Bab 67
Sudut Pandang Zanaya
"Gak yakin ini kebanyakan?" tanya Max saat kita masukin semua makanan yang udah kita siapin ke tas.
Aku lagi mau ke asrama Seth dan mutusin buat bawain dia banyak makanan.
Aku sadar dia makin kurus. Walaupun aku tau dia khawatir gemuk, aku pengen dia sadar kalau badannya tuh sempurna.
Kita harusnya ketemu malem sebelumnya, tapi aku gak bisa karena perubahan jadwal.
Dia sama Badai yang lagi mabuk masalahnya.
Sebenernya, aku kasihan sama Badai dan Cali.
Setelah kejadian itu, Cali bersikap seperti biasa. Dia mulai ngobrol sama aku dan cewek-cewek yang lain.
Dia nunjukin kalau dia baik-baik aja, padahal keliatan banget dari matanya dia gak baik-baik aja.
Dia juga minta maaf karena waktu itu nyuruh aku gak komunikasi sama Seth dan tentu aja, aku maafin dia.
Aku harus meluk dia erat-erat buat nenangin dia karena dia terus-terusan minta maaf.
Aku dan cewek-cewek udah ngobrolin pernikahan aku dan kita udah beresin semuanya.
Aku seneng banget semuanya lancar, kecuali hubungan Cali dan Badai.
Cali bilang Badai nyuruh dia buat gak ketemu dulu.
Tentu aja, Cali sakit hati. Dia berharap Badai bakal perjuangin mereka.
Jujur, aku juga agak kesel sama dia, tapi denger dia mabuk-mabukan karena Seth bikin aku mikir ada sesuatu di balik semua ini.
Jelas banget dia cinta sama dia.
"Hei, tolong kasihin kue-kue ini ya!" Tokyo ngasih aku kotak isi kue.
Aku naikin alis ke dia.
"Buat apa nih?" tanyaku sambil nyilangin tangan dan sumpah pipi Tokyo langsung merah kayak kepiting rebus.
Pasti ada sesuatu yang lagi terjadi.
"Gak ada apa-apa, Zanaya oke. Aku kalah taruhan jadi harus ngasih itu," katanya tapi dahiku makin berkerut pas aku liat perban di jarinya.
"Kamu bikin sendiri?" tanyaku dan Max sama Cali langsung ketawa.
"Gak mungkin, Tokyo gak bak-" Max berhenti di tengah jalan pas dia liat tangan Tokyo.
"Diam!" seru Cali.
"Hei, Tokyo! Kamu gak pernah masak buat kita!!!" Max mulai narik kotak itu, mungkin mau nyobain satu tapi Tokyo lebih cepet.
"Aku bikin lagi! Ada di kulkas jadi lepasin kue-kueku!" dia teriak dan aku ketawa ngakak denger dia ngomong gitu.
"Maksudnya, kuenya!"
Aku muter bola mata sebelum ngunci tas tempat semua makanan itu berada.
Terus, aku ke kamar buat ganti baju.
Aku baru mau keluar kamar pas denger pintu kamar kebuka dan Max maju, gigit bibirnya.
Dia keliatan sedih.
"Hei, ada apa?" tanyaku agak khawatir.
Dia natap aku dengan khawatir.
Oke?
"Kayaknya kamu harus tunda jalan-jalan ke asrama suamimu," katanya dahiku berkerut.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
Dia nunjukin hapenya dan aku liat linimasa Twitter.
SHADOW ada di bandara
"Hah?" gumamku, bingung.
Seth gak pernah bilang apa-apa soal keluar negeri.
Tunggu, aku rasa Seth emang gak ngehubungin aku sejak malem itu.
"Kayaknya, kita harus habisin makanan ini sendiri deh?" aku cekikikan.
Max natap aku dengan geli.
"Kamu gak marah sama dia?" tanyanya.
"Agak sih, tapi aku percaya dia kok. Aku tau pasti ada alasan kenapa dia gak cerita soal jalan-jalan kecil ini. Lagian, aku tau dia sibuk dan mungkin dia lupa sama semua jadwal mereka."
Aku senyum ke Max yang cuma naikin alisnya ke aku.
"Kamu emang istri yang baik ya, aku lihat." dia ngomong dengan nada jijik yang bikin aku nampar bahunya.
"Diam, sekarang ayo pergi! Mending kita nonton film aja sama semua makanan ini." aku cekikikan sambil dorong dia keluar kamar.
Pikiranku melayang ke Seth.
Dia gak pernah lupa ngirim aku pesan. Aku emang lagi sibuk banget akhir-akhir ini sampai gak sadar kalau aku gak denger kabar dari dia.
Mungkin aku keliatan baik-baik aja di depan Max, tapi entah kenapa, aku khawatir soal itu.
Aku tepis semua pikiran itu.
Seth pasti sibuk.
Iya, harusnya gitu.
------------
Desahan lepas dari bibirku.
Udah seminggu sejak terakhir aku denger kabar dari Seth.
Seminggu sejak terakhir aku denger suaranya.
Dadaku sesak mikirin dia.
Aku udah nyari-nyari semua memori tentang apapun, tapi aku gak inget kita pernah berantem atau berdebat. Dan kalau emang iya, gak mungkin aku lupa.
Aku gulingin tubuhku ke sisi lain kasur.
Cewek-cewek akhir-akhir ini ngasih aku tatapan aneh.
Tentu aja, aku gak cerita ke mereka soal Seth gak ngehubungin aku.
Yang lebih parah lagi, aku bisa liat Tokyo ngobrol sama Grey sekali lewat video call dan aku gak punya nyali buat nanya soal Seth jadi aku diem aja.
Tanganku menggulir di hapeku saat aku ngecek linimasa Twitter.
SHADOW ada konser di Jepang yang aku gak tau.
Katanya, mereka bakal balik hari ini tapi aku tetep gak denger kabar dari si brengsek itu.
"Sumpah, kalau aku ketemu sama si bajingan itu, aku bakal hajar dia beneran," kataku ke diri sendiri.
Suara ketukan pintu memecah lamunanku soal gimana cara hukum Seth.
Beberapa detik kemudian, pintu kamarku kebuka dan wajah Tokyo yang nyengir muncul.
"Zaya, jalan yuk?" alis Tokyo naik turun.
Aku duduk di kasur saat dia berdiri tegak di depan pintu kamarku.
"Kemana?" tanyaku malas. Aku emang lagi gak pengen keluar.
"Ke Bibi!" dia menjerit dan aku harus nahan diri buat gak ketawa.
"Kita mau kabur kecil-kecilan nih?" tanyaku, mulai semangat dan dia ngangguk.
Udah lama banget kita gak keluar.
Aku buru-buru berdiri buat ganti baju.
"Ketemu di ruang keluarga sepuluh menit lagi," tambahnya sebelum keluar kamar.
Saat aku lagi ganti baju, tiba-tiba hapeku bunyi, nandain ada pesan masuk.
Gak Dikenal: Aku ilang hape, putriku. Aku baru balik ke Korea dan bakal dapet penggantinya. Aku kangen kamu - Seth
Desahan lega lepas dari bibirku.
Dasar bodoh. Harusnya dia ngasih tau aku duluan.
Dan kemudian alisku berkerut.
Hape siapa yang dia pake? Aku punya semua nomor cowok-cowok itu.
Aku mengangkat bahuku sambil ngerapiin topi di kepalaku.
Serba hitam deh.
Aku keluar kamar dan liat Tokyo pake baju yang sama.
"Gak yakin kalian berdua keliatan mencurigakan?" Cali bilang sambil ngunyah kue saat duduk cantik di bantal.
"Atasan hitam sama jeans, pake masker hitam dan topi, iya, kalian jelas bukan idol," Max nambahin sambil ngikat rambutnya jadi cepol longgar.
Cekikikan lepas dari bibirku.
"Ini misi rahasia Tokyo dan Zaya, oke!" kataku pura-pura megang pistol di tangan.
Max meringis ngeliat tingkahku dan Tokyo cuma ketawa.
"Kenapa kalian berdua gak ikut?" tanyaku.
"Males banget..." gumam Max.
"Terlalu cantik..." Cali nambahin yang bikin kita berempat ketawa.
"Ayo pergi!" Tokyo narik aku lebih deket saat kita dadah ke mereka berdua.
"Inget kabur kecil-kecilan kita yang terakhir?" Tokyo nanya saat kita naik taksi.
Udah hampir jam sembilan malem.
Aku mengerutkan hidungku sebagai respon.
"Iya, itu bukan sesuatu yang pengen aku inget."
Saat itu aku liat Seth dan Sally kencan.
Udah lama, tapi aku masih inget gimana sakitnya waktu itu.
Begitu kita nyampe tempat Bibi, kita langsung disambut sama senyum hangatnya.
"Kukira kalian udah lupa sama aku. Bahkan Cali dan Max udah gak pernah jenguk aku." dia cemberut.
"Maaf Bibi. Banyak hal terjadi dan kita agak sibuk," kata Tokyo dan aku cuma meluk Bibi sambil bercanda.
"Oke deh. Langsung aja ke tempat favorit kalian. Gak ada yang duduk di sana kok." tambahnya dan kita lari ke tempat itu.
Kita lagi asik ngobrol dan foto-foto aneh pas aku liat sosok yang familiar jalan ke beberapa kursi dari kita.
Seth, Demo bareng Mara dan Chloe baru aja duduk di meja.
Tokyo kaget.
"Zaya?" dia natap aku bingung dan aku cuma ngangkat bahu.
Dadaku sesak ngeliat Seth ketawa sama Chloe.
Tenang, Zaya. Itu pasti cuma kencan biasa.
Untungnya, tempat kita tersembunyi dari tempat mereka duduk.
Cuma ada beberapa orang di dalem tempat itu dan kebanyakan orang tua jadi agak aman buat idol ada di sini.
"Tolong bilang suamimu gak selingkuh ya," Tokyo ngomong dengan nada datar dan aku ketawa.
"Dia ngirim pesan ke aku tadi," kataku dan dia cuma naikin alisnya.
"Jadi, dia baru balik dan malah kencan sama cewek lain daripada langsung ke istrinya?" Tokyo bilang dan entah kenapa, kata-katanya nyengat banget.
Senyum paksa lepas dari bibirku saat pelayan dateng bawain makanan kita.
Aku lagi asik makan, berusaha buat ngejauhin Seth dari pikiranku, yang emang agak susah karena dia cuma beberapa meter dari aku, saat hapeku sekali lagi bunyi.
Setelah gigitan terakhirku, aku ngecek pesan dan liat nama Demo di layar.
"Kita udah balik ke Korea. Aku udah balik ke asrama kita - Seth."
Alisku berkerut.
Apaan sih?
Aku yakin Seth dan dia ada di depanku sekarang.
Darahku mulai mendidih.
Apa mereka lagi mainin aku?
Aku nelpon nomor Demo. Aku liat dia ngangkat hapenya.
"Ya, Demo..." aku nyapa dia dengan suara termanis yang aku punya dan Tokyo naikin alisnya.
"Kamu di asrama?" tanyaku manis, padahal tanganku udah mengepal karena marah.
Dia cekikikan gugup, "Iya."
"Boleh aku ngomong sama Seth?" tanyaku dan aku liat dia ngasih hape ke Seth.
Aku berusaha nahan diri buat gak mukul meja saat aku liat Seth ngasih isyarat gak bisa jawab.
Aku nggrantes gigi saat aku liat mata Demo melebar. "Ah, Zaya, Seth lagi di kamar mandi."
"Oh, oke. Bilang aja aku nelpon," kataku sebelum aku matiin telponnya.
Tokyo natap aku khawatir saat aku berusaha nenangin diri.
Aku nunduk di meja saat air mata keluar dari mataku.
Omong kosong apa yang lagi terjadi?
"Kamu baik-baik aja? Mau aku hajar Seth sekarang?" katanya sambil otomatis berdiri dari kursinya.
Aku narik tangannya balik.
Mataku masih perih karena air mata.
Tenggorokanku mulai sakit saat aku berusaha nahan diri buat gak nangis.
"Ayo pergi aja," kataku sambil ngelap air mataku.
Kita berhasil sampe depan tanpa mereka nyadar.
Begitu kita bayar makanan, aku mutusin buat ngasih kartu aku ke pelayan dan bayarin yang lain.
Pusing, dia cuma ngelakuin apa yang aku bilang.
Dan kemudian aku ngeluarin hapeku dan ngirim pesan.
"Selamat menikmati makan malamnya dan gak usah repot-repot bayar. Aku udah bayarin. Nikmati kencan kalian. ?"
Terus aku pencet kirim sebelum pergi dari restoran, gak peduli sama reaksi mereka.
Pergi sana, Seth. Kamu ngelakuinnya lagi, ngehancurin hatiku.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX