Bab 66
Dia menggelengkan kepalanya perlahan sambil mulai berjalan mundur. "Aku... aku minta maaf tapi... aku nggak bisa. Aku nggak bisa lakuin ini." Bahunya merosot kalah tapi bukan berarti dia langsung nyerah gitu aja. "Kamu cinta sama , dalia?" Dia nanya pertanyaan itu. Dia pelan-pelan ngangkat kepalanya dan matanya tertuju padanya. Dia menundukkan pandangannya dan memainkan jari-jarinya. "Kamu cinta sama aku berarti?" Dia nanya ke dia.
Dia berbalik dan lari ke dalam rumah. Ibunya berdiri di depan pintu kamarnya, ngelihat putrinya lewat sebelum dia masuk ke kamarnya. Amina menghela napas panjang dan berbalik ke kamarnya. Dia keluar make hijab sebelum dia berjalan keluar rumah dan menyuruhnya masuk sebelum dia pergi.
Dia nyajiin dia makanan dan beberapa minuman. Muhsin nggak sadar kalau dia belum makan sampai dia mulai makan makanan yang disajiin ibu Dalia. Masakannya enak banget. Rasanya kayak masakannya. Mungkin aja masakannya, dia nggak bisa lupa gimana dia masak. Dia nggak bisa lupa gimana dia ngobrol sama dia tentang gimana ibunya ngajarin dia masak dan gimana dia kejedot pas dia nggak merhatiin. Dia nggak bisa lupa setiap momen yang mereka bagiin bareng.
Setelah dia selesai makan, Amina fokus ke dia sebelum dia ngomong. "Muhsin, sebenarnya ada apa sih? Dalia belum cerita semuanya sama aku. Yang dia lakuin dari semalem cuma nangis."
Dia narik napas dalam-dalam sebelum dia ngasih tahu dia tentang semuanya yang terjadi dan gimana dia mulai cinta sama dia. "Dan mama, aku beneran mau nikah sama Dalia tapi dia nolak. Aku udah coba ngomong sama dia barusan tapi dia masih nolak aku. Dan dia nggak ngasih aku alasan yang jelas kenapa dia nolak aku. Aku nanya dia kalau dia nggak cinta sama aku dan aku bakal pergi kalau dia nggak cinta, tapi dia nggak pernah jawab pertanyaan itu."
Ibunya berbalik saat dia mikir. Dia ngelihat kalau dalia ada sesuatu buat dia meskipun dia belum sadar kalau dia cinta tapi itu jelas banget. "Aku tahu dalia bisa keras kepala dan susah kadang-kadang apalagi pas dia udah mutusin sesuatu tapi aku bakal coba dan lihat gimana aku bisa yakinin dia." Ketegangan yang bikin dia nggak bisa tidur selama berjam-jam langsung hilang. Dia senyum lebar dan ngangguk. Dia lega tahu ibunya bakal lakuin apa aja buat nolong dia.
"Tapi.... Tapi untuk sekarang. Kamu harus kasih dia waktu, oke? Aku bakal kasih tahu kamu semuanya begitu aku udah ngomong sama dia, In sha Allah." Dia ngangguk sambil senyum. "Iya, mama, makasih banyak. Aku tahu dia pasti bakal dengerin kamu." Ibunya senyum dan ngangguk. "Ini teleponnya." Dia ngeluarin telepon dari sakunya dan naruh di depan Amina. "Mama, aku mau cabut sekarang."
Dia nemenin dia ke pintu sebelum dia balik lagi ke kamarnya, nggak repot-repot ngecek Dalia. Dia tahu ini bukan waktu yang tepat buat ngomongin itu sekarang.
**
Dia megang telepon di tangannya, mikir mau nyalain apa nggak. Dia tahu dia udah ketinggalan banyak hal; teman-temannya, grup chat mereka, baca buku online dan terutama dia. "Mau dinyalain nggak nih atau mau diem-diem aja ngeliatinnya?" Amrah nyela dia. Dia ngelihat ke arah Amrah sebelum dia melotot ke dia dan mendesis sambil ngalihin perhatiannya ke telepon yang dia pegang.
Amrah mengangkat bahunya dan lanjut sama urusannya. Dalia nemuin tangannya yang gemetaran mencet tombol power. Dia ngejeblos di tepi kasur sambil ngeluarin napas yang nggak stabil. Dia nungguin paling nggak pesan dari dia, tapi nggak ada, nggak muncul apa-apa selain beberapa pesan dari temen sekolahnya.
Dia meluk dirinya sendiri dan menggelengkan kepalanya. Apa dia ngarepin pesan dari dia? Cowok yang udah dia tolak, cowok yang udah nikah sama istri yang gila? Dia mendesis, nyalahin dirinya sendiri karena mikir dia bakal nge-text dia. Dan mau ngomong apa emang?
Dia ngelempar telepon ke laci sampingnya dan tiduran di kasur sebelum dia pelan-pelan nutup matanya. Dia berdoa semoga tidur bakal ngejar dia, setidaknya dia bakal nemuin kedamaian setelah dia bangun.
Teleponnya tiba-tiba bergetar yang bikin dia langsung loncat berdiri. Dia ngambil telepon dan buru-buru ngecek pesan baru. Dia menggerutu dan mematikan lagi. Bukan dia. Kenapa dia nggak nge-text dia sekarang? Apa dia udah nyerah sama dia?
Amrah ngelirik dia dan buang muka nggak ngomong apa-apa ke dia kayak yang ibu Dalia minta.
Dalia capek mondar-mandir di kamar dan tiduran lagi di kasur dan nutup matanya. Dia bakal lupain dia kayak dia udah lupain dia.
**
Dalia belum mulai panik sampai ibunya berhenti nanyain dia tentang apa yang terjadi selama seminggu terakhir dan dia nggak pernah nge-text dia atau muncul lagi. Dia merasa sedih, kenapa semua orang nggak ngomongin itu? Bahkan Amrah setelah dia cerita apa yang terjadi.
Ketakutan dan pikiran berputar-putar di pikirannya sampai nggak ada ruang buat yang lain. Beberapa hari ke depan ini bakal berlalu kayak cuma kedipan mata dalam hidupnya, atau mereka bakal jadi trauma terakhir yang ngehancurin dia. Dia berdiri dari kasurnya sebelum air matanya ngancam mau jatuh. Dia make hijabnya dan keluar dari kamarnya ke kamar ibunya.