Bab 54
Sudut Pandang Zanaya
"Kita mau ke mana?" tanyaku pada Seth waktu dia menarikku dari anak-anak cewek setelah festival.
Manajerku bahkan gak ngehambat dia.
Kadang, aku mikir apa manajer kita gak peduli atau dia emang percaya sama aku. Pastinya, semua orang tahu kita lagi dalam larangan pacaran, tapi petualangan rahasia aku sama Seth kayaknya gak penting bagi mereka.
Atau, apa Bosku bilang ke mereka kalau aku boleh pacaran?
Gak mungkin.
Aku geleng-geleng dari pikiran itu waktu Seth narik aku masuk ke kamar dan ngasih aku tas kertas.
"Apaan nih?" Alisku berkerut.
"Aku minta ganti baju kamu ke manajermu." Pipinya memerah.
"Kamu ngomong sama manajerku?" tanyaku bingung.
"Eh, ya, aku harus minta izin mereka karena kamu gak pulang malam ini," tambahnya sambil garuk belakang kepalanya.
Aku naikin alisku ke dia.
"Dan kenapa kamu yang mutusin di mana aku bakal tidur, Tuan Devon?" kataku, tanganku terlipat.
"Ulang tahun Ibuku besok. Dan dia mau ketemu kamu," katanya dan aku hampir keselek ludahku.
"Ulang tahun Ibumu dan kamu baru bilang sekarang?" tanyaku gak percaya. "Aku bahkan gak punya apa-apa buat dia!" kataku panik.
Dia gak mungkin minta aku ketemu Ibumu pas ulang tahunnya tanpa punya apa-apa buat dikasih.
Maksudku, fakta kalau aku bahkan gak sadar kalau itu ulang tahunnya bikin aku pengen bunuh diri.
Ulang tahun mertuaku harusnya jadi salah satu hal yang gak boleh aku lupain.
Aku sebenarnya ngapain sih?
"Santai aja, ini masih pagi. Kita bisa langsung ke butik dan beliin dia hadiah." Dia terkekeh.
Urat syarafku sedikit tenang. Dia ada benarnya. Lagian ini masih pagi.
"Oke, tapi aku ganti di mana?" tanyaku ke dia.
Baru satu jam setelah festival dan aku masih pake baju performku.
Aku malah kaget gimana dia udah pake celana jeans kasual, kemeja hitam kancing, dan sepatu kets.
Fakta kalau dia pake topi kebalik dan sebagian rambut platinanya kelihatan bikin dia seribu kali lebih hot di mataku.
"Ahm, kamu bisa ganti di sudut, aku mau cek di luar," katanya sambil gigit bibir bawahnya. "Atau aku bisa di sini aja, kamu tahu, lihatin kamu dan semuanya." tambahnya dan aku mukul bahunya pelan sebelum aku dorong dia keluar dari kamar.
Kita masih di dalam tempat acara dan aku heran gimana dia bisa nemuin kamar kosong di sini.
Dia harusnya bilang dari tadi biar aku bisa ganti di ruang ganti kita, nyelametin dia dari semua gangguan ini.
Begitu dia keluar, aku buka tasnya dan keluarin bajunya.
Alisku berkerut.
Ini bukan punya aku.
Tapi aku putusin buat pake aja.
Aku terkekeh sedikit setelah aku sadar kalau Seth beliin aku celana jeans robek hitam, dengan kemeja hitam kancing. Untunglah dia mutusin buat bawain aku sepatu kets putih.
Ini bukan semacam kebetulan.
Apa dia mau kita pake setelan baju yang sama atau gimana? Soalnya aku bersumpah ini agak kuno tapi aku gak akan nyangkal kalau hatiku berdebar.
Setidaknya ini bukan semacam kaos couple dengan beberapa cetakan di atasnya.
Aku masukin bagian depan kemejanya dan narik topi hitam di tas.
Aku dengan cepat lipat bajuku dan masukin lagi ke tas kertas.
Begitu aku yakin aku kelihatan cukup bagus, aku buka pintu dan Seth berdiri tepat di depan, jaga kayak anjing gila.
Aku bersumpah cowok ini terlalu protektif sama aku. Tapi aku menghargai gimana dia selalu mastiin aku aman.
Dia senyum begitu matanya mendarat di aku.
"Seperti biasa, istriku cantik banget," gumamnya waktu tangannya mendarat di dadanya kayak dia lagi kasmaran.
Pipiku memerah.
"Berhenti. Seseorang mungkin denger kamu." Aku natap tanah gak sanggup ngadepin suara keras jantungku yang berdetak.
Si penggoda kecil ini. Dia begitu bertekad buat ngebunuh aku, ya.
