Bab 30
"Tolong kasih tau semuanya lancar," kata Munya sambil ngeliatin layar.
"Semuanya sesuai jadwal. Nyasha lagi sama dia dan dia gak tau apa-apa, tapi ada yang harus kita urus," kata Marcel dengan nada khawatir.
"Gak masalah selama gue nikah sama cewek itu di depan Tuhan, gue gak masalah, gue bahkan gak peduli siapa yang dateng, yang penting dia ada," katanya.
Marcel ketawa kecil denger omongan temennya sebelum matiin telepon.
Ngeliat gambar yang dikirim perencana, dia senyum. Rumah mereka udah diubah jadi tempat buat nikahan dan yang Rudo tau cuma rumahnya lagi direnovasi, jadi mereka nginep di istana bokapnya.
————
"Sekarang gue kasih empat orang terbaik gue, mereka di bawah lo. Gue ada urusan lain. Mereka jago di bidangnya, jadi lo gak bakal ada masalah," kata Marcel sementara Nyasha duduk di sampingnya, gambar pola di lengannya.
Nengok ke arahnya, dia berbalik menghadap Marcel sambil senyum aja.
"Gue sama bini gue belum dapet info tentang targetnya, tapi kasih tau anak buah. Kita gak biasa gini, tapi karena jadwal kita padet, mereka yang bakal urus semuanya," katanya.
Neil masuk ke ruangan bareng bininya, ngeliatin Simba sambil nyinyir.
"Main yang baik ya," bisik bininya sambil naruh tangan di dadanya.
"Anak itu tukang tebar pesona dan selalu bikin masalah di mana-mana. Dia bahkan gak bisa ngurus nyokapnya sendiri. Cowok kayak apa yang gak bisa ngurus nyokapnya sendiri," sembur Neil.
Ngeliat bininya, dia nyari bantuan dari adiknya, tapi gak ada harapan di sana.
"Maafin aku, sayang," bisiknya sambil genggam tangannya, terus dia cium tangannya sambil natap dengan tatapan memohon.
Kepala bininya sedikit ngangguk bikin dia senyum.
"Kita harus pergi," gumamnya, Marcel ngangguk setuju.
Berdiri, Simba yang pertama keluar rumah.
"Pastikan ada buah-buahan buat ratu muda, dia lumayan pilih-pilih makanan akhir-akhir ini," kata Nyasha ke cewek muda pas mereka keluar rumah, mau pergi ke nikahan.
—————
"Gimana hari kamu, sayang?" kata Munya sambil senyum.
"Sempurna banget. Nyasha harusnya udah nyampe istana, dan aku udah nemu gaun buat pesta besok," katanya girang.
Dia senyum bangga, tau bini dia gak tau apa yang lagi terjadi.
"Kamu udah kasih tau desainer apa yang kamu mau?" katanya, udah mastiin bininya kasih masukan.
"Udah. Mereka kirim warna buat tempatnya, aku suka banget semuanya. Kamu tau gak, kalau jadi raja dan pengusaha bisnis udah gak seru lagi, kamu harus jadi desainer interior," katanya.
"Aku pegang kata-kata kamu, sayang," gumamnya. "Kamu mau ke kantor?" Katanya pelan sambil keluar dari kantornya, ketemu karyawan yang lagi berantem.
"Munya, ada apa?" Tanyanya dengan nada khawatir.
"Gak ada apa-apa, sayang, cuma dua cowok dewasa yang kelakuan kayak anak kecil," katanya, mulai marah pas dia berhenti di depan mereka.
Begitu ngeliat Munya, mereka langsung misah sambil keliatan malu.
"Tolong jangan terlalu keras sama mereka. Pasti ada yang serius sampe mereka pake tinju," katanya dengan nada memohon.
"Baik, sayang," katanya sambil menghela napas.
"Aku cinta kamu," katanya.
"Aku juga cinta kamu, sampai jumpa pas makan siang, supirnya lagi otw," katanya.
——-
"Kamu udah tau siapa targetnya?" Tanya Neil ke adiknya.
"Belum. Nanti gue suruh anak buah gue yang nyari."
"Suruh mereka cepetan, gue gak suka sama pangeran kecil itu. Dia selalu bikin masalah," gumam Neil sambil genggam sandaran tangan dengan marah. Kalau dia tau adiknya sama iparnya udah bikin kesepakatan bisnis sama Simba, dia pasti udah nghentiinnya sebelum mulai.
"Tenang aja, sayang," dia denger, terus dia pelan-pelan rileks, berbalik ngeliat bininya.
"Gue cuma gak suka aja, itu aja," katanya pas kapten ngumumin mereka mau mendarat.
———
"Aku harus berterima kasih udah ngajak aku makan siang hari ini," kata Rudo pelan.
"Sama-sama, senang banget bisa makan bareng kamu, sayangku," kata Munya sambil senyum yang gak bisa diliat Rudo. "Maaf aku harus langsung pergi, urusan darurat lagi ditangani sekarang."
"Ada apa?"
"Pipa air pecah dan ada beberapa karyawan di deket situ, untungnya mereka gak luka," katanya.
"Oh, aku harap mereka periksa kesehatan, paling gak buat mastiin mereka beneran baik-baik aja," katanya dengan suara khawatir.
"Iya sayang. Aku harus pergi sekarang, tapi aku bakal ketemu kamu besok. Aku bakal pulang duluan, jadi jangan telat ya. Aku tau nyokapku bakal berusaha ngejauhin kamu dari aku," katanya, dia menghela nafas.
"Aku akan berusaha gak telat."
"Selamat malam, sayang," katanya.
"Selamat malam, rajaku," dia tertawa kecil sambil menutup telepon, denger protes Munya.
————
"Lo bisa gak sih tenang sebentar aja? Dia bakal dateng sebentar lagi. Gak setiap hari raja bikin nikahan kejutan. Gue harus bilang, lo berhasil banget. Bikin dia mikir dia dateng ke pesta formal, bukan ke nikahannya sendiri," kata Marcel sambil nyengir.
"Lo kan tau gue, gue gak suka yang biasa-biasa aja, dan kalau soal Rudo, gue bakal mastiin semua yang dia injak itu disembah," katanya sambil ngerapiin dasinya.
"Gue ikut seneng buat lo, yang mulia. Lo pantes dapetin dia," kata Marcel.
Pergi ke aula besar tempat nikahan diadain, dia jalan di lorong ngeliat banyak keluarga dan teman, duta besar dan keluarga kerajaan duduk nunggu nyaksiin pernikahannya sama Rudo.
————
"Nyasha, cepetan!" Kata Rudo pas dia jalan ke arah pintu.
Gak ada cermin buat dia ngeliat hasil kerja penata rias yang udah ngerjain penampilannya.
"Emangnya harus milih gaun yang ada ekornya panjang?" gerutunya pas dua dayang muda jalan ke arahnya buat bantu dia.
"Kamu itu ratu sayang, akuin gelarnya," Nyasha nyengir sambil nuntun jalan keluar istana. Dia udah bilang ke Rudo kalau yang mulia minta dia pake gaun itu.
Nyampe di tempat tujuan dengan waktu yang singkat, dia kaget ngeliat kemewahannya. Kayaknya semua orang udah ada di dalem pas mereka keluar mobil.
"Kamu harus pake ini," kata Nyasha sambil megang kerudung, ngangguk ke salah satu dayang buat bantu.
"Kenapa aku.... ya ampun...," dia berhenti ngomong, nyadar apa yang lagi terjadi. "Ya ampun," katanya sambil ngegelengin kepala gak percaya. "Ini gak mungkin," katanya pas Nyasha cepet-cepet ngelap air mata yang mau ngerusak riasannya.
"Berhenti nangis dan masuk ke dalem, terus dapetin cowok kamu, atau harusnya gue bilang raja kamu," dia nyengir sambil ngangguk supaya pintunya dibuka.
Jalan di lorong, dia cuma ngeliat Munya, lupa sama tamu yang lain. Nash berdiri di pintu pake tuksedo pas Nyasha naro karangannya di tangannya.
"Ayo, Kak. Munya udah nungguin kamu," kata Nash sambil genggam tangan adiknya.
Jalan ke arah Munya, dia kaget ngeliat matanya berkaca-kaca pas dia senyum.
Berhenti di depan dia, Nash nyerahin Rudo ke Munya, seharusnya ayahnya sendiri yang ngelakuin itu, tapi dia udah kehilangan hak itu sejak lama.
Pendeta mulai ngomong, tapi jelas gak ada yang merhatiin pas dia minta Munya ngucapin janji nikah, orang-orang mulai berbisik-bisik.
"Yang mulia," Munya denger Marcel berbisik dari belakangnya.
Keluar dari lamunannya, dia ngeliat pendeta yang keliatan khawatir.
"Janji nikahmu, rajaku," kata pendeta.
"Maafkan aku," katanya sambil berbalik ngeliat Rudo sekali lagi.
Ngomong dengan jelas, dia nyatain cintanya ke Rudo di depan gereja, air mata ngalir di pipinya. Dia ngulurin tangan buat ngusap air mata itu sambil genggam tangan Rudo.
Ngomong dari hatinya, Rudo juga nyatain cintanya, Munya senyum ke arahnya. Senyum yang cuma bisa dia keluarin, pas dia ngeliat mata Rudo.
"Sekarang saya nyatakan kalian suami istri. Kamu boleh cium ratumu, rajaku," pendeta ngumumin, terus orang-orang teriak kegirangan dan tepuk tangan. Ngeliat tangan mereka yang bertautan, Munya naruh tangan Rudo ke bibirnya, terus dia cium jari manisnya yang sekarang ada cincinnya.
"Aku cinta semuanya," bisik Rudo pas mereka jalan di lorong, mau ke kamar buat ganti baju.
"Aku harap ini semua yang kamu mau buat nikahan."
"Ini lebih dari itu," katanya berhenti ngeliat dia pas keamanan mereka berhenti.
Meluk Rudo, Munya senyum ke arahnya, Rudo ngulurin tangan ke arah Munya, Munya condong ke arah Rudo.
"Makasih," gumamnya di bibir Munya, terus dia nunjukin betapa bersyukurnya dia.
Jauh dari Rudo pelan-pelan, dia narik napas dalem-dalem sebelum bilang, "Ayo cepetan, semua orang nungguin kita," katanya.
Ganti baju, dia ninggalin Rudo, tau Rudo butuh lebih banyak waktu buat siap-siap. Ngangguk ke Vimbai, dia keluar ruangan pas Vimbai masuk, nutup pintunya.
Pergi buat nemuin tamu-tamu mereka, dia senyum ke Marcel dan Nyasha, makasih udah berhasil bikin nikahan kejutan yang sempurna.
"Mana bini lo, yang mulia?" Kata Nyasha ngeliat ke belakangnya, berharap ngeliat Rudo.
"Masih siap-siap," katanya sambil senyum puas. "Cewek butuh waktu lama buat siap-siap."
"Iya dia cewek, tapi kalau gue kenal temen gue baik, dia itu orangnya sadar waktu," kata Nyasha sambil cemberut pas adiknya muncul.
"Ada yang gak beres," bisiknya sambil tetep senyum seolah-olah semuanya baik-baik aja.
"Orang-orang yang lo kirim sama Simba udah mati," katanya, Nyasha mengumpat pelan. "Targetnya ratu," katanya.
"Maksud lo targetnya ratu?" Munya menggeram.
"Persis seperti yang gue bilang," katanya pas Munya berbalik, nunjuk kapten pengawal dan tiga orang lainnya buat ngikutin dia.
Tanpa ngetuk, dia langsung masuk ke kamar mereka, cuma nemuin Vimbai pingsan di lantai. Jelas dia udah berantem dan dari kondisi ruangan, bini dia juga sama.
"Siapin anak buah. Jangan kasih tau tamu kita. Kita mau berburu," kata Munya sambil buka kemejanya, jalan ke lemari mereka.
"Tolong hibur semua orang," Munya merintah nyokapnya dan Neil pas Nyasha ngomong di telepon.
Dia pengen balas dendam, sama kayak Munya.
"Lo naik helikopter, nanti gue kirim koordinatnya kalau kita udah nemuin dia," katanya sambil pake pintu belakang buat kabur dari pesta.
"Neil, kasih tau tamu kalau kita udah pergi bulan madu," katanya sambil ngeliat ke tanah, ngeliat jejak kaki.
"Baik, yang mulia."
——
"Tolong, lepasin aku. Kalau butuh uang, aku bisa bayar," Dia merengek sambil berusaha ngatur napas.
Nangis kesakitan pas cowok itu muter pergelangan tangannya, narik dia maju.
Merobek kalung manik dari lehernya, dia mastiin mereka gak bakal ngeliat jejak yang dia tinggalkan.
Sayangnya salah satu cowok itu ngeliat dia ngejatohin manik, hasilnya dia pingsan.
"Kamu bodoh, sekarang kita harus gendong dia. Dia bakal memperlambat kita lebih dari sebelumnya," dia menyembur sebelum ngasih tau cowok itu buat gendong Rudo.
———
"Anak baik," Munya senyum ngeliat manik-manik itu.
Mengangkat tangannya, dia berhenti pas jejaknya berakhir. Berlutut, dia ngeliat jejak yang mereka pake. Dua jejak sepatu keliatan, dia nyadar jejaknya udah ditemuin. Dia ngeliat ke bulan purnama yang ngasih mereka cahaya, dia berdoa semoga gak ada apa-apa sama Rudo.
Ngasih tau anak buah di belakangnya buat misah, dia tau apa yang harus dilakuin kalau mereka nemuin dia duluan.
Ngiikutin jalan itu, jalannya jadi sempit pas dia pake kemampuan melacak yang dia dapet pas latihan.
Narik napas dalam-dalam, mereka bergerak diam-diam, dengerin suara Rudo.
———
Bangun, dia nemuin dirinya dibopong di bahu cowok itu. Berdoa semoga kesempatan yang dia punya berguna, dia teriak nama Munya sekeras mungkin sebelum dia dijatohin ke tanah, ngeliat pisau berkilauan di depan matanya pas cowok itu berani nyuruh dia bikin suara lagi.
————
Rasa takut nyengkeram dia pas dia denger namanya. Ngambil radionya, Munya ngomong ke Nyasha sambil nyalain alat pelacak.
Berlari ke arah suara itu, dia berhenti di tempatnya pas dia ngeliat banyak banget cowok yang udah bikin kemah di tengah hutan.
Tertawa mereka terdengar pas salah satu dari mereka ngomong ke Simba.
Matanya memindai kerumunan, nyari Rudo. Ngeliat dia diikat di tiang, mulutnya dibekap, air mata ngalir di pipinya, dia ngegelengin kepala gak mau, ngeliat Munya sendirian, takut sama keselamatannya sendiri lebih dari dirinya sendiri.
Simba nyengir ngeliat adiknya.
"Raja perkasa udah dateng buat nyelamatin pengantinnya," dia tertawa kecil pas dia jalan ke arah Rudo, ngelepasin ikatan di tiang. "Sini ambil dia," dia nyengir pas cowok-cowok itu ngangkat senjata.
"Kamu gak pernah berubah ya, Simba? Selalu ngumpet di balik orang lain kayak pengecut. Sekarang gue punya tawaran buat kalian, Bapak-bapak," kata Munya sambil tetep di tempatnya, gak khawatir sama sekali kalau ada beberapa senjata yang ditodongin ke dia.
"Kalian ngeliat cewek yang ada di sana itu ratu dari tanah tempat kalian berdiri. Orang yang nyakitin dia pasti bakal mati di tangan gue. Orang yang nyakitin gue, bakal mati di tangannya, gue yakin. Dan tentu aja, kalau ada apa-apa sama kita berdua, mereka bakal ngadepin negara kalau darah kita tumpah," katanya sambil ngeliat Rudo.
Dia udah berhenti berjuang dan keliatan tenang.
"Ini cuma sebagian kecil dari apa yang harus kalian hadepin," katanya sambil ngangkat tangan, cowok-cowok pelan-pelan keluar dari semak-semak, nunjukin diri mereka. Setiap cowok punya partner. Satu pegang perisai di depannya sementara yang lain megang senjata, diarahkan ke ancaman.
Mereka keliatan pucat, mundur pas mereka nyadar siapa sebenernya.
"Kalian bilang dia gadis. Bukan ratu dari tanah ini," salah satu cowok itu mencibir, ngadepin Simba.
"Ya udah sih, gue udah bayar kalian banyak, jadi selesain tugasnya," dia menyembur.
Jelas mereka takut, tapi kalau mereka nyerah, kematian bakal jadi pilihan yang lebih baik buat cowok di depan mereka, dia lebih parah dari mafia paling kejam, dia cowok yang istrinya direbut, cowok yang istrinya hamil udah disakitin.
Ngambil langkah ke arah istrinya, Simba ngeratin pegangannya di lengan Rudo, bikin dia nangis kesakitan pas dia berusaha keluar dari genggamannya yang erat.
"Lepasin dia dan selesain masalah lo sama gue," kata Munya sambil terus jalan ke arah mereka.
Penembak bayaran berdiri dengan gugup, senjata mereka diarahkan ke Munya pas dia berhenti di depan salah satu cowok itu.
"Berani banget lo nembakin raja lo!" Suara Munya membahana pas dia ngeliat cowok-cowok lain yang mundur ketakutan.
"Ambil mobilnya," dia denger Simba teriak, pas anak kecil lari ke arah kendaraan.
Mendorong Rudo ke mobil, Munya ngeliatin dengan seksama pas dia masukin dia ke mobil.
"Turunin senjata lo atau..." kata Munya ngeliatin adiknya buru-buru ke kursi pengemudi.
Ngalakuin seperti yang diperintah, cowok-cowok itu ngelempar senjata mereka ke tanah pas pengawal kerajaan bergegas maju, nangkep cowok-cowok itu. Pas itu terjadi, Munya ngeliat Nyasha nyamperin mereka pake helikopter. Ngasih kode supaya Nyasha nuntun dia dari atas, dia kasih peluit tajam pas Whisper lari ke arahnya. Dia udah ngasih instruksi buat orang berkuda buat ngikutin, sama kudanya buat cadangan.
"Cuma dua orang," gerutunya pas dia pergi, ninggalin anak buahnya yang lain.
------
Simba nyetir ugal-ugalan sambil teriak ke Rudo buat berhenti nangis. Dia gak ngeliat pohon tumbang yang ngehalangin jalan, jadi refleksnya lambat banget, dia gak sempet nginjek rem mobil pas mereka nabrak pohon. Keduanya gak pake sabuk pengaman, mereka kelempar keluar dari mobil. Suara tapak kuda yang pertama dia denger sebelum dia denger suara adiknya, teriak ngasih perintah.
Nemu kekuatan, dia ngambil Rudo, megang pisau di lehernya pas Munya dan anak buahnya muter di sekeliling mereka pake kuda.
"Gue cuma mau ngomong sekali. Lepasin bini gue sebelum gue potong tangan itu," gerutunya, berhenti di depan mereka, ngeliat pisau di leher Rudo.
Rasa takut tertulis di wajahnya, dia berjuang buat bebas. Menginjak kakinya, dia ngeluarin serangkaian kutukan pas dia ngelepasin Rudo, mendorong dia ke tanah, mengakibatkan kepalanya kebentur batu sebelum dia bisa jatuh.
Pas dia mau bikin lebih banyak kerusakan, tali cambuk memotong suplai udaranya pas dia meraih lehernya.
"Seret dia balik ke istana," katanya. "Pelan-pelan," Munya menggeram, ngeliat adiknya sebelum dia fokus ke Rudo.
"Sayang, buka mata kamu buat aku," bisiknya sambil ngeliat pecahan kaca yang nyangkut di lengannya dari kecelakaan mobil. Darah netes di wajahnya pas dia ngeliat Munya, berusaha ngomong. Ngasih kode ke Nyasha buat pindah ke tempat terbuka, dia ngangkat Rudo ke kudanya, ngomong ke dia buat tetep sadar.
"Aku mau kamu tetep sadar, sayang," bisiknya di telinga Rudo pas dia mendorong kudanya buat bergerak lebih cepat. Bergerak ke arah helikopter, dia bersyukur pas dia nemuin dokternya di dalem, makasih ke Nyasha buat pemikirannya.
Nidurin Rudo di lantai pesawat, dia ngeliatin pas istrinya menyerah pada kegelapan, pingsan di depan matanya. Genggam dokternya di kerah bajunya, kata-kata selanjutnya bikin cowok dewasa itu ketakutan.
"Kalau ada apa-apa sama dia, lo bakal minta buat gabung sama leluhur lo," gerutunya, ngelepasin cowok itu pas dia cepet-cepet nanganin ratu.
"Tenang, yang mulia," kata Nyasha.
"Tenang! Harusnya lo mastiin siapa yang lo urus!" Dia teriak pas Nyasha diem aja, tau ini amarah yang ngomong.
"Gue salah," katanya sambil ngeliat temennya. Bajunya berlumuran darah pas dokternya berusaha berhentiin pendarahan di mana dia udah ngilangin kaca.
Ngeliat ke depan, dia ngeliat lampu rumah pohon, menghela nafas lega karena mereka bakal segera nenangin dia. Dia narik napas dalem-dalem, berusaha nenangin diri.
Nyasha dateng berdiri di sampingnya, khawatir terpampang di wajahnya. Jarang ngeliat dia kayak gitu.
"Maafin gue," dia menghela nafas pas dia berbalik ngeliat Nyasha.
"Udah dimaafin, Munya. Seharusnya gue yang minta maaf," katanya.
Dengan anggukan kepala sederhana, dia tau semua perbedaan udah disisihkan.
"Bilangin dia gue minta maaf," katanya sebelum berbalik buat pergi. Ngeliat helikopter ngebawa Nyasha dan dokternya, dia masuk ke rumah mereka.
Naik ke ranjang, dia narik Rudo ke arahnya, nyenderin kepalanya di bahunya pas dia denger napasnya yang tenang. Setiap kali dia merem, dia ngeliat wajah Rudo yang berlumuran air mata pas dia diikat di tiang itu. Dia bersyukur sama Tuhan karena dia aman di pelukannya dan bayi mereka juga aman.
----------
"Selamat pagi," katanya pas dia buka mata.
Ngeliat sekelilingnya, dia ngeliat Munya sekali lagi sebelum ngejawab sapaannya. Ngeliat lengannya, dia cemberut sebelum ngeliat Munya pas tangannya ke perutnya.
"Kamu baik-baik aja, sayang. Bayinya juga baik-baik aja," katanya sambil genggam tangannya, terus dia taruh bibirnya di telapak tangannya yang terbuka. Ngulurin lidahnya, dia tertawa kecil pas Munya nyapa dengan gaya yang lucu.
"Apa yang terjadi setelah...," tanyanya, Munya ngehentiin dia dengan naruh jari di bibirnya.
"Jangan khawatir soal apa yang terjadi," gumamnya, narik dia ke arahnya pas dia ngeliat Munya.
Pelan-pelan duduk, dia naruh tangannya di pahanya pas Rudo naruh tangannya di dadanya, ngeliat Munya.
"Kamu harusnya istirahat, sayang," katanya ngeliat binar nakal di matanya pas dia ngeliat perban yang diikat di kepalanya.
"Kamu bisa bantu aku...." katanya sambil senyum.
————
Bangun, dia nemuin Munya gak di ranjang, meraih mawar yang ada di tempatnya. Beberapa detik berlalu sebelum Munya balik sambil megang nampan.
"Buat ratuku," dia senyum, cium kepalanya sebelum duduk di sampingnya.
"Makasih," katanya sambil merona.
"Kamu masak buat aku?" Katanya girang.
"Tentu aja, siapa lagi yang mau aku masakin kalau bukan kamu, istriku," katanya dengan bangga pas dia megang selimut buat nutupin dirinya dengan tangan yang sehat.
Tertawa kecil, dia berdiri, balik lagi sama kaos buat Rudo, bantu dia pake.
"Makan ya. Nanti aku harus ganti perban kamu," katanya pelan pas Rudo memutar pasta di garpunya.
Makan bareng, dia tertawa kecil nyadar Munya ada saus di bibirnya. Ngulurin tangan, dia narik Munya ke arahnya, menjilati sausnya, mata Munya jadi lebih gelap.
"Gak, kamu harus istirahat. Ayo kita bikin perjanjian, kalau kamu udah baikan, kita bisa liburan ke mana aja yang kamu mau. Terus aku bisa bikin cinta dan *f**k* kamu ke ekstasi tanpa gangguan," katanya.
Dia kasih tatapan mempertanyakan dengan alis terangkat pas senyum pelan-pelan muncul.
"Gak ada gangguan?"
"Gak ada sama sekali. Aku bakal jadi milikmu sepenuhnya buat kamu lakuin apa aja yang kamu mau. Tapi sekarang kita harus balik ke istana. Tamu kita harusnya udah pulang dan Simba harusnya dateng sebentar lagi dari jalan panjangnya balik ke sana."
Ngelarin makanannya, mereka mandi sebelum helikopter dateng buat ngebawa mereka pulang.
----------
Masuk ke ruang tahta bergandengan tangan, dia senyum ke arahnya pas Rudo ngangkat kepalanya tinggi-tinggi. Munya terkesan sama gimana rasa percaya dirinya pelan-pelan berkembang setiap hari. Semua orang membungkuk di depan mereka pas dia bantu Rudo ngambil tahta sebelum duduk di tahtanya sendiri.
"Yang mulia," kata Matthias membungkuk di kaki mereka dengan dua orang lain di belakangnya megang mahkota kerajaan. "Kita harus nyelesein hak atas pernikahan kalian," katanya nunjukin mahkota. "Kamu udah megang tombak kerajaan sebagai simbol kekuatanmu, tapi kamu belum ngasih kekuatan itu ke yang mulia," katanya ngeliat ke bawah sebelum ngangkat kepalanya buat ngeliat rajanya.
Berdiri, Munya ngambil satu langkah turun, ngeliat Matthias ngangkat tangannya supaya cowok itu berdiri. Ngalakuin itu, Matthias ngambil mahkota, nyerahin ke Munya.
Berbalik dari mereka, dia ngeliat Rudo, minta dia berdiri. Sambil senyum, dia naruh mahkota di kepalanya, ngasih tau apa yang diharapkan. Rudo pelan-pelan jalan ke Matthias, dia ngulurin mahkota yang lain ke arahnya. Nerima itu, dia berbalik ke suaminya yang ngeliat dia. Ngeliat dia, Munya tertawa kecil pas dia menekuk lutut buat ngizinin Rudo naro mahkota di kepalanya. Senyum dengan bangga, dia genggam tangannya, narik dia ke arahnya, terus dia nunduk, nyentuh bibirnya ke bibir Rudo.
Jauh dari dia, dia berbalik menghadap anggota dewan dan kepala negara.
"Ratumu," dia cuma bilang pas cowok itu meraung ke paduan suara sorak-sorai dan tepuk tangan.
Dia gak melewatkan goyangan kecil Rudo pas dia berdiri di sampingnya. Meluk pinggangnya, dia narik dia lebih deket, terus Rudo pegangan ke dia buat dukungan.
"Tinggalin kami," katanya dengan nada meremehkan.
Pas pintunya ditutup, dia menggendong Rudo ke pelukannya, ngebawa dia ke kamar mereka, seneng pas Rudo gak protes.
"Istirahat sekarang, sayang," gumamnya pas Rudo pegangan ke kemejanya, ngehentiinnya dari bergerak pergi.
"Jangan tinggalin aku," bisiknya, dia ngangguk mengerti.
Naik ke ranjang di sampingnya, dia naruh kepala Rudo di dadanya, dengerin detak jantungnya yang stabil. Ngusapin tangannya ke dadanya, dia ngehentiin Rudo dari lebih jauh.
"Kita udah ada perjanjian, inget," katanya, naruh tangan Rudo ke bibirnya pas dia misahin bibirnya, masukin setiap jari ke mulutnya pas dia godain Rudo dengan lidah dan bibirnya.
Ngelus punggungnya dengan cara yang menenangkan, dia menidurkan Rudo sebelum melepaskan diri darinya pas dia hampir berbaring di atasnya.
Meninggalkan ruangan, dia mastiin pengawal siaga pas dia juga ngasih tau Vimbai buat nelpon kalau ada apa-apa. Jalan ke halaman, dia nemuin adiknya berbaring di tanah pas matahari sore membakar punggungnya. Gerakan tangan sederhana bikin seorang cowok ngelempar ember air dingin ke dia pas dia bangun.
"Kenapa harus kayak gini?" Munya bertanya pas adiknya ngeliat dia dengan begitu banyak kebencian. "Kejahatan apa yang udah aku lakuin ke kamu sampe kamu nyakitin hatiku," katanya ngeliatin Simba berdiri tegak, tapi tetep aja gak ada jawaban dari dia.
Semoga lo nikmatin. Jangan lupa vote dan komen!!!!!!!