Bab 23
"Rudo," kata om-om itu. Kayaknya dia udah tua banget sejak terakhir kali dia lihat. "Anakku, kamu dari mana aja?" kata om-om itu sambil berlutut hormat banget waktu Munya berdiri di depannya. "Silakan duduk," kata om-om itu begitu Raja ngasih isyarat.
Begitu dia duduk, Matthias datang sama John. Munya nyapa Samson dulu sebelum dia biarin Matthias ngomong. Rudo udah masuk rumah sama Nash pas tahu sahabatnya, Tarisai, lagi ngebersihin rumah di dalem.
"Semoga kamu baik-baik aja," Matthias nyapa Samson. Ngomong pelan-pelan, Munya ngasih tahu maksudnya, dan om-om itu kaget banget. Nengok ke arah pintu, dia lihat cewek yang kemungkinan besar temennya Rudo lagi nguping pembicaraan mereka, terus dia buru-buru masuk lagi ke rumah pas sadar dia ketahuan.
"Rudo!" Samson manggil sekali pas Munya nanya ke dia.
"Papa manggil aku?" kata dia kaget banget ngelihat Munya. "Yang Mulia," kata dia sambil nundukin kepala.
Munya ngehargain dia, tapi tetep diem karena dia tahu itu tradisi yang harus diikuti.
Ngomong ke dia buat manggil beberapa saudaranya, Samson duduk sabar nunggu, dan adiknya datang duluan, bingung ngelihat kakaknya duduk sama Raja dan anak buahnya.
"Kamu yang paling deket sama sosok ibu buat cewek ini, jadi kamu bakal wakilin dia. Orang-orang ini datang buat minta tangan anakku buat nikah," kata dia, dan wanita itu sumringah banget. "Aku mau tahu dia hamil buat cowok ini sebelum kita lanjut, ini terlalu bagus buat jadi kenyataan," kata om-om itu, bikin semua orang kaget.
Lari ke rumah buat lihat beneran apa enggak, Rudo orang pertama yang keluar dari rumah, kelihatan bingung. Nengok ke Munya, dia ngelihat dia lekat-lekat, minta dia tetep tenang lewat matanya.
Pas orang-orang itu diskusi soal mas kawin, Rudo nggak ngomong kecuali diajak ngomong. Dia kesel banget sama jumlah uang yang keterlaluan yang diminta ayahnya pas Bibinya ngasih jempol.
"Lima belas sapi yang aku mau. Kita tahu banget dia bisa bayar," kata Samson, lagi adu argumen sama saudara-saudaranya yang nyuruh dia jangan minta segitu.
Matthias ngelihat Raja-nya yang cuma ngangguk-ngangguk, dan John ngetik-ngetik di hapenya.
"Aku bakal kasih kamu dua puluh sapi," Munya akhirnya ngomong, bikin dia diem. "Serta seratus ribu dolar sebagai tanda terima kasihku," kata dia sambil koper ditaruh di depan kaki Samson.
"Dan aku bakal bawa istriku dan saudaranya pergi malam ini," kata dia, dan orang itu ngelihat dia.
"Oke deh," om-om itu nyengir.
Mulut Tarisai kebuka lebar pas dia ngelihat temennya.
"Ini beneran terjadi?" Dia berbisik ke telinga Rudo.
Rudo ngelihat temen-temennya, bingung juga, dia bahkan nggak percaya.
———
"Jadi, aku boleh sering-sering jenguk kamu?" kata Tarisai.
"Tentu aja, siapa lagi yang bakal jenguk aku kalau bukan kamu," kata Rudo.
"Pelayan bakal datang buat ambil barang-barang mereka," kata Munya ke Samson.
Waktu itu udah malam. Om-om itu terbukti susah kayak yang Munya duga.
Berita udah nyebar kalau Raja mereka bakal nikah sama anak perempuannya Samson.
Dengan berita kayak gitu, semua orang seneng karena mereka kenal baik sama Rudo dan nggak bisa minta Ratu yang lebih baik. Waktu mereka jalan lagi lewat desa, dia kaget ngelihat desa ramai banget dengan lampu-lampu yang nyala dan orang-orang teriak kegirangan sambil ngelambai ke mereka.
"Kamu baik-baik aja?" Dia nanya sambil ngusap-usap tangannya.
"Kok kamu bisa bikin ini tiba-tiba banget? Cuma karena aku sayang kamu, aku nggak malu-maluin kamu di sana. Belum lagi takut sama apa yang bakal ayahku lakuin," kata dia sambil narik tangannya dari dia.
Ngunjuk kepala, mereka jalan ke lapangan terbuka pas dia lihat helikopter. Naik ke pesawat, dia diem aja, mikir keras, dan bahkan nggak lihat gedungnya yang mereka tuju sampai mereka mendarat.
"Kamu pergi ke mana?" Dia nanya ke dia, dan dia mengangkat bahunya.
"Aku nggak percaya ayahku minta segitu. Maksudku, dengan uang sebanyak itu, kamu bisa nikahin lebih dari selusin cewek," kata dia malu.
"Aku nggak harus bayar semua uang itu, tapi aku cuma mau berterima kasih sama dia karena udah bawa kamu ke dunia ini. Kalau ibumu masih hidup, dia pasti udah berenang di sungai emas sekarang karena aku udah nemuin semua yang aku butuhin di seorang pasangan, temen, kepercayaan, dan banyak lagi. Sebegitu aku menghargai mereka karena udah ngebimbing kamu jadi wanita yang sekarang," kata dia, dan dia mikir gimana reaksi ibunya kalau tahu berita dia mau nikah.
"Kamu terlalu baik buat aku. Aku nggak pantas buat semua ini," kata dia, air mata netes di pipinya.
"Kalau kamu nggak berhenti nangis, aku bakal cium kamu, sayang," bisik dia, bikin dia senyum. "Lagian, kamu juga terlalu baik buat aku," kata dia sambil senyum, dan dia ngusap air matanya.
"Maaf karena bikin ini tiba-tiba. Aku tahu kalau aku kasih tahu kamu, kamu bakal berusaha buat nghentiin aku. Kamu nggak gitu?" Dia nanya, dan dia nengok ke arah lain, tahu dia ngomong yang bener.
Ngasih dia ciuman pelan yang bikin penasaran, dia mundur, nyentuh pipinya, agak sakit karena udah berhenti.
"Kita ada penonton," gumam dia, dan Munya menghela napas.
"Makanya kita nggak bakal nginep di sini malam ini."
Gareth ngetuk pintu, dan Munya bukain, ngambil tas-tas yang dikasih ke dia sebelum pintunya ditutup. Dadah-dadah ke orang itu dan saudaranya, mereka terbang beberapa menit sebelum dia lihat titik-titik cahaya di bawah mereka. Mendarat, dia bantuin dia keluar sebelum ngelambai ke pilot yang ninggalin mereka.
"Ayo," kata dia, nolak buat dibantuin bawa tasnya.
"Kita mau ke mana?" Dia nanya pas dia nuntun dia lewat hutan.
"Tempat di mana kita nggak bakal diganggu," kata dia sambil senyum.
"Ya ampun," dia denger dia bilang pas mereka jalan ke rumah itu.
Buka pintu, dia biarin dia masuk duluan pas dia kagum sama ruangan kecil yang udah dia desain.
"Semoga kamu suka," kata dia sambil naruh tas mereka.
"Aku suka banget," kata dia. "Udah lama kamu punya tempat persembunyian ini?" Kata dia sambil nengok ke dia.
"Baru selesai sekitar seminggu yang lalu. Ini pertama kalinya aku beneran lihat selesai," kata dia, buka salah satu dari dua tas buat nunjukin berbagai makanan.
"Kenapa nikah tradisional yang buru-buru?" Dia tiba-tiba ngomong.
Ngomongin pertanyaan utama di pikirannya, dan dia berhenti semua gerakan.
"Waktu kamu bilang mau balik ke rumah kemarin, aku udah atur semuanya. Kalau kamu nginep lagi di rumahku, kamu bakal disebut simpananku atau lebih buruk, dan itu yang nggak mau aku kamu alami," kata dia, ngelihat dia pas dia ngeluarin napas panjang.
"Para tetua nasihatin aku soal apa yang bakal terjadi karena orang lain nggak bakal ngerti. Dan waktu kamu nggak nolak di sana, aku pikir ini yang kamu mau juga. Aku bodoh karena nggak nanya kamu dulu," kata dia sambil nengok ke arah lain pas dia ngegaruk rambutnya karena frustrasi.
"Aku mau ini. Dan aku seneng banget ini udah selesai. Aku seneng aku udah keluar dari rumah itu dan sama kamu. Aku seneng kakakku juga aman dan jauh dari ayahku," kata dia sambil megang pipinya, dan dia nyender ke sentuhannya.
Ngelihat dia nggak bisa berkata-kata, dia ngelihat pas dia menjauh darinya buat buka tas yang lain buat nemuin pakaian mereka.
"Aku mau mandi kalau boleh," kata dia capek.
"Kamu bisa pakai kamar mandi. Rumah ini bertenaga surya, jadi air panasnya nggak bakal tahan lama," kata dia.
? Dengerin Indulge - Video Jones di atas ??
Nengok ke arah dia, dia berdiri kelihatan capek.
"Kalau gitu, kita harus manfaatin yang ada," kata dia sambil megang tangannya.
Kakinya bergerak sesuai dengan keinginannya pas dia nuntun mereka ke kamar mandi. Ngelihat dia, dia ketemu pandangannya lewat cermin, sadar kalau dia juga ngelihat dia.
Nengok ke arah dia sepenuhnya, dia kelihatan nelen ludah sebelum dia ngomong.
"Sayang," kata dia, dan dia nyuruh dia diem dengan naruh jarinya di bibirnya.
Pelan-pelan buka kemejanya, dia ngelepasnya, terus celananya, cuma nyisain dia pakai celana dalem. Kulitnya cuma ditandai dengan tato.
Narik kemejanya, dia ngelepasnya, dan dia berdiri terpesona. Kontras yang jelas darinya. Dia keras, tapi dia lembut, di mana dia terluka, dia nggak ada, kulitnya gelap, kulit dia nggak terlalu gelap. Kontras yang dia rasa membangkitkan gairah pas dia natap dia. Dia selalu punya cara buat bikin dia nggak bisa berkata-kata pas dia ngelepas sisa pakaiannya, cuma nyisain dia pakai pakaian dalamnya juga. Nengok ke arah lain darinya, gemetar menjalar di punggungnya pas dia ngambil satu langkah mendekat ke arahnya.
"Aku bisa pergi," bisik dia, dan dia nutup matanya, ngerasain napasnya di pipinya.
"Jangan," bisik dia sambil masuk ke pelukannya, pelan-pelan narik kepalanya ke arahnya.
Mengambil bibirnya, dia ngontrol momen ini, dan dia nggak ada niat buat jadi pemimpin karena dia percaya sama dia cukup buat menyempurnakan pernikahan mereka...
——————
Nyanyian burung bangunin dia. Dia terbaring di dadanya, tidur nyenyak. Pelan-pelan mindahin dia, dia ngelihat dia kelihatan istirahat dan puas banget kayak dia.
Mereka berdua nggak bisa cukup satu sama lain, dan setiap kali dia tidur duluan, dia bangunin dia karena butuh lebih banyak, dan setiap kali dia tidur duluan, dia yang bangunin dia.
Perlu tekad buat biarin dia istirahat pas dia inget mereka bahkan belum makan. Dia udah ngebuktiin dia salah di banyak hal pas dia udah nunjukin dia banyak hal. Dia masih punya banyak yang mau dia tunjukin ke dia, dan dia bukan orang yang malu-malu sama dia, apalagi di mana kesenangan adalah hasil akhirnya. Udah ngadepin kekasih yang berpengalaman, rasanya nyegerin punya satu yang cuma tahu apa yang udah dia denger, tapi nggak pernah beneran ngalaminnya.
Masuk ke kamar mandi, dia nemuin pakaian mereka masih di lantai. Ngambil pakaian, dia ngelemparnya ke keranjang cucian, selain pakaian dalam mereka yang dia cuci dan gantung buat kering.
Njalani mandi air hangat dengan minyak wangi, dia balik ke kamar tidur. Nunduk, dia cium dia bangun, dan dia meluk lehernya, biarin dia gendong dia ke pelukannya.
Naruh dia di air hangat, dia kaget pas airnya nenangin tubuhnya yang pegel.
Kalau malam terakhir ngebuktiin sesuatu, dia tahu Munya adalah kekasih yang teliti dari cerita yang udah dia denger wanita lain omongin, dia bikin pria lain kelihatan kayak pecundang kalau soal kamar tidur.
"Kamu baik-baik aja?" Dia nanya khawatir.
"Aku bakal lebih baik kalau kamu gabung," kata dia, nggak yakin dia bakal ngikutin permintaannya.
Dengan senyum sinis, dia masuk ke air.
"Nggak pernah nyangka kamu bakal nanya," dia senyum pas dia duduk di belakangnya, biarin dia istirahat di antara kakinya.
"Kapan kita balik ke istana?" Dia nanya sambil ngegambar air sabun di lengan bertatonya.
"Udah bosen sama tempat ini?" Dia nanya.
"Nggak. Aku sebenernya suka di sini. Cuma kamu dan aku. Saling kenal lebih baik," kata dia.
"Kita belum makan, sayang, inget, dan aku emang butuh energi buat ngejar kamu kalau begini terus seharian," dia tertawa ngelihat ke mana arah pembicaraan.
Mandi bareng, dia ninggalin dia pas dia mandi air dingin yang sangat dia butuhkan. Keluar, jendelanya terbuka lebar, biarin udara segar masuk pas dia duduk di lantai, buka berbagai wadah makanan. Dia kaget nemuin makanan masih dingin karena ada susunan daging dingin yang berbeda. Nuang jus ke dalam cangkir, dia minum sedikit, ngasih cangkirnya ke dia pas dia nyender ke dinding, nyuruh dia mendekat ke arahnya. Akhirnya dia duduk di antara kakinya, nyender ke dia pas mereka saling menyuapi. Nikmatin croissant dengan keju, dia kaget waktu mereka selesai makan. Duduk di sana beberapa saat, dia denger napasnya yang pelan dan stabil pas dia ngelihat ke luar, nikmatin alam liar. Gendong dia ke tempat tidur, dia rebahan di sampingnya, meluk dia erat pas dia juga istirahat.
------
Bangun di pelukannya, dia ngambil waktunya buat mempelajari dia lekat-lekat. Dia kelihatan santai tanpa tekanan kerja atau memerintah negara. Bangun, dia keluar dari tempat tidur buat beresin piring kotor mereka. Keluar dari rumah, dia ngelihat sekelilingnya, kagum sama alam yang belum tersentuh. Dengerin baik-baik, dia denger suara air yang mengalir, berusaha buat nyari tahu dari mana asalnya, dia kaget karena ada tangan meluk pinggangnya.
"Ayo jalan-jalan," bisik dia sebelum bibirnya menyentuh kulitnya.
Senyum ke dia, dia ngikutin dia balik ke dalam buat ganti pakaian yang cocok.
Gandengan tangan, mereka keluar dari rumah buat jalan-jalan mereka.
"Hati-hati, sayang," kata dia ngelihat betapa senengnya dia pas mereka nyampe di air terjun.
Ngelepas sepatu dan pakaiannya, dia sadar dia pakai baju renang. Berdiri di bawah air, dia nyengir ke dia pas dia duduk buat istirahat, kagum sama keadaannya yang santai.
Balik lagi, dia lari ke kamar mandi, bikin dia tertawa. Ngelihat Gareth udah ninggalin semua yang dia butuhin buat makan siang dan makan malam mereka, dia buka kotak pisau.
Teriakan bikin dia lari ke kamar mandi pas dia buka pintu buat nemuin dia berdiri di atas toilet. Ngelihat ular melata di lantai, dia bergerak secepat mungkin, ngelempar pisaunya ke arah lantai, kena sasaran.
"Aku nggak tahu kamu bisa teriak kayak cewek," kata dia, tetep ngawasin lantai pas dia jalan ke arahnya, ngegendong dia ke pelukannya pas dia duduk di lantai.
"Kamu nggak luka kan?" Dia nanya khawatir.
"Aku baik-baik aja," kata dia. "Tapi beneran laper," tambahnya, dan dia tertawa.
Ngikutin dia ke luar, dia lihat dapur portabel yang udah dia pasang.
"Maksud kamu, kita bisa masak kemarin?" Dia nanya kaget.
"Iya," kata dia dengan senyum nakal. "Tapi kamu capek, dan aku juga," kata dia.
Motong semua bahan yang dibutuhkan buat nyiapin saus pasta, dia nggak bisa nggak senyum pas dia nyeritain cerita masa mudanya sambil ngasih dia sayuran yang udah dipotong buat ditambahin ke panci tumisan. Nggerebus panci air, mereka biarin pasta mateng pas dia nyeritain lebih banyak cerita.
Berbagi segelas jus pas mereka natap langit, diskusi soal bintang, dia ngerasain dia jadi tegang pas dia noleh, ngelihat ke semak-semak.
"Ada apa?" Dia nanya, duduk pas dia naruh jari di bibirnya.
Bangun, dia meraih tangannya, bantuin dia bangun.
"Tunjukin dirimu," suaranya menggema keras dan jelas.
Orang pertama yang dia lihat adalah Gareth pas dia keluar dari semak-semak sambil megang parang, diikuti beberapa pengawal.
"Maafkan kami, Yang Mulia," kata dia sambil berlutut pas orang-orang lain melakukan hal yang sama, nundukin kepala mereka.
"Aku udah bilang jangan ada gangguan," kata dia dengan suara yang bikin orang-orang di depannya ketakutan.
"Yang Mulia, ada kecelakaan yang butuh perhatian Anda. Bahkan John nggak bisa nangani masalah ini. Ini soal Ratu kita," kata dia, dan Munya narik dia lebih deket.
"Gimana dengan istriku?" Dia menggeram.
Kalau kamu tersesat. Raja baru aja nikahin Rudo jadi istri lewat pernikahan tradisional.
Semoga kamu suka ?