Bab 27
Sudut Pandang Zanaya
"Yah, Seth, lakukan sesuatu!" gumamku sambil nonton Max lari-larian di sekitar ruangan berusaha nangkap Langit.
Aku nelan ludah.
Max bawa pemukul baseball.
Langit udah mati. Pasti mati.
"Yah, Max, tunggu! Ya Tuhan!" Raze berusaha nolong Langit.
"Gue bunuh lo Langit!!!!!"
Max teriak. Kayak, teriak marah dan itu nyeremin.
Demo ngumpet di belakang Grey yang lagi ngakak gak jelas.
Badai lagi tiduran di sofa, kepalanya di pangkuan Cali. Wajah Cali memerah.
Tunggu, apa?
Mono lagi duduk di sofa nonton semua yang terjadi di depan matanya.
Dan terus gue ngerasa Seth narik gue menjauh, tangannya megangin tangan gue. Walaupun agak ragu-ragu, gue tetep ikut ninggalin kekacauan di belakang.
Gue gigit bibir bawah sambil ngerasain jantung gue berdebar kayak orang gila.
Gue liatin tangan kita yang saling terkait.
Bisakah kita kayak gini selamanya? Maksud gue, cuma dia dan gue, tanpa khawatir fans kita tau tentang hubungan kita.
Kita berhenti di dapur dan dia dengan lembut mendorong gue ke salah satu kursi dan nyuruh gue duduk.
Gue liatin dia bingung saat dia pergi ke meja dapur dan ngambil beberapa peralatan. Saat itulah gue ngeliat kantong plastik berisi makanan di pojok.
"Kalian yang bawa itu?" tanyaku.
Dia terus nyiapin makanan dan jawab tanpa ngeliat ke arah gue. "Kita. Cali bilang lo belum makan sejak ketemu Bos lo."
Perasaan hangat nyelimutin gue setelah denger apa yang dia bilang.
"Ahhhh, lo manis banget." Aku cemberut dan gak bisa nahan diri buat maju dan meluk dia dari belakang, tanganku melingkari tubuhnya, narik napas dalam-dalam sambil nikmatin aroma manisnya.
"Zanaya, jangan pikir gue gak sadar gimana lo mulai nikmatin ngejelajah tubuh gue." Gue mungkin gak bisa liat wajahnya tapi gue yakin dia lagi nyengir.
"Terus? Gak mau ya? Oke" gue ngeledek sambil pelan-pelan lepasin tangan gue dari tubuhnya tapi sebelum gue sempet ngelakuin itu, tangan bebasnya narik tangan kanan gue dan ngelingkarin tangan gue lagi di sekelilingnya.
"Cuma bilang doang sih tapi gue gak protes, oke." dia cemberut.
Cekikikan lembut keluar dari bibir gue. "Kirain."
"Hmmm, Zaya?"
"Ya?"
"Lo kena masalah sama Bos lo gara-gara apa yang terjadi semalem?" dia nanya dan gue gigit bibir setelah nyadar rasa bersalah di suaranya.
"Enggak kok," kataku dengan nada ceria.
Desahan panjang keluar dari bibirnya saat dia berbalik dengan makanan di tangan kanannya dan tangan kirinya di lengan gue yang ada di depan perutnya jadi kayak dia nuntun gue sambil gue ngikutin dia, gak mau lepas.
Dia naruh makanan di meja dan narik tangan gue. Sekarang, gue hadap-hadapan sama dia.
Dia megangin wajah gue dan ngasih gue kecupan di bibir.
Pipi gue memerah dan mata gue mendarat di dadanya.
Sampai sekarang, gue masih belum biasa dia kayak gini ke gue.
Dia manis banget.
"Lo boleh usap-usap tubuh gue, gue sih gak masalah. Tapi bibir ini," katanya sambil matanya mendarat di bibir gue, gue harus gigit bibir gue karena gugup, "ini cuma punya gue, oke?"
Tanpa mikir, gue ngangguk dan dia senyum, kali ini, ngasih gue ciuman di kening.
Jantung gue berdebar karena gerakannya.
Tapi terus sebuah pikiran muncul di benak gue, "Lo kena masalah gak gara-gara semalem?" gue naikin alis ke arahnya.
Gue udah baca komentar di video dan di Twitter dan gue udah liat reaksi yang beda-beda terutama karena ceritanya tentang gue, Seth dan Sally tapi kebenciannya kebanyakan diarahkan ke gue dan Seth. Beberapa fans mikir Seth main dua hati sama gue sama Sally.
Gue tau dia lagi susah dan gue agak kecewa dia gak bagi masalahnya sama gue.
Gue selalu yang jadi penerima dan entah kenapa, gue ngerasa malu tentang itu.
Setelah nyadar gimana matanya mulai ngehindar dari tatapan gue, gue tau ada yang gak beres.
"Gue---" sebelum dia selesai ngomong, kita denger teriakan keras dan beberapa umpatan di ruang tamu jadi kita berdua keluar buat ngecek.
Mulut gue kebuka lebar pas ngeliat Max ada di atas Langit, bibir Max di Langit sementara yang lain lagi kaku di tanah.
Raze lagi duduk di tanah dengan mata melotot natap mereka berdua. Mono dan Demo lagi pelukan. Badai masih tiduran di pangkuan Cali tapi matanya ke mereka berdua.
Tokyo lagi ngakak di tanah dengan Grey udah berguling-guling di lantai.
Ruangan berantakan.
Dan terus telepon mulai bunyi dan gue liatin Seth setelah gue nyadar dia ngeluarin teleponnya.
"Halo?"
"Ya."
Mata dia mendarat ke gue dan entah kenapa, jantung gue mulai berdebar gugup. Gue gak suka tatapan takut yang nunjukin di wajahnya.
"Oke."
"Gue ngerti. Enggak. Kita kesana."
Setelah denger apa yang dia bilang, cowok-cowok itu berdiri dan gue harus ngeliat dua kali buat mastiin Max gak ngebunuh Langit tapi desahan lega keluar dari bibir gue pas gue ngeliat tangannya melingkar di sekeliling Max sementara yang lain lagi ngeliatin tanah.
Senyum pelan-pelan muncul di sudut bibir gue.
"Zaya, kita harus pergi. Gue-ahmm," gue pegang tangannya pas gue nyadar dia keliatan agak khawatir.
"Kenapa? Ada yang gak beres?" tanyaku dan cowok-cowok itu segera mendekat ke Seth.
"Lo gak apa-apa?" tanya Raze dan Seth cuma ngeliatin dia.
Cowok-cowok ini pasti punya telepati pikiran karena mereka semua kayaknya ngerti apa yang Seth maksud dan nepuk pundaknya.
"Gue pergi dulu." Gue kaget pas Badai ngacak-ngacak rambut Cali sementara yang lain cuma gigit bibirnya, pipinya memerah.
Oke, ada sesuatu yang aneh terjadi.
Segera, cowok-cowok itu bergerak ke arah pintu tapi sebelum itu, Seth nyamperin gue dan nyium gue penuh di bibir.
Gue kaget tapi gue ngebalesnya.
Kenapa gue ngerasa dia lagi berusaha ngomong sesuatu?
Setelah beberapa detik, kita ngelepas ciuman kita dan dahinya nempel di dahi gue, gue bisa denger napasnya.
Gue ngerasain tangannya melingkar di sekeliling gue.
"Apapun yang terjadi, percaya sama gue, oke?" alis gue berkerut dan gue mulai gugup.
Ada yang salah. Dan gue gak suka.
Sebelum cowok-cowok itu pergi, kita denger suara dentuman keras.
Sial.
Max baru aja mukul Langit.
Cowok-cowok itu teriak saat mereka nyamperin anak malang itu sementara Langit tergeletak kaku di tanah.
Apaan sih.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX