Bab 49
Dia memutar bola matanya dan berdiri. "Lo boleh nangis sepuasnya, tapi gue kasih tau satu hal, Roda; lo gak akan pernah bisa ngusir gue dari hidup lo kali ini, sekeras apapun lo berusaha, pokoknya lo gak bakal berhasil".
"Dan buat informasi lo, siap-siap aja karena bentar lagi gue bakal jemput lo karena lo bakal mulai tinggal di kawanan Darkmoon sebagai Luna masa depan dan pasangan gue. Jadi makin cepet lo biasa, makin bagus dan gampang buat kita berdua," katanya sambil membungkuk dan mencium bibirku.
Gemetar dingin menjalar di tubuhku dan gue menjauhkan wajahnya dari wajah gue, menghadap ke sisi lain kasur untuk menyembunyikan wajah merahku. Dia tertawa pelan dan keluar ruangan, membanting pintu dengan keras di belakangnya.
"Rose!!!" panggilku sambil melihat ke arahnya saat dia menghela napas, menarikku ke dadanya. "Luka mana?" tanyaku dan dia menghela napas lagi.
"Gue rasa Jayden udah kasih tau dia beritanya karena kita lihat dia keluar kamar sambil air mata berlinang di matanya".
Arrrghhh!!!!! Gue gak mau umur 18 lagi!!!, gue gak mau ninggalin Luka!!! Gue gak mau jadi pasangan Jayden!! Gue gak mau hidup ini!!!" teriakku sambil menarik selimut dari tubuhku dan terjatuh ke lantai sambil meratap keras.
"Gak papa, Roda, gak papa, berenti nangis, tenangkan diri dan hadapi kenyataan," katanya menghiburku.
SEMINNGU KEMUDIAN....
"Mama tau aku cinta sama Luka dan Mama gak mungkin nyuruh aku ninggalin dia karena dia bukan pasanganku, aku gak bisa pergi sama Jayden, Mama!!!" teriakku dengan frustrasi, menghentak-hentakkan kaki di tangga dan bergegas masuk ke kamarku.
Gue menutup pintu rapat-rapat dan ambruk di kasur sambil mengeluarkan isak tangis yang tertahan di tenggorokanku.
Jayden!!! Gue benci banget sama lo dan bahkan kalo gue ikut lo ke rumah lo, gue gak akan pernah ngasih diri gue buat lo dan gue gak akan pernah nerima lo. Gue benci lo pake darah gue.
"Sayang, buka pintunya," mohon Mama sambil mengetuk pintu dengan lembut. "Roda, gak ada yang bisa kamu lakuin, kamu gak bisa nolak dia, Roda.
"Jayden akan segera menjadi Alfa Darkmoon dan kalo kamu berani nolak dia, mereka gak akan ragu buat ngebunuh kamu, Roda. Jangan lakuin itu, anakku, tolong, kamu tau kamu segalanya buat Mama dan Mama gak bisa biarin kamu membahayakan nyawa kamu.
"Pergi sana, Mama, karena aku gak akan buka pintu ini, pergi aja dan bilang sama dia buat pergi ke neraka karena aku gak akan pernah jadi pasangannya," kataku sambil terisak.
"Dia pasanganmu jadi kamu harus buka pintunya, biar Mama bantu kamu beres-beres," katanya, suaranya pecah dan gue pelan-pelan berdiri menuju pintu dan membukanya karena gue gak akan pernah biarin Mama netesin air mata karena gue.
Dia langsung memelukku begitu pintu terbuka sambil tersedu-sedu pelan. Dia menggenggam tanganku, membimbingku ke arah kasur.
"Mama, aku gak tahan lagi!! Ini terlalu berat buatku, Mama," ratapku sambil mencengkeram bajunya sambil merengek.
"Gak papa, sayangku, Mama tau kamu akan baik-baik aja karena kamu selalu jadi cewek kuat sejak kecil, cintaku, jadi ini juga akan kamu lalui," katanya sambil mengelus punggungku dengan cara yang menghibur.
"Ayo mandi, biar Mama beresin barang-barangmu atau mau Mama mandiin kamu, sayang?" Dia tersenyum, udah berusaha buat bangun.
"Ayo, Mama, Mama tau Mama gak bisa lakuin itu. Mandiin aku? Hahaha itu gila," kataku sambil tertawa kecil.
"Apa yang gila tentang itu? Mama kan ibumu, Roda, dan Mama yang ngelahirin kamu, mandiin kamu dari kecil sampe kamu gede, jadi apa yang harus disembunyiin dari ibumu, anak kesayangan?" Tanyanya, pura-pura menghapus air mata imajiner dari matanya.
