Bab 16
"Ratu nggak seharusnya nemenin kamu ke pertemuan ini, ya kan?" kata Rudo waktu mereka lagi jalan ke bandara.
"Dia nggak bakal ikut karena keadaan di luar kendaliku," katanya sambil nyengir.
Rudo kayak khawatir gitu. Tapi, dia malah bingung pas ngelihat beberapa mobil berhenti pas ratu turun dari salah satu mobil. Munya mau ngedeketin dia, tapi berhenti pas para pemimpin yang diundangnya muncul di situ.
Tuk, nggak pake basa-basi lagi, dia ngegiring jalan ke Boeing 747.
Rudo berdiri sama Gareth waktu para pemimpin lain dan pasangannya naik ke pesawat.
Naik pesawat setelah mereka, dia takjub banget sama kemewahan interior pesawatnya. Kata 'nyaman' jadi hal pertama yang ada di pikirannya. Kursi-kursinya kayak manggil buat didudukin, pramugari-pramugarinya semua kelihatan mirip, pake senyum cerah sambil nuntun para tamunya ke kursi masing-masing buat siap-siap terbang.
"Silakan ikut saya," kata salah satu anak cewek itu, terus Rudo ngikutin dia sambil nengok ke belakang buat nyari Gareth yang malah pergi ke tempat lain. Sebelum dia sempet ngapa-ngapain, pengasuhnya Munashe nyamperin dia buat ngambil anaknya. Entah kenapa dia ngerasa hampa tanpa anak dalam gendongannya pas dia ngelihat beberapa pemimpin ngelihat ke arahnya sebelum akhirnya buang muka.
Si pramugari nunjukkin jalan ke kursinya, tapi berhenti terus nundukin kepalanya pas Munya turun dari tangga buat gabung sama mereka dari lantai dua pesawat.
Jalan lebih jauh ke bawah tangga, ratu muncul, terus dia jalan ke arahnya, mau nemuin dia di tengah jalan karena dia belum nyapa tamunya secara resmi.
Dia ngulurin tangan, terus dia senyum senang, sebelum senyumnya berubah jadi cemberut pas dia nurunin tangannya, terus masukin kedua tangannya ke saku.
Ngelewatin pramugari yang kepalanya masih nunduk, Rudo bingung banget. Nundukin badannya, dia bisikin ke telinganya,
"Aku nyariin kamu, cinta."
Rudo berdiri kaku, mikirin apa yang dipikirin semua orang di lantai itu.
Sambil nyengir, dia noleh ke tamunya yang semuanya berdiri sambil nundukin kepala, beberapa ngintip buat mastiin apa mereka emang beneran ngebayangin apa yang baru aja terjadi.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Terima kasih udah tepat waktu dan gabung sama keluarga saya dan saya buat perjalanan bisnis ini. Semoga kalian nikmatin penerbangannya. Bapak-bapak, kita bakal ada rapat singkat satu jam lagi, terus kalian bisa nikmatin penerbangan ini sama istri kalian. Sekarang, kalau kalian mau permisi," katanya dengan nada serius.
Maju selangkah ke arah tangga, dia berhenti, nengok ke belakang buat ngelihat Rudo masih berdiri di tempat dia berdiri.
Balik lagi ke dia, dia bisikin ke telinganya, "Kamu butuh aku buat gendong kamu naik tangga?" bisiknya bikin dia kaget.
Dia cuma ngelihat dia pas dia ngasih tatapan yang ngungkapin kata-kata yang pengen banget dia ucapin.
"Kamu nggak bakal berani, kan?"
"Coba aja," katanya sambil ngulurin tangannya.
Dia geleng.
Dia ketawa kecil pas dia pergi sambil denger suara langkah kecil kakinya.
Nungguin dia jalan duluan, dia ngikutin dia dari belakang waktu dia naik tangga.
"Nih," dia senyum sambil ngasih segelas jus jeruk buat nenangin dia.
Ketawa pas dia minum jusnya sambil kelihatan kayak mau ngebunuh, dia duduk terus nyilangin kakinya sambil nyender santai, ngelihatin dia.
"Kenapa kamu lakuin itu?" dia nyolot. "Sekarang mereka semua mikir aku simpanan kamu demi Tuhan," katanya khawatir sambil duduk.
"Cinta, tenang dulu," katanya sambil ngegerakin badannya lebih deket ke dia sambil megang pipinya pake satu tangan dan megang tangannya pake tangan yang lain.
