Bab 63
Sudut Pandang Tokyo
Aku gigit kuku sambil natap orang-orang di depanku.
Rungan hening.
Setelah Max ngamuk dan Cali keluar, satu-satunya yang bisa didengar di ruangan itu adalah napas yang gak beraturan dari semua orang.
Max diam aja dari tadi sementara Cali ada di kamarnya. Badai ngikutin dia, tapi ngeliat ekspresi Cali tadi, aku ragu dia bakal bisa ngobrol sama dia saat ini.
"Ini beneran bukan mimpi..." gumam Demo sambil ngejatuhin diri ke bantal, semua energinya kayak tersedot dari badannya.
"Maksudnya?" tanya Mono dan aku cuma natap mereka bingung.
Langit ngelirik ke arah Seth dan Zanaya.
Zanaya gemeteran.
Aku pengen maju dan meluk dia, tapi mikir lagi.
Dia kan punya suami. Dia gak butuh aku sekarang.
Dan jujur aja, aku bahkan gak tau gimana perasaan aku.
Aku nunduk sambil gigit bibir bawah.
Kita udah barengan bertahun-tahun.
Kita udah ngelewatin ribuan malam tanpa tidur buat latihan.
Kita semua nangis barengan pas kita berjuang ngelawan rasa lapar waktu lagi diet.
Kita pijitin satu sama lain saat badan kita sakit karena memar dari semua koreografi dance yang susah buat evaluasi bulanan.
Kita berbagi kesedihan saat salah satu dari kita ngerasa pengen nyerah.
Kita ngelakuin semua hal barengan, berbagi rahasia satu sama lain karena kita saudara.
Kita saling percaya.
Kita emang gitu.
Tapi sekarang, aku gak yakin.
Kepalaku langsung keangkat waktu aku denger dia tersedu-sedu pelan sambil berusaha nahan biar gak nangis.
Mata aku melembut ngeliat dia, sementara Seth meluk dia lebih erat berusaha nenangin dia.
Aku pengen nenangin dia, bilang semuanya bakal baik-baik aja.
Tapi aku gak bisa.
Dan di saat yang sama, aku ngerasa bingung.
Apa aku marah sama dia karena gak ngasih tau kita? Aku gak tau.
Aku beneran gak tau gimana perasaan aku.
Apa aku sakit hati? Kayaknya iya.
Pengkhianatan...ini yang dirasain member lain?
Jantungku berdebar kayak orang gila, tapi badanku terasa mati rasa.
Perutku bergejolak karena aku ngerasa semua emosi ku merembes dari sisa kewarasan yang ada di dalam diri ku.
Dia udah nikah dan aku bahkan gak tau.
"Berhenti nangis, Zanaya..." Raze kedengeran khawatir sambil natap cewek yang lagi nge-breakdown di depan kita.
"Jujur aja, aku udah punya firasat kalau kalian berdua mungkin udah nikah. Tapi aku abaikan aja pikiran itu," kata Langit.
"Maksudnya kamu punya firasat?" Raze bertanya, kebingungan terdengar di suaranya.
"Ingat waktu aku ngeliat kalung Seth? Aku cari di internet dan nemuin salinan persisnya kecuali ukiran di dalamnya. Tertulis itu cincin kawin," tambahnya, matanya tertuju ke tanah seolah semuanya akhirnya pas di tempatnya.
"Dan ingat waktu mereka putus dan kita akhirnya minum sampai mabuk berat? Aku bersumpah aku terus teringat hal-hal di pagi hari saat Seth menangis memberi tahu kita tentang pernikahannya," Demo terlihat kaget dengan kenyataan itu.
"Itu bukan cuma imajinasiku?" seru Raze. "Aku kira aku bodoh karena punya kenangan itu jadi aku gak pernah berbagi ke kalian. Jadi itu benar?"
Seth cuma menghela napas.
"Kamu ngasih tau Badai secara pribadi dan bukan kita?" Raze terlihat sakit hati saat dia menghadapi Seth.
"Aku gak sengaja bilang ke kalian semua waktu kita mabuk. Ternyata, Badai sadar dan dia ingat semuanya keesokan paginya," jelasnya.
Aku perhatiin saat dia dengan lembut menyeka air mata dari pipi Zaya.
"Aku masih gak ngerti. Gimana kalian berdua akhirnya menikah?" tanya Mono.
Aku duduk di sofa di sampingku sambil membiarkan anak-anak laki-laki itu yang ngomong. Aku gak punya tenaga lagi buat ikut campur dan ikut nimbrung.
"Iya, dan udah berapa lama kamu nikah?" Langit menambahkan.
"Hampir dua tahun?" bisik Seth.
"Dua tahun!!!!" Raze berteriak sementara Grey ngacak-ngacak rambutnya.
Aku kasihan sama yang paling muda.
Kayaknya dia yang paling kena imbasnya di grup mereka.
"Hei, Seth Devon! Gimana kamu bisa ngelakuin ini ke kita?" seru Demo, yang udah berdiri. Dia kelihatan terkejut.
"Aku gak percaya ini," tambah Mono.
"Aku gak bisa kasih tau kalian gitu aja, oke?" Seth mencoba menjelaskan.
"Kenapa? Apa kamu gak percaya sama kita?" Langit menyela. Suaranya bergetar, jelas mencoba menenangkan dirinya.
"Persis seperti poin ku."
Aku ngeliat sekeliling setelah denger Max ngomong. Aku hampir lupa dia masih di sini.
Dia natap Zanaya, rasa sakit terpancar di matanya.
"Apa sesulit itu buat bilang kalau kamu udah menikah?" katanya sambil berdiri dari kursinya.
Zaya natap dia, matanya merah karena nangis.
"Gak gampang, oke..." suaranya pecah.
"Dan lebih gampang buat bohong ke kita selama dua tahun?" suara Max udah tinggi.
Ketawa aneh keluar dari bibirnya. Dan aku takut untuk sesaat.
"Dua tahun..." dia mengepalkan tangannya karena marah. "Dua tahun sialan yang panjang dan kita baru tau hari ini. Bukan karena kamu mutusin buat percaya sama kita. Tapi karena keadaan dan kamu gak punya pilihan. Serius Zanaya, kita ini apa buat kamu?"
Saat ini, Max udah nangis.
Langit kelihatan khawatir saat dia bergerak maju dan melingkarkan tangannya ke Max untuk mendukung.
Max udah di ambang kehancuran.
Zaya dan Max sama-sama dalam kondisi ini sebenernya bukan hal yang terbaik.
Sisa anak laki-laki itu diam.
"Kamu udah nikah bahkan sebelum kita debut," tambahnya. "Jadi itu kenapa kamu diizinin buat pacaran. Karena kamu sebenernya udah nikah."
Kesadaran itu menyentuh semua orang.
Zanaya mulai menangis lebih deras dan itu ngebuat hatiku sakit ngeliatnya kayak gini.
"Max, itu bukan niat dia." Seth mencoba beralasan.
"Berhenti!" Max mencibir. "Emang gitu kenyataannya!"
"Max, tenang dulu dan dengerin mereka," Langit mengusap punggung Max.
"Gak." dia natap Langit. "Aku gak marah karena dia menikah." dia natap Zanaya dengan menyakitkan sementara yang lain cuma duduk membeku di samping Seth.
"Aku sakit hati karena dia gak pernah ngasih tau kita. Karena kalo dia ngasih tau, kita bisa ngerti. Kita bisa dukung dia. Karena aku tau dia susah payah selama dua tahun itu."
Mata Max melembut. Zaya menoleh ke arahnya, kebingungan membanjiri wajahnya yang berlumuran air mata.
"Kita bisa nge-hajar Seth kalau dia nyakitin dia."
Semua mata mereka tertuju padaku setelah aku ngomong.
Bahkan aku kaget. Tapi aku lanjutin.
"Kita bisa bantu dia ngatasi semua rasa sakit karena ngeliat suaminya berhubungan sama cewek lain. Atau bantu dia mengatasi proses jadi istri. Kita bisa bantu dia masak buat Seth," kataku, akhirnya sadar apa yang Max maksud.
"Bukan berarti kita gak bakal ngelakuin hal yang sama meski kalian berdua gak nikah. Tapi intinya, kita bisa ada di sana waktu kamu berjuang buat nyembunyiin semuanya dan nyimpen semua rasa sakit itu sendiri," aku natap dia.
"Kamu gak sendiri, Zaya. Kita ada di sini." Aku tersenyum padanya.
"Kita keluarga kamu. Dan kita percaya keluarga." kata Max.
"Aku minta maaf..." Zaya menutup wajahnya.
"Aku tau nikah mungkin pilihan pribadi atau ada alasan yang lebih dalam di baliknya, tapi selama dua tahun itu, kenapa kamu gak coba ngasih tau kita? Atau apa kamu punya rencana buat ngasih tau kita sama sekali?" tanyaku dengan menyakitkan.
Pernikahannya bukan masalah dan aku tau dari mana Max dan Cali berasal.
Kita dibiarkan dalam kegelapan. Selama dua tahun yang panjang.
Tapi aku juga gak bisa nyalahin Zanaya untuk semuanya.
"Aku pengen ngasih tau kalian. Apa kalian tau betapa susahnya buat aku? Aku pengen ngasih tau kalian semua tapi aku gak tau caranya. Gimana kalian berharap aku ngasih tau kalau aku udah nikah padahal kita semua semangat buat debut kita?" katanya, suaranya serak.
Max menunduk, menyadari maksud Zaya.
Satu kekehan keluar dari bibirku.
"Dan itu bukan kewajiban kamu buat ngasih tau kita. Kamu punya pilihan, dan itu hidupmu," tambaku.
Max natap aku, matanya melebar karena apa yang aku bilang.
Dan kemudian dia menunduk menyadari betapa susahnya pasti bagi Zaya.
Itu kenapa aku gak bisa sepenuhnya marah sama dia. Zaya peduli sama kita. Aku tau dia bakal ngasih tau kita pada akhirnya.
Aku tau apa yang dirasain keduanya dan aku gak bisa nyalahin mereka.
Aku ngerti kenapa Max sakit hati dan di saat yang sama, aku tau Zanaya gak bermaksud jahat. Meski harus bayar mahal, dia mungkin nyimpen ini buat dirinya sendiri demi grup kita juga.
"Siapa lagi yang tau?" tanya Max, suaranya lebih tenang dari sebelumnya.
"Cuma bos kita berdua,"
Ruangan itu sekali lagi hening.
Kita baru aja bersenang-senang sejam yang lalu. Gimana semuanya bisa jadi kayak gini?
Kita semua kaget waktu Grey tiba-tiba berdiri dari kursinya dan langsung menuju pintu.
"Woi, Grey!"
"Grey!"
"Mau kemana kamu?!"
Membernya mencoba manggil dia tapi dia gak noleh.
Apa dia nangis?
Sebelum aku tau apa yang aku lakuin, aku langsung menuju pintu buat nyusul dia, ngabaikan panggilan dari sisa grup.
Aku mungkin gangguin cowok itu banget tapi bukan berarti aku gak peduli sama dia.
Aku tau memberku butuh dukungan tapi pacar dan suaminya jelas ada di sana.
Aku gak bodoh. Aku tau ada sesuatu di antara Max dan Langit. Mau mereka pacaran atau gak, aku gak tau persisnya, tapi jelas ada sesuatu.
Hal yang sama berlaku untuk Cali dan Badai.
Jadi aku satu-satunya orang yang tersisa yang jomblo.
Gak papa Tokyo, kamu punya penggemarmu.
Mata aku menangkap sesuatu yang merah dari sudut mata.
Kemeja Grey.
Ya, dia butuh teman sekarang. Dan jelas aku salah satunya.
Tentu saja, Tokyo, kamu teman... Cuma teman. Aku bilang ke diri sendiri.
"Grey..." Aku panggil namanya.
Dia lagi duduk di tangga. Kita akhirnya ada di pintu darurat kebakaran.
Kepalanya nunduk, dahinya di lengannya.
Dia pelan-pelan ngangkat kepala begitu dia denger suaraku dan hatiku hancur ngeliat keadaannya.
Mata dia merah dan dia kelihatan bingung.
"Tokyo..." bisiknya dan aku langsung duduk di sampingnya sebelum narik dia ke pelukan.
Aku gangguin dia banget karena aku suka kalau dia kelihatan kesal tapi ngeliat dia kayak gini rasanya kayak jarum menusuk dadaku.
"Hei, kenapa kamu nangis?" bisikku, tanganku di belakang kepalanya, wajahnya di bahuku.
Kontak badan berlebihan dan aku bersumpah jantungku mulai berdebar lebih cepat, itu ngebuatku bingung.
Dia diam sebentar, dan aku biarin. Aku biarin dia nangis buat ngelepas semua emosinya.
Setelah beberapa saat, aku ngerasain napasnya kembali normal.
"Seth, apa dia bakal ninggalin kita?" katanya agak takut.
Dan kemudian aku sadar kenapa dia nangis.
Dia takut kehilangan saudaranya. SHADOW udah jadi hidupnya. Pikiran kalau salah satu saudaranya pergi ngebuat dia nge-breakdown dan nangis.
Senyum tersungging di bibirku.
"Dia gak bakal, bodoh." kataku, sambil aku narik sedikit rambutnya.
"Awwww!" dia berteriak sebelum menarik diri dari pelukanku.
"Tokyo!" dia menggerutu. "Beneran? Kamu balik nge-ganggu aku lagi?" dia kelihatan kesal dan aku ketawa ngeliat reaksinya yang imut.
Aku lagi berusaha buat mencairkan suasana.
"Kenapa? Mau ngapain?" aku godain dia. "Cengeng." tambaku, menyeringai.
"Ini," katanya dan mataku langsung terbuka lebar waktu tangan kirinya narik bagian belakang leherku dan narik aku ke arahnya.
Hal berikutnya yang aku tau adalah bibirku bersentuhan sama bibirnya.
Sial. Apa Grey baru aja nyium aku?
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX