Bab 2
Selama tiga hari dia terbaring di tempat tidur, nggak bisa gerak gara-gara ramuan yang dikasih. Dokter muda yang nanganin dia datang rutin buat mastiin dia sembuh, ngecek tanda-tanda demamnya balik lagi atau nggak.
"Kenapa dia masih tidur aja?" Dia denger suara bentak marah bikin detak jantungnya naik saking takutnya.
"Yang Mulia, tubuhnya udah terlalu banyak ngalamin, jadi dia perlu istirahat beberapa hari lagi," dia denger suara pelan ngejawab sebelum pintu kebuka dengan suara keras.
Dia masuk ke kamar, matanya langsung melebar kaget.
Di depannya berdiri Raja, keliatan marah dengan segala kemegahan kerajaannya. Dia buru-buru duduk sambil mastiin dia udah rapi, terus berusaha turun dari kasur.
Gerakannya terlalu cepet buat dia yang masih dalam proses pemulihan, rasa sakit dan pusing langsung nyerang. Dia nggak makan banyak, makanya pusing. Begitu kakinya menyentuh lantai, dia meringis kesakitan yang berasal dari telapak kakinya.
Gigit bibirnya buat nyembunyiin rasa sakit banget ini, dia tersentak kaget pas ada tangan yang nahan dia dari gerakan apa pun.
"Aku nggak apa-apa," bisiknya sambil ngehentiin tangan itu, cuma buat denger suara orang-orang kaget.
Dia membeku, takut udah ngelakuin sesuatu yang salah, tangannya masih di lengan orang itu, baru nyadar dia udah nyentuh dia.
"Tinggalkan kami," gerutunya, dan semua orang lain langsung kabur dari ruangan.
"Maafkan hamba, Yang Mulia," bisiknya takut dengan kata-kata yang bakal keluar dari bibirnya.
"Mendingan tiduran aja," katanya dengan suara berat, ekspresinya melembut, ngilangin beberapa tahun, nunjukin sisi mudanya yang asli. Dia tersentak kaget begitu dia ngomong satu kata sederhana.
"Tolong."
Jantung berdebar kencang di dadanya, dia ngelakuin seperti yang diminta, sambil dia ngambil kursi di samping kasur kecil. Kursi yang nggak cocok buat keluarga kerajaan, terlalu kecil dan keras buat tubuh kerajaannya.
"Sekarang kasih tau aku, apa yang kamu lakuin di luar jam segitu malam itu?"
Begitu dia nanya pertanyaan itu, dia langsung nyesel.
Dia menghindari mata tajamnya saat dia menatapnya dengan intens. Tarikan napas panjang memecah keheningan saat dia akhirnya menatapnya, takut dengan apa yang akan dia katakan, atau malah dia lakuin.
"Dilihat dari kakimu, kamu udah lari lumayan jauh, juga lari dari sesuatu atau seseorang. Aku bakal cari tau semuanya, meski kamu nggak mau ngomong," dia ngomong dengan tenang, sesuatu yang nggak biasa dari dia.
Dia kaku begitu tangannya yang besar menyentuh tangannya yang lebih kecil. Tatapannya beralih ke tangan mereka, dan dia kayaknya lagi mikir.
"Gareth bakal nemenin kamu sampai kamu sembuh," katanya sambil bibirnya bergerak jadi senyuman yang keliatan dipaksain buat nenangin. "Kamu aman di sini, sayangku," tambahnya.
Keheningan kembali lagi saat dia menghindari tatapannya.
"Lihat aku," dia memerintahnya.
Mata cokelatnya menahan dia, hampir kayak lagi kesurupan saat dia mengamatinya.
"Jangan pernah buang muka dari aku," katanya dengan nada keras, langsung nyesel karena dia meringis ketakutan. Tiba-tiba berdiri, dia langsung ninggalin ruangan, saat dia masih bingung tentang apa yang baru aja terjadi.
Satu-satunya emosi yang mendominasi dia saat itu adalah rasa takut.
