Bab 3
Gue jalan ke kantin soalnya udah jam istirahat, terus ketemu Jordan dan Jeik di jalan.
Mereka kembar dan sahabat terbaik gue, mereka yang bantuin gue ngerjain sebagian besar rencana gue buat dapetin rahasia guru, dan kita bertiga disebut "The J³".
Jordan adalah Beta gue, jadi dia lebih deket sama gue.
"Woi, bro!" panggil Jordan, terus kita salaman ala persahabatan.
"Gimana, bro?" tanya Jeik sambil salaman juga.
"Nggak ada apa-apa, cuma mau ke kantin," jawab gue sambil nyengir.
"Ceritain, dong!!!" kata Jordan, tau banget maksud nyengir gue.
"Tunggu dulu, lo udah berhasil 'naikin' cewek itu ke ranjang, belum?" tanya Jeik sambil naikin alisnya, dan gue cemberut.
"Cewek itu keras kepala banget, susah banget ditembus, tapi bentar lagi juga gue taklukin," jawab gue, bener-bener serius.
"Kenapa kalian baru dateng sekarang ke sekolah?" tanya gue, dan mereka berdua malah senyum.
"Nggak mungkin!!!" seru gue, tau banget arti senyum itu.
"Ya, mungkin, bro. Kita nggak mau ganggu lo, soalnya kita tau lo lagi fokus ngejar Roda," kata mereka berdua.
Kesel banget sama kelakuan mereka, gue teriak, "Bukan berarti kalian berdua harus threesome tanpa gue, ya."
Well, kita emang suka banget gangbang cewek-cewek, dan dua anak tolol ini baru aja ngalamin sesi pagi yang panas tanpa gue, dan itu semua gara-gara cewek Roda itu.
"Jangan gitu lagi tanpa gue, ya," tegur gue, dan mereka ngangguk. "Ayo, Jordan," kata gue, dan kita semua jalan ke kantin.
**SUDUT PANDANG RHODA**
Itu The J³!!!!!, Murid-murid pada lari ke kantin sambil teriak-teriak sekenceng-kencengnya, dan gue mendengus.
"Mereka imut banget!!!"
"Kami cinta kalian, J³!!!!"
"Jayden ganteng banget!!!!"
"Si kembar ganteng dan kembaran banget!!!!"
"Kalian udah liat sepatu Jayden, belum? Itu merek terbaru!!!"
"Denger-denger, dia bakal jadi Alfa, nih!!!"
"Iya, nggak sabar nunggu pesta serah terima, nih!!!"
"Mereka mau ke kantin!!!" Teriak salah satu dari mereka, yang bikin semua orang ngalihin perhatian dan teriak hampir bikin gendang telinga gue pecah, terus lari ke kantin.
"Ayo, kita pergi dari sini," kata gue, dan Rose ngangguk.
Kita berdua emang satu-satunya yang nggak suka The J³ dan, tentunya, Luka.
Kita masuk ke kantin dan teriakan udah mulai reda, kebanyakan masih bisik-bisik.
Gue ngeliat Luka dan Maks lagi duduk di pojokan, terus kita jalan ke mereka dan duduk di samping pacar kita masing-masing.
"Maks berdiri buat mesen makanan kita.
"Gimana, sayang?" tanya Luka sambil nyium pipi gue, dan gue cekikikan sambil ngeliat Rose yang asik banget nyengir lebar.
"Cewek nakal," kata gue ke dia lewat telepati, dan dia nyengir.
Balik lagi ke Luka, gue jawab, "Baik kok," dan dia ngangguk.
"Kok kalian lama banget? Kita udah nunggu lebih dari 5 menit," tanyanya, dan gue menghela napas, inget hukuman gue.
"Ngomong-ngomong, Roda, hukuman apa yang dikasih Pak Bob ke lo?" tanya Rose penasaran.
"Bersihin semua toilet cewek dan ngepel ruang loker kelas A selama seminggu," kata gue, dan mereka keliatan kaget. Maks yang udah balik sama makanan kita, kaget.
"Gila, kenapa Pak Bob ngasih lo hukuman kayak gitu?" tanyanya.
"Nggak tau, gue rasa Jayden yang nyuruh dia, dan tebak, dia nggak pernah ngasih hukuman apa pun ke Jayden, padahal dia yang biang keroknya."
"Emang apa yang terjadi?" tanya Luka, dan gue menghela napas, ngejelasin semuanya ke mereka, mulai dari kejadian di gerbang sampe kejadian di kantor.
Luka langsung berdiri, mau nyamperin meja The J³, tapi gue pegang tangannya, nahan dia.
"Udah, Luka, gue nggak mau ada masalah," kata gue, dan dia mendengus.
"Biar gue samperin dia," katanya, berusaha lepasin tangannya dari gue, tapi gue pegang erat.
"Please, Luka," mohon gue, dan dia menghela napas dan duduk.
