Bab 89
Sudut Pandang Seth
"Lo belum denger dari dia?" Aku denger Badai untuk kesekian kalinya dan jawabanku masih sama.
Enggak.
Udah dua hari tapi aku belum bisa menghubungi Zanaya atau Ibunya dan aku beneran mulai sedikit khawatir.
Biasanya, Zanaya akan ngejawab telponku di dering ketiga. Dan kalo dia gak ngejawab, dia bakal ngirim pesan sehari setelahnya.
"Yah, cewek itu sengaja nabrak lo tadi pas ending. Lo nyadar gak sih?" kata Mono sambil ngetik sesuatu di hapenya.
"Bener, tapi bagus sih penyelamatannya. Lo cuma nunduk dan pergi." tambah Demo.
Kita lagi di van dalam perjalanan pulang.
Grey lagi tidur di belakang di samping Langit.
Aku bahkan gak tau kenapa mereka berdua keliatan lebih ngantuk dari biasanya. Aku ngerti kita semua capek tapi mereka berdua biasanya yang punya tenaga paling banyak.
Badai kelihatan lebih hidup dari mereka akhir-akhir ini.
Aku harus ngomong sama mereka berdua. Mungkin mereka kurang tidur gara-gara main game komputer.
"Iya, sekarang aku mikir ngumumin putus lo sama Zanaya itu ide yang buruk. Banyak cewek mulai ngegebet lo mikir lo beneran jomblo." Raze geleng-geleng gak setuju.
Dia bener. Aku gak mau ngomong yang jelek-jelek tapi idola rookie tadi jelas banget coba nabrak aku.
Aku gak bilang dia coba ngegebet aku tapi kurang lebih kayak gitu.
Kalo dia beneran suka sama aku atau apapun niatnya, aku gak tau.
Sekarang, aku ngerasa gak enak banget setelah inget kata-kata yang aku bilang ke Zanaya waktu pertama kali kita ketemu. Gimana aku nuduh dia coba-coba nempel ke aku buat dapet nama di industri.
Bodoh, Seth.
"Badai, coba hubungin Cali, deh?" Aku tanya dengan putus asa.
Badai ragu-ragu sebentar tapi sebelum dia sempat ngeluarin hapenya, Mono tiba-tiba ngomong.
"Yah, Seth, lo udah liat ini belum?" Mono ngulurin tangannya dan ngasih hapenya ke aku.
"Livestream mereka?" Aku bingung.
"Kayaknya ini dua hari yang lalu," tambah Demo.
"Iya, tapi ke bagian akhirnya. Dan cek kolom komentar. Fans mereka pada ngamuk." Mono ngasih tau kita.
Cuma ngeliat wajah Zanaya bahkan di video bikin jantungku berdebar.
Aku gak bisa nahan buat gak senyum.
Ini babe-ku di sana.
Gak lama, Raze dan Demo ikut nonton video itu bareng aku.
"Satu detik, bukannya dia keliatan gak nyaman di sini?" Raze nunjuk dan aku nyadar gimana dia mulai gigitin bibirnya.
Dia coba nyembunyiin apapun yang dia rasain tapi Tokyo pasti nyadar dan dia coba buat ngakhiri Livestream.
Aku buka komentar dan liat beberapa fans berantem bilang sesuatu tentang gak nyebut aku di live mereka karena gak sopan.
"Sial. Kayaknya Zanaya baca sesuatu tentang lo yang bikin dia kesel." kata Demo sambil kita baca kata-katanya dengan jelas.
Kita terlalu asik nonton sampe gak tau kalo manajer kita lagi nelpon.
"Seth," kepalaku noleh ke arah dia waktu dia manggil namaku. "Manajer WHISTLE nelpon aku dan bilang Zanaya dikirim ke rumah sakit tapi dia baik-baik aja sekarang dan lagi istirahat di rumah."
"Apa?"
"Hah?!"
Semuanya kaget dan bahkan dua anggota termuda yang lagi tidur di belakang kebangun.
"Guys, aku harus cabut ke Australia," kataku, suaraku tegas dan tanganku mengepal karena marah.
Aku ngerasa ada tangan ngeremas bahuku.
"Aku bakal nelpon Bos kita." Manajerku bilang dan aku merem sambil bersandar.
Aku kaget waktu hapeku mulai bunyi, nama istriku muncul di layar.
Aku meraba-raba hapeku sebelum aku ngejawab video callnya, bahkan gak mikirin anggota lain mulai ngintip buat ngecek dia.
Begitu wajahnya muncul di layar, hatiku mencelos waktu aku nyadar betapa pucatnya dia sementara dia duduk di ranjangnya, punggungnya bersandar di sandaran kepala.
"Babe..." bisikku.
Dia senyum ke aku dan ngelambaiin tangannya.
"Hai semuanya!" katanya nyapa anggota lain di belakangku.
"Gimana perasaanmu?" Aku tanya dia dan dia cuma senyum ke aku.
"Aku baik-baik aja. Aku nelpon karena aku tau kamu bakal khawatir." dia nyengir.
"Zanaya!!" Aku menggerutu. Wajahku cemberut dan dia terkekeh ngeliat aku.
