Bab 22
POV RHODA
"Roda, nanti malam ada pesta di rumah Jeims. Adiknya ulang tahun ke-18 dan katanya mau ketemu jodohnya." Rose bilang dengan memohon pakai mata karena dia tahu aku mau nolak.
Pesta bukan hobiku, dan aku emang gak pernah pergi ke mana pun. Tapi karena ini ulang tahun, ya gak ada salahnya kalau aku datang.
Aku ngelihat Rose yang masih pasang muka melasnya. "Oke deh, aku ikut," aku nyerah, dan dia nyengir.
"Yaaaay!!!!" Aku gak sabar mau lihat orang ketemu jodohnya. Aku belum pernah lihat pertemuan jodoh, dan aku seneng banget bisa lihat malam ini," dia cekikikan kayak anak kecil bikin aku muter mata.
"Udah deh, Rose, gak ada yang spesial dari itu. Berhenti bikin seolah-olah beda dari yang kamu rasain waktu ketemu Luka," aku muter mata dan dia nyengir.
"Percaya deh, Roda, itu spesial banget kalau kamu udah 18 tahun, kamu bakal ngerasain salah satu momen paling keren dalam hidupmu bareng Luka," dia nyengir genit ke aku.
"Aaaarghhh, dasar cewek nakal," aku teriak pas aku ngerti maksud dia tentang ngerasain momen keren dalam hidupku. Rose emang gak pernah berhenti lebay.
Aku nutup mata dan lari keluar kelas pas aku gak tahan sama tatapan nakalnya. Ya ampun, Rose, kesurupan apa sih kamu?
Udah dua minggu sejak kita balik dari kemah, dan sekolah jadi tenang dan asik.
Jayden udah berhenti nge-bully aku. Malah, dia udah gak peduli sama aku, dan aku seneng banget dia akhirnya mutusin buat biarin aku tenang.
Aku jarang lihat dia di sekolah akhir-akhir ini, dan kalaupun ketemu, dia malah jalan menjauh seolah aku gak ada.
Gak peduli juga sih.
Aku punya pacar yang paling perhatian dan sayang.
*
*
Pakai gaun merah flare, sepatu hak rendah perak, dan dompet perak kecilku, aku turun tangga, menuju dapur tempat ibu lagi masak malam bareng Meri seperti biasa.
Aku cium pipinya dan dia senyum sambil ngelus kepala aku. "Cantik banget kamu, Sayang," dia benerin antingku. "Makasih, Ibu," aku senyum sambil ngunyah daging yang dia kasih ke aku.
"Cilik, mau ke mana dandan kayak gini cantik banget?" Mudi nyeletuk dari ruang makan masuk ke dapur dan merebut daging dari tanganku.
"Mudi!!" aku teriak dan nyerang dia buat ambil dagingku, tapi dia udah keburu masukin ke mulut sambil nyengir.
"Minggir dari aku deh," aku merengut dan dadah ke ibu terus keluar dari dapur.
"Hati-hati di luar, ya, dan pulang tepat waktu," dia teriak dari belakang, dan aku senyum. Mudi emang nyebelin, tapi dia sayang dan peduli sama aku. Cuma emang sering bikin aku kesel.
Aku berhentiin taksi dan ngasih supirnya alamat rumah Jeims. Dia ngelirik terus ngangguk, aku buka pintu belakang dan duduk sambil ngambil HP buat nelpon Rose.
Dia angkat setelah dering kedua. "Kamu di mana, Roda?" dia nanya dengan suara berisik dari tempat dia berada. Kayaknya dia udah di pesta.
"Aku otw, bentar lagi nyampe, mendingan kamu tunggu di luar aja," aku matiin telepon dan ngehela napas.
Aku gak suka pesta, tapi aku gak punya pilihan selain dateng ke pesta ini. Jeims jadi temen kita setelah kemah, dan seru punya dia sebagai teman. Dan nolak undangannya ke ulang tahun adiknya gak sopan.
Kita akhirnya nyampe di rumah, aku turun dan bayar supir taksi, benerin gaunku, dan masuk ke rumah.
Musiknya keras banget. Banyak cowok dan cewek nongkrong di sekitar halaman sambil pegang minuman.
Ini bukan kayak pesta ulang tahun, tapi kayak pesta anak kuliahan.
Aku dorong orang-orang, akhirnya bisa ngelihat pintu di mana aku lihat Rose berdiri sambil ngelihat HP-nya.
"Rose!" aku teriak, teriak dan dadah biar dia bisa lihat aku. Dia akhirnya ngangkat kepalanya pas seseorang di sampingnya nunjuk ke arahku. Dia jalan ke arahku, dan bareng-bareng, kita masuk ke rumah.
"Ini gak kayak pesta ulang tahun remaja, Rose," aku bilang dengan suara yang dinaikin biar dia denger.
"Tunggu, kamu emang ngarep lihat kue dan nyanyi selamat ulang tahun? Udah deh, Roda, yang ulang tahun kan udah gede, kamu gak bakal lihat hal-hal itu di sini," dia muter mata dan aku ngangkat bahu.
"Santai aja, kamu bakal nikmatin pestanya, kok?" dia bilang dan narik aku ke tempat mereka duduk.
Aku duduk di samping Luka yang senyum dan meluk aku. "Kamu dateng?" aku ngelihat dia, "Iya, aku dateng, jadi santai aja," dia bilang dan aku ngangguk, santai dalam pelukannya.
Luka nuangin minuman buat aku. Aku gak minum alkohol," aku nolak minumannya. "Udah deh, Roda, bebaskan dirimu dan nikmatin momennya, Cuma buat malam ini, dan gak ada minuman ringan di sini," dia memohon.
Aku menghela napas dan ngambil koktailnya. Aku seruput dikit dari minuman itu dan menghela napas. Gak terlalu buruk, setidaknya ada sensasi manis dan membara bercampur jadi satu.
Musiknya nge-blare dari speaker, badan berkeringat saling bergesekan dalam nama dansa.
"Main game yuk, guys," Charlote, adiknya Jeims, teriak sambil ngejatuhin ember minuman dan gelas di meja kita.
Saat itu, temen-temennya udah gabung di meja kita, dan apa?! The J³ dan Lisa juga ikutan. "Kapan semua orang ini gabung?" aku bisik ke Rose.
waktu kamu sibuk ngelihat tamu yang lagi dansa," dia gumam.
"Aku gak tahu Jayden dan temen-temennya juga diundang," aku bisik balik ke dia. "Aku bilang kan yang ulang tahun udah gede dan terkenal banget, kemungkinan dia ngundang mereka," Rose jawab sambil nyeruput minumannya.
Aku merengut dan ngelihat ke atas, mata aku terkunci sama mata Jayden. Dia naikin alisnya dengan jijik dan aku buru-buru ngalihin pandangan.
Luka megang tangan aku sambil ngeremasnya pelan. Aku senyum ke dia dan nelen minuman aku.
"Game apa yang mau kita mainin, Charlote?" Jordan nanya sambil ngedipin mata ke dia.
"Truth or Dare, dong," Lisa nyeletuk bikin aku muter mata.
"Aku gak mau main omong kosong itu," aku muter mata.
"Apa! Kamu takut?" dia mencibir.
"Main aja, ya, inget kita gak mau bikin keributan di sini," Rose bisik ke telinga aku sambil narik tangan aku pelan.
"Oke deh, aku mau," aku merengut frustasi. Seharusnya aku udah di kasur tidur sekarang daripada dateng ke pesta ini yang isinya cewek-cewek rese.