Bab 15
"Udah selesai semua berkasnya?" Munya nanya ke pengacaranya.
"Udah, Yang Mulia. Tinggal tanda tangan, terus bisa kami kirim ke istri Anda."
"Oke," katanya sambil manggil Gareth buat cepet-cepet ke tempatnya.
Surat cerai jadi fokus utama dia selain urusan lain hari itu. Habis ini dia mau gabung Rudo sama Nash buat jalan-jalan. Mikirin dia aja udah bikin dia senyum-senyum.
Gareth dateng, terus ngasih tau di mana dia berada.
"Oke, bawa nih surat ke ratu. Aku kasih tau ya, habis baca surat ini, dia pasti nggak bakalan mood," katanya sambil nyengir. "Cari aku ya, habis kamu kirim suratnya," katanya pas John lagi ngumpulin dokumen lain yang udah dia tanda tangani.
Dengan hormat, Gareth buru-buru keluar dari ruangan.
"Ada lagi yang perlu perhatian saya?" Dia nanya ke John.
"Nggak ada, kayaknya. Semua beres," katanya.
"Bagus. Kamu libur aja hari ini," kata Munya pas John ngasih jaket setelannya.
Keluar dari ruangannya, mereka jalan ke garasi sambil dia ngecek hapenya buat liat ada pesan apa nggak. Mutusin buat nggak ganggu Rudo, dia masukin lagi hapenya pas mereka keluar dari gedung kantornya.
Mejamkan mata, dia berharap udah bikin keputusan yang bener dengan nyuruh kirim surat-surat itu hari itu juga.
"Lama banget sih?" Dia ngomel karena ngerasa mobilnya nggak jalan-jalan.
"Ada kecelakaan, Yang Mulia," jawab supirnya.
"Nggak bisa lewat jalan lain?"
"Mobil pertama udah buka jalan buat kita, Yang Mulia," jawabnya.
Munya diem aja, merhatiin keributan di luar, petugas polisi sama ambulans udah pada di lokasi.
"Pelan-pelan," katanya pas mereka lewat petugas yang kayaknya jadi penanggung jawab.
"Perlu bantuan?"
"Nggak usah, terima kasih, Yang Mulia, semua terkendali," jawab petugas itu.
"Ada korban?"
"Cuma luka ringan, nggak terlalu serius," katanya.
"Oke," katanya sambil naikin kaca jendela, terus ngangguk ke supirnya buat jalan lagi.
-----
Masuk ke toko serba ada yang Gareth sebutin, dia ngecek ruangan dari pintu masuk, pas John buru-buru nyari manajernya.
Jalan ke bagian pakaian musim dingin, dia senyum ngeliat ada sweater warna kesukaan dia, biru. Manggil penjaga, dia nyerahin sweater itu, terus dia balik badan buat ngecek lagi bagian itu.
"Yang Mulia," dia denger, terus dia balik badan ngadepin cowok, masih muda banget buat jadi manajer, tapi ternyata manajer.
"Saya lagi nyari dua orang. Cewek sama cowok," katanya sambil ngecek ruangan di belakang manajer, sebelum akhirnya matanya berhenti ke cowok di depannya.
Dia gampang banget lebih tinggi dari manajer, yang keliatan bingung saat itu, sebelum ekspresinya berubah. Senyum ke dia, dia nunjukin gigi yang udah kena noda rokok, kulit cokelatnya bersinar dengan aura kebaikan, matanya bersinar karena semangat.
"Maksudnya pencuri itu. Udah kami urus, Yang Mulia. Kartu Anda aman di tangan polisi," katanya sambil sumringah, pas ekspresi Munya berubah jadi nggak percaya banget.
"Gimana?" Katanya sambil membungkuk sedikit, noleh kepalanya, terus ngasih telinganya ke cowok itu.
"Cewek sama cowok itu masuk ke sini. Mereka mau pake kartu Anda buat beli baju, tapi kami hentikan pas liat itu kartu Anda, bukan punya mereka," katanya. "Kartu sama pelakunya ada di tahanan poli...," katanya sebelum berhenti pas raja narik kerahnya bajunya, terus ngangkat dia lebih deket.
"Mendingan kamu berdoa nggak ada yang terjadi sama mereka," katanya sambil ngelepas manajer itu ke lantai, pas cowok itu coba buat seimbang. Nengok ke sekeliling toko, dia liat beberapa karyawan keliatan bingung.
