung mundur.
Gue nggak ngerasa apa-apa, nggak ada percikan, nggak ada ikatan, nggak ada koneksi apa pun sama dia. Lutut gue lemes, dan gue pelan-pelan jatuh, semuanya jadi gelap.
**** SUDUT PANDANG LUCA****
Gue berdiri kaget, badan gue bergetar. Gue nggak mau percaya kalau Roda bukan Pacar gue. Seluruh dunia gue hancur di kaki gue.
Roda pingsan pas dia sadar nggak ada ikatan pacar di antara kita. Gue bukan pacarnya, dan setelah bertahun-tahun, cinta kita bakal berakhir gitu aja?.
Itu nggak bakal terjadi. Mungkin aja, kita masih bisa ngerasain ikatannya. Mungkin aja ikatannya belum kuat. Gue nggak mau mikir dia bukan pacar gue.
Gue natap dia yang lagi terbaring di UKS, mata merem, dan infus nempel di tangannya. Rose duduk di sampingnya, megangin tangan dia yang lain. Satu air mata jatuh dari mata gue.
"Luka, lo harus tenang," kata Maks sambil megang bahu gue. "Lo nggak nyuruh gue tenang, kan?" pacar gue selama 9 tahun bukan pacar gue, dan lo di sini ceramahin gue tentang ketenangan," Gue berteriak.
Hati gue panas, dan serigala gue, Lucious, berduka. Ini nggak bisa dipercaya, dan gue nggak mau percaya ini.
"Dewi Bulan nggak mungkin sekejam itu misahin kita berdua. Ini nggak adil dan nggak benar," Gue teriak sambil air mata jatuh di mata gue.
Gue nggak kuat nahan sakitnya, dan ngeliat dia terbaring tak berdaya di ranjang ini bikin gue gila.
Gue berdiri dan jalan ke arah pintu, buka pintunya, Maks manggil nama gue, dan gue noleh, ngangkat alis.
"Dia udah bangun," kata dia, dan gue ngelirik Roda yang lagi ngeliatin langit-langit, air mata ngalir di matanya. Gue nggak mau ngeliat dia kayak gini, gue nggak jamin diri gue kuat buat dia, padahal yang gue mau cuma nyemplungin diri ke alkohol.
Gue natap dia sebentar dan keluar dari ruangan, nutup pintu di belakang gue. Gue langsung ke garasi, nggak peduli sama tatapan siswa lain, gue masuk mobil dan langsung ngebut.
Gue masuk ke bar anggur dan jalan ke depan bar, nyungsep di kursi, dan satu air mata jatuh di pipi gue, lalu yang lain sampai basah semua.
"Segelas White Russian," kata gue ke bartender, dan dia ngangguk dan langsung bawa minuman itu.
Gue minum habis dan ngasih gelasnya ke dia, "Lagi.". Gue nggak peduli sama tatapan orang-orang yang jelas-jelas heran kenapa anak SMA ada di bar pas jam sekolah, pake seragam pula.
Nggak ada yang ganggu gue, gue nyemplungin diri ke vodka. Gue cuma mau mabuk dan mungkin mati, karena hidup tanpa Roda, gue nggak yakin bisa.
Kita udah ngelewatin banyak hal, dan nggak bakal pisah sekarang cuma karena dia bukan pacar gue. Gue nggak bakal terima itu, nggak pas gue udah berharap dia jadi milik gue.
Nggak setelah bertahun-tahun kita habiskan bersama, orang lain bakal muncul dari mana buat ngakuin dia. Itu cuma bakal terjadi setelah gue mati.
Gue mesen alkohol lagi sampai badan gue nggak kuat lagi. Gue berdiri sempoyongan, bayar bartendernya dan keluar dari bar anggur.
SUDUT PANDANG RHODA
Gue menyipitkan mata lemah saat ngeliat sekeliling ruangan putih. Kayaknya rumah sakit," Gue mikir saat sebuah suara manggil nama gue. "Roda, lo udah bangun!!! Maks, cepetan panggil perawat," kata Rose, dan Maks langsung lari keluar.
Gue coba buat duduk, pas sakit kepala gue muncul. Gue mengerang sambil megang kepala gue. "Rose, gue kenapa?" Gue nanya sambil dia bantuin gue duduk.
"Lo pingsan di kantin," jawab dia, dan seketika, gue inget gue udah lari secepatnya ke kantin buat ketemu pacar gue, cuma buat tau dia bukan pacar gue.
"Luka mana?" Gue nanya sambil ngeliatin sekeliling ruangan, tapi nggak ada tanda-tanda dia. "Dia tadi di sini, dia baru aja pergi nenangin diri," kata dia, dan gue menghela napas.
Luka pasti hancur banget setelah tau kita sebenernya bukan pacar, kayak yang kita kira.
"Rose, Luka bukan pacar gue!!!" Gue meledak sambil nangis, Rose dateng duduk di samping gue. "Rose, selama 9 tahun kita bersama, saling mencintai, dan mikir kita bakal berakhir bersama."
"Dari kecil gue udah mikir gitu, dan sekarang pas gue udah 18 tahun, kita sebenernya bukan pacar, kayak yang kita kira, Rose," Gue tersedu, dan Rose meluk gue erat.
"Nggak apa-apa, semuanya bakal baik-baik aja," kata dia sambil nepuk punggung gue.
"Nggak ada yang bakal baik-baik aja, Rose, sama sekali nggak ada. Coba kasih tau gue gimana semuanya bakal baik-baik aja pas Luka bukan pacar gue?."
"Gimana semuanya bakal baik-baik aja pas gue bakal dijodohin sama orang asing yang bahkan gue nggak kenal? Kasih tau gue, Rose!!!! Kasih tau gue...." Gue nangis, tersedu. Rose menghela napas, meluk gue erat saat gue nangis sejadi-jadinya.
Perawatnya segera balik lagi sama Maks, dan dia bilang dia mau nyuntik gue biar gue bisa istirahat lebih lama.
Gue udah kecapekan nangis, jadi gue biarin dia ngelakuin apa aja yang dia mau ke gue, selama itu bisa ngilangin sakit gue.