Bab 59
Dia cuma bisa ngangguk ke arah dia sebelum keluar dari ruang tamu. Dia merasa dirinya ambruk di kasur sambil menghela napas, yang bikin lega. Dia merem beberapa menit karena wajah dia terus muncul di pikirannya bareng kata-kata yang menenangkan.
Dia turun dari kasur pas ngeliat jam dan sadar cuma punya kurang dari sejam buat siap-siap. Dia mandi dan pake salah satu Kaftaan putih kesukaannya. Dia keliatan proporsional banget. Dia nyisir rambutnya dan pake topi yang serasi sebelum nyemprotin parfum yang wangi ke badannya.
Dia jalan ke bawah, ke area makan. Rumahnya sepi banget, dia suka gitu. Pasti dia lagi di kamar amira, pikirnya. Dia buka kertas alumunium dan ngejilat bibirnya yang kenyal. Dia ambil piring dan ngisi piringnya penuh sama keripik dan saus daging cincang. Dia ke kulkas dan ngambil sebotol jus cranberry terus balik ke tempat duduknya.
Dia selesai makan sarapan sebelum berdiri mau pergi. Dia keluar rumah, ke mobilnya. Dan beberapa menit kemudian, dia udah di masjid.
Dia selesai beresin kamar amira sebelum pake dupa yang dibakar di mana-mana kayak biasanya. Dia beresin ruang makan dan balik buat makan brunch-nya sendiri. Setelah makan, dia sholat Dhuhur dan balik ke ruang tamu.
Dia mondar-mandir di ruang tamu yang gede itu pas ada ide muncul di otaknya, tapi siapa dia yang berani ngelakuin sesuatu? Itu kalau dia mau pemilik rumah, amira, iris-iris dia. Pintu depan kebuka, dan dia muncul. Dia senyum ke dia sambil masuk ke ruang tamu sambil ngucapin Salam. "Kamu ngapain berdiri di sini?" Dia nanya. "Selamat datang," dia malah ngomong gitu. Dia nghela napas lega, sambil senyum. "Makasih, sekarang kenapa kamu berdiri?" Dia nanya lagi.
"Ruang tamunya bagus, tapi bakal lebih bagus kalau sofa tiga tempat duduknya hadap TV. Vas-vas ini harusnya di samping gorden dan pintu masuk." "Mn." Dia ngangguk. "Ide bagus, kita harus lakuin." Mata dia melotot sebelum dia ngegeleng. "Tapi gimana kalau Tante Amira nggak suka?" Dia nanya, kesel. "Emangnya dia pemilik rumahnya?" Dia nanya dan dia dengan polos ngegeleng, nunduk. "Maaf," dia gumam pelan tapi dia denger.
Dia senyum ke dia, "sekarang kita tata ulang ruang tamu ini sesuai selera kamu." Dia senyum tipis dan ngangguk. Mereka mulai mindahin perabotan barengan dan mindahin beberapa barang di ruang tamu.
"Gimana menurutmu?" Dia nanya sambil natap dia buat liat reaksinya. Dan dia dapet reaksi yang dia mau, dia keliatan seneng, bukan buat bikin dia seneng tapi dia beneran suka sama tata letak yang baru.
"Nggak pernah keliatan seindah ini sebelumnya, maksudku ini... Keliatan keren dan aku yakin amira juga bakal suka." Dia menjerit kegirangan, matanya bersinar. "Aku tau kok bakal keliatan bagus juga." Dia ngeliatin dia sambil dia ngeliatin seluruh ruang tamu, senyum-senyum. Dia pengen bilang ke dia betapa cantiknya dia, dia pengen bilang ke dia gimana dia pengen bareng dia seumur hidupnya tapi dia bakal dianggap apa sama cewek itu? Pengecut?
Dia ngeliat jam, udah hampir jam tiga sore. "Mau masak apa buat makan siang?" Dia denger suara dia yang kecil dan merdu. "Saus daging cincang yang kamu bikin buat sarapan, aku suka. Jadi kenapa nggak bikin lagi pake pasta?" Bibirnya melengkung ke atas sambil ngangguk. "Ayo, aku bantu." Dia nunjukin jalan ke dapur. "Kamu nggak capek? Kamu bahkan nggak istirahat pas balik dari masjid." Mereka masuk dapur sebelum dia melenggang ke toko dan ngambil satu bungkus spaghetti. "Kalau aku mau istirahat sekarang, kamu juga harus istirahat, atau kita masak bareng."
Dia natap dia sebentar sebelum dia ngalihin pandangan. "Tapi aku bahkan nggak capek sama sekali, aku istirahat sebelum kamu dateng." Dia pindah ke tempat panci dan ngambil yang sedang sebelum dia cuci dan ngisi setengah panci itu dengan air. Dia pindah ke kompor dan naruh panci di atasnya. Matanya nggak lepas dari dia. Dia noleh dan kepergok lagi ngeliatin dia, padahal udah beberapa kali dia kepergok ngeliatin dia hari itu. "Ya udah kita masak," katanya sambil ngegulung lengan kaftannya. Dia menghela napas pasrah. Dia ngasih wortel ke dia buat dipotong sementara dia motong sayuran yang lain.
Dia pindah ke pantry setelah itu dan ngambil semua bahan yang mereka butuhin buat sausnya. Dia merhatiin semua yang dia lakuin, dia pengen belajar masak, setidaknya buat nanti-nanti.
Mereka selesai semuanya kurang dari sejam dan ngerapiinnya di meja makan. "Kamu harus sholat sekarang, aku mau ke masjid." Dia pamit dan naik ke atas sementara dia pergi ke toilet tamu.
Berjam-jam, dia mau keluar dan nganterin dia pulang pas amira akhirnya muncul. Dia ngeliatin mereka berdiri di ruang tamu, dia tau banget mereka mau keluar. "Siapa yang kurang ajar udah ngerubah tata letak ruang tamu gue?" Dia teriak. Kalau dia inget, ruang tamu dia ada di atas, itu ruang tamu dia bukan punya dia. Tapi dia udah ngerubah semuanya jadi punya dia. "Jaga omonganmu, tolong!" Dia memperingatkan. Dia melongo ke Dalia yang bergeser pelan di belakangnya, keliatan ketakutan banget.