Bab 70
Sudut Pandang Seth
"Gue bener-bener minta maaf banget soal ini, Seth. Kita nggak tahu kalau lo bakal pulang."
Gue mengurut kening sambil dengerin penjelasan Demo. Udah sejam sejak istri gue keluar dari asrama kita, sambil nangis.
Gue pengennya nyamperin dia, tapi kondisi gue yang nggak stabil bikin gue nggak bisa. Ditambah lagi, ada cewek lain nangis di kasur gue bikin situasinya makin parah.
Kepala gue pusing banget dan gue kena *hangover* yang parah.
Desahan keluar dari bibir gue saat mata gue tertuju pada Demo.
Dia lagi berlutut di depan gue, minta maaf berulang kali atas apa yang terjadi. Matanya merah karena nangis, dia kena banyak umpatan dari Badai dan beberapa dari Raze.
Demo nangis di depan gue itu sesuatu yang nggak bisa gue tahan buat liat.
Kayaknya, mereka bertiga pergi minum setelah gue pergi ke asrama WHISTLE. Chloe mabuk berat dan Demo sama Mara bawa dia ke asrama kita. Gue tahu cewek itu punya masalah sama urusan cinta dan sebenernya gue pengen banget nge-gas dia tadi, tapi gue tahan diri.
"Kita ngerti dia mabuk, tapi ngapain dia di kasur Seth?"
Puji Tuhan.
Gue bersyukur banget karena Grey nanya gitu, soalnya gue nggak punya tenaga buat nanya. Pikiran gue melayang ke cewek yang mungkin lagi nangis sendirian sekarang.
"Kita taruh dia di kasur gue, tapi dia muntah. Baju dan kasur gue penuh muntahan, jadi nggak ada pilihan selain taruh dia di kasur Seth sambil gue sama Mara bersihin muntahannya. Gue nggak tahu Mara nggak sengaja ngambil kemeja Seth bukan punya gue pas dia gantiin baju Chloe." Demo keliatan pucat.
Mending begitu, soalnya ini bukan masalah sepele.
"Kalian berdua di mana pas Seth pulang?" tanya Mono, tangannya bersilang di dada sambil menginterogasi Demo.
"Soal itu, kita pergi beli es krim setelahnya." Dia mainin tangannya.
"Jam tengah malam?! Dan lo ninggalin dia di kasur Seth?" seru Raze.
Sial.
"Hei, Seth! Kenapa lo nggak nyadar ada orang di kasur lo?" Raze ngelempar handuk ke arah gue, kena kepala gue. Gue hati-hati ngelap keringat di wajah gue.
"Gue nggak bakal tiduran di situ kalau gue tahu ada cewek di kasur gue, oke!" jawab gue agak frustrasi.
Dia kayaknya lagi emosi sekarang. Dia tadi sama istri gue.
"Sialan!" Dia duduk di kursi kosong di depan gue. "Bayangin kagetnya gue pas buka kamar lo dan ngeliat lo tidur sama cewek padahal istri lo berdiri di samping gue!" omel dia.
"Gue mabuk berat. Gue bahkan nggak inget gimana gue bisa ada di kasur gue." bisik gue, suara gue serak.
Gue ngangkat muka, ngeliat Langit dan Grey gugup di samping Mono.
"Kalian berdua, gue bareng kalian tadi malam. Mungkin salah satu dari kalian yang naruh gue di kasur." Otot gue tegang dan rahang gue mengeras. Gue berusaha keras buat nggak ngeluarin frustrasi gue ke mereka.
Ini bukan salah mereka.
Grey ngumpet di belakang Langit dan alis gue berkerut.
Mata Langit melebar, jadi gugup ngeliat tatapan gue. "Bukan gue. Gue cuma buka kamar lo tadi malam."
Kepala Grey muncul di belakang Langit dan dia ngeliatin gue gugup.
"Gue cuma tidurin lo. Gue nggak nyadar ada dia, soalnya gue udah ngantuk banget," gumam dia.
Ya ampun. Kita semua mabuk.
Gue menghela napas karena kesal. "Seharusnya gue nggak minum dari awal. Seharusnya gue nunggu sampe Zaya pulang."
"Ah, soal itu," Badai menyela dan gue ngangkat alis ke arahnya. "Dia sebenernya sama gue tadi malam."