"Seth-ku, jangan marah." dia merayu dan sebisa mungkin aku mau marahin dia karena gak ngasih tau aku lebih awal, aku gak bisa marah sama dia.
"Ngomong-ngomong, jangan mikir buat terbang ke sini buat ngecek aku. Aku udah punya cewek-cewek yang khawatir banget. Aku gak mau ada orang lain yang nempel-nempel di sekelilingku." dia muterin matanya, Demo dan Raze ketawa ngakak.
"Kamu yakin kamu baik-baik aja?" Aku tanya dia khawatir dan dia ngerti apa yang aku maksud.
"Aku baik-baik aja, jadi berenti khawatir, oke? Cuma tampil aja dengan mudah. Dan tolong, berenti pake kaos tanpa lengan kalo kamu terus-terusan pamer kulitmu." dia cekikikan dan aku hampir harus berenti dan nyentil lengan Grey waktu aku denger dia ketawa beneran keras di belakangku.
"Zanaya, mereka ngasih makan kamu enak di sana?" Raze merayu dan meringis denger suaranya.
"Hei!" Aku protes dan dia cuma pasang muka di depanku.
"Mereka ngasih makan aku enak, Raze. Tapi, gimana kamu dan cewek tinggi dari HAPPINESS?" dia ngejek dan aku kaget ngeliat pipi Raze merah.
"Cewek tinggi dari HP? Maksudnya HAPPINESS?" Langit bingung dan kita semua natap dia waktu dia duduk dengan malu-malu di samping.
Badai geleng-geleng kepala, ketawa kecil dan Mono kaget. "Hei! Kamu brengsek kecil," dia bergumam dan mata Raze membelalak.
"Yah, Mono, aku masih lebih tua dari kamu."
Kita semua muterin mata ke dia.
"Jadi itu kenapa kamu ngumpet keluar tengah malam? Aku sumpah aku mikir ada pencuri sekali waktu." Demo berseru.
Raze blushing dan teriak ke arahku.
"Yah, Zanaya, liat apa yang kamu lakuin!"
Mono duduk di samping Raze dan mulai ngecek hapenya.
"Jauh-jauh dari aku, kamu idiot."
Aku geleng-geleng kepala dan aku natap balik cewek yang senyum di layar hapeku.
"Aku kangen kamu," gumamku.
"Oke, kita gak mau denger kamu bucin-bucin, aku balik tidur lagi." Grey duduk lagi bareng Langit.
Aku noleh ke arah Demo dan dia cuma natap aku bingung.
"Apa?" dia tanya, gak tau apa yang terjadi.
"Demo, tolongin aku dan kasih orang-orang yang lagi kasmaran ini ruang, ya?"
Aku senyum ke Badai bersyukur karena ngomongin apa yang ada di pikiranku.
Demo manyun tapi ngasih aku ruang.
"Akhirnya..." Aku ngeluarin udara, desahan keluar dari bibirku.
Dia masih senyum meskipun aku tau betapa stresnya dia pasti.
"Aku baru aja nonton Livestream-mu." Aku bilang ke dia. Dia gigit bibir bawahnya setelah denger kata-kataku.
Mata dia melembut ngerti apa yang aku maksud.
"Aku gak kesel tentang itu. Aku percaya kamu, oke?" katanya dengan tulus.
Gimana dia bisa jadi malaikat?
Aku garuk belakang kepalaku setelah inget kejadian tadi. Harus aku kasih tau dia?
"Ada apa? Hidungmu kerut kayak kamu mau kentut. Ada apa, Seth, kamu ngapain?" suaranya agak keras dan karena hapenya di mode speaker, semua orang denger dia.
Aku liat Badai sambil dia ngangguk.
"Ada idola rookie yang nabrak aku tadi," Aku bilang ke dia dan wajahnya otomatis cemberut.
"Aku gak ngomong sama dia!" Kataku tiba-tiba. "Aku kasih tau kamu biar kamu tau. Apalagi ada fans yang liat."
Desahan keluar dari bibirnya.
"Araso. Aku mau tidur dulu. Aku capek. Kamu juga. Pastiin istirahat." katanya masih senyum tapi aku bisa ngerasain dia agak kesel. Tapi aku mutusin buat gak ngomong apa-apa tentang itu.
"Aku bakal istirahat. Aku sayang kamu, babe." gumamku dan dia ngelambaiin tangannya sebelum video callnya selesai.
Aku merem dan menghela nafas.
"Aku nebak, dia gak keliatan terlalu bahagia, ya?" Raze nanya.
Van kita berenti nunjukin kita udah nyampe asrama kita.
Kita semua keluar dari van dan langsung masuk.
Begitu kita nyampe asrama, aku ngelempar tubuhku ke sofa, mataku merem sambil mijit pelipisku.
Aku denger anggota lain duduk di tempat mereka masing-masing.
"Parah banget?" Demo ngomong dan aku natap dia. Hatiku sakit waktu aku nyadar betapa khawatirnya semua orang keliatan.
"Parah. Zanaya senyum tapi aku tau itu ngaruh ke dia." Aku buka beberapa kancing bajuku.