Dia ambil tas dari tanganku dan ambil yang satunya lagi.
Tapi aku ngehentiin dia.
"Kita gak punya masker." Aku nunjukin.
Ini masih agak pagi dan kalau kita mau keluar buat beli sesuatu buat ibunya, kita punya peluang delapan puluh persen buat kelihatan tanpa masker kita.
Dia balik badan dan ambil kedua tanganku.
Dia natap aku di mata dan aku merasa seolah-olah duniaku berhenti sejenak.
"Kamu percaya sama aku?" Dia nanya, matanya melembut dan lagi, aku terpesona sama kecantikannya.
"Aku percaya." Aku berbisik.
Dia narik topiku buat ngerapihin sebagian rambutku yang berantakan. Aku kira dia cuma akan masangin lagi tapi sebelum dia melakukannya, dia narik aku lebih dekat buat nyium dahiku.
Itu manis banget.
Pipiku jadi merah dan aku ngerasa badanku semakin panas tiap menit.
Kenapa kamu, Seth Devon.
Aku lihat sekeliling dan nyadar beberapa staf natap ke arah kita jadi aku narik dia keluar.
Aku narik topiku sedikit ke bawah buat setidaknya nyembunyiin wajahku tapi kemudian aku nyadar kalau topinya malah kebalik, seluruh wajahnya kelihatan.
Dia praktis bersinar. Cara yang super efektif buat narik perhatian.
Aku berhenti dari langkahku dan menghadap dia.
"Kamu gak mau benerin topimu?" tanyaku ke dia.
"Nggak." katanya sambil nyebutin huruf "p" di akhir. Dia menghela nafas sebelum dia menghadap aku.
"Aku mau jujur, babe. Aku mau kita resmi jadi aku gak peduli lagi kalau orang ngelihat kita. Dan kenyataannya, kedua Bos kita udah ngobrol dan mereka bilang mereka oke buat kita resmi." Dia nyatakan, sedikit gugup sama reaksimu.
Mulutku menganga lebar, gak sanggup nangkap informasi baru yang baru aja aku denger.
"Kamu serius?" seruku.
"Ya." Dia terkekeh.
"Tapi semua orang tahu kalau WHISTLE lagi dalam larangan pacaran," gumamku.
"Aku tahu. Tapi mereka setuju. Ya, mungkin karena hubungan kita yang 'nyata' makanya mereka setuju. Jadi, kalau kamu oke dengan orang-orang yang tahu tentang kita, hmmm..." Dia gigit bibirnya dalam antisipasi.
"Maksudku, aku bener-bener oke kalau kamu belum siap. Aku gak akan maksa kamu. Ditambah, aku tahu kita berdua bakal dapat banyak kebencian karena ini, jadi aku akan ngerti. Aku bener-bener baik-baik aja sama keputusanmu." tambahnya. Tangannya terentang di depanku menyatakan maksudnya.
Aku merem sejenak.
Apa aku siap?
Jujurnya, aku bakal suka kalau kita resmi dan aku hargai fakta kalau dia nanya aku tentang itu. Setidaknya aku tahu dia siap buat bener-bener berkomitmen sama aku.
Dan begitu kita resmi, mungkin aku gak akan lagi punya cowok-cowok creepy ngikutin aku.
Aku hampir menggigil setelah ingat gimana pembawa acara itu udah narik tanganku tadi.
Agak canggung di panggung karena udah jelas banget kalau dia berusaha buat ngegoda aku.
Aku sebenarnya gak mau Seth dateng buat aku karena aku bisa lindungin diri sendiri tapi aku senang dia dateng karena cowok itu bener-bener creepy.
Lagipula, kalau kita resmi, setidaknya, orang-orang akan sedikit lebih kaget begitu mereka tahu kalau kita udah nikah. Walaupun itu mungkin diketahui setelah sepuluh tahun kurasa.
Karena kita gak bisa ngaku ke orang-orang tentang itu sekarang. Kedua grup kita akan menderita.
Jadi aku udah mutusin.
Aku buka mataku dan natap dia.
"Makasih udah ngebolehin aku mutusin. Dan makasih buat baju-baju ini ya." Aku menyatakan dan dia senyum.
Aku narik topiku sedikit lebih tinggi, cukup buat aku bisa lihat bagian depan diriku dengan jelas karena topinya menghadap ke belakang.
Aku genggam tangannya dan buat saling melilit dengan tanganku.
"Ayo?" tanyaku dan seringainya melebar, nyadar maksudku, waktu kita jalan bergandengan tangan di luar tempat acara, siap buat ngadepin penilaian dunia.
Selama dia sama aku, aku akan siap buat ngadepin dunia.