"Minta rekaman CCTV!" Dia ngamuk sambil pengawalnya ngebuka jalan buat dia keluar.
Marah adalah emosi paling kecil yang nyiksa dia. Dia lebih khawatir soal keadaan mereka. Kalo dia tau bakal ada kejadian kayak gini, dia sendiri yang bakal ajak mereka belanja.
-----
Masuk ke kantor polisi, dia ngecek ruangan, liat petugas lagi sibuk di mejanya, tapi orang yang dia cari nggak ada di mana-mana. Kaptennya muncul buat ngebantu mereka dari tempat 'umum' ke tempat yang lebih pribadi.
"Yang Mulia, ada yang bisa kami bantu hari ini?" Kata kapten sambil nuntun mereka ke ruangannya di lantai dua. Ruangannya kayak gitu, dia bisa liat apa yang terjadi di lantai dasar.
"Dua orang dibawa ke sini sejam yang lalu. Cewek sama cowok. Nama mereka Rudo sama Panashe. Mereka di mana?" Dia nanya pas cowok itu duduk, jelas lupa dia lagi di hadapan siapa.
"Aha, dua orang yang nyolong kartu Anda. Kami lagi nanya ke cewek itu, dapet kartu dari mana, dan saya harus bilang, dia keras kepala banget. Dia bilang Anda yang ngasih," dia ketawa kecil di bagian akhir.
"Emang saya yang ngasih," kata Munya dengan muka datar.
"Hah? Wah..." kata cowok itu sambil duduk tegak di kursinya.
"Bawa mereka ke saya sekarang," Munya ngamuk, pas ruangan jadi hening banget, suara jarum jam seakan kedengeran keras.
Kapten ngambil hapenya, terus nelpon sesuai kebutuhan. Munya nggak sabar, keluar dari ruangan, pas Nash lari ke arahnya, air mata ngalir di pipinya.
Berjongkok, dia ngegendong cowok itu, meluk dia sambil nenangin, pas dia makin nangis.
"Mereka nyakitin kakakku," dia nangis, pas Munya tegang denger itu. Ngedudukin cowok itu, John narik dia ke arahnya, pas Munya jalan ke lantai dasar buat nyari dia sendiri.
"Dia di mana?" Dia ngos-ngosan, makin khawatir dan marah pas dia berdiri tegap dan kaku.
Rudo perlahan keluar dari ruangan lain sambil megangin perutnya. Jelas dia nolak bantuan petugas, pas cewek itu jalan deket di belakang dia, jaga-jaga kalo dia butuh bantuan.
Bergerak ke arahnya secepat kilat, dia nangkap dia sebelum pingsan.
"Santai, sayang," dia bergumam sambil ngegendong dia, merhatiin dia.
Megangin wajahnya di tangannya, dia ngapus air matanya sebelum dia ngambil tangannya. Berhenti gerakannya, dia liat memar di pergelangan tangannya. Pelan-pelan ngelepas tangan satunya dari perutnya, dia liat sedikit rasa sakit di wajahnya pas dia naruh tangannya di perutnya, cuma ngerasain perban di balik bajunya. Nelen benjolan yang muncul di tenggorokannya, dia meluk dia erat.
"Siapa yang ngelakuin ini ke kamu, sayang," dia berbisik di telinganya pas dia tanpa sadar makin deket ke dia, nyari kehangatan yang dia kasih. "Siapa yang ngelakuin ini ke kamu, sayang?" Dia nanya lagi, suaranya gemetar karena emosi.
Dia nengok ke dia sambil geleng-geleng kepala.
"Aku harus tau. Kalo nggak, mereka bakal lakuin ini ke orang lain yang nggak beruntung," katanya dengan tatapan memohon.
Masukin tangannya ke lehernya, dia gendong dia, pas dia nyembunyiin wajahnya di ceruk lehernya sambil berbisik nama-nama petugas yang nangkep mereka.
Petugas yang disebut dipanggil. Munya ngeliatin mereka dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan jijik. Nemu Gareth, dia manggil dia, sebelum nyerahin dia ke perawatan Gareth, pas dia jalan ke arah mereka berdua.
"Kamu punya hak apa buat nyentuh dia sama anak kecil itu," katanya sambil ngeliatin petugas yang kulitnya lebih gelap dari dua petugas itu.
"Dia nolak...," katanya sebelum berhenti pas dia liat perubahan di ekspresi Munya.
"Dia ngatain dia jelek," Nash teriak marah pas John nahan dia, sebelum cowok itu ngelakuin apa pun yang bisa bikin dia kena masalah.
"Kamu nggak punya hak sama sekali karena aku yang ngasih dia kartunya," katanya dengan tenang yang bikin mereka semua kaget, karena bahasa tubuhnya nunjukin hal lain. Nunduk, dia merem, nyubit pangkal hidungnya sambil narik napas dalam sebelum dia menjauh dari petugas, terus ngegendong Rudo lagi.
"Jawab hapemu, kapten," katanya dengan nada yang jelas pas dia jalan ke pintu keluar.
Pas kapten noleh ke ruangannya, hapenya bunyi, terus dia buru-buru jawab, rasa takut satu-satunya emosi di wajahnya.
Masuk ke mobil, Munya nyuruh supirnya buat pergi ke gubuk dia, pas Gareth nelpon dokter buat langsung ke gubuk.
"Dia pasti capek karena kejadian tadi," Gareth bergumam pas Munya naruh dia di kasur.
"Betapa banyak masalah yang harus dia hadapi karena aku," Munya berbisik pas dokter masuk ke ruangan.
---
"Kamu harus bangun, sayang," katanya ke telinganya pas dia mulai bangun dari tidurnya.
Ngebantu dia turun dari kasur, dia ngambil tangannya pas mereka keluar dari kamarnya. Dia maksa buat nemuin adiknya. Habis mastiin mereka berdua santai, dia keluar buat nelpon beberapa orang. Nerima pesan suara yang penting, dia buru-buru pergi ke istana.
Pas sampe, dia nemuin istrinya lagi ngehancurin ruangannya.
"Berani-beraninya kamu!" Dia teriak sambil ngelempar vas bunga ke arahnya, pas dia menghindarinya. "Habis ngasih kamu pewaris, ini cara kamu memperlakukan aku. Aku bisa nikah sama siapa aja. Siapa aja yang aku mau, tapi aku milih kamu, dan hari ini kamu mutusin buat ngasih aku surat cerai. Apa karena cewek itu, kasih tau aku, apa yang bisa dia kasih yang nggak bisa aku kasih. Apa dia jago di ranjang, atau sihirnya terlalu kuat buat kamu tolak!" Dia teriak marah.
"Jawab aku!" Dia meludah, pas Munya cuma ngeliatin dia tanpa ngomong sepatah kata pun.
Mecah keheningan, dia bilang, "Kalo kamu udah selesai, aku mau ganti baju yang lebih nyaman," katanya pas dia ngelepas rompinya.
Terjebak dalam frustasi, dia keluar dari ruangan, pas dia masuk ke lemarinya, cuma nemuin semua bajunya udah rusak.
Mendesah, dia keluar dari ruangannya, sambil manggil John.
"Ambilin aku dua kaos polo, celana jeans, sama celana training, sisanya aku urus sendiri. Ketemu di gubuk," katanya.
Tanpa kata lain, dia keluar dari istana, langsung pergi ke gubuk.
Pas sampe, dia nemuin kakak beradik itu tidur pulas di ruang keluarga. Pelan-pelan misahin Nash dari dia, dia gendong cowok itu ke kamarnya, terus nyelimutin dia.
"Selamat malam, Munya," dia denger Nash berbisik, bikin dia senyum.
Cowok kecil itu akhirnya percaya sama dia sampe pake nama depannya.
"Selamat malam, Nash," dia berbisik balik.
Balik lagi ke ruang keluarga, dia berjongkok di samping sofa, merhatiin dia.
"Maafin aku, sayang?" Dia berbisik pas dia duduk di lantai, naruh wajahnya di tangannya. "Maafin aku," dia bergumam, pas tubuhnya gemetar karena kesedihan yang dia rasain. Dia cuma pengen bawa dia pergi dari semua drama, apalagi yang bakal dia hadapin.
"Munya, ada apa?" Dia denger Rudo berbisik.
Nahan diri, dia ngeliatin dia, mendekat ke dia.
Berlutut di samping sofa, dia ngambil tangannya, ngeciminnya tanpa kata lain.
"Nggak ada apa-apa, sayang, aku baik-baik aja sekarang," dia berbisik sambil condong maju buat nyium keningnya. "Aku baik-baik aja sekarang," dia bergumam pas dia berdiri. Ngegendong dia, dia ngerasa seneng pas dia nggak protes, tapi malah ngiket tangannya di lehernya terlalu erat, bikin dia ketawa kecil.