"Seth, belum dua bulan dan totalnya empat cewek dikaitkan sama kamu. Aku gak tau seberapa banyak Zanaya bisa tahan."
Aku ngelempar bantal ke Grey setelah apa yang dia bilang.
"Tunggu sampe aku kasih tau Tokyo kalo kamu lagi akrab sama Yeri." Aku bilang ke dia dan matanya membelalak.
"Kayaknya gitu," aku nyengir. Bukan berarti Grey beneran flirting sama cewek itu tapi kita baru aja tau kalo Yeri suka sama dia.
"Rencananya sekarang apa?" Grey nanya sambil tiduran di sofa.
"Gak tau." Aku cuci mukaku pake tangan.
"BP dan perusahaan kita udah punya rencana. Tapi aku gak mikir itu berhasil. Kita bisa menghindari peluru ketangkep karena udah nikah tapi Zanaya yang paling menderita."
"Jadi apa yang mau kamu lakuin?" Mono nanya.
Apa yang harus aku lakuin?
"Iya Seth, kamu dan Zanaya itu keluarga kita. Apapun yang kamu mau lakuin, kita bakal dukung." Raze nambahin dan aku nonton dengan takjub waktu mereka semua senyum ke aku meyakinkan.
"Kita dukung kamu, Seth," tambah Demo dan senyum lega keluar dari bibirku.
Sejujurnya, aku udah mikirin banyak hal tentang apa yang harus aku lakuin sama keluargaku, dan aku nebak udah waktunya aku lakuin.
Buat Zanaya, buat kita, buat keluarga kita...
"Oke, aku butuh bantuan kalian untuk ini." Aku bilang ke mereka dan mereka semua dengerin apa yang mau aku omongin.
Tiga bulan...
Itulah berapa lama waktu yang dibutuhin buat rencana-rencanaku dieksekusi.
Rumah WHISTLE udah mulai dan promosi kita udah selesai.
Kita lagi tur tapi aku sesekali jenguk Zanaya. Apa yang aku lakuin tiga bulan terakhir ini jadi rahasia apalagi buat dia.
Dan hari ini, aku bakal bikin V-live.
"Semoga berhasil. Apapun yang terjadi, kita ada di sini buat kamu." Langit meluk aku dan aku meluk dia balik.
"Aku tau. Tapi aku takut Bos kita bakal marah sama aku karena ini." Aku bilang ke mereka dan Mono cuma senyum.
"Jangan khawatir. Kita bantuin kamu buat ini jadi kita bareng-bareng. Apapun yang terjadi, kamu gak bakal ngadepin masalah ini sendirian." katanya.
"Kita bakal tetep sama kamu waktu kamu bikin Livestream" Raze menyemangati.
Aku narik hoodie-ku kebawah waktu aku buka aplikasinya.
Desahan panjang keluar dari bibirku waktu V-live-ku mulai.
Langsung, sekitar seribu penonton muncul.
Aku nelan ludah, beneran gugup tentang apa yang mau aku lakuin.
Aku senyum ke layar waktu aku baca komentar mereka.
Beberapa bingung kenapa cuma aku yang ada di layar sementara anak-anak lain duduk beberapa kaki di belakangku.
Lima ribu.
Aku nebak ini cukup.
"Fans kita, selamat malam. Ini Seth Devon dari SHADOW" Aku nyapa fans kita dan membungkuk.
Aku baca sambil aku liat komentar nanya kenapa aku tiba-tiba jadi formal.
"Seperti yang kalian perhatiin, anak-anak ada di belakangku. Itu karena aku punya sesuatu yang penting buat dibagiin." Aku mulai.
"Aku tau banyak dari kalian bakal marah dan kecewa tapi aku mikir aku harus lakuin ini biar semua orang tau."
Fans mulai ngamuk di chatbox.
"Apapun yang aku kasih tau malam ini, aku harap kalian gak marah sama anggota lain. Ini keputusan aku dan aku harap kalian terus bagiin cinta kalian sama mereka."
Aku denger serangkaian protes di belakangku tapi aku gak peduli.
Aku tau anggota lain sangat mendukung keputusanku, tetap aja egois kalo aku nyeret mereka ke sini.
Ini dia.
"Tiga tahun terakhir, aku udah nyimpen rahasia dari kalian semua. Bukan karena aku mau, tapi aku harus."
Aku merem dan ngeluarin desahan panjang.
"Meskipun berita ini mungkin mendadak, aku mau semua orang tau kalo aku bersyukur banget atas dukungan yang udah kalian kasih ke aku dan ke SHADOW."
Aku balik badan dan liat anggota lain.
Badai ngangguk sementara Mono dan Demo ngasih jempol.
Raze senyum bareng Grey dan Langit.
Hatiku berdebar kencang tapi aku seneng akhirnya bisa ngeluarin ini.
"Army, aku mau bagiin sesuatu yang bagus yang udah terjadi dalam hidupku." Aku mulai.
Aku menangkupkan tanganku bersama, gugup tentang gimana fans kita bakal bereaksi tentang ini.
"Tiga tahun terakhir, aku udah...
Nikah secara Rahasia,"