Bab 46
Sudut Pandang Seth
"Aduh." Aku mengerang saat merasakan tubuhku menghantam lantai yang dingin dan keras.
Apa-apaan sih.
Aku mengepalkan tangan karena marah.
Aku mendongak dan memelototi orang yang menjulang di depanku.
"Mending lo punya alasan bagus kenapa ngejatohin gue dari kasur, Grey, atau lo mati," kataku dan dia menatapku dengan panik.
Dia mulai menarik diri dari lantai tapi aku mendorongnya.
"Seth, lo harus ngumpet. Badai nyariin lo. Sumpah deh, dia keliatan pengen ngejitak muka lo, bahkan dewa swag pun gak bisa ngalahin dia." matanya membesar dan aku berbalik saat mendengar pintu kamarku terbuka lebar, mengeluarkan Badai yang sangat marah.
Apa yang kulakukan?
"Hei, Badai, berhenti!" Raze berusaha menghentikan yang lain dan aku dengan cepat berdiri dari lantai dan bersembunyi di belakang Grey.
Dia mungkin lebih muda, tapi dia jelas lebih kuat dari kebanyakan dari kita.
"Grey, apa yang kulakukan?" tanyaku takut pada ledakan mendadak pria yang lebih tua itu.
Dia terlihat seperti baru bangun tidur juga, rambutnya masih berantakan dan dia masih memakai pakaian yang sama dari tadi malam.
"Kenapa lo malah nanya gue?" tambahnya dan aku mencoba lari saat melihat Badai melepaskan diri dari cengkeraman Mono dan Raze.
"Yah, Demo, bantu kita!" Raze berteriak pada Demo yang berdiri membeku di pintu depan bersama dengan Langit. Mereka saling berpelukan karena takut mendekati kita.
Aku segera membungkuk ke lantai.
"Badai, apa pun yang kulakukan, aku minta maaf." Aku memohon.
Susah bikin Badai marah.
Maksudku, dia sesekali mengumpat, tapi memang begitu adanya. Karena kita semua dekat.
Melihatnya marah seperti ini menakutkan.
"Hei, Mono, lepasin gue. Gue mau hajar anak ini." kata Badai marah dan aku lari kembali ke Grey.
"Seth, apa yang lo lakuin?" Mono berkata dengan frustrasi saat Badai mendorong wajahnya menjauh.
"Brat kecil, apa lo tahu cewek lo baru aja ngebangunin gue lewat telepon dan dia nangis?!" dia berteriak sambil menunjuk ke arahku.
Apa?
Zanaya menangis?
"Sally?" Langit bergumam dengan bingung dan Demo menampar kepalanya.
"Bodoh, itu Zanaya." Demo bergumam dan aku merasa sakit hati mendengar namanya.
Sial.
Setelah apa yang terjadi, yang kulakukan hanyalah minum dengan teman-teman dan suatu malam, aku akhirnya menceritakan rahasia itu kepada mereka. Untungnya, mereka semua pingsan. Yah, kecuali Badai.
Aku hampir lupa tentang itu kalau dia tidak menunjukkan foto di ponselnya.
Orang tua itu memutuskan bahwa tidak apa-apa untuk mengambil foto pernikahanku di ponselnya.
Itu satu-satunya foto yang kupunya tentang Zaya dan aku selalu membawanya.
Itu menyakitkan.
Setiap kali aku menyadari bahwa dia bukan lagi milikku, aku merasa seperti ingin mati.
Hari-hari terasa sangat sepi.
Susah melihatnya saat aku tahu dia sudah *move on*.
Aku tidak pernah begitu mencintai hidupku, tapi istriku malah selingkuh.
"Apa lo masih mikir dia selingkuhin lo?" Badai sekarang bisa mendorong keduanya dan bahkan Grey tidak bisa menghentikannya dalam keadaan ini.
Dia melakukannya. Aku melihat fotonya. Aku berkata pada diriku sendiri.
Mengingat apa yang kulihat menghancurkan hatiku berkeping-keping.
Sally menunjukkan foto Charlie dan Zanaya sedang berbicara. Waktu itu kira-kira saat kita pacaran. Aku ingat dia memakai pakaian yang sama. Charlie memegangi wajahnya.
Segera setelah itu, aku merasakan sepasang tangan meraihku dari kerah saat dia mendorongku ke dinding.
"Gue gak nyangka lo serendah ini, Seth. Kenapa lo ngasih cincinnya ke Sally, hah?" dia bertanya dan alis mataku berkerut bingung, tidak mengerti sepatah kata pun yang dia ucapkan.
"Badai, berhenti." Raze mencoba menahan Badai tetapi yang lain tidak goyah.
Aku menatap balik ke arahnya setelah menyadari apa yang dia katakan.
"Maksud lo apa? Aku gak ngasih cincin apa pun ke dia." kataku saat bahuku terasa sedikit sakit.
"Gue nemuin cincin Zaya di kamar mandi. Gue masukin ke jaket lo tempo hari sebelum lo pergi," katanya dan mataku hilang sesaat.
"Cincin itu..." gumamku. "Gue gak ngasihnya ke Sally. Kenapa lo bisa bilang begitu?"
Badai tampak bingung sesaat tetapi matanya masih merah karena marah.
"Yah, nasib buruk, Tuan, dia sudah punya dan dia bilang ke Zanaya lo ngasihnya ke dia. Apa yang lo pikir Zanaya rasain setelah itu?" dia menyeringai dan aku merasakan darah mengalir keluar dari tubuhku.
Dia pasti kesal dan hancur.
"Dia pasti nangis." Aku menyimpulkan. Mengenal Zanaya, dia menangis sangat keras saat pertama kali kehilangan cincin itu.
Badai perlahan melepaskan cengkeramannya dari kerahku dan mendorongku sedikit terlalu keras ke dinding.
"Perbaiki ini, Seth, sebelum lo kehilangan dia," katanya dengan ekspresi sedih di wajahnya.
"Gue gak bisa." Aku menatap lantai. "Semuanya sudah berantakan." Aku berbisik. Tubuhku meluncur ke lantai saat aku menutupi wajahku tanpa daya.
"Jadi, apa lo nyerah gitu aja sama dia?" Grey mengangkat alisnya sambil menatapku.
"Bukan itu Seth yang kita kenal," Langit menambahkan.
"Seth yang gue kenal gak nyerah. Dia gak pernah nyerah bahkan setelah dia hampir gak debut. Dia berlatih keras untuk mencapai tempat dia sekarang. Dia hampir mati kelaparan. Tapi dia mengatasi semuanya." Mono berkata dan aku melihat mereka dari tanah.
Mereka semua tersenyum padaku, bahkan Badai.
Suara *handphone*-ku yang berbunyi memecah kesunyian di atas kami.
Langit pergi ke kasurku dan mengambil *handphone*-ku.
Alisku berkerut saat aku memperhatikan ekspresinya.
Dia menggigit bibir bawahnya dan entah bagaimana, aku merasa gugup tentang apa isi pesan itu.
Anak-anak lelaki itu tahu kata sandiku kalau ada keadaan darurat. Lagipula, kita tahu kapan harus dan tidak mengutak-atik *handphone* masing-masing.
Kali ini, aku tidak keberatan dia memeriksa *handphone*-ku. Pesannya mungkin terlihat di layar juga.
"Isinya apa?" tanyaku bingung. Alih-alih menjawab, dia memberiku *handphone*-ku dan jantungku terjatuh ke lantai saat aku melihat apa yang tertulis.
Gak mungkin.
Gue gak akan biarin ini berakhir seperti ini.
Aku dengan cepat berdiri dan pergi menuju pintu.
Gue gak bisa biarin Zanaya ninggalin gue.
"Hei, Seth, lo mau kemana?" Aku mendengar Demo bertanya.
"Yakin lo mau keluar kayak gitu?"
Aku mendengar Sy dan Grey tertawa jadi aku berhenti di tengah jalan dan melihat ke bawah.
"Sial." Aku memakai celana dalam *iron man*.
"Bahasa ya anak muda." Aku mendengar Raze bergumam sambil terkekeh.
"Grey!" Aku berteriak marah.
"Gue rasa Seth kita sangat ingin gituan." Aku menangkap celana yang dilempar Mono dan aku sedang menghafal apa yang ingin kukatakan di kepala ke Zanaya.
Gue gak peduli kalau dia pernah selingkuh atau nggak. Gue gak bisa hidup tanpanya.
Jadi gue bakal balikin cewek gue.
Aku cinta kamu,
Zanaya.