Bab 17
Begitu Munya pingsan, John muncul, bantuin dia sambil mereka mindahin dia ke kamarnya.
"Dia demam tinggi," kata dia, terus lari ke kamar mandi balik lagi bawa handuk basah sama beberapa obat.
"Hmm, harusnya gue sering-sering sakit nih," kata dia sambil senyum licik.
"Ngapain lo kayak gitu?" Tanya dia ke dia, pas dia minum obat yang ditawarin.
"Gue jadi bisa dirawat sama lo," dia senyum sambil ngeliatin dia.
"Emang lo pikir gue suka liat lo kayak gini?" kata dia sambil keliatan khawatir, pas dia merem, gak ngejawab pertanyaannya.
"Tolong lepasin baju dia. Dia demam," kata dia, John ngangguk ngerti. "Kasih tau dokter, gue rasa ini cuma flu."
Keluar kamar, dia ngelewatin si ratu yang lagi jalan ke kamar utama.
Gak bilang apa-apa lagi, dia masuk ke kamarnya sendiri. Beberapa menit kemudian, suara Munashe nangis bikin dia keluar kamar, terus dia ngecek ada apa sama dia.
"Udah makan belum?" Tanya dia ke pengasuhnya.
"Dia gak mau makan," kata dia keliatan pasrah.
Ngegombalin pangeran kecil yang senyum ke dia, dia jalan ke dapur, bersyukur pas dia gak banyak gerak, soalnya luka bakar dia bisa bikin masalah.
"Ada kentang tumbuk sama kuah gak?" Tanya dia ke koki kepala.
Dikasih tau ada, dia senyum pas dikasih semangkuk sama sendok.
Nepuk tangan kegirangan, dia ketawa ngeliatin anak itu, staf gak bisa gak senyum ngeliat ini. Pergi ke ruang santai, dia nenangin anak itu pas dia ngeliatin makanannya dengan penuh keinginan. Gampang banget nyuapin dia tanpa masalah, dia muji dia pas dia selesai makan sebelum ngasih dia air buat ngebilas makanan.
"Gue liat bahkan pangeran kecil udah klepek-klepek sama lo," kata Matthias sambil senyum sayang ngeliatin Munashe.
Rudo gak bilang apa-apa cuma senyum pas Munashe manggil perhatian dia.
"Gimana keadaan raja?"
"Dia lagi istirahat. Ada yang kamu butuhin?"
"Gak ada sama sekali sayang. Semua orang di bawah pengen tau semua baik-baik aja makanya mereka nyuruh gue," dia ketawa kecil.
Dia senyum ke dia sambil ngangguk ngerti.
"Gue yakin ratu bakal ngasih tau lo kabar yang jelas," kata dia fokus ke Munashe.
"Gue yakin dia bakal begitu," kata kakek tua itu sambil ngeliatin dia.
"Permisi ya, gue harus hibur si kecil ini sama game kesukaan dia." Ngedudukin dia, dia merhatiin pas dia pelan-pelan berdiri sambil ngambil tangan dia.
Nawarin tangannya, mereka keluar dari ruang santai ke kamarnya buat main sama mainannya.
———
Ketukan mecah keheningan di kamarnya, pas salah satu pelayan dari makan siang berdiri di depannya keliatan malu.
Berlutut, dia nangis, mohon ampun.
"Tolong gue mohon. Maafin gue, gue yang nuangin garam kebanyakan ke makanan kamu. Gue disuruh begitu. Dan kalau raja tau gue, dia bakal marah banget, banget. Gue mohon maafin gue dan minta dia buat maafin gue. Dia cuma dengerin kamu, semua orang bilang gitu. Cuma kamu yang bisa nyelamatin gue sama keluarga gue. Mereka bergantung sama penghasilan gue buat hidup," dia mohon sambil nundukin kepalanya ke lantai.
"Gak papa. Gue maafin lo. Tolong bangun," kata dia.
"Gak sampai kamu janji buat ngomong sama raja," dia mohon.
"Gue bakal ngomong sama dia. Tolong berdiri," kata dia.
"Makasih banyak," kata dia dengan berlebihan pas dia berdiri mundur dari pintunya.
Menghela napas, dia ngecek Munya, nemuin dia tidur pulas.
