Bab 28
Mereka keluar dari gedung dan mulai berjalan ke mobil lain. "Berkas gue ada di mobil lo," dia ngomong pelan. Dia membuka kunci mobil dan membukanya. "Udah selesai registrasi?" Dia nanya dan dia pelan-pelan ngangguk. "Kalo gitu nggak bakal jadi masalah. Mobilnya bakal dibawa ke rumah gue dan gue bakal bawa berkasnya buat lo kapan aja ada kesempatan." Dia masuk ke mobil dan nyalain mesinnya. Dia pengen teriak karena kesel tapi dia nahan diri. Dia buka pintu depan dan masuk sebelum mereka keluar dari seluruh gedung.
Dia masih ngantuk di perjalanan ke restoran. Dia ngeliatin dia dan fokus lagi ke jalanan. Beberapa menit kemudian, mobilnya berhenti dan dia pelan-pelan buka matanya. BluCabana Restaurant & Cafe, pikirnya dalam hati. Dia pernah ke sana bareng dia. Itu restoran tempat dia ngajak dia pas hari pertama di abuja.
Dia keluar dari mobil barengan sama dia dan mereka masuk ke restoran. Seorang pelayan nyambut mereka dan nanya pesanan mereka pas mereka udah duduk. Pas muhsin selesai mesen, pelayan itu ngalihin pandangannya ke Dalia. "Dia mau sama kayak gue," muhsin buru-buru nyaut. Pelayan itu jawab sebelum dia pamit buat nganter pesanan mereka ke dapur.
Dia sadar betapa nggak enak dan nggak nyaman dia. "Kita bakal pergi dari tempat ini begitu selesai makan," dia ngingetin dia. Dia ngangkat kepalanya, "Gue nggak mau mommy khawatir tentang keberadaan gue." Dia senyum tipis dan ngangguk. "Lo tau nggak mungkin gue keluyuran di kota ini bareng lo tanpa mereka tau, apalagi daddy, jadi santai aja, mereka tau kita bareng." Dia sedikit ngangguk dan nunduk, bukan berarti dia udah tenang. Karena alasan aneh hati dia terus berdebar-debar, apalagi pas dia inget tatapan mommy ke dia setiap kali dia bareng Muhsin.
Hp-nya bergetar dari tangannya dan tanpa mikir dua kali, dia angkat teleponnya. "Tante, selamat malam. Semoga baik-baik aja." Dia ngomong pelan. Dalia ngangkat kepalanya buat ngeliatin dia dan mata mereka saling menatap tapi dia selesai duluan dalam adu tatapan itu. Dia ngomong bahasa itu lagi. Dia nundukin kepalanya dan senyum sambil dengerin dia meskipun dia nggak ngerti sepatah kata pun yang dia omongin.
"Muhsin, lo tau kan kalau pernikahan sepupu lo minggu depan. Gue nggak mau denger alasan apa pun. Lo udah janji buat dateng. Kapan terakhir kali lo jenguk keluarga lo di Yola? Lo terus ngasih gue alesan terus, kali ini, nggak ada alasan yang bisa nyelamatin lo. Mendingan siap-siap minggu depan hari Kamis dan naik pesawat ke Yola bareng istri lo." Tante terus ngomel tanpa henti. Dia jarang ngomel tapi kalau udah ngomel, dia nggak bakal berhenti sampai kuping lo berdarah. Dia gigit bibirnya dan nahan ketawa. "Oke, oke tante, gue bakal ke sana insya Allah tapi gue nggak bisa dateng bareng amira, dia cuma bakal bikin malu gue kayak yang dia lakuin selama ini."
"Muhsin, jangan bikin gue kesel. Bahkan mertua lo juga dateng ke pernikahan ini jadi gue nggak liat alasan kenapa istri lo nggak dateng juga. Mendingan kasih tau dia dari sekarang." Pas dia selesai nelpon, dia tau nggak ada jalan keluar dari itu. Dia garuk-garuk belakang kepalanya dan naruh hp-nya di meja. Hal terakhir yang dia pengen lakuin adalah pergi ke Yola bareng amira. Dia udah bikin malu dia terlalu sering. Keluarga dia nerima dia meskipun dia yang paling buruk di mata hukum.
Semua sepupunya ngincar suaminya, pikirnya. Itulah kenapa mereka nggak pernah sejalan sama sepupu cewek dia atau salah satu tante dia. Pikiran buat pergi ke pernikahan bareng dia bikin dia kesel. Dia sedikit mendesis dan menghela napas.
Pelayan nyiapin pesanan mereka dan pergi. "Lo harus makan. Gue tinggalin lo sendirian dan capek selama berjam-jam." Dia senyum lagi ke dia. Itu udah ketiga kalinya dia senyum ke dia hari ini. Dia bahkan nggak pernah senyum ke dia kayak gitu sebelumnya. Wajahnya selalu datar. Atau mungkin karena apa yang udah dia lakuin ke dia, bikin dia nunggu di kantornya selama berjam-jam. Dia coba senyum tapi gagal. Yang dia mau cuma pulang dan istirahat.
Dia mulai makan makanannya sambil scroll hp-nya. Dia udah setengah jalan makan makanannya sebelum dia mulai makan. Dia naruh sendoknya dan minum beberapa teguk airnya. Dia natap dia sampai dia sadar tatapan panas dia ke dia. "Lo emang selalu kayak gini, Dalia?" Dia berani nanya. Mata dia melebar, nggak bisa mikir jawaban yang cocok sama pertanyaan konyolnya. Dia cekikikan pelan dan geleng-geleng kepala. "Selesai makan, nanti gue anter lo pulang." Seolah itulah yang dia tunggu buat denger, dia lanjut makan. Dia nggak sadar kalau dia lapar sampai dia hampir makan semuanya di piringnya.
Dia ngelap mulutnya pake tisu, nunggu buat denger dia ngumumin mereka mau pergi. Dia manggil pelayan dan bayar tagihannya. "Jadi?" Dia berdiri pelan dan dia ngelakuin hal yang sama. Barengan mereka jalan dari restoran yang terang benderang, tenang keluar ke jalanan rembulan.