"Mama, aku gak nyembunyiin apa-apa dari Mama, tapi mandiin aku, hahaha itu lucu buatku jadi bantu aja aku beresin barang-barangku," kataku sambil berjalan ke kamar mandi.
Gue gak mood buat berendam di bak mandi jadi gue langsung masuk ke bilik shower setelah melepaskan pakaianku dan saat air menetes ke rambutku dan terus ke tubuhku, gue menghela napas lelah. Gue cuma lakuin ini karena Mama.
Gue gak percaya gue ninggalin rumah Papa buat tinggal di rumah Darkmoon sebagai Luna masa depan.
Ini bukan hidup yang gue rencanain, bukan yang gue mau buat diri gue sendiri dan harus tidur dan makan sama cowok yang gue benci di rumah yang sama lebih buruk dari kematian dan gue akan milih mati kalo bukan karena Mama.
Gue keluar dari kamar mandi dibungkus handuk, gue melirik ke kasur dan ngeliat baju yang Mama pilih buat gue.
Gue berjalan ke arah meja rias, ngambil krim dan ngolesin ke kulit basahku. Gue pake baju dan duduk di kasurku.
Gue gak percaya ini bakal jadi terakhir kalinya duduk di kasur ini. Gue menghela napas dan membuka botol air mineral yang gue ambil dari kulkas mini dan meneguknya.
Gue cuma akan tinggal sama dia karena orang tua gue, buat lindungi mereka dari murka orang-orangnya, kalo bukan karena itu, gue gak akan mikir dua kali sebelum nolak dia.
Gue udah ngobrol sama Luka dan ngejelasin semuanya ke dia, itu berat buat dia tapi dia ngerti setelah gue ngejelasin rencana yang udah gue susun.
Gue akan bikin Jayden frustrasi sampe dia nolak gue jadi gue bisa balik lagi sama Luka.
Gue turun tangga menuju ruang tamu dengan koper-koperku.
Gue udah sampe bawah dan mataku bertemu dengan Jayden yang lagi duduk di sofa single seater, matanya tertuju pada ponselnya dan seolah-olah secara tiba-tiba atau mungkin dia nyium bau gue, dia ngangkat matanya, mengarahkannya ke gue atau harus gue bilang, menilai gue.
Gue memutar bola mata setiap langkah yang gue ambil, matanya ngikutin gue. "Lo bakal terus natap gue sampe mata lo keluar dari soketnya," gue memelototinya dan dia menyeringai.
Seringai sialan.
Gue menjatuhkan koperku dan masuk ke dapur buat nemuin Mama. "Mama, aku udah siap," kataku dan dia berbalik, menarikku ke dalam pelukan.
"Papa pergi buat urusan bisnis dan Mudi udah balik sekolah. Mama, Meri, dan aku cuma orang yang ada di rumah.
Gue sakit hati karena gue akan ninggalin Mama buat tinggal di rumah yang benar-benar asing.
"Susah buatku buat beradaptasi di rumah asing itu, Mama," gumamku sedih dan dia menyeka air mataku.
"Gak papa, sayangku, jangan khawatir, kamu mungkin malah jatuh cinta sama dia," jawabnya dan gue mencibir. "Itu cuma akan terjadi seribu tahun lagi," gumamku dan dia tersenyum dan menggenggam tanganku.
"Jangan yakin banget, Roda, kamu gak pernah tau dan dia pasanganmu dan ikatan itu ada, meskipun kamu gak suka dia sekarang, pada akhirnya kamu akan cinta sama dia, Roda," dia tersenyum, menarikku ke dalam pelukan untuk terakhir kalinya dan gue melihat setetes air mata lolos dari matanya.
Gue menghela napas dan berjalan dengan lesu keluar dan masuk ke ruang tamu dan mengambil tas tangan gue, pergi keluar rumah, mengabaikan kata-katanya karena gue yakin Luka akan jadi pasangan gue dan gue gak butuh dia buat ngerusak suasana hati gue.
"Lo bisa tetep di situ kalo lo mau atau lo ikut gue ke tempat sialan yang akan gue tempatin," teriakku saat gue udah sampe di pintu dan dia masih duduk, matanya terpaku pada ponselnya.
Dia berdiri dan gue memutar bola mata ke arahnya, keluar dari rumah.
Gue sampe di tempat dia parkir mobilnya dan berhenti sambil nunggu dia buat ngebuka pintu. Dia keluar dan pas ngebuka pintu, gue masuk ke mobil dan masang sabuk pengaman.
Dia masuk dan melirik gue. "Kamu baik-baik aja?" Tanyanya dan gue memutar bola mata, mengabaikannya dan ngeluarin ponsel gue buat nge-chat Luka.
Dia natap gue beberapa saat sebelum menyalakan mesin dan keluar dari rumah gue dan menuju ke kumpulannya.