Bab 85
Dia bantuin cewek itu dengan tas tangannya sampai ke pintu depan aula sebelum dia pamitan. Dalia masuk ke aula dan celingukan cari Amina. Dalia ngeliat dia di barisan kedua, udah nungguin dia. Dia duduk di kursi yang Amina simpan buat dia. "Dalia, selamat pagi," sapa Amina, sambil merhatiin banget wajah Dalia yang pucat. Dalia malah bales dengan senyum, "Kirain gue telat." Dia naruh tas tangannya di meja terus ngeliatin Amina. Dia naikin alisnya. "Lo keliatan... pucat. Sakit ya?" Akhirnya dia nanya.
Dalia menghela napas dan ngusap batang hidungnya. "Keliatan banget ya? Udah gue sembunyiin juga dari suami gue, tapi kayaknya gak mempan. Muka gue keliatan banget sakitnya ya?" Dia megang pipinya yang lembut dan menghela napas, terus nyungsep bahunya. "Iya nih, lo kenapa sih?" Amina nanya dengan khawatir. "Gue gak yakin nyembunyiin kayak gini dari dia ide bagus," kata Amina hati-hati. "Gue gak tau deh.... Gue baru mulai ngerasa meriang beberapa hari lalu, terus makin parah pagi ini. Percaya deh, kalau gue bilang ke dia, dia gak bakal ngebolehin gue masuk sekolah hari ini, dan lo tau gue gak boleh ketinggalan ujian itu."
"Jangan-jangan lo hamil?" Amina nanya gitu ke dia. Dalia melotot ke temennya dengan cepat dan mendesis pelan. "Denger ya, gue cuma meriang..." Terus dia berhenti dan naruh tangannya di meja sebelum dia nyenderin kepalanya di atasnya. Amina natap dia sebentar sebelum dia buang muka.
Selama kelas yang mereka punya, Dalia tidur kebanyakan. Setelah ujian mereka, mereka keluar dari aula ke tempat Asiya nungguin mereka. "Hamida mana?" Dalia nanya sambil ngelepas pelukan mereka. Asiya ngangkat bahunya, "Dia gak ada kuliah hari ini."
Dalia ngambil hapenya dari tas tangannya buat nelpon suaminya sambil mereka jalan ke bangku kayu dan duduk. Dia nghela napas sambil nyungsep di bangku, terus nyoba nelpon dia lagi, tapi dia gak pernah ngangkat teleponnya.
Kepalanya sakit banget. Rasanya sakitnya kayak ada orang yang ngambil pisau ke tengkoraknya. Dia nyenderin jidatnya di telapak tangannya sambil merem. Parfumnya Asiya bikin keadaan dia makin parah. Dia ngelirik hapenya sebelum dia geser buat buka dan nelpon nomornya lagi. "Dalia?" Amina manggil pelan. Dia ngangkat matanya yang berat dan ngarahin ke temennya. "Lo perlu ke UKS gak?" Dia nanya. Dalia pelan-pelan geleng sambil maksa senyum. "Gue cuma perlu istirahat," jawabnya sebelum nyenderin jidatnya di telapak tangannya lagi.
Dia mikir alasan kenapa dia gak mau ngangkat teleponnya sambil nyoba tetep melek, tapi mulai gak mempan. Waktu wajah Dalia sepucat matanya, mereka tau dia gak kuat. Dalia berdiri, "Amina." Dalia manggil namanya, naruh tangannya di jidatnya karena ngerasa pusingnya makin parah. Dia kesandung dan jatuh, Amina sama Asiya ngeraih tangannya pas dia jatuh. Terus dia tiduran di lantai semen gak sadar.
Pas dia bangun dari tidurnya yang berat, pertama dia sadar dinginnya di sekitarnya dan aroma yang enak. Dia ngeliat sekeliling ruangan dan ketemu tatapan mereka ke dia. "Gue seneng banget akhirnya lo bangun. Gimana perasaan lo?" Tante nanya dengan khawatir sambil megangin tangannya yang dingin. Dalia senyum lemah dan ngangguk.
Dia ngarahin matanya ke dia, nungguin ibunya selesai ngomong sama dia. "Ko'a dari a watta haddo? A yah a nyona doctor man a viya mo o yunma. (Kamu ngapain berdiri di sini? Panggil dokter dan kasih tau dia udah bangun.)" Muhsin ngedipin matanya terus ngarahin pandangannya ke ibunya sebelum dia keluar dari ruangan.
Dia bantuin dia duduk di kasur sebelum dia nyajiin sup ayam. Dalia meringis dan buang muka karena aromanya masuk ke perutnya. Tante naruh mangkuknya ke samping dan ngarahin pandangannya ke Dalia. "Mau makan apa? Ada teh, pasta, sama salad."
"Teh aja deh," gumamnya sebelum dia menghela napas, ngusap pelipisnya. Muhsin balik lagi sama dokter. "Selamat siang, Nyonya Muhsin. Gimana perasaannya sekarang?" Dokter nanya sambil ngambil catatan Dalia dari meja samping. "Mendingan kok," jawabnya. "Ada sakit kepala atau sakit perut?" Dia nanya sambil nulis di catatan. Sepanjang dokter nanya Dalia pertanyaan, matanya Muhsin gak lepas dari dia.
"Bayinya baru lima minggu tapi udah bikin dia susah." Dia selesai nulis dan natap wajah Dalia yang bengong. "Bayi? Bayi apa?" Dia gak bisa gak nanya. "Kamu hamil, lima minggu. Saya harus pamit sekarang. Dia bakal pulang beberapa jam lagi." Dokter pamit dan keluar.
Gak pernah sebelumnya Dalia mikir dia bakal hamil secepat itu. "Dalia," Muhsin manggil namanya. Dia duduk di bangku samping kasurnya. Dia noleh, tapi pelan banget gak normal. Waktu dia jawab, suaranya pelan, kayak kata-katanya gak mau keluar. Ada kesedihan di matanya, warna cokelatnya terlalu berkilau. "Kamu liat apa yang gue bilang tadi pagi tapi kamu tetep bilang kamu baik-baik aja. Ditambah lagi, kamu gak tidur semalem dan begadang belajar...."