Nyamperin Jayden nggak bakal ada gunanya. Jayden itu anak Alfa di pack ini, dan dia yang punya sekolah.
Gue nggak mau Luka berantem sama dia, soalnya nggak bakal ada hasil positif, malah bakal bikin dia kena masalah.
"Gue kira Pak Bob beda dari guru-guru lain yang dimanipulasi Jayden," kata Rose.
"Gue juga mikirnya gitu, sampe kejadian di kantornya. Pak Bob jelas keliatan takut sama dia," kata gue.
Gue ngelirik ke meja The J³, dan kayak ada kekuatan, Jayden ngeliat ke atas dan mata kita saling tatap.
Gue langsung buang muka, tapi dasar setan, dia berdiri setelah bisikin sesuatu ke temennya, dan mereka semua mulai jalan ke arah kita.
"Jangan lagi, deh," gerutu Rein, dan gue menghela napas. Dia juga benci Jayden sama kayak gue. Well, dia itu gue, dan gue itu dia, dia pasti suka apa yang gue suka dan benci apa yang gue benci.
Mereka udah nyampe meja kita, dan semua mata udah ngarah ke meja kita.
"Mau apa?" tanya gue pas mereka berhenti di depan kita.
"Kamu," katanya, terus megang tangan gue. Luka berusaha berdiri buat misahin tangannya, tapi Jeik nahan dia.
"Tinggalin kita berdua," Rose berteriak, dan Jordan jalan ke dia sambil nyengir.
"Serius, Nona Rose, lo mau kita ninggalin kalian berdua?" tanyanya, Rose ngangguk.
"Gimana kalau lo mulai dengan ninggalin cowok tolol ini?" katanya, terus nyodorin Maks yang mau berdiri.
"Lo mau apa, Jayden?" kata gue, kesel.
Kita baru aja nyentuh makanan kita, dan istirahat bentar lagi selesai.
"Kayak yang gue bilang tadi, gue mau kamu," katanya, dan gue ketawa.
"Lo gila, Jayden, gue nggak bakal pernah biarin lo punya gue, jadi sana lo urusin diri lo sendiri," teriak gue, kesel, dan murid-murid kaget.
Nggak ada yang berani ngomong kasar ke Jayden, itu yang bikin mereka kaget.
"Gue gila, ya? Biar gue tunjukin seberapa gilanya gue buat dapetin lo," desisnya, dan sebelum gue ngerti maksudnya, dia nyium gue.
Gue berusaha berontak, tapi usaha gue sia-sia, tenaga gue nggak sebanding sama tenaganya.
Bibirnya nguasai mulut gue, nyiumnya kayak orang kelaperan, dan pas gue mau ngomong, dia manfaatin kesempatan itu buat nyelipin lidahnya ke mulut gue, menjelajah setiap sudut mulut gue dan ngisep bibir gue.
Desahan mau keluar dari mulut gue, tapi gue tahan. Gue nggak bakal bikin suara bodoh karena ciuman cowok ini.
Gue ngeliat Luka yang lagi berusaha keras lepasin diri dari genggaman Jeik.
Jeik narik dia, mukul dia, dan maksa dia duduk lagi.
Luka mungkin bakal jadi Alfa di Moonstone Pack, tapi dia nggak ada apa-apanya dibanding kekuatan The J³.
Mereka punya kekuatan iblis, soalnya mereka dari Dark Moon Pack; Pack paling kuat di antara semua.
Serigala mereka tiga kali lebih gede dari pack lain.
Gue berusaha lepasin diri dari dia, yang bikin gue keabisan napas pas akhirnya dia lepasin gue.
Teriakan murid-murid menggema di kantin, soalnya makin banyak orang yang datang buat ngeliat adegan ini.
Gue tepis tangannya, dan senyumnya langsung mengembang.
"Lihat? Lo nikmatin, kan. Gue yakin pacar lo nggak punya kesempatan buat ngelakuin itu," katanya, dan gue mendengus.
Itu bener, sejak gue sama Luka pacaran, paling jauh kita cuma ciuman di pipi.
Luka belum siap buat bawa hubungan kita lebih jauh, dan sabar nunggu ulang tahun gue yang ke-18, pas gue akhirnya jadi pasangannya.
Luka ulang tahun yang ke-18 setahun lalu, dan sejak itu, dia belum nemuin pasangannya, jadi kita mikir gue bakal jadi pasangannya.
"Nah, anak tolol ini nyuri ciuman pertama gue dan yang paling parah, di depan pacar gue.
Air mata panas mengalir di pipi gue, dan gue ngeliat Luka yang bisa ngerasain kemarahan dan amarahnya. Dia nggak bisa ngapa-ngapain karena dia nggak sekuat The J³.
Jayden nyengir pas ngeliat air mata gue. Puas, dia keluar dari kantin sama temen-temennya.