Bab 108
Dia menghela napas lega, ngerasain jantungnya berdebar kencang. Apa kayak gini ya rasanya cinta pada pandangan pertama?
Beberapa saat kemudian, Dalia keluar. Dengan tatapan bingung, dia berdiri beberapa inci dari dia, nungguin dia ngomong. "Selamat malam," gumamnya, natap dia dengan tajam. "Gimana kabarnya? Udah lama banget.."
"Tolong, kalau dia yang nyuruh kamu, bilangin ke dia kalau aku masih nunggu surat cerai," Yusuf menghela napas setelah dia ngomong. Dia merhatiin, Dalia emang keras kepala. "Enggak, dia nggak nyuruh aku ke sini. Dia bahkan nggak tau aku di sini. Aku tau apa yang dia lakuin emang nggak bisa diterima. Dia nyakitin kamu, banget, tapi dia udah sadar dan belajar dari kesalahannya. Maafin dia, ya. Kamu udah hukum dia cukup lama."
"Aku nggak nyangka kamu bakal sebodoh dia. Aku hormat banget sama kamu dan aku nggak mau itu berubah. Udah waktunya dia sadar kalau aku udah nggak cinta lagi sama dia..."
"Kamu beneran mikir aku bakal percaya kamu nggak cinta sama dia? Dan jangan lupa; berbuat baiklah kepada orang lain, maka kamu akan menerima kebaikan. Maafin orang lain, maka Allah akan memaafkanmu."
Dalia membuka mulutnya mau ngomong tapi dia nggak bisa bantah lagi. Dia nggak bisa melawan itu. Dan apa yang dia bilang emang bener. Dia natap dia lama banget sebelum narik napas dalam-dalam. Bahkan kalau dia beneran mau balik, yang mana nggak, setidaknya dia harus ngerasain sakit yang dia rasain. Dia harus menderita kayak dia menderita. Dia berdeham sambil melipat tangan di dada.
"Aku bilang ke dia kalau aku hamil, anak dia," Dan dia pergi dengan cepat, ninggalin dia terpesona.
Muhsin ngerasain panik mulai kayak sekelompok busi di perutnya. Ketegangan tumbuh di wajah dan anggota tubuhnya, pikirannya memutar ulang kata-kata Yusuf. Napasnya jadi lebih cepat, lebih dangkal. "Kamu yakin itu persis apa yang dia bilang ke kamu? Dia hamil?" Yusuf mengerang, ngelepasin bajunya dari cengkeraman Muhsin. "Kenapa kamu nggak tanya sendiri aja kalau kamu mikir aku ngasih kamu info yang salah?"
Pikiran-pikiran itu makin cepet di dalem kepalanya. Dia pengen mereka melambat biar dia bisa napas tapi mereka nggak mau. Napasnya keluar tersengal-sengal kayak dia mau pingsan. Jantungnya berdebar-debar di dalem dadanya kayak punya kelinci yang lari buat nyelamatin diri. Yusuf langsung narik bahunya dan ngebantu dia duduk di sofa sebelum nawarin dia segelas air. "Sekarang tarik napas dan hembuskan, pelan-pelan." Muhsin ngelakuin apa yang disuruh. Itu ngebantu, sedikit.
"Dengerin, aku tau berita ini bikin keadaan makin parah buat kamu. Dan buat aku, satu-satunya solusi adalah, libatin bapak dalam hal ini karena aku pikir dia satu-satunya yang bisa bantu kamu balikin Dalia," Dia natap Yusuf beberapa detik sebelum buang muka. "Kamu nyuruh aku ketemu orang itu setelah ngusir anaknya dari rumahku?" Muhsin nanya, merhatiin dia. "Orang itu lebih dari apa yang kamu pikirin. Kalau dia bisa bikin kamu nikah sama Dalia pas kamu masih nikah sama anaknya, aku nggak liat alasan kenapa dia nggak bisa bantu kamu balikin dia. Coba aja ini dan malah, aku bakal nemenin kamu ke sana. Kalau kamu nggak bisa ngomong, aku yang bakal ngomong." Muhsin senyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dia ngangguk mikirin cara buat bales budi Yusuf atas semua yang udah dia lakuin buat dia.
Dan kayak yang Yusuf saranin, besoknya, mereka pergi ke kantor bapak dan ngasih tau semua yang udah terjadi. Dari apa yang Amira lakuin, sampe apa yang terjadi antara dia dan Dalia. Mereka pergi dengan bapak yang ngeyakinin mereka dia bakal coba yang terbaik buat ngeyakinin Dalia.
Beberapa hari kemudian, bapak ngejalanin rencananya ke kuje buat nepatin janji yang udah dia buat. Setelah tukeran basa-basi sama ibunya Dalia, dia bergerak lebih jauh dan ngejelasin semuanya ke dia persis kayak yang Muhsin lakuin. Amina diem lama banget. Dia menghela napas dan geleng-geleng kepala. "Alhaji, jujur aku nggak tau mau bilang apa tentang ini. Aku nggak akan bilang kalau aku dukung Dalia tapi aku nggak nyalahin dia karena pulang dan milih nggak sama dia. Pertama dia nuduh dia, ya aku tau dia nggak sengaja tapi dia harus tau apa yang bisa dilakuin istrinya. Terus dia nyiksa dia setelah apa yang dia alamin karena kehilangan anaknya. Yang bisa aku bilang adalah.... aku nggak bisa ikut campur dalam hal ini. Itu terserah anak itu. Kalau dia mau balik, aku dukung penuh itu dan kalau dia nggak mau." Dia ngebiarin kata-katanya nggak selesai dan ngeluarin napas.
Jelas banget, ada sesuatu yang ganggu dia, dari tampang pucatnya. Bapak ngangguk, bukan berarti dia setuju atau yakin tapi dia milih buat ngehargain keputusan mereka. "Aku ngerti apa yang kamu bilang. Dan kamu bener. Bahkan aku nggak akan terima kalau dia dipaksa ngelakuin apa yang nggak dia mau. Aku bakal nyampaiin pesan ini ke dia setelah itu, dia bakal tau apa yang harus dilakuin." Bapak pergi setelahnya.
Bapak nyampaiin pesan mereka kayak yang dia janjiin ke Muhsin. Dia ngejenguk dia tiap hari, ngabisin seharian di sana nungguin dia. Kadang kalau dia lagi beruntung, dia keluar, ngomong kata-kata kasar ke dia dan kadang dia ngabisin seharian di depan rumah mereka tanpa ketemu dia. Dia nggak pernah berhenti dateng bahkan setelah dia ngancem buat ngegugurin bayi itu beneran kali ini.