Bab 83
Sudut Pandang Seth
Setelah apa yang diinformasikan Langit pada kita, kita naik penerbangan berikutnya kembali ke Korea.
Manajer kita tidak repot-repot bertanya dan bagusnya kita memang tidak ada jadwal apa pun.
Namun, informasi Langit ternyata tidak seakurat yang terlihat.
Kita lupa bertanya dengan jelas apa yang terjadi?
Kita terus-terusan lupa kalau ini Langit dan ya, kadang-kadang, dia ngomong hal-hal aneh.
Begitu kita masuk ke asrama WHISTLE, kita menemukan para cewek itu santai menonton film di ruang tamu.
Meskipun mata Tokyo terlihat merah dan bengkak, menandakan kalau dia memang nangis.
Yang paling bikin kaget adalah gimana Grey lari ke cewek itu dan menggendongnya terbalik sebelum mengurung diri di kamar Tokyo.
"Kalian pikir kita harus biarin mereka?" tanya Raze, bingung dengan apa yang terjadi.
Kita semua duduk di tempat kosong di sofa, dan tentu saja, gue, dengan natural duduk di samping Zanaya, yang sama sekali nggak merhatiin kehadiran gue.
Sebagai gantinya, dia terus makan salad yang ada di depannya.
Gue nelen ludah.
Apa dia masih dalam tahap ngidam?
"Jadi..." Demo memecah suasana aneh. "Sebenarnya apa yang terjadi? Maksud gue, Tokyo jelas-jelas nggak hilang."
"Oh, dia nggak hilang sih, tapi dia kabur," Max dengan santainya ngasih tahu kita seolah itu hal biasa, matanya terpaku pada layar.
"Kalian beneran lagi nonton mean girls sekarang setelah Tokyo kabur tadi?" seru Mono dan gue pengen ngelakuin hal yang sama.
Zanaya begitu fokus sama saladnya sementara Max begitu nempel sama filmnya.
Cali, di sisi lain, sibuk banget sama hapenya.
Dia lagi nge-chat sama siapa sih padahal Badai duduk tepat di seberangnya.
Tapi, nggak ada yang nyaut.
"Serius? Apa yang terjadi?" seru Raze, matanya melebar saat dia menatap ketiga cewek di depan kita.
"Dia kabur karena dia kesel sama orang tuanya tapi dia inget kalau dia sebenernya di Korea jadi, ya udah. Sekarang, bisakah kita semua nonton film sialan gue dengan tenang?" Max membentak dan kita semua kaget sesaat.
Mata kita tertuju pada Langit memberi isyarat kalau dia akan melakukan sesuatu tapi si brengsek itu cuma kasih gerakan kalau dia cuma akan menutup mulutnya rapat-rapat, takut sama apa yang akan dilakukan cewek itu padanya.
Gue berdehem sambil menatap ke arah Zanaya.
Dia masih nggak ngomong sama gue dan entah kenapa, rasa gugup gue perlahan-lahan meningkat.
Sial. Dia jelas-jelas ngasih gue perlakuan dingin.
"Zaya..." gue berbisik.
Dia masih nggak bergerak. Sebagai gantinya, dia narik selimut tebal yang nutupin lututnya dan nutupin seluruh tubuhnya sampai bahunya sambil fokus pada film.
"Ada yang bisa matiin lampu nggak sih?" gue denger Max bilang dan sebelum gue sadar, semua orang udah berpencar ke mana-mana.
Gue bahkan nggak sadar siapa yang matiin lampu.
Raze dan Demo pergi ke dapur buat masak sesuatu sementara Langit duduk di samping Max.
Mono pergi ke sofa di seberang kita dan berbaring, mungkin mau tidur sementara Badai berdiri dan duduk di samping Cali di sofa lainnya.
Desahan lepas dari bibir gue. Ini bakal jadi malam yang panjang banget. Atau nggak ya?
Gue dengan lembut narik sedikit selimut dari Zanaya dalam upaya buat ngerasa lebih nyaman dan gue kaget waktu dia miring sedikit sambil ngerentangin kakinya ke pangkuan gue, wajahnya sekarang bersandar di dada gue.
Gue narik selimut dan dengan hati-hati nyesuaiinnya supaya kita berdua nggak keganggu sebelum ngalihin perhatian gue balik ke film.
Nggak lama, gue ngerasain dengkuran pelan dari Zaya. Dia pasti ngantuk banget.
Gue narik dia, lebih lagi, buat bikin dia ngerasa nyaman, bau sampo vanilanya cukup bikin gue gila.
Ya Tuhan, gue kangen banget sama dia.
Gimana gue bisa bertahan seminggu tanpa ngehubungin dia?
Hanya bau dia aja cukup bikin gue lemes, dan tentu aja, sentuhannya lebih dari cukup buat bikin gue tegang.
Sial.
Gue nelen ludah saat ngerasain yang di bawah celana makin keras.
Tenang, Seth. Tenangin diri lo. Gue bilang ke diri sendiri.
"Zaya, gue bakal gendong lo ke kamar lo biar lo bisa istirahat," gue bergumam tapi dia cuma nggerutu nggak setuju.
Seolah baunya yang manis nggak cukup, gue tiba-tiba ngerasain tangan bergerak dari lutut gue, pelan-pelan naik ke tempat yang nggak kena matahari.
Apaan sih-...
Gue ngerasain tubuh gue menegang saat gue nyadar apa yang Zanaya lakuin.
Dia bikin gue gila.
Apa dia bikin gue ngerasa nikmat atau dia lagi nyoba ngehukum gue?
Sebelum gue sadar, erangan keluar dari bibir gue dan tubuh gue menegang.
Mulut gue menganga lebar saat gue nyadar para anggota lain natap gue sementara Zaya pura-pura tidur.
Sial.
Gue senyum canggung.
Badai naikin alisnya sebelum dia tiba-tiba berbaring, kepalanya di pangkuan Cali. Wajah Cali jadi serius dan gue bahkan nggak tau itu hal yang bagus.
Namun, itu bukan masalahnya sekarang tapi si prajurit yang lagi liar di bawah sana. Dan pelakunya di sini nyoba kabur dengan pura-pura tidur.
Gue nyoba nenangin saraf gue dengan narik napas pelan-pelan tapi lagi-lagi, gue ngerasain tangannya mulai bergerak, kali ini, makin deket dan makin deket.
Seolah dia lagi ngegodain gue, tangannya mulai ngelakuin gerakan melingkar di kaki gue yang memicunya lebih lagi.
"Zanaya..." gue berbisik. "Gue minta maaf buat yang kemaren, jadi berhentilah-ah, berhentilah ngehukum gue, tolong." gue mengerang sambil merem nyoba buat nahan diri nggak ngeluarin erangan lagi saat semua anggota kita ada di sini.
Gue gigit bibir bawah gue sambil nahan diri buat nggak ngegendong dia ke kamarnya.
"Gue masih benci sama lo," dia bergumam saat gue ngeliat dia buka matanya, wajahnya deket banget sama wajah gue.
Gue ngerasa dalem gue bergejolak saat mata gue tertuju pada wajahnya yang cantik, pipinya merah banget gue ngerasa dia minum sesuatu.
Sampai sekarang, wajahnya nggak pernah gagal bikin gue terpesona...
Gue maju lebih deket dan ngasih dia kecupan di bibir tapi dia cemberut.
"Gue benci lo karena udah bikin gue nangis. Kenapa lo ada di sini?" dia naikin alisnya dan dia keliatan lucu banget dengan pipinya bengkak dan bibirnya cemberut.
Senyum keluar dari bibir gue.
"Karena gue cinta sama lo, dan gue nggak bisa ngejalanin sisa hidup gue tanpa lo."
Dia menyeringai, "Iya deh, terserah, tapi pikiran buat punya bayi sama gue bikin lo jijik."
Tangan gue yang lain meraih pipinya saat gue dengan lembut nyentuh wajahnya.
"Maaf ya, sayang. Gue rasa gue cuma sedikit takut. Tapi gue di sini sekarang. Dan gue siap banget buat punya keluarga sama lo." gue tersenyum.
"Oke, kalian berdua udah selesai mesra-mesraan di sana? Boleh gue duduk sama kalian sekarang? Soalnya gue laper banget." Kita noleh dan nyadar Demo bawa sepiring carbonara sama dia.
Kita ketawa kecil sama sikap nggak sabarnya.
Zanaya langsung duduk dengan benar buat ngasih tempat ke Demo.
"Akhirnya," dia memutar matanya sementara Raze keluar dari dapur.
"Maaf ya tapi gue masak di dapur lo. Kalian semua boleh ambil piring, gue masak buat semua orang."
"Oh, ngomong-ngomong, Zanaya," kita noleh ke arah Mono, "Lo beneran hamil?"
Kepala gue langsung ke arah Zanaya dan begitu juga yang lain.
"Ahhh, soal itu, sebener-" sebelum dia selesai ngomong, kita denger pintu di depan kebuka dan mulut kita menganga lebar setelah kita nyadar siapa yang baru aja masuk.
"Gue bilang juga apa, mereka semua ada di sini."
Kita semua berdiri kaget.
"Tuan!"
"Bos!"
Zanaya langsung megang tangan gue.
BAYANGAN di dalem asrama WHISTLE, ya, kita beneran dalam masalah.