"Gimana aku bisa tenang kalau kamu udah bikin masalah ini buat aku? Kenapa kamu lakuin itu ke istrimu? Bikin malu dia di depan semua orang, astaga, aku cuma bisa ngebayangin apa yang lagi dia rasain sekarang."
"Tarik napas dalam-dalam," katanya pelan pas dia ngelakuin apa yang dia minta. "Anak baik," dia senyum pas dia tenang. Pencet tombol, dia bilang ke kapten kalau mereka udah siap buat berangkat sebelum dia pencet tombol lain buat manggil pramugara.
"Bawa ini pergi dan siapin semua orang buat berangkat. Bawa anakku ke aku."
Pasa dia pergi, ratu jalan ke arah mereka sambil kelihatan marah.
Anggukan kecil kepalanya bikin pengawal yang ngikutin dia berhenti dan berbalik. Nutup rapat pintu yang mengarah ke bawah tangga, kapten ngumumin ke semua orang buat duduk dan pake sabuk pengaman.
Nggak ngehirauin mantan istrinya, dia noleh ke Rudo sambil masangin sabuk pengaman di kursinya pas dia ngelihat khawatir ke wanita yang duduk di seberang mereka. Beberapa menit kemudian, Munashe dibawa ke dia pas Munya gendong anaknya.
Sekarang cuma ada mereka berempat pas pesawatnya jalan di landasan.
"Apa maksudnya itu?" dia nyolot.
"Cuma buat ngerasain apa yang bakal terjadi. Aku udah minta kamu buat tanda tangan dokumennya dan kamu harusnya udah tahu kalau kehadiran kamu nggak bakal diterima."
Dia meremehkan, terus Rudo kaget pas dia ngeh.
"Kamu mau cerai?" dia bisik ke dirinya sendiri, tapi dia denger.
"Tanda tangan dokumennya dan biarin aku pergi," katanya dengan tenang sambil ngelihat tatapan penuh perhitungan yang dia kasih ke dia terus ke Rudo. "Jangan pernah berani mikir buat nyakitin dia atau demi Tuhan kamu bakal nyesel banget hari kamu ngelihat aku," katanya dengan nada rendah yang berbahaya. Semua warna hilang dari wajah Rudo pas dia denger kata-katanya. Tetep diem, dia buang muka dari ratu yang kelihatan kayak mau nguliti dia hidup-hidup.
Senyum jahat muncul di wajahnya pas dia ngelihat Munya.
"Kita lihat siapa yang bakal menang. Kalau aku pergi, anakku juga ikut," dia nyembur.
"Kamu nggak bakal bawa anakku kemana-mana. Semua orang tahu kamu nggak peduli sama anak ini, kita lihat pengadilan mana yang bakal setuju," katanya sambil senyum. Ngelepas sabuk pengamannya, dia maju deketin Rudo sebelum dia naro Munashe di tempat duduknya.
"Sekarang kalau kamu mau permisi," katanya sambil megang tangan Rudo bikin dia ngelihatin dia. "Aku punya orang yang lebih penting yang butuh perhatian penuhku," katanya dengan senyum menggoda.
"Maaf, cinta," bisiknya sebelum dia nyium bibirnya dengan ciuman pelan yang bikin dia ngesot tangannya ke bahunya dan megang erat banget.
Ngelepas sabuk pengamannya, dia narik dia lebih deket ke dia, suka banget ngerasain dia dalam pelukannya.
Suara pintu kebanting misahin mereka, pas dia ngelihat dia dengan cara yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ngambil napas, dia kehabisan kata-kata pas dia cepet-cepet berdiri keluar dari kabin.
Ngelihatin dia, dia kaget dan bingung. Apa ciumannya emang seburuk itu dan kenapa dia kelihatan semarah itu padahal dia yang mulai duluan?
———
"Bapak-bapak, terima kasih atas kesabarannya," katanya sambil masuk ke ruang rapat pas para pria berdiri buat dia.
Duduk di ujung meja, dia ngelihat sekeliling, ngelihat wajah-wajah yang familiar sebelum dia ngelihat Eddy duduk di ujung meja.
Manggil John, dia nanya di mana Rudo. Minta dia buat nunjukkin jalan ke ruang rapat.
Pas John pergi, pertanyaan yang dia tahu bakal mereka tanyain muncul duluan dari pemimpin paling senior.
"Maaf, Yang Mulia, tapi apa pantas bagi Anda untuk mengabaikan istri Anda demi simpanan Anda di depan semua orang seperti yang Anda lakukan sebelumnya?" katanya sambil buang muka.
Munya ketawa pas pertanyaan ini.
"Rudo bukan simpanan saya. Seperti yang kalian semua tahu, saya nggak percaya sama hal itu. Dia cuma teman yang saya minta buat nemenin saya karena anak saya suka banget sama dia dan agak rewel akhir-akhir ini. Sampai-sampai beberapa pengasuh nggak bisa ngurus anak saya, bahkan ibunya sendiri. Sedangkan untuk ratu, saya nggak peduli sama dia karena kalian bakal dengar sebentar lagi kalau saya udah ngajuin surat cerai, pernikahan saya sama dia dijodohin, malah dipaksa ke saya, kalian semua tahu ini," katanya pas ada ketukan pintu.
"Masuk!" katanya cukup keras buat orang itu denger.
Rudo masuk ke ruangan, berhenti pas semua orang ngelihatin dia.
Dengan kepala nunduk, dia jalan ke arah Munya yang berdiri terus nawarin kursinya ke dia. Geleng pelan, dia ngerasain sentuhan ringannya di lengannya pas dia nuntun dia ke kursi. Duduk, dia kelihatan jelas sama semua orang, jantungnya berdebar kencang di dadanya pas dia ngelihat meja. Nggak nyaman sama sekali.
"Rasa hormat yang sama yang kalian kasih ke saya bakal dikasih ke dia. Kalau saya denger ada kata-kata buruk tentang dia, orang yang ngomong bakal ngerasain kemarahan saya. Apa saya udah jelas?" katanya pas beberapa kepala ngangguk iya.
Tapi, dia ngelihat beberapa ngangguk iya dengan enggan, termasuk Eddy.
Rudo di sisi lain ngelihat dia kaget pas dia jalan keliling meja, tatapannya nggak pernah lepas dari dia pas dia ngelihat orang-orang di sekeliling meja, ngelihat reaksinya waktu dia ngelihat Eddy.
Wajahnya pucat pas dia jalan ke arahnya. Meraih tangannya, dia nuntun dia keluar ruangan pas Gareth bawa dia ke kamarnya.
"Yang Mulia, gelar apa yang dia punya buat dikasih kesetiaan dan rasa hormat kita?" tanya Eddy.
"Dia nggak butuh gelar buat dapetin kesetiaan dan rasa hormat siapa pun, termasuk saya. Kalau kamu punya masalah sama ini, pintunya terbuka," katanya sambil nunjuk pintu.
"Sekali lagi saya tanya. Ada yang punya masalah sama ini?"
Dia dapet keheningan sebelum dia duduk lagi.
"Sekarang ini jadwal apa yang harus ada di perjalanan ini. Masing-masing dari kalian ditugaskan buat menangin investor karena saya nggak bisa lakuin ini sendiri. Kebanyakan negara bagian kalian punya masalah buat dapetin air bersih karena curah hujan yang rendah musim ini. Kita butuh dana buat bangun waduk air buat komunitas yang berbeda. Tapi, kita juga harus manfaatin tenaga surya yang kita punya, jadi ini butuh dana yang besar. Yakinin grup-grup ini buat bantu tujuan kita, ngasih balik ke pria dan wanita di tanah kita," katanya pas beberapa kepala ngangguk setuju. Selain itu, saya butuh update gimana kalian berdua udah nangani situasi sama pemberontak yang udah bikin kalian masalah," katanya sambil nunjuk pemimpin wilayah selatan.
"Eddy, boleh saya ngomong sama kamu secara pribadi?" katanya berdiri sebelum yang lain ngikutin.
———
Jalan ke ruang santai, dia nemuin Rudo lagi minum teh. Duduk di sampingnya, dia nyuruh Eddy duduk di seberang mereka.
"Gimana perasaanmu?" tanyanya sambil naruh tangannya di dahinya.
"Aku baik-baik aja, terima kasih Munya," dia senyum sambil ngindarin Eddy dengan segala cara.
"Kamu kelihatan nggak enak badan di sana," dia cemberut pas dia nyeruput tehnya.
"Aku rasa situasinya agak bikin aku kewalahan," dia ketawa kecil gugup sambil buang muka dari dia pas dia berdiri buat pergi dari ruangan sebentar.
"Aku lihat kamu udah berhasil masuk ke ranjangnya. Kalau aku tahu kamu semurah ini, aku bakal bikin kesepakatan sama ayahmu buat keuntunganku sejak awal," dia nyembur.
Dia nggak ngomong sepatah kata pun pas dia ngelihat dia.
"Aku harap kamu nggak buka mulut tentang malam itu. Kita nggak mau ada apa-apa yang terjadi sama kamu atau saudaramu, kan?" dia geleng keras.
Saat itu juga, Munya balik lagi.
"Aku harap kamu nggak ganggu temen kesayanganku," Munya ketawa kecil sambil duduk di sampingnya.
"Oh, nggak sama sekali, dia sebenernya lagi cerita tentang adiknya. Anak yang baik banget. Aku lihat dia tadi sama Gareth. Lumayan pinter juga," dia ketawa kecil.
"Iya, emang," Munya nyengir sambil noleh ke Rudo.
"Cinta, kamu nggak minum tehmu sama sekali," katanya sambil meraih cangkirnya, nyeruput, "Udah dingin," katanya sambil kelihatan khawatir.
"Oh, aku lupa," dia ketawa kecil bikin dia nanya.
"Aku bakal siapin secangkir buat dia. Lanjutin aja obrolanmu," kata ratu pas dia masuk ke ruang santai.
Mau protes, Munya ngelihat Eddy yang kelihatan kayak udah siap buat ngelihat konfrontasi ini.
"Dua gula," kata Munya duduk lagi sambil kelihatan tegang.
Eddy diem aja, ngelihat interaksi ini, tapi siapa pun bisa lihat Rudo nggak nyaman.
Pas ratu jalan ke arahnya, dia salah langkah, terus isinya tumpah ke pangkuan Rudo.
Nangis kesakitan, dia cepet-cepet berdiri, lari keluar ruangan.
Munya lari nyusul dia pas dia masuk ke kamar mandi. Masuk ke ruangan, dia ngunci pintunya pas dia nyiram handuk di air dingin. Dia nggak nyangka apa yang terjadi selanjutnya pas Munya ngangkat dia ke pelukannya, masuk ke bak mandi di waktu yang sama, nyalain keran air dingin. Airnya cepet banget penuh, nutupin kakinya, ngejar rasa perih dari cairan yang membara. Narik roknya buat ngelihat kakinya, dia cemberut pas dia ngelihat area yang kena. Narik roknya, dia ngerasa terekspos, tapi dia kelihatan kurang peduli tentang itu saat ini. Keluar dari bak mandi, dia nawarin tangannya ke dia, bantuin dia keluar dari bak mandi sebelum dia ngangkat dia ke meja.
Basah kuyup, dia keluar dari ruangan tanpa peduli sama jejak air yang dia tinggali pas dia jalan ke dapur. Bajunya nggak ngelindungin fisiknya pas wanita-wanita itu buang muka karena hormat.
Ngambil kotak P3K dari lemari obat, dia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Ngecek lukanya, kayak yang dia duga, luka bakar derajat satu. Itu bisa dia tangani sendiri, pikirnya dalam hati. Baru pas itu dia ngeh keadaan dia yang sebenernya di saat lega itu.
Ngaplikasiin lidocaine ke area yang kebakar, dia menghela napas lega sebelum dia ngaplikasiin salep antibiotik. Dia ngelakuin hal yang sama buat kaki satunya, hati-hati biar nggak nyakitin dia pas dia ngaplikasiin antibiotiknya dengan lembut. Ngasih dia beberapa ibuprofen buat ngilangin rasa sakit, dia seneng banget minum pilnya. Pergi dari ruangan sebentar, dia balik lagi bawa kemeja kering.
"Mendingan?" tanyanya pas dia ngangguk iya sebagai jawaban.
"Maaf," dia cuma minta maaf.
"Nggak ada yang perlu dimintain maaf," bisiknya pas dia menggigil karena dingin yang pelan-pelan nyerang tubuhnya.
"Ya Tuhan, Munya. Kamu harus keluar dari sini sebelum kamu masuk angin gara-gara aku. Aku nggak bakal pernah maafin diri sendiri kalau kamu sakit gara-gara aku," katanya panik sambil ngelepasin kancing bajunya sebelum dia ngeh apa yang sebenernya dia lakuin pas dia ngelihat dia takjub.
"Maafin aku," katanya sambil buang muka dari dia.
Nengok wajahnya ke arahnya, dia kaget ngelihat senyum yang tersungging di bibirnya.
"Aku nggak bakal pernah maafin kamu kalau kamu nggak nyelesaiin apa yang udah kamu mulai, cinta," katanya dengan senyum nakal. "Lanjutin aja, aku suka banget dirawat sama kamu," katanya sambil ngasih dia kedipan mata pas dia blushing.
"Yah, aku emang serius soal kamu sakit gara-gara aku," gumamnya pas dia ngelepasin kancing terakhir, narik baju dari tubuhnya.
"Bolehkah aku balas budi?" katanya hampir ketawa kecil pas tatapan membunuh dia.
Nyerahin bajunya ke dia, dia balik badan pas dia ngelepasin bajunya terus make baju dia.
"Hmmm aku suka warna ini di kamu," katanya pas dia ngelihat kemeja birunya yang sekarang dia pake. "Kamu kelihatan memukau kayak biasanya, aku rasa aku yang butuh ini karena semua yang kamu sentuh pasti bakal kebakar," katanya dengan seringai nakal pas dia nyimpen salep bakar.
"Tutup mulut manismu Munya," dia ketawa.
"Seperti yang kamu mau, sayangku," katanya sambil membungkuk pas dia cekikikan sama aksinya.
"Aku suka ngelihat kamu kayak gini," katanya sambil nyender di pintu pas dia ngelihatin dia malu-malu berusaha buat nggak ngelihat torsonya yang terbentuk sempurna.
"A..aku harus pergi pake sesuatu yang lebih pantas sebelum jam makan siang tiba," gumamnya sambil ngelihatin kakinya yang sekarang telanjang. Nggak inget kapan dia ngelepas sepatunya, sadar kalau dia sendiri juga nggak pake sepatu. Dia nyimpulin dia pasti kesakitan banget sampai nggak ngeh hal itu.
Dia senyum sama kepolosannya pas dia ngambil buat ngebuka pintu.
"Silakan, cinta," katanya ngelihatin gimana dia pelan-pelan jalan sebelum berhenti pas inget bajunya.
"Apa kamu yakin nggak ada yang bakal ngelihat aku kayak gini?" bisiknya.
"Janji kelingking," dia senyum sambil ngulurin tangannya ke dia.
Ngintep keluar buat nyari lorong yang kosong, dia ngelihat dia sebelum nyegel janjinya. Nggak lepas ngelihatin dia pas dia jalan lorong secepet mungkin, dia ketawa kecil waktu dia lari ke pintunya cepet-cepet nutup.
Dia lanjutin ke kamarnya sendiri buat ganti pake sesuatu yang lebih pantas.
———
Beberapa menit kemudian, dia denger ada ketukan di pintunya. Buka, dia nemuin dia berdiri di depannya pake kemeja dan celana panjang gelap. Dia berdiri, bibir terpisah pas dia ngelihat bajunya.
"Kamu kelihatan bikin takjub," katanya pas dia senyum malu-malu bikin dia senyum juga.
"Makasih," jawabnya.
"Aku yakin yang lain pasti iri karena kamu dapetin semua perhatianku," katanya sambil nawarin lengannya. "Mau, ya?" katanya ngantar dia balik ke ruang santai.
Eddy ada di tempat dia ninggalin dia.
"Lama banget ngurusin luka bakarnya," katanya sambil nyengir.
Munya milih nggak ngehirauin komentarnya pas dia ngebantu Rudo duduk di kursinya, ngelihat gimana nggak nyamannya dia di hadapan Eddy sekali lagi.
"Kamu butuh apa, cinta?" tanyanya pas dia duduk di sampingnya.
"Aku baik-baik aja, makasih," katanya sambil meraih novel yang dia bawa pas dia meraih laptopnya.
Meraih kacamata bacanya, dia nyerahin ke dia pas dia bergeser buat nyari.
Balik lagi ke bukunya, dia denger Eddy berdeham pas dia ngelihat mereka berdua.
"Oh Eddy, kamu bisa balik ke bawah," kata Munya sambil cemberut pas dia meraih segelas jus jeruk, nyeruput sebelum nyerahin ke Rudo.
Tanpa kata-kata lagi, mereka ditinggalin dalam keheningan yang damai pas dia ngelihat dia kelihatan rileks.
Menghela napas lega, dia noleh lagi ke laptopnya, ngeliat dokumen proyek mendatang yang harus dia tangani.
Tiga puluh menit kemudian, dia ngelihat dari layarnya buat ngelihat Rudo udah tidur pulas. Ngegeser dia biar kepalanya nyender di bahunya, dia lanjutin kerjanya, tenang sama napasnya yang stabil.
———
"Yang Mulia, makan siang udah siap," dia denger pas dia ngelihat dari pekerjaannya. Ngelihat pramugari, dia cuma ngangguk iya. Setelah dia keluar ruang santai, dia ngegoyangin Rudo pelan-pelan.
"Waktunya makan siang, cinta," katanya dengan senyum pas dia kelihatan kesel karena dibangunin.
Narik dia buat berdiri, dia megang tangannya pas dia nuntun dia turun tangga. Nuntun dia ke area makan, dia nundukin kepalanya karena hormat ke para pemimpin dan istri mereka.
Nyampe di ujung meja, dia nemuin ratu udah berdiri di tempatnya. Nggak ngehirauin dia, dia nuntun Rudo ke kursinya.
Eddy nggak kelihatan buat kelegaan dia pas dia ngelihat wajah-wajah familiar yang udah dia lihat di TV sebagian besar hidupnya.
Nunjukin kalau mereka duduk, Munya ngejutin dia dengan megang tangannya pas dia ngebantu dia buat duduk sebelum mendorong kursinya.
Duduk, pelayan muncul bawa makanan mereka.
Yang lain ngelihatin pas dia ngelihat makanan.
Sebelum ngelihat piring Rudo, puas ngelihat dia juga dapet makanan yang layak. Nundukin kepalanya buat berdoa, semua orang ngikutin dan baru mulai makan setelahnya.
Gigitan pertama, dia seneng sama makanannya, tapi berhenti pas dia ngelihat Rudo cemberut. Ngelihat sekeliling, semua orang kayaknya nikmatin makanannya.
"Apa makanannya nggak kamu suka, Ru?" katanya pelan biar cuma mereka yang deket yang denger.
"Agak asin," katanya sambil meraih gelas air.
"Nggak mungkin," katanya pas dia nyobain makanannya.
Ngelahap makanan, dia berdiri ngambil piringnya.
———
Dapur
"Kalian emang mikir kalaupun kita ribuan kaki di atas langit, kalian nggak bakal ditangani," katanya pas dia nyingsingkan lengan bajunya pas kru dapur berdiri berbaris ngelihat setiap gerakannya.
"Jangan khawatir, aku nggak bakal nanya kalian pertanyaan apa pun, pelakunya bakal ngaku malam ini sebelum makan malam kemungkinan besar. Tapi, aku peringatin, kalau makan malamnya rusak sekali lagi, bakal ada neraka yang harus dibayar," katanya pas beberapa kepala mengangguk.
Ngambil piring yang udah dia siapin balik ke ruang makan, dia kasih ke Rudo yang nerima dengan terima kasih. Catet buat pake dapur mereka sendiri buat makan malam, dia mulai mikir menu malam itu.
Ngelihat dia makan, dia senyum sama tatapan puasnya.
"Jadi sayangku, ceritain tentang dirimu," Mathias, salah satu pemimpin, berkata pas istrinya ngelihat dia dengan senyum sayang.
Ini memicu percakapan antara dia dan pasangan itu, percakapan yang Munya seneng banget ikut campur. Jelas kebanyakan pemimpin nggak terlalu suka sama Rudo. Tapi, dia nggak khawatir soal ini. Dia pasti bakal menangin hati mereka kayak yang udah dia lakuin sama dia.
———
Buat hidangan penutup, semua orang milih. Rudo milih teh, tapi pas Munya bersin, dia milih pilihan yang sama. Ngambil cangkirnya, dia nyeruput sebelum nyerahin ke dia, puas sama suhunya.
"Kamu perlu istirahat setelah makan siang," Rudo berbisik bikin dia senyum pas dia ngelihat dia. Mathias geleng, senyum di bibirnya ngelihat seberapa parah rajanya.
"Cinta remaja," gumamnya ke istrinya yang cuma senyum sebagai tanggapan.
Bersin lagi, Rudo ngelihat dia, ketakutannya dari sebelumnya jadi kenyataan.
Dengan ekspresi khawatir, dia berdiri, permisi pas para pria berdiri pas dia berdiri.
"Maafkan saya," kata Munya pas mereka semua berdiri karena hormat.
Pelan-pelan naik tangga, dia ngelewatin ruang santai pas keringat ngalir di dahinya.
"Munya!" Dia memanggil tepat sebelum dia pingsan...
Nih, orang-orang tersayang, semoga kalian suka
Vote
Komen
Promosikan ☺️