Bab 20
Sudut Pandang Zanaya
"Zanaya, jadi gimana liburannya?" Tokyo menggoda dengan mengangkat alisnya.
Aku bahkan belum masuk ke kamarku dan dia langsung menanyai ku.
Untungnya, Cali sedang rekaman untuk Serene Music sementara Max kemungkinan besar sudah kembali ke orang tua nya.
Dia selalu mengunjungi Ibu nya kalau kita tidak ada jadwal.
Jadi, Seth tiba di Korea dua jam yang lalu karena penerbangan nya lebih awal dari ku yang kurasa bagus karena aku bisa gila di pesawat kalau kita punya penerbangan yang sama.
Maksud ku, berada di pesawat yang sama tapi tidak bisa bersama sudah cukup membuat ku gila.
Begitu dia tiba di asrama nya, dia langsung mengirim ku pesan dan aku menghargai itu.
Aku meraih ponsel ku dan mengirim nya pesan kalau aku sudah kembali jadi dia tidak akan khawatir.
Aku melihat ke arah Tokyo ketika aku mendengar dia terkekeh.
"Kamu bucin banget, Zaya."
"Nggak, aku nggak." Aku cemberut saat aku duduk di sofa sementara dia mengikuti.
"Zaya!"
Apakah kamu tahu suara imut Tokyo yang bernada tinggi saat siaran langsung kita? Begitulah suara nya sekarang. Dia beruntung dia menggemaskan karena aku tidak tahan lagi dengan tingkah imutnya sepanjang waktu.
Tapi tentu saja, aku hanya bercanda. Aku sangat mencintai gadis ini.
"Kamu nggak pernah bilang ke kita kalau kalian berdua bersama di Australia. Ditambah lagi, kita nggak pernah tahu kalian berdua sudah sampai tahap dia sudah bertemu orang tua mu. Kamu licik banget," dia menggoda ku sambil mendorong ku dengan main-main.
"Nggak...." aku terkikik, pipi ku memerah. "Dia cuma datang buat kasih kejutan," gumam ku dan aku menutupi wajah ku saat Tokyo menjerit.
Aku baru menyadari betapa romantisnya itu kedengarannya. Maksud ku, pacar ku mengunjungi ku di Australia, gimana tuh?
"Maaf kalau aku tanya gini ya, Zaya tapi gimana rasanya lihat abs Seth sedekat itu?" katanya sambil menggoda dengan mengangkat alisnya.
"YAH!!!!" Aku berteriak padanya saat aku memukul bahu nya, Tokyo hanya terus tertawa. Sumpah, seluruh wajah ku terlihat seperti tomat karena memerah.
Dan kemudian aku merasakan ponsel ku bergetar, panggilan video datang dari Seth.
"Sayang!!!!" Seth memanggil saat aku menerima panggilan itu.
Senyum muncul di wajah ku.
Belum sehari dan aku kangen banget sama si tukang genit kecil ini.
"Aku kangen kamu!" katanya dan aku mendengar beberapa suara dari latar belakang.
Tangan ku secara otomatis terangkat untuk mengipasi wajah ku saat aku mendengar Tokyo terkikik di belakang ku.
"Lakuin itu di kamar mu, Seth." Aku yakin itu Mono.
"Yah, kamu bucin banget sama pacar mu," Raze menambahkan.
Aku harus menutup mulut ku untuk menahan diri agar tidak terkikik.
Seth tampak kesal.
"Kalian semua cuma iri," gumam nya sambil terus tersenyum padaku.
"Kita nggak mau dengar betapa genitnya kamu," Aku melihat Demo terbatuk-batuk dari latar belakang tapi dia tersenyum dan melambai begitu dia menyadari kalau aku bisa melihatnya.
"Hai Zanaya!" lalu dia berdiri dari posisi merentang di lantai.
Segera, semua cowok mencoba merebut ponsel Seth dari nya.
"Yah, balikin ponsel ku." dan aku tertawa setelah aku melihat Grey mendorong Seth.
"Halo, kakak perempuan!" Grey melambai sambil menunjukkan gigi kelincinya.
"Yah, jangan mulai dengan kartu kakak perempuan, Grey. Aku udah denger kalimat itu sebelumnya dan kamu nggak pake itu ke pacar ku," Seth berteriak di latar belakang tapi yang bisa ku lihat hanyalah tangan yang berjuang untuk melewati cowok-cowok itu.
Kasihan Seth ku.
"Aku nggak manggil pacar mu, bodoh."
Dan aku cemberut begitu aku menyadari kalau dia mungkin mengacu pada Tokyo yang dengan bodohnya memasang wajah di belakang ku, yang tentu saja, bisa dilihat oleh para cowok.
"Kamu beneran nggak punya malu, Tokyo," aku terkekeh dan aku mendengar Langit tertawa juga.
"Hei, mana Cali sama Max?" Langit bertanya.
"Kenapa? Kamu suka mereka?" Raze bertanya dan tertawa mendengar reaksi kaget Langit.
"Iya, apa Langit naksir? Siapa ya?" Demo menyela.
"Nggak." Aku terkekeh saat Langit cemberut sebelum wajah nya tidak lagi ada di layar.
"Aku bilang, balikin ponsel ku," Seth menepis tangan dan aku melihat profil Seth muncul lagi.
Grey masih berusaha mendapatkan ponselnya tapi aku melihat Badai meraih Grey dari telinga sebelum mengangguk padaku sebagai tanda pengakuan.
"Awwww!" Grey menangis minta tolong sampai aku hanya bisa melihat wajah pacar tampan ku di depan.
"Ya Tuhan, akhirnya," katanya sambil menyisir rambutnya ke belakang, kebiasaan nya yang membuat banyak cewek terpukau.
"Berhenti," Aku memutar mata ku dan aku mendengar seseorang mencibir di punggung ku.
Aku melihat sekeliling dan memelototi anak malang itu.
"Oke," dia menggoda dengan nada main-main sebelum dia memasang wajah yang membuat Seth tertawa. Aku melempar bantal ke arah nya dan dia berlari ke kamarnya sambil tertawa.
"Dia kekanak-kanakan banget," gumam ku dan Seth tersenyum nakal.
"Aku kangen kamu. Aku kangen kamu banget."
Sumpah, kupu-kupu di perut ku semua mati dan sebagai gantinya, gajah mulai berkeliaran.
Aku nggak pernah tahu kalau menjalin hubungan dengan Seth akan seperti ini.
"Kamu biasanya kayak gini ya?" Aku bertanya padanya, sedikit takut kalau aku mungkin sedang bermimpi selama ini.
"Apa?"
"Maksud ku, gini. Kamu beneran semanis ini ke pacar-pacar mu yang dulu?" Aku bertanya padanya sedikit malu.
Belum seminggu sejak dia bilang ke aku kalau dia suka aku dan berada di sini di Korea membuat ku merasa sedikit takut.
Rasanya seperti kita tiba-tiba kembali ke dunia nyata.
"Hei, aku bilang ke kamu buat berhenti mikirin masa lalu ku. Aku punya kamu sekarang, oke?" dia cemberut dan aku mau nggak mau mengangguk.
Pandangan nya memukau sehingga sulit untuk menolak.
Bahkan sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun, aku melihat dia melihat sekeliling.
"Sayang, aku harus pergi. Manajer kita ada di sini. Istirahat ya?"
"Kamu juga!" Aku hampir tidak bisa menyelesaikannya ketika panggilan video berakhir.
Aku hampir lupa kalau Seth sepuluh kali lebih sibuk dari pada ku.
Gimana kita bisa punya waktu buat ketemu?
Panggilan video yang kita punya mungkin salah satu dari beberapa momen di mana kita bisa berkomunikasi satu sama lain, terutama setelah semua acara yang masih harus kita hadiri.
Apakah kita akan baik-baik saja?
Aku nggak tahu tapi aku merasa hati ku menjadi lebih berat.
Kamu nggak boleh kayak gini, Zaya, jangan sekarang. Seth berjanji, jadi percaya padanya.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX