Bab 20
"Berhenti panggil dia gitu, Amira. Dia punya orang tua dan bukan berarti mereka gak bisa urus dia atau semua kebutuhan finansialnya. Kamu harus jaga mulut dan tahu apa yang kamu omongin ke orang, Amira. Dan pembicaraan ini selesai," dia nyatain. Kemarahannya yang dingin membara dengan intensitas berbahaya. Dia gak pernah khawatir sama ledakan-ledakan amarah Amira yang sering banget, percikan-percikan api merah yang panas, justru kemarahan dingin yang membara perlahan inilah yang mengancam hubungan mereka.
Amira natap punggungnya yang menjauh dengan penyesalan. Mungkin dia udah kelewatan, pikirnya. Tapi dia juga salah, dia udah merendahkan Amira di depan cewek culun itu. Sekaya dan semewah dia, dia berani merendahkan Amira di depan cewek itu? Hal itu gak bakal pernah bisa Amira terima dan Amira gak akan pernah mentolerirnya.
**
"Alhaji, aku punya ide. Gimana kalau aku minta ponakanku buat pindah ke sini, kan dia gak ngapa-ngapain di Kano, aku tahu kakakku gak bakal masalah," usulnya. Alhaji ngelirik sekilas dan mengalihkan pandangannya dari Amira. Dia terus nonton berita seolah-olah dia satu-satunya orang di ruangan itu. "Alhaji, aku lagi ngomong sama kamu. Aku lihat Muhsin punya perusahaan sendiri yang pasti dia sibuk urus, dan dia punya keluarga yang harus diurus jadi gak ada gunanya bikin dia stres terus karena cewek itu atau apapun itu."
Dia terkekeh tak terpengaruh. "Aku gak bilang aku butuh bantuan dari siapa pun. Muhsin udah cukup buat aku," pungkasnya tapi ibunya Amira masih ngotot. "Alhaji kalau ponakanku datang, semuanya bakal lebih gampang buat kamu. Kamu gak perlu nelpon Muhsin terus-terusan. Mungkin dia gak nunjukkin ke kamu tapi lama-lama dia pasti capek sama tugas-tugas kamu."
Dia menyandarkan punggungnya ke sofa empuk dan menghela napas. Dia hampir gak pernah biarin apapun bikin dia marah. Matanya tertuju pada TV saat dia berbicara. "Hajiya, sejak kapan kamu mulai peduli sama urusan aku atau apapun yang menyangkut kegiatan hidup aku?" tanyanya. Matanya membelalak sebelum dia mengerutkan alisnya dan memalingkan wajahnya. "Aku tanya kamu. Kapan kamu mulai nunjukkin perhatian kamu? Kenapa kamu repot-repot mikirin mereka? Apa yang paling buruk yang bisa terjadi? Dia bakal minta tangan cewek itu buat nikah? Aku malah senang banget kalau dia ngelakuin itu karena putri kamu gak ada artinya dalam hidupnya. Jadi, tolong, aku gak mau denger hal kayak gitu lagi kalau gak kamu bakal kena marahku."
Dia berdiri dan keluar dari kamarnya. Kalau Amira atau ayahnya gak mau kerja sama, berarti dia gak dalam posisi buat repot-repot mikirin apa yang mungkin terjadi karena mereka gak ngerti apa yang dia takuti.
Keesokan harinya, begitu dia keluar rumah pagi-pagi, Amira juga bersiap-siap dan keluar rumah ke rumah sahabat terdekatnya, Karima.
Karima udah jadi sahabat Amira sejak sekolah asrama. Dia tinggal di Borno sama orang tuanya sebelum kabur dan balik lagi ke Abuja dengan kata-kata "dia pantas dapat hidup yang lebih baik" dan menurut pikirannya, semua orang yang tinggal di Abuja kaya. Pas dia reuni sama Amira di Abuja, dia bohong ke Amira kalau dia udah dapat kerjaan padahal dia belum mulai kuliah apalagi ikut program pengabdian masyarakat.
Amira udah kayak elite banget soal reuni mereka. Dia selalu bareng Karima, minta saran. Semua rahasia pernikahannya Karima tahu semuanya. Semua drama yang terjadi antara Amira dan suaminya, sebagian besar, Karima yang bikin karena dia jelas-jelas iri sama kekayaan Amira. Sebagian besar uang Amira buat Karima bilang kalau dia bakal bantu bikin Muhsin cinta sama Amira, dan Amira beneran polos buat ngerti warna asli orang yang dia panggil sahabatnya, Karima.
Dia masuk ke apartemen Karima saat yang sama Karima keluar bareng seorang cowok dari kamar tidurnya. Amira kaget banget natap mereka berdua. Karima sedikit mendesis dan mengalihkan pandangannya ke cowok itu. "Kamu harus pergi sekarang sebelum telat," kata Karima, tersenyum lebar ke cowok itu. "Nanti aku telepon," janjinya sebelum jalan melewati Amira.
"Ini bukan cowok yang kamu bilang paman kamu, kan?" Amira nanya begitu cowok itu udah pergi. Karima ngasih tatapan tajam ke Amira sebelum mendesis. "Iya, kenapa emang?" semburnya. "Nggak, aku gak maksud apa-apa, aku cuma nanya," kata Amira sambil duduk di salah satu sofa. "Karima, aku laper banget, aku belum sarapan. Kamu masak apa?" tanyanya dan Karima menatapnya dengan tajam. "Kenapa kamu gak makan dulu sebelum datang? Ngomong dari orang yang punya segalanya yang dia mau," katanya santai. Amira mengabaikannya dan masih mengulangi pertanyaannya. "Aku gak mau masak, aku ada acara syukuran," jawabnya dan menuju ke kamarnya.
Amira buru-buru berdiri dan menyusulnya. "Syukuran siapa yang kamu datengin? Aku mau ikut. Aku bosen banget di rumah terus." Karima berhenti sebelum berbalik dan menatap Amira. "Kamu mau ikut siapa? Gak mungkin, Amira. Syukuran ini buat orang kaya... Aku gak mau bawa kamu, titik," katanya sebelum pindah ke lemarinya. Dia jelas takut Amira bakal dandan lebih mewah dari dia.
Amira mendekat ke arahnya sambil terus memohon. "Ayo dong Karima, kalau ada yang harus ikut kamu, ya aku dong. Tolong, aku mohon." Amira tipe cewek yang punya tempat khusus buat acara-acara di hatinya. Apapun yang berhubungan sama pernikahan, syukuran, pesta.... Dia bakal ada di sana dengan cara apapun. "Oke deh tapi dengan satu syarat," katanya. Amira tahu gak bakal beres kalau Karima ngomong gitu tapi dia penasaran nanya. "Kamu pinjemin aku anting emas, kalung, gelang, dan juga cincinnya buat aku pakai," katanya sambil menyeringai.