Takut akan hal yang nggak diketahui. Dia di wilayah asing dan nggak kenal siapa pun, apalagi percaya sama siapa pun.
Raja Munyaradzi dikenal sebagai orang yang susah, seorang pria yang udah nikah. Dia nyentuh dia atau bahkan nunjukkin perhatian kayak gitu itu nggak sopan. Dia harus pergi dari istana sebelum masalah muncul. Dia udah punya cukup banyak masalah.
Dokter datang lagi, dan dilihat dari fakta dia sendirian, dia nebak dia adalah Gareth yang disebut-sebut Yang Mulia tadi.
"Kita belum kenalan dengan bener karena kamu sering pingsan," dia tertawa. "Nama aku Gareth, dokter pribadi Raja, kira-kira kayak gitu. Walaupun kita udah maju, beberapa cara lama tetap dijaga, contohnya pake obat herbal daripada obat-obatan modern, walaupun dokter yang lain jago dalam ilmu kedokteran modern, ayahku bikin tujuan buat ngajarin aku tentang berbagai tanaman dan khasiat penyembuhannya," dia ngomong ngalor ngidul sebelum dia senyum malu.
"Makasih udah ngerawat aku, Tuan. Tapi aku harus pulang," katanya menyesal sambil duduk.
"Tentu aja, tapi cuma kalau kamu udah sehat. Kamu nggak bisa jalan dalam kondisi kamu sekarang," katanya, nunjuk kakinya. "Tapi kamu bakal cepet sembuh. Untung banget Yang Mulia nemuin kamu tepat waktu," katanya sambil ngolesin ramuan di bawah telapak kakinya, ngeliatin dia yang berusaha nyembunyiin rasa sakit yang dia rasain.
"Aku juga nemuin memar yang nggak sesuai sama kamu jatuh di hutan," katanya sambil ngeliatin dia dengan intens. "Dan juga darah..."
"Tolong berhenti," dia memotongnya sambil nutup mata.
"Maafkan aku. Aku belum kasih tau siapa pun, tapi kamu perlu ngomong sama seseorang," katanya dengan lembut.
"Tolong, Tuan," dia memohon sekali lagi sambil air mata ngalir di pipinya."
"Baiklah. Untungnya nggak ada infeksi yang muncul dari luka yang disebabkan oleh ranting. Untungnya kamu nggak kena tanaman beracun di jalan," dia tersenyum sambil ngeliatin dia.
Dia keliatan khawatir, takut, dan kesakitan saat dia tertidur setelah minum ramuan herbal yang dia kasih.
--------
"Kenapa kamu ada di kamar staf?" Edith (Ratu) nyembur sambil masuk ke kamarnya.
"Aku lagi nanganin pasien," katanya dengan tenang sambil buka bajunya.
"Gimana menurutmu staf bakal bereaksi sama perilaku kayak gitu? Apa ini bakal jadi kebiasaan, kamu ngurusin orang-orang yang nggak penting bahkan setelah aku minta kamu buat ikut sarapan sama aku?"
"Tau tempatmu, wanita. Apa aku keliatan peduli sama apa yang mereka pikirin? Kalau ada yang nggak setuju, suruh mereka datang langsung ke aku dan utarakan keberatan mereka," gerutunya sambil pake kemeja baru.
"Aku nggak suka ini," katanya sambil nyilangin tangannya di dada.
"Kamu tau apa yang harus dilakuin kalau kamu nggak setuju sama tindakan aku," katanya sambil maju selangkah ke arahnya. "Dan kamu tau betapa senangnya aku kalau kamu mau balik ke rumah ayahmu, toh kamu dan aku nggak pernah dan nggak akan pernah punya chemistry sama sekali. Nggak ada cinta di antara kita."
Sekarang, kalau kamu mau permisi, aku ada rapat. Tutup pintunya pas kamu keluar," dia nyembur sambil keluar dari kamarnya, ninggalin dia kebingungan.