Mata gue melebar karena kesal.
"Gue nggak tahu apa yang terjadi, oke? Dia nelpon gue dan dia nangis. Lo tahu banget gue nganggep dia kayak saudara sendiri," kata dia buat ngebela diri dan gue nggak bisa debat sama itu.
Gue pikir lebih baik dia sama dia daripada sama orang lain. Setidaknya gue yakin dia aman tadi malam.
"Demo, gue harap lo sadar betapa besarnya masalah ini. Zanaya mungkin lagi nangis sekarang, benci sama Seth," kata Mono sambil ngeliatin dia.
Gue benci kenyataan kalau gue ada di situasi ini sekarang, tapi gue juga nggak bisa sepenuhnya benci Demo. Gue tahu dia nggak bermaksud jahat.
"Gue tahu dan gue minta maaf. Gue bisa pergi jelasin ke Zaya sekarang kalau itu yang dibutuhin biar dia maafin Seth."
"Gue nggak yakin itu ide bagus buat pergi ke asrama mereka sekarang," kata Langit dan gue ngeliatin dia buat konfirmasi. Dia mungkin tadi ngobrol sama Max.
"Kata Max dia bakal bunuh anggota SHADOW mana pun yang nginjek asrama mereka. Lo tahu cewek itu nggak main-main." badannya gemetaran cuma karena inget cewek itu.
"Yah, kita tahu itu hari pertama dia lari ke lo bawa tongkat baseball, Langit. Makasih udah ngingetin kita." Raze memutar bola matanya.
"Aisstt!" Gue nggak bisa nggak teriak frustrasi sambil berdiri dari kursi.
Semua cowok ada di ruang tamu sekarang, sedangkan Mara dan temannya udah pulang setelah yang lain tenang.
Gue bahkan nggak ngelirik dia. Gue kesel banget dan meskipun dia nggak ngelakuin apa-apa secara teknis, gue nggak bisa begitu aja ngegas dia.
Gimana caranya gue keluar dari kekacauan ini?
"Tenang, Seth. Kita bisa perbaiki ini," kata Badai dan gue nggak bisa nggak menghela napas.
"Gimana? Kalian semua tahu berapa kali gue bikin masalah dan gue takut Zanaya udah muak." bisik gue. Hati gue hancur dan gue ngerasa kayak jiwa gue udah keluar dari tubuh gue.
"Ahmm," Gue berbalik saat denger Grey bergumam, matanya melebar ngeliatin ponselnya.
"Apa? Tokyo bilang sesuatu tentang dia?" gue langsung nanya dan Grey keliatan khawatir.
"Tokyo bilang Zanaya nangis di kamarnya. Dia nggak ngebolehin siapa pun masuk dan," dia menelan ludah. "Mereka denger suara benda jatuh di dalem," gumamnya dan gue ngerasa dunia gue runtuh di depan mata.
"Zanaya nggak bisa ninggalin gue... Gimana kalau dia terluka?" bisik gue dan gue ngerasa air mata jatuh di pipi gue. "Dia nggak bisa ninggalin gue. Gue bakal mati." kata gue sambil nutup wajah gue sambil nangis. Gue bisa bayangin dia ngehancurin kamarnya karena kesal.
Gue ngehancurin hatinya.
Tubuh gue mendarat di sofa sambil nangis tanpa henti. Cuma mikirin kehilangan dia bikin gue gila.
Gue nggak yakin gue bakal bisa hidup tanpa dia.
Nggak bisa.
Gue butuh dia. Gue cinta dia.
"Seth..." Gue denger mereka manggil nama gue tapi gue nggak jawab.
"Tenang, Seth, tarik napas. Lo harus bangkit dan mikirin cara buat melewati ini," gumam Mono.
Gue ngerasa seseorang meluk gue.
"Zanaya itu cewek yang baik dan pengertian. Kasih dia waktu," tambah Badai.
"Jangan nyerah sama dia, Seth. Percaya sama cinta kalian satu sama lain," kata Raze dan gue nggak pernah merasa sesyukur ini punya mereka di sekitar gue.
"Gue rasa kita harus lakuin sesuatu sekarang," kata Mono dan gue liatin mereka berdiri.
Ya, gue harus lakuin sesuatu.
Zanaya, tolong jangan nyerah sama gue. Gue berdoa dalam hati.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX