Bab 19
"Simba," kata Munya, keliatan gak seneng pas dia berdiri nyapa sodaranya. "Tuan Thomas, seneng banget bisa ketemu langsung," Munya senyum.
"Senengnya juga buat saya, Yang Mulia. Dan siapa bunga cantik yang bikin pertemuan kita makin indah ini," katanya sambil megang tangan Rudo, terus dicium deh tuh tangannya.
"Maafin aku ya, sayang," kata seorang cewek, Tuan Thomas langsung nyengir ke cewek itu, terus nyium bibirnya.
"Ah, Maria, cinta dalam hidupku," sapa dia, terus ngenalin dia ke grup.
"Ini temen aku, Rudo," kata dia sambil ngenalin, matanya gak lepas dari sodaranya pas dia salaman.
Dia bantuin cewek itu duduk, terus mastiin dia deketan sama dia dengan narik dia deketan, bikin cewek itu nanya, "Apaan sih?"
"Kenapa?" tanyanya polos pas pelayan dateng bawa menu.
"Bisa gak sih lo santai," kata cewek itu sambil nyentuh lengannya.
Seseorang yang berdehem bikin mereka ngeliat ke Simba.
"Kita mulai rapatnya sekarang bisa gak sih?" katanya dengan nada kesel. Dia gak peduli sama pertanyaan itu, langsung aja ngambil menu, terus ngomongin sama Rudo, akhirnya mesen sepiring makanan laut, sementara Rudo milih hidangan ayam.
Nikmatin makanannya, obrolan lancar banget, dia senyum ngeliatin Rudo ketawa dengerin cerita Thomas tentang gimana dia naksir istrinya, yang cuma bisa malu-malu dan benerin dia beberapa kali karena dia lebay.
"Permisi ya," kata cewek itu sambil dorong kursinya ke belakang, terus dia bantuin dia berdiri.
"Semuanya baik-baik aja kan?" tanyanya.
"Aku gak papa, cuma mau ke toilet," bisik dia.
Dia senyum ke dia, terus ngangguk, ngeliatin dia pergi.
"Cewek muda yang cantik," kata Maria, suaminya ngangguk setuju. "Coba ceritain lagi, kenapa kita gak bisa investasi di proyek mereka," katanya sambil nengok ke suaminya.
"Soalnya saya mau ketemu sama orang yang megang kendali dulu, bukan sama utusan," kata Thomas, bikin Munya nyengir sadar itulah yang bakal dia lakuin kalau keadaannya dibalik.
"Ya udah, maafin saya ya, saya sibuk banget."
"Iya, lo emang sibuk," kata Simba sambil minum wiski.
Dia gak peduli sama komentarnya, terus nengok ke pasangan itu, ngobrol lebih lanjut sama mereka, pas Simba berdiri, pamit.
Munya ngeliat sodaranya agak goyang pas dia keluar ruangan, yang nunjukin dia gak bakal minum alkohol lagi atau gak mau malu.
Nawarin idenya ke pasangan itu, Munya cemberut ngeliat Rudo lebih lama dari yang diperkirakan.
"Permisi," katanya pas pasangan itu berdiri sebagai tanda hormat.
Jalan ke pintu masuk ruang makan mereka, dia nunjuk ke dua pengawalnya buat ngikutin dia, terus dia jalan ke lantai utama, nyari-nyari di area makan. Beberapa mata ngeliatin ke arahnya karena ada yang kenal dia. Ngeliat beberapa wajah yang familiar, dia cuma lewat aja, lebih fokus nemuin Rudo.
"Cari sodara gue," gerutu dia pas jalan ke toilet cewek.
Buka pintunya, dia nemuin ruangan itu kosong, bikin dia ngepalin tinjunya karena kesel. Kalau dia gak ada di sini, berarti dia di mana, pikirnya.
Jalan di koridor, dia ngeliat pintu toilet cowok sedikit kebuka.
Buka pintunya, darahnya mendidih pas dia ngeliat sodaranya lagi nyudutin pelayan di dinding.
"Kecilin suara lo, atau..." bisik dia dengan suara rendah serak, air mata netes dari pipinya.
Narik dia dari pelayan itu, dia dorong dia jauhan.
"Jangan pernah sentuh dia atau staf gue lagi," Munya ngamuk.
"Kenapa, Bro? Apa mereka semua gak murahan?" Simba nyembur.
"Ngomong sekali lagi. Gue tantang lo," kata Munya sambil maju selangkah ke dia.
"Ayolah. Tolong jangan bilang, cewek itu udah ngerubah lo," kata dia, Munya ngamuk.
Narik kerah Simba, dia nonjok dia, bikin hidungnya patah, sebelum dorong dia ke tanah. Nengok ke Rudo pas dia berdiri kaget di pintu masuk.
"Sayang," katanya, terus jalan cepat ke arahnya. "Lo dari mana aja?" tanyanya, ngeliatin dia sebelum megang wajahnya.
"Munya!" dia teriak pas Simba nyerang dia. Nonjok Munya, dia kehilangan keseimbangan, kepalanya kejedot wastafel, langsung pingsan.
Beberapa pengawal nyerbu masuk ruangan, nangkep Simba sebelum dia bisa ngapa-ngapain lagi.
Tuan Thomas masuk ruangan dan nemuin Rudo lagi jongkok di samping Munya, nangis, mohon-mohon dia bangun. Pelayan itu udah ditenangin sama temen kerjanya, Rudo fokus ke Munya.
"Ayo, sayang, dia harus dibawa ke rumah sakit," katanya, sadar kalau genangan darah mulai terbentuk di lantai.
Pake pintu belakang buat keluar, mereka langsung lari ke rumah sakit. Sepanjang waktu itu, Rudo gak pernah lepasin tangannya.
———
Dia pelan-pelan buka mata, nemuin ruangan itu gak ada orang lain. Pintu yang dibuka dan ditutup ngebuat dia sadar, dia nengok ke arah suara itu. Jalan pelan-pelan, dia bahkan gak sadar kalau dia udah bangun, dia merem, kepalanya sakit banget.
Duduk di samping tempat tidur, dia ngerasa tangannya di kulitnya, dia pegang tangannya lembut.
"Tolong jangan pergi," bisik dia.
Bahkan dalam keadaannya, dia bisa ngerasain lebih dari cuma khawatir di suaranya.
"Aku gak bakal kemana-mana, sayang," bisik dia buat dia denger, bikin dia ngeliat ke dia.
Ngasih dia senyum terbaik yang bisa dia kasih, dia ngeliat ke dia, air mata ngalir.
"Kalau lo gak berhenti nangis, gue bakal cium lo," bisik dia, bikin dia cekikikan sambil ngusap air matanya.
"Udah berapa lama gue di sini?" tanyanya.
"Seminggu," kata dia, dia kaget ngeliatin dia.
"Cewek itu?"
"Dia baik-baik aja. Keluarganya mampir buat nemuin lo," katanya. "Lo pahlawan kesiangan dia," dia senyum.
Dia senyum ke dia.
"Gue pahlawan kesiangan semua orang," katanya sambil ngasih kedip mata.
"Iya deh," kata dia sambil muter mata.
"Gimana sodara gue?"
"Dia udah dibebasin. Cuma kalau lo bikin laporan, dia bakal ditahan lagi. John bilang sesuatu tentang kekebalan diplomatik."
Dia merem mikir sebelum dia ngeliat ke dia sekali lagi.
"Lo harus istirahat," bisik dia, dia merem lagi.
———
"Makasih, Yang Mulia," kata cewek muda itu, ngeliat ke tanah karena malu.
"Seharusnya gue yang minta maaf atas tindakan sodara gue," kata Munya, minta maaf.
"Gue gak tau kenapa dia nyerang gue," katanya, Munya ngeliatin dia.
Bahkan Gareth ngeliat apa yang dilihat rajanya. Dia bisa aja salah ngira dia Rudo kalau dia gak kenal dia deket.
"Sekali lagi, gue minta maaf," katanya sambil ngadep ke pasangan tua yang adalah orang tuanya. "Gue bakal urus sodara gue sendiri," katanya, ngeliat Rudo pas dia masuk ruangan.
Jalan ke arah mereka, dia berdiri di sampingnya, senyum ke cewek muda itu.
"Dia gak nakal kan?" kata dia sambil ngulurin tangan, bikin pasangan tua itu cekikikan, ngebuat suasana serius itu pecah.
Nengok ke dia, dia nemuin dia ngeliatin dia sayang.
"Kenapa? Gue tau lo bisa nakutin," katanya, bikin dia ketawa.
"Kita pamit dulu ya," dia ngumumkin pas mereka keluar.
Keluar rumah, dia senyum ngeliatin dia. "Kalau orang lain yang ngelakuin itu, mereka pasti gak bakal hidup sampai besok," katanya, wajahnya pucat. "Tapi lo beda, sayang," dia senyum, ngangkat tangannya ke bibirnya, ngeliat dia santai.
Masuk mobil, dia ngeliatin dia masih senyum sebelum dia nyandar buat istirahat.
"Udah gue bilang, lo harus minum obat," kata dia, ngasih dia botol air pas dia ngambil obatnya.
Dia harus nahan diri buat gak senyum ngeliat perhatiannya. Bahkan mantan istrinya gak pernah nunjukkin perhatian kayak gitu buat kesehatannya.
"Gue cuma perlu nemuin mereka dulu sebelum kita pergi," katanya.
"Ya udah, tapi lo ngerugiin kesehatan lo," kata dia sambil nyilangin tangan pas dia ngeliat keluar jendela.
"Maaf ya, sayang," katanya ngeliat dia kesel.
"Cuma pas gue ngeliat darah banyak banget dan lo gak bangun, gue mikir kalau lo, kalau lo gak bakal...," dia gak selesai ngomong, ngusap air matanya, pas dia narik dia ke pelukannya.
"Gimana kalau gue bilang, gue juga mikir gitu tiap kali gue ngeliat lo luka, sayang? Tapi satu hal yang gue tau adalah takdir udah ngebawa kita ketemu dan gak ada yang bakal misahin kita. Bahkan luka kecil," dia senyum. "Lagian lo yang ngerawat gue sampai sehat lagi," katanya sambil nyium keningnya.
"Cuma jangan bikin diri lo dalam bahaya lagi ya," katanya dengan nada serius.
"Siap, Nyonya," katanya sambil senyum.
——-
"Kita mau kemana?"
"Gue harus ngurus urusan bisnis sama tetua lainnya, makanya gue harus deket sama mereka. Tapi sekaligus gue juga perlu lo deket sama gue," katanya, bikin dia blushing. "Mulai sekarang kita bakal tinggal di sini," katanya pas gerbang kebuka, nunjukin jalan masuk panjang yang ada pohon di kedua sisinya. Berasa kayak udah lama banget sebelum jalan masuk itu kebuka buat mereka, disambut gerbang lain dan tembok keamanan yang ngelilingin pintu besar. Dua pengawal pake setelan jas dengan lambang kerajaan yang dipamerin di bahu mereka narik gerbang, pas dia sadar ada dua menara yang ngapit gerbang dengan pria bersenjata berdiri siaga ngawasin.
"Kenapa keamanannya banyak banget?"
"Emang lo perlu nanya?" Dia senyum sinis.
Dia menghela napas inget siapa dia. Beberapa hari terakhir ini normal banget sampai dia lupa kalau dia raja. Dia udah bersikap kayak orang biasa, masak buat dia, bukain pintu buat dia, yah, cowok normal yang sopan lah. Biasanya stafnya yang ngurusin semua ini, tapi dia sendiri yang ngerjain.
Pelan-pelan nyetir ke arah rumah mewah itu, dia kaget ngeliat kemewahannya. Jauh dari yang paling bagus yang pernah dia liat. Total tiga lantai bangunan nyambut dia pas dia ngeliat ke atas. Tapi itu belum semuanya pas dia ngeliat pintunya aja. Pintu emas kebuka pas dua pengawal nunduk pas dia ditarik ke arah bangunan, dibiarin buat ngagumin bagian luar nanti.
Dia ngecengin mulutnya karena takut dia ngeces di mana-mana pas dia ngeliat ke dalam. Jelas Munya gak perlu khawatir soal uang pas ruangan itu teriak kaya raya. Seorang cewek muda nundukin kepalanya pas Munya nyamperin dia.
"Lo ada resepsi di rumah lo?" Bisik dia pas dia ngeliat dia, ada tawa di matanya.
"Selamat siang, Yang Mulia. John minta saya buat ngasih ini ke Anda," katanya sambil ngasih amplop yang disegel.
Ngangguk, dia nengok nemuin Rudo ngeliatin lampu gantung kristal yang ngegantung dari langit-langit.
"Tunjukin dia ke kamarnya," katanya ke cewek muda itu.
"Kenapa istana lo di rumah gak semewah ini?" tanyanya, karena gak denger instruksi dia ke cewek itu.
"Karena itu bukan istana gue. Gue bakal tunjukkin rumah gue yang sebenarnya. Anggap aja itu kantor gue. Gue gak suka nyampur urusan bisnis sama kehidupan pribadi gue. Tapi di sini gue bisa," dia ngangkat bahu.
Dia diem, mikirin semua ini. Jelas cowok itu ngerjain semua aspek hidupnya dengan serius.
Dia ngerasa bibirnya di keningnya sebelum dia pelan-pelan menjauh.
"Istirahat ya, sayang," katanya, ngeliatin matanya.
Dia ngangguk sebelum dia nengok buat pergi. Seorang cowok nyamperin dia, nunduk pas rajanya ngomong ke dia dengan nada pelan.
"Baik, Yang Mulia," katanya, terus ngasih isyarat ke dua cowok buat dateng ke dia. Keduanya keliatan nakutin, tapi kebalikan satu sama lain. Satunya lebih tinggi dan besar dari yang lain, tapi keduanya keliatan sangar.
Jalan ke arahnya, dia keliatan kaget pas mereka berdiri diem kepala nunduk, sebelum yang Munya ajak ngomong dateng ke arah mereka.
"Yang Mulia minta mereka buat nemenin Anda kemana pun Anda pergi."
"Gue gak perlu pengasuh," katanya, ngeliat ke depan buat ngeliat apa Munya masih di sana buat nolak ini.
"Ini buat keamanan Anda sendiri," katanya sebelum nengok buat pergi.
Saat itu juga Gareth muncul.
"Raja ngasih tau gue kalau Anda bakal punya keamanan selalu," dia senyum. "Gue liat Lionel udah usaha keras milih tim yang bagus buat Anda. Mathew dan Matt yang terbaik," katanya ngeliatin dua batu yang berdiri di depan mereka.
"Tolong tunjukkin gue ke kamar gue," katanya, gak peduli sama komentarnya.
"Baiklah," kata Gareth sambil nunduk. "Dia cemberut. Gak pernah Gareth nunduk di depannya sebelum, sadar kalau bahkan dua batu itu juga udah ngelakuin itu."
——-
Setelah istirahat sejam, dia nemuin preman-preman itu nunggu di luar kamarnya. Nyari sodaranya, dia nemuin dia lagi belajar sama guru, ngerjain beberapa soal matematika. Seneng dengan itu, prioritas dia selanjutnya adalah Munashe, yang dia temuin lagi tidur pules di kamarnya. Ngiatin dua cowok itu, dia menghela napas karena frustasi sebelum ide muncul di kepalanya.
Meringis kesakitan, dia ngeliatin mereka berhenti karena kaget ngeliatin dia. Megang perutnya, dia merosot ke tanah, maksain beberapa air mata keluar pas dia minta mereka buat manggil Gareth. Ketakutan yang dia baca dari ekspresi mereka berdua.
Pasin yang satu pergi nyari Gareth, dia minta yang satunya buat ambilkan dia air. Nyengir pas mereka pergi ninggalin dia sendiri, dia pergi ke arah berlawanan, nyari-nyari Munya di lorong-lorong. Dia perlu bilang ke dia gak perlu pengasuh.
Masuk satu ruangan, dia nemuin piano mewah lagi gak disentuh, ngumpulin debu di atasnya. Ngeliat keluar jendela, dia senyum pas dia ngeliat ada kayak kandang kuda di ujung jauh rumah mewah itu. Jalan di lorong lain, dia denger suara marah, tapi satu suara yang dia kenal. Dia nemuin pintu sedikit kebuka pas dia ngintip, jantungnya berdebar kencang pas dia berdoa dia gak ketauan.
"Apa yang gue lakuin dengan kehidupan pribadi gue gak ada hubungannya sama lo," Munya gerutu, ngegebrak meja sebelum nengok dari cowok-cowok yang berdiri ngeliatin dia.
"Yang Mulia. Menceraikan istri Anda adalah sesuatu yang belum pernah terjadi. Anda harus mengembalikannya ke orang tuanya, menjelaskan kenapa Anda mengembalikannya seperti yang diminta adat."
"Sebut tanggal dan waktu, gue bakal dengan senang hati ngelakuinnya," Munya nyembur pas dia ngeliat Matthias nyengir sinis dengan gayanya yang blak-blakan.
Dia cemberut ngeliat Munya ngepalin tinjunya, kebiasaan dia pas bener-bener marah.
"Dan gimana cewek itu?" Salah satu pemimpin itu berkata, ngawasin dia marah.
"Temanmu," yang lain nambahin, nyoba buat ngecilin amarah.
"Gimana dia?" suaranya menggelegar.
"Apakah baik buat punya dia di sekitar, apalagi dengan berita perceraian Anda yang masih segar buat seluruh dunia? Maafkan saya, Yang Mulia, tapi kalau saya boleh bicara bebas. Dia bakal dilabel sebagai pelacur Anda, lebih baik lagi simpanan Anda," tetua itu berkata, pas yang lain pucat ngeliat pilihan katanya.
"Gue bakal bunuh siapa pun yang jelek-jelekin dia," Munya berbisik dengan suara mematikan. "Pilih kata-kata lo selanjutnya dengan bijak," katanya ke cowok di depannya.
"Maksud saya adalah kalau dia tetep deket sama Anda, kesempatan Anda untuk menikahi dia dengan kehormatan bakal berisiko karena dunia bakal mikir dia yang jadi alasan di balik perpisahan Anda dengan ibu putri," kata orang tua itu pas beberapa kepala ngangguk setuju.
"Apa gue keliatan peduli sama apa yang orang lain pikirin tentang kehidupan cinta gue?"
"Pikirin citra negara kita, Yang Mulia," yang lain mohon.
Ngiatin sekeliling meja, matanya berhenti sekali lagi ke orang yang udah menghina dia. "Ngomong, Jacobi," gerutunya.
"Kita semua jelas tau pernikahan Anda diatur dan gak ada cinta. Perasaan yang kita semua di sini tau banget dan punya," katanya pas mereka semua ngangguk kecuali Munya. "Jelas Anda suka sama anak perempuan Samson," katanya, pas semua orang ngeliatin rajanya, diem, ngawasin reaksinya.
"Suka," Munya cekikikan, ngusap rambutnya. "Gue cinta sama cewek itu," suaranya menggelegar dengan bangga, pas dia denger keributan menuju ke arahnya, ngawasin Munya jalan ke arah pintu, ngegebrak pintunya.
Dia berdiri kaget pas dia ngeliatin dia, lupa sama pengawal yang dateng lari ke arahnya.
Makasih udah baca. Semoga lo seneng. Tolong banget kasih tau gue pendapat lo sejauh ini dan jangan lupa vote dan kasih tau temen-temen lo tentang ceritanya. Tetep diberkahi ☺️