Bab 48
** SUDUT PANDANG JAYDEN**
Aku masuk ke halaman sekolah dengan perasaan agak aneh. "Apa yang terjadi padaku," pikirku saat aku merasakan kekuatan menyeretku ke UKS sekolah.
Aku nggak ngerti kenapa aku serius menuju ke UKS, padahal aku nggak sakit, juga nggak ada orang sakit di sana.
Aku sampai di pintu, dan kekuatannya jadi jauh lebih berat sampai aku harus berhenti karena hampir kejedot pintu.
"Bro!!!! Bro!!!! Bro!!!" Japher, serigalakuku, terus teriak dan menggeram. "Apaan sih, Japher?" Aku mikir, ngomong apa sih Japher? Kita kan belum punya pasangan, inget?
"Duh!!! Sekarang udah ada, pasangan kita ada di dalem sana," dia berseru riang, dan aku mengerutkan kening.
Apa mungkin pasanganku beneran ada di sana? Apa itu sebabnya aku ngerasa ada kekuatan yang narik aku ke sini? Kalo pasanganku beneran di sana, nggak tau deh dia kayak gimana. Mungkin secantik Roda, atau sejelek Lisa.
"Cuma ada satu cara buat tau, bego, yaitu masuk ke dalem," dia ngomong dengan nada serak, dan aku menghela napas, nelen ludah yang udah kering.
Aku dorong pintunya dan masuk ke ruangan. Mataku langsung merem karena aku jalan nggak liat; mungkin ke arah pasanganku. Aku berhenti pas kekuatannya berhenti narik aku, terus narik napas dalem-dalem sebelum buka mata.
What the fuck!!!! Aku menjerit kaget liat siapa pasanganku sebenernya. Rebahan di kasur dengan infus nempel di tangannya, dia ngorok pelan. Bekas air mata kering keliatan di mukanya.
"Roda pasanganku?" "Iya, bego, apa ada orang lain di ruangan ini?" Japher ngomong serak, dan mataku langsung bersinar.
Rasanya pengen meluk dia dan nyiumin seluruh mukanya, tapi itu nggak bakal terjadi selama dia masih benci aku.
Aku nggak bisa lebih bahagia lagi pas aku jalan mendekat ke kasur tempat dia rebahan dan duduk di atasnya. Aku pegang tangan kecilnya dan ngelus pipinya.
Aku ngerasa beda setiap kali aku deket cewek ini. Sesuatu yang belum pernah aku rasain atau alamin sebelumnya. Sesuatu yang lebih dari sekadar S3x.
Aku udah sama banyak cewek dan anak cewek, tapi yang aku rasain buat cewek yang lagi rebahan di sini, di hadapanku, lebih dari cuma pengen melakukan hubungan badan sama dia.
Mungkin aku ngerasa gitu selama ini karena dia pasanganku. Dewi bulan akhirnya mutusin buat memberkati aku dengan dia, dan sekarang dia akhirnya jadi milikku, aku bakal ngeseks sama dia sepenuh hati.
Waktu dia bilang ke aku buat berhenti ngejar dia, bahwa apa pun yang aku lakuin, dia cuma bakal jadi pasangan Luka. Hahaha!! Aku ngerasa diberkati dewi bulan.
Pintunya kebuka dan Luka masuk. Dia ngeliat sekeliling ruangan dan matanya tertuju ke aku. "Kamu mau apa dan ngapain kamu sama pacar aku?" dia nanya, dan aku ketawa.
"Kamu bilang pacar? Hapus kata-kata itu dari mulutmu. Hari ini harus jadi hari terakhir kamu nyebut pasangan aku sebagai pacar kamu, karena kalo kamu ngomong gitu, aku nggak keberatan buat motong lidahmu dan ngasih makan ke kamu."
Huh!!! Kamu ngomong apa sih? Roda pasanganmu? Dia nanya, dan aku memutar mata.
"Apa ada alasan lain kenapa aku di sini dan apa yang narik aku ke tempat ini, tentu saja ikatan pasangan, jadi kalo kamu bisa permisi, aku pengen berduaan sama pasanganku," aku menjerit, dan dia berdiri di sana dengan tatapan tertuju ke pasanganku.
"Nggak, dia nggak bisa jadi pasanganmu, dia bisa jadi pasangan siapa aja, dan aku terima itu, tapi dia jadi pasanganmu adalah sesuatu yang nggak bakal aku terima, jadi dia bukan pasanganmu."
"Mungkin kamu cuma denger dari murid-murid kalo aku bukan pasangannya, terus kamu langsung lari ke sini buat ngaku-ngaku dia pas kamu tau banget dia benci kamu, jadi apa yang bikin kamu mikir dia bakal nerima kamu, meskipun kamu beneran pasangannya?" dia ngomong sambil natap aku tajam.
Kemarahan meluap dalam diriku saat dia natap pasanganku. "Kalo matamu ngarah ke dia lagi, aku bakal bunuh kamu dan bakar tubuhmu jadi abu," aku mengaum dengan nada Alfa-ku, dan dia mundur ketakutan, keluar dari ruangan pas Rose masuk sama pacarnya.
"Kamu ngapain di sini!!??" Rose nanya sambil natap aku tajam? "Maksudnya apa sih? Kamu nanya aku ngapain di sini? Padahal pasanganku lagi rebahan di kasur ini entah karena apa," aku menjerit, dan matanya melebar.