Ngusap keringet di dahinya, dia balik badan mau pergi setelah mastiin dia nyaman.
"Mau kemana lo?" Dia denger, terus balik badan ngeliat dia ngintip.
"Gue bangunin lo ya? Maafin gue," kata dia keliatan khawatir.
"Gak sama sekali. Gue malah ngerasa lebih baik dari sebelumnya," kata dia sambil pelan-pelan duduk.
Dia ngalihin pandangan, ngeliat dia gak pake baju lagi, terus dia ketawa kecil ngeliat tingkahnya. Ngeliat rompi yang kemungkinan John kasih buat dia di samping tempat tidur, dia make rompi itu, ngeliat dia santai.
"Tolong," kata dia sambil nepuk tempat di sampingnya, nunjukin dia pengen dia duduk di sampingnya.
Dia pelan-pelan maju ke tempat tidur, duduk sebelum dia ngambil tangannya. Pelan-pelan ngelus-elus buku-buku jarinya, dia menghela napas sebelum dia ngeliatin dia.
"Gimana perasaan lo?" dia nanya lembut.
"Gue jauh lebih baik dari sebelumnya," dia berbisik sambil ngeliat tangan dia yang megang tangannya.
"Udah makan?" dia nanya dia, merhatiin dia ngangguk jawabannya.
"Lo yang harus makan," kata dia ngeliat makanan yang gak disentuh. "Lo gak perlu khawatir soal gue. Gue baik-baik aja," kata dia sebelum dia bilang apa-apa.
"Baiklah," kata dia capek. "Jam berapa sekarang?"
"Udah jam 9 malam," jawab dia, terus bangun.
Ngelepas selimut, dia bangun, ngambil kemeja pas dia jalan ke arah pintu.
"Tunggu gue sayang," kata dia pas dia balik badan kaget.
"Lo ngapain? Lo harusnya tetep di tempat tidur," kata dia pas dia tetep jalan ke arahnya.
"Gue mau ngecek anak gue dulu, terus kita mau nonton film sambil gue makan sup," kata dia, naruh tangannya di punggungnya buat ngarahin dia keluar kamar.
Jalan berdampingan, dia nemuin tangannya di tangannya pas dia ngeliatin dia dengan penuh cinta.
"Lo gak boleh deket-deket gue, apalagi lo lagi flu," kata dia bikin dia ketawa.
Ngeliat pangeran kecil tidur nyenyak, mereka keluar kamar dia.
"Gak usah khawatir, lo gak bakal ketularan," kata dia pas mereka jalan ke dapur. "Dan kalaupun iya, gue bakal jagain lo," kata dia, ngarahin tangannya ke bibirnya.
Nemuin salah satu staf dapur lagi siap-siap, dia minta makanannya dibawa ke ruang teater.
"Lo punya teater?"
"Iya, gimana lagi gue bisa bertahan dari penerbangan panjang keliling dunia," kata dia sambil nyengir.
"Kerja kantoran," sahut dia sebelum meledak ketawa kecil, bikin dia senyum.
"Hati-hati sayang, mulut pedes lo bisa bikin lo kena masalah besar," kata dia, ngegiring dia masuk ke ruangan.
"Gue yakin gue bisa jaga diri," kata dia dengan seringai nakal.
"Wah wah. Lihat siapa yang mulai keluar dari cangkangnya," dia senyum ngeliat dia malu sama kata-katanya.
"Kita mau nonton film atau lo cuma mau ngomong doang," kata dia pas dia ngeliatin dia gak percaya.
"Lanjut terus kayak gini, gue bakal terus jatuh cinta sama...," dia berhenti ngomong pas seorang pelayan datang bawa troli makanan.
Ngambil seember popcorn, dia duduk santai, dia juga sama.
"Boleh maju deketan. Gue gak gigit," kata dia sambil nyengir.
Menggeleng gak percaya, dia tetep duduk di tempat dia berada. Menggeleng kepala, dia ketawa, dia biarin dia begitu pas dia ngeliat ke layar.
"Semoga bukan film horor," kata dia memecah keheningan.
"Gak sama sekali sayang, ini komedi," kata dia pas dia ngangguk setuju.
Nikmatin film, waktu berlalu cepet dan sebelum filmnya selesai, dia udah tidur pulas. Ngangkat dia ke kamarnya, dia senyum ngeliat betapa damainya dia keliatan. Matiin lampunya, dia biarin dia istirahat. Pergi tidur sendiri, dia minum obatnya dan tidur buat besok bakal jadi hari yang lain.
Masuk ke ruang makan utama, dia nemuin Matthias dan istrinya udah duduk sama Rudo pas mereka nunggu makanannya disajiin.
Ngeliat dia gak duduk di ujung meja, dia cuma senyum ngeliat sifat keras kepalanya. Ngambil piring makanannya, dia berdiri, permisi pas dia menuju ke kantornya.
Dari reaksi para pemimpin, dia belum pernah ngelakuin ini.
"Sayang kenapa gak ngecek dia aja daripada mainin makanan lo," dia denger si tua di sampingnya bilang. Matthias ngangguk setuju sama ini.
"Permisi," kata dia.
Pas dia keluar dari ruang makan, dia ngeliat Eddy masuk pake pintu lain sambil nyengir pas dia liat dia. Cepet-cepet keluar, dia pergi nyari Munya.
———
"Masuk," dia denger setelah ngetuk.
"Selamat pagi," kata dia ngindarin pandangannya.
Dia duduk di sofa, piring makanannya ditaruh kesamping gak disentuh soalnya dia lebih fokus sama dokumen kerja.
"Selamat pagi Munya," kata dia pas dia ngeliatin dia sebelum buka mulut buat nyapa balik. "Semoga lo istirahatnya nyenyak," kata dia, mainin jari-jarinya pas dia nunduk.
"Lumayan," kata dia pas dia ngalihin perhatiannya balik ke kerjaannya.
"Lo marah sama gue?"
"Kenapa gue harus marah sama lo?"
"Lo keliatan marah," kata dia pas dia menghela napas.
"Sini," kata dia sambil nepuk sandaran tangan.
Dia keliatan khawatir pas dia pergi duduk di sampingnya.
"Boleh jujur sama lo?" kata dia pas dia ngalungin tangannya di pinggangnya, narik semua perhatiannya. "Gue rasa gue gak bakal pernah marah sama lo meskipun lo salah, orang lain iya, tapi lo beda," kata dia. "Dan kalaupun gue marah sama lo, gue tau gue gak bakal tidur nyenyak sampai kita baikkan," kata dia dengan tulus bikin dia blush.
"Udah makan belum?" Kata dia ngambil piringnya.
"Gue mau, tapi tiba-tiba ilang selera," gumam dia.
"Lo ilang selera setelah gue keluar dari ruang makan," dia nanya sambil nyengir.
"Gak," kata dia ngindarin pandangannya.
"Nih buat lo," kata dia nyuapin dia beberapa makanannya yang dia terima dengan senang hati.
"Gimana sama lo?" Dia nanya pas dia ngejawab pertanyaannya dengan makan juga.
"Mau kemana lo?" Dia nanya pas dia berdiri.
"Lo perlu makan dan fokus sama kerjaan lo. Gue cuma bakal jadi gangguan," kata dia pas dia berdiri.
Jalan ke arah pintu, dia ngunci pintunya sebelum dia nyilangin tangannya di dada.
"Lo bakal nemenin gue hari ini sekaligus bantuin gue beberapa kerjaan," kata dia pas dia ngeliatin dia bingung. "Sekarang sayang, duduk tenang ini bakal jadi hari yang panjang," dia senyum jalan ke arahnya. "Dan lagipula kalau lo bantuin semua kerjaan ini, gue bakal punya waktu buat istirahat sebelum kita mendarat," kata dia dengan seringai nakal.
"Kalau lo cuma butuh bantuan gue tinggal minta aja," kata dia dengan seringai.
"Baiklah. Boleh gak lo bantuin gue buat beresin semua kerjaan ini biar gue bisa istirahat beberapa jam sebelum kita mendarat," kata dia.
"Dengan senang hati. Sekarang tunjukin gue mana yang perlu di-proofread," kata dia, duduk.
--------------
Satu jam berlalu sebelum dia ngeliat dari kertasnya. Dia ngeliat Munya tidur pulas pas dia ketawa kecil ngeliat usahanya buat bahkan ngerjain beberapa kerjaan dalam kondisinya. Ngecek kontrak, dia nge-highlight perbedaan, masukin saran di sana-sini sebelum dia keluar dari kantornya.
Duduk di kamarnya pas dia baca novelnya, dia gak denger ketukan atau siapa pun yang masuk.
"Sayang," dia denger pas dia berdiri di depannya udah seger.
"Oh enggak, jam berapa sekarang," kata dia cepet-cepet nutup bukunya pas dia berdiri dari kursinya.
"Santai aja, kita masih punya setengah jam sebelum mendarat," kata dia ngambil tangannya buat ngehentiin dia dari tindakan lebih lanjut.
"Gue harus siap-siap," kata dia.
"Baiklah. Gue bakal minta pembantu buat bawain baju lo."
"Tapi gue punya baju," kata dia dengan ekspresi bingung.
"Tolong pake dress ini khususnya," kata dia dengan tatapan memohon.
"Terserah," kata dia sambil menghela napas tau dia gak bakal menang dalam kasus ini kalau dia mau berdebat.
—————
Megang tangannya tanpa peduli apa kata orang lain, dia nuntun dia keluar dari pesawat dengan anaknya di gendongan tangan yang lain.
Ratu keliatan marah banget pas dia turun dengan Eddy di belakangnya.
"Lo milih dress ini cuma biar kita berdua ungu?" Dia nanya dia.
"Yang Mulia," dia denger bikin dia berhenti. "Anda dapat telepon," kata John ngasih dia ponselnya.
Nyerahin anaknya ke pengasuhnya, dia nerima kunci mobilnya dari John. Jalan ke arah mobil yang lagi nunggu, Rudo ngeliatin dengan takjub pas para penjaga masuk ke dua kendaraan lain pas iring-iringan keamanan mereka mulai mimpin jalan dari landasan udara pribadi.
Masang sabuk pengamannya, dia ngeliatin pas Munya nyalain mobil, ngikutin yang di depan mereka pas dia ngomong sama siapa pun di ujung telepon lewat headset Bluetooth-nya. Pas mereka keluar dari gerbang, dia ningkatin kecepatan pas jalan mereka gampang dibersihin. Megang tangannya, dia senyum pas dia gak berusaha narik diri. Ngerasa betapa tegangnya dia, dia neken tombol panggilan sebelum ngasih tau orang di seberang telepon kalau dia ngebut.
Minggir ke tepi jalan, mereka ngeliatin beberapa mobil lewat dengan kecepatan tinggi. Balik lagi ke jalan, dia ngeliat salah satu mobil tetep sama mereka.
"Kita gak ngikutin yang lain?" Dia nanya, ngeliat mereka ngambil rute yang beda.
"Kita bakal nginep di rumah keluarga, yang lain bakal nginep di hotel. Gue gak mau ada masalah."
"Tapi gimana Nash sama anak lo?"
"Udah di depan kita. Pergi pake mobil yang beda kalau ada apa-apa."
Ngeliatin dia penasaran, dia ngarahin tangannya ke bibirnya
"Lo gak cuma yang punya musuh sayang. Makanya cuma keluarga kerajaan yang tau kita di sini. Tapi gak usah khawatir gue mastiin kita gak bakal ketemu masalah sama pers."
Dia ngangguk ngerti pas mereka ngelewatin gerbang, masuk ke jalan masuk yang panjang. Sebuah rumah muncul dan dia paling gak nyangka sama apa yang dia liat. Munya orang kaya tapi buat dia punya rumah sederhana yang gak kayak istana, ini kejutan buat dia.
"Kaget sayang?" dia nanya sambil nyengir pas dia ngebuka sabuk pengamannya, ngebuka pintunya.
Lari buat bantuin dia keluar, dia ngambil tangannya.
"Ini gak kayak lo banget," kata dia megang tangannya pas mereka jalan ke arah pintu yang kebuka, nunjukin Nash dan Munashe.
"Ada banyak hal tentang gue yang gak lo tau sayang," kata dia dengan senyum sayang pas Munashe loncat di gendongan pengasuhnya berusaha kabur.
Menuju ke belakang rumah, dia keliatan takjub sama halaman yang luas yang dijaga rapi dan bersih.
Berhenti, dia cuma ngelakuin itu buat ngeliat dia jongkok pas dia lepasin tali sepatunya. Megang bahunya, dia blush ngeliat beberapa pasang mata ke arah mereka. Ngelepas haknya, dia ngambil mereka sebelum berdiri dengan tinggi badannya, seperti biasa menjulang di atasnya.
"Sekarang biar gue tunjukin sekelilingnya," kata dia pas Nash gabung sama mereka.
Nyerahin sepatunya ke pelayan, dia lepas dasi dan blazernya pas Rudo dan Nash jalan duluan dengan Munashe merangkak ngejar mereka sebelum dia ngelakuin hal yang gak terpikirkan.
"Ya Tuhan," Rudo tersentak pas dia ngeliat pangeran kecil.
Meregangkan tangannya ke arahnya, mereka ngeliatin pas dia ngambil beberapa langkah ke arahnya tepat sebelum dia nangkap dia sebelum dia nabrak tanah. Ketawa gembira, Munya gak bisa ngehapus senyum dari wajahnya pas dia ngambil foto mereka bertiga keliatan bebas.
Dia tau langkah pertama anaknya direkam sama kamera keamanan darat. Ngeliatin saudara perempuannya sama pangeran main, dia menghela napas lega tapi di saat yang sama terus mikirin anak-anak di rumah. Dia ngerasain kehadirannya di belakangnya pas dia melilitkan tangannya di pinggangnya megang dia erat.
"Ada apa sayang?" Dia berbisik di telinganya pas mereka ngeliatin anak-anak.
"Gak ada," dia menghela napas.
Balik badan, dia ngeliatin dia, miringin dagunya buat menghadap dia.
"Ngomong sama gue," kata dia lembut.
"Gue di sini semua berkat lo, nikmatin diri gue sendiri tapi gue gak tau apa yang terjadi sama murid-murid gue. Gue harap mereka gak kena masalah," dia menyuarakan kekhawatirannya.
"Gimana kalau gue bilang sama lo kalau mereka aman dan sehat dan malah nikmatin diri mereka sendiri di kelas dansa baru yang gue renovasi," kata dia narik dia lebih deket.
"Apa! Munya lo gak!" Dia tersentak ngeliatin dia senyum.
"Lo peduli sama mereka makanya wajar gue ngerasa sama," kata dia.
"Gimana gue bakal bayar semua yang udah lo lakuin buat kita," dia nangis.
"Cuma ngeliat lo bahagia udah cukup bayar sayang," kata dia. "Sekarang berenti nangis," dia bergumam ngusap air matanya.
Mendengus, dia gak bisa berenti air matanya dari netes sebelum kata-katanya berikutnya bikin kaget.
"Kalau lo gak berenti nangis, gue bakal cium lo," kata dia dengan tatapan berani.
Dia ketawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau itu cara lo minta ciuman sederhana sama cewek, itu cara paling kreatif yang pernah gue denger sejauh ini," dia tertawa kecil. "Lagipula gimana bisa orang nyium cewek dalam kondisi gue," kata dia nunjukin keadaan menyedihkannya.
"Percaya deh, lo tetep keliatan memukau," kata dia, megang kedua pipinya.
"Tapi lo udah nikah. Gue bakal dicap perusak rumah tangga," dia berbisik pas dia mendekat.
"Gak lama lagi," dia bergumam di bibirnya pas kedua mata mereka merem.
Megang belakang kepalanya, dia mendalamkan ciuman mereka, memancing desahan kenikmatan darinya yang cuma bikin dia makin, lapar akan lebih. Bibir mereka menari sinkron pas dia menuangkan perasaan sejatinya ke dalam ciuman itu bikin dia ngeliat betapa berartinya dia buat dia. Sesuatu yang dia takuti tapi di saat yang sama senang buat ngalamin dan milikin.
Mendorongnya, dia ngeliatin dia kaget, ngambil napas dalam-dalam pas dia ngeliatin dia.
"Gue gak bisa lakuin ini. Lo masih nikah. Gue gak bakal jadi wanita lain," kata dia dengan marah sebelum balik badan dan lari ke arah rumah.
Menghela napas frustasi, dia balik badan ngeliat si kecil masih nikmatin diri mereka sendiri.
Jalan balik ke rumah, dia berhenti pas dia ngeliat orang terakhir yang gak pernah mau dia liat di rumahnya.
Semoga kalian suka.
Jangan lupa vote, komentar, dan promosiin ?
Terima kasih