Bab 26
Tidur susah banget datang buat mereka berdua selama beberapa hari ke depan. Dia tersiksa banget ngelihat dia di halaman. Dan dia, penderitaannya sampai ke mereknya.
Obat apa pun yang dia minum membantu mematikan rasa sakitnya. Pembengkakannya udah reda tapi dia tahu dia harus hati-hati pas dia pelan-pelan bangun dari tempat tidur. Jalan ke cermin, dia tanpa sadar meraih kepalanya. Walaupun rambutnya udah mulai tumbuh lagi, gak ada yang bisa menghapus apa yang udah terjadi padanya.
Pintu kebuka bikin dia noleh buat lihat siapa. Pas pintu nutup, dia kaget ngelihat keadaannya pas dia berhenti ngelihat dia juga. Mendekat satu sama lain, dia dengan cepat narik dia ke pelukannya, hati-hati banget biar gak nyakitin dia.
"Kamu kurusan," bisik dia di telinganya.
"Kamu juga," jawabnya dengan suara berat. "Kamu lapar?"
"Laper banget," Katanya sambil menghela napas pas dia pelan-pelan ngelepasin dia.
Jalan ke arah pintu buat ngasih instruksi ke penjaga, dia berhenti pas dia manggil dia.
"Kenapa kita gak ke ruang makan aja," katanya.
Dengan anggukan sederhana dia megang tangannya, nuntun dia ke lemari. Bantu dia masuk ke sesuatu yang lebih rapi dan nyaman, dia megang tangannya. Kakaknya dan pangeran semangat banget ngelihat dia pas dia masuk ke ruang makan.
"Gimana Gareth?" Dia nanya ke Munya begitu dia duduk.
"Dia baik. Di rumah sama keluarganya," katanya pas makanan ditaruh di depan mereka.
Dia senyum sambil ngangguk tanda ngerti. Pas ibunya masuk, dia jadi tegang, inget perintahnya buat dia dipukulin. Dia gak nunjukin belas kasihan tapi kayaknya nikmatin apa yang udah dia alamin. Jelas banget Munya gak tahu keterlibatannya.
"Kapan kamu bakal biarin tetua pergi," dia nuntut.
"Kalo aku yakin mereka ngerti apa yang udah mereka lakuin."
"Ini bakal bikin keributan di antara orang-orang. Mereka udah empat hari gak ketemu ayah mereka."
"Mereka bakal hidup, kan mereka dikasih makan?"
"Serius deh, roti dan air gak cukup buat orang tua itu."
Manggil pelayan, dia ngomong dengan suara jelas.
"Suruh juru masak cuma nyiapin sup sayur buat orang tua itu," katanya sambil ngangkat cangkir kopinya ke bibirnya.
"Nak, masa sih sup gak cukup?" kata ibunya.
Dia ngelihat ibunya dengan pandangan bertanya.
"Kenapa kamu khawatir banget sama mereka? Aku tahu kamu gak suka Rudo, tapi kamu tetep ngebela orang-orang itu," katanya pas dia ngebungkam mulutnya, menghindari tatapannya.
Ngusap mulutnya, dia berdiri dari kursinya, ninggalin ruangan dengan jelas frustrasi. Masuk ke ruang tahta, orang-orang dengan cepat membungkuk di depannya pas dia duduk. Meriksa ruangan, dia menyeringai ngelihat ketakutan murni dari apa yang bakal terjadi.
"Kita coba lagi, yuk?" Katanya sambil maju, nyenderin sikunya di pahanya, menyilangkan tangannya.
"Apa aku gak minta kamu buat gak nyentuh dia?" Katanya dengan suara jelas.
"Iya, Yang Mulia," mereka serentak, kepala masih menunduk.
"Terus kenapa? Coba kasih tahu siapa yang ada di balik pelanggaran ini," dia nanya ke mereka.
Mereka semua diem aja pas dia merhatiin mereka dengan seksama.
"Baiklah, aku bakal siapin semuanya. Kamu udah melanggar dan menghina istriku. Merek yang sama yang kamu pake di tubuhnya bakal menandai tubuhku, karena dia tulang dari tulanngku dan daging dari dagingku. Kalo kamu menghina dia, kamu juga menghina aku," katanya dengan suara jelas pas dia merhatiin orang-orang itu ngangkat kepala mereka dengan ngeri.
"Yang Mulia, tolong, belum sampai ke sini," Stanford berteriak, ketakutan kelihatan di matanya.
"Kamu yang bawa kita ke sini, Stanford. Aku udah peringatin kamu," katanya.
"Gak pernah ada raja yang pake tanda itu, Yang Mulia, tolong. Bencana besar bakal menimpa kerajaan," katanya.
"Itu udah terjadi," jawabnya sambil merhatiin yang lain berdebat di antara mereka.
"Yang Mulia, hukuman kami adalah ini," tetua lain maju buat ngomong. "Mari kita semua pake tanda itu," katanya sambil nunjuk teman-temannya.
Jelas banget mereka gak bakal ngomong.
"Aku bakal nanggung tanda yang sekarang dipakai istriku," katanya dengan nada tanpa basa-basi sambil merhatiin ekspresi mereka.
Dia menghela napas panjang pas dia nanya ke mereka, "Apakah itu ibu saya?"
Cara postur mereka jadi tegang ngasih tahu dia semua yang perlu dia tahu pas dia merhatiin mereka dengan teliti. Berdiri dari kursinya, dia ninggalin ruangan.
"Biarin mereka pergi," dia bilang ke kapten pengawalnya pas dia balik ke kamarnya. "Mereka bakal balik buat ritualnya?" Dia cuma ngomong gitu.
Masuk ke kamar mereka, dia nemuin dia di tempat tidur. Naik ke tempat tidur, dia dengan lembut memeluk dia dari belakang, hati-hati banget biar gak nyakitin bekas lukanya. Memar-memar itu pelan-pelan menghilang tapi tanda bakarannya tetep ada. Jelas banget dokternya udah ganti perban dia. Dia denger dia sesenggukan pas dia nyatuin jari-jarinya sama dia.
Dia yang pertama mecah keheningan.
"Apakah itu ibu saya?"
Dia jadi tegang dalam pelukannya pas dia menghela napas dalam kekalahan total, tahu pertanyaannya baru aja dijawab.
"Aku minta maaf banget, sayang. Seharusnya gak terjadi kayak gini. Gak seharusnya terjadi kayak gini," katanya.
"Apa yang kamu lakuin Munya?" Dia nanya dengan suara khawatir.
"Gak ada," Katanya meskipun dia pengen nambahin "belum" ke pernyataannya. "Istirahat yang banyak, sayang," dia bergumam sebelum menempelkan bibirnya di bahunya.
Meluk dia sampe dia ketiduran, dia pergi begitu dia udah tenang.
———
Pas dia keluar dari kamarnya, dia nyari ibunya.
"Ibu, kenapa?"
"Gimana bisa kamu, anakku, sang pangeran, jatuh cinta sama orang biasa? Orang gak penting," Katanya dengan nada dingin sambil naruh bukunya.
"Ibu tahu betapa sengsaranya aku sama Edith. Kamu yang maksa perjodohan itu sama aku dan karena rasa hormat yang aku punya buat kamu, aku nikah sama dia. Tapi sekarang aku udah nemuin cinta sejati, seseorang yang bikin aku jadi manusia yang lebih baik, kamu ngelakuin ini. Kamu nyakitin dia dengan cara yang paling menyakitkan yang bisa kamu pikirin. Membakarnya, nyuruh dia dipukulin, dan ngilangin mahkota alaminya," katanya sambil air mata berjatuhan.
Sang ratu ngelihat anaknya dengan kaget. Dia gak pernah ngelihat dia nangis sebagai pria, bahkan waktu masih kecil.
"Kamu bener-bener ngerobek hatiku, Ibu," dia berbisik. "Jabatan aku sebagai raja dicabut lebih baik daripada apa yang kamu lakuin. Kamu udah nyakitin aku sampai ke intinya, Ibu. Aku bakal pindah ke rumahku sendiri tapi sebelum itu, aku bakal pake tanda itu. Kamu bisa tinggal di sini sama dewanmu. Aku bakal urus semuanya dari istanaku, tapi tolong jangan pernah berani nginjekin kaki di rumahku, karena siapa tahu kerusakan apa lagi yang bakal kamu lakuin ke keluargaku," katanya pas wanita itu ngelihat dia dengan kaget.
Berbalik badan, dia keluar dari ruangan tanpa kata lain.
Menjelang malam, para tetua udah balik sesuai harapan. Halaman diterangi dengan lentera pas dia berdiri di tengah halaman nunggu mereka pas beberapa orang mukulin drum, ngusir keheningan malam. Berhenti pas mereka ngelihat raja mereka berdiri tegak dan bangga, mereka membungkuk di depannya. Sebelum Stanford bisa ngomong, drum berhenti begitu Munya ngangkat tangannya. Ngelihat ke arah sayapnya, dia ngelihat dia ngelihat dia dari atas. Dia udah ngasih tahu penjaga buat ngebiarin dia di kamar karena dia tahu dia bakal nghentiin dia kalo dia tahu apa yang dia mau lakuin. Ngilangin bajunya, dia ngulurin tangannya pas dia nerima besi pembakar.
Dengan gerakan cepat, logam itu nyentuh bahu kanannya pas dia ngelihat para tetua, merhatiin ekspresi ngeri mereka. Melempar logam itu ke tanah, dia ngelakuin hal yang gak diduga.
"Kamu menang pada akhirnya," katanya dengan kepala tertunduk sebelum dia memunggungi mereka, jalan balik ke istana.
Dalam perjalanan ke arah pintu, dia berhenti pas beberapa penjaga nyamperin dia. Berlutut, yang mimpin mereka ngomong.
"Maafkan kami, Raja, karena kami gagal sama kamu. Kami gagal sama tahta kamu. Kami gagal sama istrimu. Hari ini gak cuma kamu yang bakal nanggung tandanya. Kami bakal memakainya dan mengubah maknanya," katanya. Berbalik buat ngelihat para tetua, dia nemuin sebagian besar penjaga berkumpul di belakang mereka, berlutut dengan kepala tertunduk.
Dengan anggukan sederhana, dia ngakuin keputusan mereka, ngelihat pikiran mereka gak bisa diubah, dia terus jalan ke arah pintu.
Begitu dia masuk, dia langsung berlutut pas John dan dokternya bergegas buat nolong dia.
"Gimana dia bisa selamat dari ini," dia berbisik pas keringat menetes di dahinya.
"Munya!" Dia berteriak, bergegas ke arahnya, ketakutan jelas di suaranya.
"Kalo aku boleh ngomong bebas, Tuan. Dia wanita muda yang sangat kuat tapi dia dapat kekuatannya dari kamu," kata John pas Munya pingsan karena rasa sakitnya pas Rudo nyampe.
—————
Rudo bangun dan nemuin dia masih tidur pulas.
"Selamat pagi, cantik," dia bergumam, pelan-pelan duduk.
"Munya?" Dia bilang dengan nada bertanya. "Apa yang kamu lakuin?" Katanya dengan ekspresi bermasalah.
"Aku harus ngelakuin ini. Gak ada cara aku bakal ngebiarin kamu pake tanda itu padahal aku tahu kamu gak bersalah," katanya.
Bangun dari tempat tidur, dia berhenti jalan ke kamar mandi pas dia manggil dia. Gak berani ngelihat dia, dia tetep di tempat dia berdiri.
"Lihat aku," dia nuntut.
Pelan-pelan berbalik badan ke arahnya, dia tetep gak ngelihat dia. Ekspresinya serius dan posturnya tegang, dia berusaha mengendalikan emosinya pas dia maju lebih dekat ke dia.
"Sayang," dia berbisik, merhatiin tanda-tanda reaksi.
Ngelihat pendekatan ini gak berhasil, dia ganti nada bicaranya.
"Munyaradzi," Dia ngomong, nunjukin kemarahannya di suaranya.
Ngelihat dia dengan pandangan bertanya, dia tahu dia udah dapetin perhatiannya.
"Kamu baik-baik aja?" Dia nanya, air mata bergulir di pipinya. Air mata yang dia tangkep sebelum jatuh.
"Jangan nangis buat aku. Aku gak pantas dapat air mata kamu. Aku udah ngecewain kamu sebagai suami," katanya. "Sebagai juara kamu, pelindungmu," katanya, menelan benjolan di tenggorokannya pas dia ngalihin pandangan dari dia.
Ngerasa dia melangkah lebih dekat, dia mundur selangkah tapi berhenti di tempatnya pas dia ngegenggam jubahnya, menghentikannya. Ngelihat dia, dia tetep diem pas dia nyender ke sentuhannya pas dia merangkul pipinya, pelan-pelan menggerakkan tangannya ke belakang lehernya.
Narik dia ke arahnya, dia menciumnya dengan seksama pas dia berdiri terpana.
"Jangan pernah ngomong rendah tentang diri sendiri," dia berbisik di telinganya atau ciuman ini adalah satu-satunya yang bakal kamu ingat tentang aku," katanya dengan tatapan peringatan. "Sofa di sana bakal jadi sahabat terbaikmu," Dia bergumam pas dia ngelihat sofa itu.
"Iya, Nyonya," katanya dengan sedikit membungkukkan kepalanya.
Menggoyangkan dia ke dalam pelukannya, mengabaikan bahunya, dia jalan ke ruang makan mereka buat nemuin makanan udah siap.
Saling nyuapin, mereka mandi dan bersiap buat pergi meskipun dia nyoba buat yakinin dia buat maafin ibunya.
————
Berjalan melalui labirin pohon yang lebat, Munya gak bisa nahan diri buat gak senyum ngelihat keadaan Panashe yang kagum. Mulut anak laki-laki itu menganga sepanjang perjalanan.
"Kamu punya berapa rumah?" Dia nanya, bikin Munya terkekeh.
"Lebih dari cukup, aku percaya," katanya sambil tersenyum pas mereka ngelewatin gerbang besar dan menyusuri jalan masuk yang panjang dan berkelok.
Penjaga ngebuka pintu mobil, ngebiarin Nash keluar dari mobil pas dia ngelihat rumah mewah itu. Pembantu bergegas buat bawa Munashe ke kamarnya pas Munya tinggal di belakang.
Ngelihat dia pas dia istirahat, dia tersenyum ngelihat gimana dia ngegenggam tangannya dengan cara yang bikin dia susah buat cuma ninggalin dia.
"Sayang," dia berbisik di telinganya, bikin dia bergerak.
Buka matanya, dia ngelihat dia dengan pandangan bertanya, nyadar mereka ada di dalam mobil. Bergerak buat duduk, dia udah kangen kehangatannya pas dia ngedipin matanya beberapa kali, nerima lingkungan sekitarnya.
"Kita di mana?"
"Rumah," katanya, bergerak buat keluar dari mobil sebelum dia ngulurin tangannya buat dia.
Dia kelihatan kaget sama keindahan di depannya pas dia narik dia ke dalam pelukannya.
"Kita bakal tinggal di sini. Di mana gak ada yang bakal ganggu kamu atau aku," dia berbisik, memiringkan kepalanya ke atas biar dia bisa menghadapnya.
Bergerak lebih dekat ke dia, dia megang tangannya, melilitkannya di lehernya sebelum menaruh tangannya di pinggangnya.
"Tapi gimana dengan orang-orangmu?" Dia nanya dengan suara terengah-engah pas dia pelan-pelan ngangkat dia dari kakinya, meluk dia lebih dekat.
"Gimana dengan mereka?" Katanya dengan suara lebih dalam di lehernya.
"Gak mau mereka...," dia menggantung, pas bibirnya nyentuh kulitnya.
"Iya, sayang," dia bergumam.
"Mereka....mereka butuh," dia terengah-engah pas dia ngelepasin dia, ngebiarin dia berdiri di kakinya.
Megangin dia, dia ngedipin mata ke dia pas dia megang tangannya, nuntun jalan ke dalam rumah.
"Apa yang orang-orang butuhkan?" Dia nanya dengan seringai pas dia nuntun dia naik tangga.
"Mereka juga butuh kamu. Kalo aku ngebiarin kamu buat diri sendiri, mereka pasti bakal bilang aku nyihir kamu," dia bilang dengan nada sedih.
Dia terkekeh dengan kata-katanya, beneran terkesan karena dia peduli sama kesejahteraan orang-orang.
Masuk ke ruangan besar yang jelas bisa jadi apartemen, dia denger dia ngunci pintu. Berbalik buat ngelihat dia dengan pandangan bertanya, dia merhatiin pas dia pelan-pelan ngelepasin bajunya, mengenakan senyum yang bikin lututnya gemetar. Dia menelan ludah, ngelihat guratan otot yang jelas.
Memisahkan bibirnya, dia tiba-tiba gak bisa mikir jernih pas dia ngelempar bajunya ke kursi. Berdiri di depannya, dia meraih ujung bajunya, narik ke atas pas dia otomatis ngangkat tangannya sementara dia ngelepasin potongan kain.
Melangkah lebih dekat ke kehangatannya, dia denger detak jantungnya pas lengannya melingkari dia, memeluknya erat.
"Mereka mungkin butuh aku, tapi aku lebih butuh kamu," dia berbisik pas dia ngelihat dia.
Bersandar ke arahnya, dia menciumnya karena itu adalah tanggapan terbaiknya atas pernyataannya. Narik resleting roknya ke bawah, bahannya jatuh ke tanah pas dia ngangkat dia, ngebiarin dia melilitkan kakinya di sekelilingnya.
"Munya," dia merintih, memanggil namanya pas dia dengan lembut menggigitnya sebelum dia menghisap, mematikan rasa sakitnya, jadi menandainya.
Duduk di tepi tempat tidur dengan dia sekarang mengangkangnya, dia mundur buat ngelihat dia.
"Aku cinta kamu, rajaku," dia berbisik, merhatiin matanya berawan dengan keinginan, bikin dia makin bergairah.
"Aku lebih mencintaimu, ratuku," katanya, ngelihat senyum nakal muncul di wajahnya pas dia mendorongnya ke bawah.
Dia nyadar dia ngelihat ke atas dengan senyum jahat cuma buat ngelihat apa yang bikin seringai jahat muncul di wajahnya.
"Kamu penuh kejutan, ya kan?" Dia terkekeh, ngelihat pantulan mereka.
—————
Ngelihat diri sendiri lewat cermin, dia mastiin buat pake gaun yang bakal nutupin area lehernya karena Munya udah memuaskannya dengan seksama. Gak ada yang berani ganggu mereka pas mereka bercinta. Dia masuk ke kamar, bikin dia tersentak pas dia ngelihat punggungnya.
Megang baju yang pengen dia pake di tangannya, dia jalan ke arahnya, memakainya di depannya sebelum menciumnya dengan seksama pas dia berdiri linglung.
"Harimau kecilku," katanya sambil ngedipin mata pas dia ngelihat dia dengan malu-malu.
"Apa itu gak panas?"
"Aku nyoba nutupin ini," katanya, narik kerahnya ke bawah.
"Sayang, kamu bakal pamerin itu setiap hari selama sisa hidupmu," dia terkekeh pas dia ngelihat dia dengan kaget sebelum seringai muncul di wajahnya.
Bergerak menggoda ke arahnya, dia narik dia ke arahnya pas dia selesai masukin bajunya sambil dia ngelepasin tiga kancing pertama bajunya. Menelusuri jari-jarinya di atas kulitnya, dia merhatiin pas dia nutup matanya dengan santai.
"Sayang," dia berbisik pas dia meluk dia erat.
"Hmm," jawabnya pas dia ngerasa napasnya di telinganya.
Mengutuk pas dia ngambil daun telinganya di antara giginya sambil dia menyeret kukunya pelan-pelan di lehernya pas bibirnya bergerak ke lehernya.
"Sayang," katanya dengan suara terengah-engah.
"Iya," dia terengah-engah pas dia menelan kata-katanya pas jari-jarinya menelusuri ke bawah.
"Kita bener-bener harus makan," katanya dengan suara pelan.
"Oke," dia cuma bilang, menjauh dari dia. Berbalik dari dia, dia ngelihat pantulannya di cermin udah ngelihat tanda-tanda banyak cupang di lehernya. Berbalik ke arahnya, dia memakai seringai pas dia nyadar apa yang udah dia lakuin.
"Baiklah sayang. Kamu bakal pake tanda aku di mana aja, kecuali bagian yang kemungkinan besar bakal terpapar setiap saat," katanya, ngeluarin baju baru.
Dia cuma senyum, duduk pas dia selesai berpakaian. Begitu selesai, dia jalan ke arahnya, narik dia buat berdiri pas mereka keluar dari kamar mereka buat makan malam. Gak makan siang, mereka berdua nikmatin makan malam mereka, nikmatin kebersamaan satu sama lain dan anak-anak.
————
Seminggu berlalu dengan dia pergi sebelum fajar menyingsing buat pergi ke kantor. Itu segera berubah pas dia nanya ke dia kalo dia boleh pergi ke desa buat kelasnya. Ngelihat gak ada masalah dengan itu tapi maksa dia buat punya penjaga bersamanya setiap saat, mereka setuju sama jumlah penjaga dan jadwalnya. Jadi, setelah kelasnya, dia bakal pergi ke kantornya dan nemenin dia, bahkan buat rapat, sampe mereka pergi pulang. Luka mereka berdua sembuh dengan baik karena pemantauan yang cermat. Serta semua penjaga.
Rekan bisnisnya gak percaya kalo pria yang dulunya sombong udah diubah sama satu wanita.
"Kamu bikin aku kelihatan lemah, wanita," katanya pas mereka keluar dari rapat.
Dia terkekeh dengan pernyataannya pas pria di belakang mereka ngelakuin hal yang sama.
"Kalo aku inget dengan bener, kamu bikin anak-anak itu loncat dari kursi mereka begitu kamu minta jawaban atas kegagalan mereka," dia bergumam.
"Aku ngelakuinnya ya," katanya sambil mikir, ngusap janggutnya pas dia ngegelengkan kepalanya karena kesombongannya. "Ayo, kita makan malam sebelum kita dateng ke dansa," katanya, megang tangannya.
"Sesuai keinginanmu, rajaku," katanya dengan seringai, ngelihat perubahannya dalam postur pas dia ngasih dia tatapan membara.
"Aku bakal bersenang-senang malam ini," katanya dengan seringai.
"Selama itu dirawat dengan bener," katanya, nunjuk janggutnya.
Keluar dari kantor, mereka pergi ke butik penjahit pribadinya buat nemuin dia udah nungguin mereka.
Sesampainya di sana, mereka dengan cepat dipisah karena dia pergi buat menyegarkan diri dan pake tuksedonya.
(Tux Munya ?)
Dia nyukur janggut dan rambutnya buat penampilan dan begitu dia selesai, dia dengan sabar nunggu Rudo pas dia ngurusin email dan urusan pekerjaan lainnya.
John ngasih dia teleponnya pas dia ngurusin panggilan bisnis. Makin gak sabaran, dia berdiri sambil ngomong sama calon klien. Mengakhiri panggilan, Matthias nelpon dia dan dia agak lega bisa ngomongin topik lain selain bisnis. Pria itu selalu jadi sosok ayah dan juga percaya diri pas dia butuh bantuan.
"Gimana kabarnya, Yang Mulia?" Pria itu akhirnya nanya setelah mengesampingkan formalitas.
"Aku...senang," Munya bilang dengan senyum tulus.
Orang tua itu terkekeh di ujung telepon pas ngelihat ke bawah, nyelipin tangannya yang bebas ke dalam sakunya pas dia tersipu malu. Dia tersenyum pada dirinya sendiri, bertanya-tanya gimana orang-orang bakal bereaksi ngelihat raja mereka tersipu malu.
"Aku senang denger itu. Dan gimana ratu? Aku denger dia ngajar di sekolah sekali lagi. Itu lumayan menarik. Yang lain ngeluh gak ada ratu yang pernah ngelakuin hal kayak gitu atau bahkan kerja. Mereka bilang kamu harus ngasih dia anak-anak buat ngebiarin dia sibuk," dia tertawa.
"Bahkan kalo kita punya anak, aku gak pernah bisa ngambil dia dari anak-anak di sekolah itu. Dia udah jadi ibu bagi komunitas itu. Kalo soal kerja, aku suka dia di sampingku di kantor. Dia tahu gimana ngebiarin bahkan pengusaha yang paling keras kepala pun menyerah. Kasih wanita itu kuda liar dan dia bakal ngejinin binatang itu dalam satu jam," katanya dengan bangga.
"Kayak yang dia lakuin sama kamu?" Matthias nanya.
"Kayak yang dia lakuin sama aku," katanya sambil tersenyum. "Dan aku berani bilang aku gak ngeluh sedikit pun," tambahnya. "Kasih tahu aku tentang keluargamu sendiri," katanya pas Matthias nyeritain dia cerita tentang cucunya.
Rudo masuk ke ruangan tempat Munya berada, berhenti ngelihat dia kelihatan gagah dalam tuksedonya.
Dia memakai senyum pas dia berbalik menghadapnya, ngambil tangannya dari sakunya.
"Matthias, aku harus nelpon kamu nanti," katanya, mengakhiri panggilan, gak ngalihin pandangannya dari dia.
Dia berterima kasih pada surga mereka punya ruangan buat diri mereka sendiri pas dia ngelempar telepon ke kursi tempat dia berada sebelumnya.
Pelan-pelan menerimanya dari kakinya sampe matanya ketemu sama matanya.
Dia buka mulutnya buat ngomong tapi dengan cepat menutupnya pas dia jalan ke arahnya.
Bersandar, dia gak ngasih dia kesempatan buat bersiap pas dia menghancurkan bibirnya dalam ciuman yang ngasih tahu dia persis kayak apa penampilannya.
Mundur, dia ngelihat matanya pas dia kelihatan terengah-engah, mengalihkan pandangan darinya sesaat pas dia ngumpulin dirinya.
Ngelihat balik ke dia, dia nemuin matanya masih ngeliatin dia pas dia meraih buat ngelus janggutnya.
"Kamu milih gaya janggut stubble," dia bergumam.
"Aku tahu gimana kamu suka janggutku," dia bergumam, suka gimana rambutnya udah ditata.
Itu secara mengejutkan tumbuh balik dengan cepat sehingga dia berhasil menampilkan tampilan rambut cepak.
Megang tangannya, dia mundur, memutar dia di sekelilingnya pas dia ngelihat pakaiannya.
"Aku bener-bener suka gaun ini," dia bergumam pas dia tersenyum malu-malu. "Itu ngelakuin hal-hal ke kamu yang pada gilirannya mempengaruhiku dalam berbagai cara," katanya dengan seringai nakal, bikin dia tertawa.
"Diam sekarang sebelum kamu ngomong lebih banyak omong kosong," katanya, ngumpulin dirinya pas dia narik dia.
"Aku serius, sayang," katanya.
"Kalo kamu gak bersikap baik, aku bakal ngambil cerminmu itu," katanya dengan nada serius.
"Kamu gak bakal berani. Kamu cinta cermin itu sama kayak aku, apalagi pas..." dia ngebungkamnya, menaruh tangannya di mulutnya pas dia ngelihat dia dengan pandangan bertanya.
"Kamu menang," dia mengeluh pas dia menyeringai pada kata-kata kekalahannya.
"Ayo sayang, kita pergi sebelum aku ngunci kita di sini dan kita lupa dunia ini ada.
————
Masuk ke ruang dansa, mereka ngelewatin rekan bisnis yang membungkuk di depan mereka pas mereka nyapa mereka.
"Senang ngelihatmu, saudaraku," dia denger, bikin dia berhenti.