"Aku nggak bakal biarin kamu jatuh, sayang," dia ketawa kecil, pas dia blushing.
"Maaf," katanya, minta maaf, terus ngelemesin pegangannya, sebelum nyenderin kepalanya di bahunya.
Pas dia naruh dia di kasur, ketukan mecah keheningan, pas dia pergi buat liat siapa itu.
John berdiri di depannya, bawa koper kecil dan tas ransel. Ngambil tas itu dari dia, dia nyuruh cowok itu selamat malam.
Ngunci pintu, dia naruh tasnya di kamarnya, terus dia ngecek Nash sebelum ngelakuin hal yang sama ke Rudo.
Dia tiduran di kasur, masih pake baju yang sama. Balik badan, dia pergi ke kamarnya, ngambil kemeja buat dia. Baju ketat cuma bakal bikin masalah sama lukanya.
"Kirimin dua pelayan," dia ngamuk ke hapenya.
Beberapa menit berlalu sebelum ada ketukan. Buka pintu, dua cewek itu membungkuk memberi salam.
"Bantu Rudo ganti baju. Hati-hati sama lukanya. Pakein dia kemeja, itu longgar cukup buat nutupin dia tanpa bikin luka lagi."
Balik ke kamarnya setelah beberapa saat, dia nemuin dia masih pingsan. Obat apa pun yang dia terima pasti bikin dia tidur pulas.
Nyium keningnya, dia keluar dari kamarnya, pergi ke kamarnya sendiri.
-----
Teriakan ketakutan ngebangunin dia, pas dia lari keluar dari kamarnya, cuma buat nyadar teriakan itu dari kamarnya. Lari ke arahnya, dia nemuin dia duduk, basah kuyup keringat sambil napas cepet.
"Munya," dia berbisik, pas dia narik dia ke pelukannya.
"Nggak apa-apa, sayang, aku di sini," katanya, pas Nash masuk ke ruangan sambil ngucek matanya.
Di belakang Nash, tiga penjaga bersenjata berdiri di pintu, ngecek situasi, nggak ada penyusup di ruangan.
Goyangan kepala sederhana cukup buat ngusir orang-orang itu.
Tanpa kata-kata, Nash naik ke kasur, duduk di sampingnya, megang tangannya.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku bakal bikin mimpi buruknya hilang," katanya.
Munya ngeliatin interaksi mereka. Kayaknya udah jadi rutinitas.
"Nash, apa ini terjadi setiap hari?" Dia nanya ke cowok itu, yang cuma ngangguk.
"Oke, tidur lagi, aku bakal jagain kakakmu." Cowok itu cuma nurut, terlalu capek buat debat.
Ngambil dua kursi, dia ngelakuin hal yang nggak disangka-sangka. Tanpa nanya, dia cuma ngulurin tangannya pas dia ngelempar selimut ke dirinya sendiri, pas dia ngerentangin tubuhnya yang tinggi ke dua kursi itu. Megang tangannya, dia merhatiin dia pas dia merem, terus tidur, dan dia ngikutin.
—————
Pagi berikutnya, dia bangun nemuin kasurnya kosong. Pelan-pelan bangun, dia meregangkan tubuhnya sebelum keluar dari ruangan.
Masuk ke dapur, dia nemuin dia lagi siapin sarapan sambil nyanyi pelan, jelas nggak sadar kehadirannya. Dua pelayan dari malam sebelumnya lagi nyiapin meja dan nyuci piring. Nyilangin tangan di dada polosnya, dia berdehem, bikin dia noleh kaget. Pelayan itu nunduk, minta diri.
Senyum ke dia, dia ketawa kecil pas dia bergerak ke arahnya.
"Selamat pagi, sayang," dia berbisik sebelum nyium keningnya.
"Selamat pagi, Munya," dia berseri-seri.
"Soal kejadian semalem. Makasih... makasih udah ada buat aku," dia berbisik, gelisah sama ujung bajunya. "Dan...dan...juga udah gantiin bajuku. Ini beneran nyaman," katanya, nunjukin kemejanya.
"Nggak masalah, sayang. Aku harus bilang, kamu pantes banget pake baju itu," dia nyengir, merhatiin dia senyum malu-malu pas dia nunduk.
---
Habis sarapan, dia maksa mereka berdua ikut. Pertama, mereka pergi ke kantornya. Ngeliat beberapa majalah, mereka nunggu di kantornya, sementara dia cepet-cepet tanda tangan semua berkas yang perlu tanda tangannya, habis beresin jadwalnya, mereka keluar dari kantornya.
"Jadi kita mau ke mana?"
"Belanja," dia cuma bilang, matiin iPad-nya pas mereka belok ke kompleks perbelanjaan.
"Tapi tutup," katanya, ngeliat parkiran kosong.
"Iya nih, tapi jangan khawatir," katanya sambil megang tangannya, pas Nash lari duluan pas dia liat toko buku anak-anak.
"Kakak liat," dia berseri-seri, nunjuk ke salah satu set buku. "Yang lain pasti suka buku ini pas waktu cerita," katanya.
"Yang lain?" Munya nanya.
"Kelas dansa juga ada sesi sekolah buat anak-anak yang susah sama pelajaran sekolah dan satu jam baca." Dia nengok ke dia dengan takjub pas dia pelan-pelan ngeliat-liat perpustakaan.
"Mereka pasti kangen sama kamu," dia tiba-tiba bilang.
"Hmm, aku harap mereka baik-baik aja. Aku nggak mau mereka kena masalah apa pun," katanya.
Dengan senyum, dia ngangguk, jongkok ke level Nash, terus berbisik sesuatu di telinga cowok itu.
"Ayo pergi," katanya, ngulurin tangannya pas mereka ninggalin John dan Nash.
Masuk ke toko dari kemarin, staf nyapa mereka sebelum manajer minta maaf ke dia.
"Maafin saya, Nona. Saya nggak tau," katanya, jelas khawatir. Rudo cuma senyum pas matanya berkeliling, berhenti ke sweater biru yang kebetulan, Munya pilih kemarin. Tapi sayang, dia nggak peduli pas liat harganya.
"Ini bakal bagus buat kamu," katanya sambil ngambil sweater, terus noleh ngambil celana jeans skinny hitam, terus ngasih ke dia. "Kalo mau," katanya, ngasih baju buat dicoba.
Dengan tatapan ragu, dia ngambil baju sebelum dia menghilang ke ruang ganti.
Beberapa menit kemudian, dia denger ketukan, cuma buat denger suara cewek.
"Nona, raja mau ketemu Anda," dia gagap.
Mendesah, Rudo keluar dari ruangan, nemuin Munya lagi sabar nunggu dia. Dia langsung senyum pas ngeliat dia, terus ngambil tangannya.
"Tepat seperti yang aku bayangin," dia berbisik, bikin dia blushing.
"Tapi ini terlalu mahal. Kita bisa beli baju yang kita pilih kemarin," katanya pelan.
"Kamu belanja sama aku, sayang, kamu bisa milih apa pun yang kamu mau. Yang aku mau cuma kamu nyaman. Ganti baju, dia nyuruh dia keluar dari toko.
"Jadi aku butuh beberapa baju baru juga. Kamu bakal jadi asisten aku, dan aku bakal jadi asisten kamu," katanya pas mereka jalan ke toko lain.
"Deal," dia senyum ke dia pas dia liat adiknya lari ke arah mereka dengan semangat.
-----
"Jadi gimana penampilan aku?" Dia nanya pas dia keluar dari ruang ganti, ngerapiin dasinya.
"Kamu keren," katanya, tapi matanya bilang beda.
"Tinggalin kita," katanya ke petugas.
Pas mereka berdua, dia jalan ke arahnya, ngulurin tangannya.
Ngebantu dia berdiri, dia miringin kepalanya buat nanya, "Gimana penampilan aku."
"Wah," katanya ragu-ragu, ngambil dasinya. Narik dasinya pelan-pelan, dia ngelepasnya sebelum lanjut buat buka dua kancing bajunya.
"Jauh lebih baik sekarang," katanya pas dia noleh ke cermin buat ngeliat hasil karyanya.
Noleh ke dia, dia senyum, ngangguk.
"Jauh lebih baik. Liat kenapa kamu harus bantu aku, sayang?" Dia bilang, pelan-pelan ngelepas jaketnya.
"Iya, jelas kamu butuh aku," dia nyengir pas dia ketawa keras ke pernyataannya...
Salam buat semuanya.
Semoga kalian baik-baik aja. Aku sibuk banget, maaf ya telat.
Semoga kalian suka updatenya.
Vote
Komen
Promosi ???