Apa!!!!!!? Gimana bisa? Dia nggak bisa jadi pasanganmu, itu nggak mungkin; Kamu bukan pasangannya, jadi keluar dari ruangan ini," dia teriak, dan aku merasa geli.
"Hahahaha, kamu lumayan lucu, Rose. Apa kamu mikir aku bakal ke sini buat ngaku-ngaku dia yang bukan pasanganku? Apa aku pernah ngelakuin itu sebelumnya, jadi kenapa aku ngelakuin itu hari ini? Itu karena ikatan pasangan yang narik aku ke sini, jadi makin cepet kalian semua percaya, makin bagus buat kalian," aku bilang, dan matanya makin melebar.
"Ya Tuhan!!! Gimana Roda nerima berita ini? Ini beneran gila," dia bergumam, dan aku memutar mata.
"Itu bukan urusanku, yang aku tau adalah, setelah kabur dari aku, dia akhirnya kejebak dan kali ini, aku nggak bakal ngelepasin dia, jadi mending dia terima aja."
"Rose" ada apa sih? Aku denger suara kecil dari belakang, dan aku tersenyum saat aku berbalik ke arahnya.
"Kamu udah bangun, sayang," aku bilang sambil nyentuh mukanya, dan dia natap aku tajam.
"Rose, dia ngapain di sini?" dia nanya, dan aku memutar mata.
"Ingat apa yang aku bilang minggu lalu waktu kamu mohon sama aku buat ninggalin kamu sendiri?" aku nanya, dan dia ngangguk bingung.
"Aku di sini karena kamu pasanganku, dan jangan pura-pura kamu nggak ngerasain ikatannya," aku bilang, dan dia tersentak. Dia mendingan terbiasa dengan itu.
*****SUDUT PANDANG RHODA***
Aku mengedipkan mata, ngeliat sekeliling ruangan, dan mataku melebar pas berhenti di Jayden. "Dia ngapain di sini sih dan di mana Luka?" Aku nyari lebih jauh, tapi cuma bisa liat Rose, Maks, dan Jayden karena nggak ada tanda-tanda Luka.
Apa dia ninggalin aku karena aku bukan pasangannya? Apa dia pergi nyari pasangannya? Aku nggak bisa nggak mikir gitu.
"Rose, dia ngapain di sini?" Aku nanya sambil nunjuk Jayden yang lagi senyum. Rose ngalihin pandangan, ngindarin pertanyaanku.
"Ingat apa yang aku bilang minggu lalu waktu kamu mohon sama aku buat ninggalin kamu sendiri?" Dia nanya, dan aku ngangguk bingung tentang gimana hubungannya sama pertanyaan yang baru aja aku ajukan.
Aku ngangguk dan mataku tertuju padanya, penasaran apa yang pengen dia omongin. Aku agak keganggu sama kehadirannya, aku nggak tau gimana tubuhku bereaksi, tapi aku abaikan aja.
"Aku di sini karena kamu pasanganku, dan jangan pura-pura kamu nggak ngerasain ikatannya," dia bilang, dan aku tersentak.
Aku nggak bisa menyangkal fakta bahwa aku beneran ngerasain ikatan antara kami berdua, nggak heran aku ngerasa gimana gitu sejak bangun dan liat dia duduk di sampingku, tapi aku nggak bakal percaya omong kosong itu.
"Hahahahah!!! Lelucon terbesar abad ini," aku ketawa gugup. "Kamu keluar dari ruangan ini, jangan terlalu seneng karena meskipun kamu pasanganku, aku bakal nolak kamu. Kamu nggak bakal bisa dapetin aku, kalo kamu mikir kamu bisa karena aku ternyata pasanganku," aku menjerit ke arahnya, dan dia nyengir, bikin aku makin marah.
"Coba aja kamu lakuin itu kalo hidupmu nggak berarti apa-apa buatmu, kamu bisa nolak aku dan siap-siap buat kematianmu karena aku bakal bunuh kamu sebelum kamu ngomong 'Jeik'," dia bergumam dingin, dan aku tersentak.
"Keluar dari sini, Jayden, aku nggak mau liat kamu di sini!!!" Aku teriak sekencang mungkin, menarik perhatian suster yang bertugas di UKS.
"Ada apa sih ini?" Dia nanya, mendekat ke arahku.
"Suruh dia keluar dari sini, suruh dia pergi, keluar, Jayden," aku terus teriak, ngabaikan sakit kepala yang udah menyerangku.
"Tolong keluar, Jayden, dia nggak butuh gangguan apa pun sekarang, dan kalo dia bilang dia nggak mau liat kamu, aku saranin kamu hormatin itu dan keluar," dia bilang ke Jayden, yang terus duduk seolah-olah bukan dia yang lagi diajak ngomong.
Air mata mengalir di pipiku ke dada, saat aku merintih. Kenapa aku diperlakukan kayak gini? Kenapa dewi bulan dan semesta begitu kejam padaku.
Hatiku hancur dan remuk. Rose memelukku erat saat aku menangis di bahunya.
Aku mendongak, masih ngeliat dia duduk, natap aku, beberapa emosi yang nggak aku ngerti dan nggak peduli buat dimengerti tertulis di seluruh mukanya, aku cuma pengen dia menghilang dari hidupku.
"Pergi sana!!!" Aku teriak ke arahnya, melempar bantal ke arahnya.