Bab 44
Sudut mataku menyipit saat aku mencoba untuk perlahan mengecek sekelilingku.
Erangan keluar dari bibirku saat aku harus menutup mata sedikit karena mulai perih, belum siap dengan cahaya menyilaukan yang menutupi ruangan.
Rumah Sakit.
"Zanaya..." Tokyo memanggil namaku dengan khawatir dan segera, tiga wajah yang kukenal meringkuk di atasku, tampak ketakutan sekaligus cantik.
"Kamu bikin kita khawatir." Cali bergumam sambil berusaha keras untuk tidak menangis.
Max kembali ke sofa, tidak bisa menatapku.
Tawa kecil keluar dari bibirku.
"Hei..." aku bergumam tapi suaraku serak.
"Jangan bergerak." Tokyo menghentikanku saat aku mencoba untuk duduk dari tempat tidurku.
"Gak papa." Aku meyakinkan mereka. "Hei, kenapa kalian semua sedih banget?" Aku bertanya pada mereka.
Sebenarnya, aku merasa bersalah karena membuat mereka khawatir.
Aku sakit beberapa minggu terakhir ini hanya karena aku tidak nafsu makan.
"Maaf ya. Karena aku, kalian semua jadi khawatir dan sekarang, aku di sini, di rumah sakit, semua karena keegoisan dan kebodohanku." Aku berbisik.
"Bukan salah kamu, Zanaya." Cali berkata sambil maju dan memelukku bersama Tokyo.
Dan kemudian aku merasakan Jennie mendekat dan ikut bergabung.
"Bukan salahmu. Kamu cuma jatuh cinta jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri." dia cemberut.
Aku tertawa mendengar kata-katanya.
"Jangan khawatir, mulai sekarang, aku gak bakal biarin cinta menguasai aku." Aku memberi tahu mereka.
"Tentu saja, karena aku bakal jewer kamu kalau kamu skip makan lagi. Untungnya, dokter bilang kamu cuma pingsan karena kelelahan dan kurang tidur. Ditambah lagi, kamu bahkan hampir gak makan," Max memarahiku.
"Fans juga khawatir. Tentu saja, beberapa orang lihat saat kamu digotong keluar dari gedung." Tokyo menambahkan.
"Ya Tuhan." Tanganku mendarat di mulutku saat aku mencoba menggigit jariku.
"Jangan khawatir, perusahaan kita udah meyakinkan mereka kalau kamu baik-baik aja. Walaupun beberapa fans masih minta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Kamu udah di sini dua hari." Cali menyatakan.
"Kita bikin Livestream sekarang aja gak sih?" Aku bertanya pada mereka.
Max tersenyum. "Dengan muka polos kamu? Gak deh. Fans bisa kaget lihat muka polos kamu."
"Yah!" Aku berteriak padanya.
Tentu saja, aku tahu dia cuma bercanda.
"Ngomong-ngomong, kamu tahu banyak idola yang jenguk kamu? Gila Zanaya, kamu emang playboy!" Tokyo dengan iseng menyatakan.
Alisku berkerut.
"Apaan sih yang kamu omongin?"
Dia menyebut banyak nama.
"Apaan sih? Aku bahkan gak terlalu ngobrol sama setengah dari orang-orang itu." Aku cemberut.
"HAPPINESS datang ke sini dan ONCE juga," Max menambahkan.
Dengan itu, aku ingat Sally.
"Dia gak datang," Cali menambahkan seolah membaca pikiranku.
"Dan mantan kamu juga." Tokyo memutar bola matanya dan aku gak berani membalas.
Tapi kemudian sebuah memori melintas dalam diriku.
Apa itu mimpi?
Dalam mimpiku, seseorang memegang tanganku sambil menangis. Tapi aku gak ngerti kata-katanya.
"Aku kangen kamu... Tapi kenapa kamu selingkuh dariku?"
Aku yakin itu Seth tapi kenapa dia bilang aku selingkuh?
Yah, kurasa itu cuma mimpi karena cewek-cewek bilang dia gak datang ke sini.
"Oh, dan ngomong-ngomong, Ayah kamu telepon ke ponselmu. Mau gak mau aku jawab." Cali menambahkan dan mataku langsung terbuka lebar.
"Kamu kasih tau Ayah kalau aku dirawat di rumah sakit?" Aku bertanya panik.
"Ya iyalah? Dia juga pasti udah tau dari berita." Max menjawab dan aku menghela napas frustasi.
"Dia bilang apa?"
"Yah, dia cuma nanya kamu baik-baik aja dan kurasa dia bilang tentang Kakek Zanaya yang mau jenguk."
"Apa?!"
Dan kemudian ponselku tiba-tiba berdering.
Max memberikannya padaku dan aku menelan ludah sebelum menjawab.
"Halo, Kakek?" Aku menjawab sedikit gugup.
"Gimana kabarmu, sayangku?"
"Aku baik-baik aja, Kakek. Jangan khawatir tentang aku." Aku mencoba menjawab dengan ceria.
"Suamimu gak ngerawat kamu dengan baik ya? Kenapa kamu sampai masuk rumah sakit" katanya dan aku hampir tersedak air liurku.
"Gak, Kakek. Dia baik kok. Ini semua salahku. Tapi jangan khawatir, aku udah merasa lebih baik dan aku janji ini gak bakal terjadi lagi." Aku memberi tahu dia dan aku menggigit bibirku karena berbohong.
"Yah, baguslah. Karena kalau dia gak ngerawat kamu, dia bakal kena omel, oke?"
"Iya, Kakek."
"Ngomong-ngomong, Kakek gak bisa datang tapi Kakek pasti jenguk kamu salah satu hari ini."
Dan aku gak pernah merasa lega seperti ini.
"Gak papa, Kakek. Hati-hati ya. Iloveyou!"
Dengan itu, panggilan kami berakhir dan aku merasa sangat lega.
Dan kemudian ada ketukan di pintu sebelum terbuka dan dua wajah yang kukenal masuk.
"Zanaya!" Langit bersorak begitu dia melihatku bangun dan aku tersenyum canggung.
Setelah apa yang terjadi, aku gak pernah ngobrol lagi sama anggota grupnya. Tapi, mereka gak pernah berbuat salah juga.
"Gimana perasaanmu?" Badai bertanya dan aku tersenyum padanya.
"Aku baik-baik aja."
Dia mendekatiku dan aku memperhatikan Lisa dan yang lainnya berdebat di sofa di sudut ruangan.
Langit dan Max bertengkar satu sama lain.
Aku mendengar Badai berdeham dan aku menatapnya dengan bingung.
"Kalian berdua udah ngobrol belum?" dia bertanya dan menatap selimut di depanku
"Kita gak perlu ngobrol. Dia selingkuh. Dia bikin aku kelihatan bodoh." Aku berbisik tapi cukup untuk dia dengar.
"Kupikir ada sesuatu yang harus kalian berdua selesaikan. Karena setauku, kamu yang selingkuh. Itulah yang diketahui Seth." dia menambahkan dan aku menatapnya dengan bingung.
"Apa dia bilang gitu ke kamu?" Aku bertanya dengan marah.
"Itu yang dia katakan suatu malam dia minum. Dia kacau dan dia menangis. Jadi aku gak yakin kalian berdua ada di halaman yang sama."
Alisku berkerut.
Apa yang terjadi?
"Tapi aku jelas lihat, dia ciuman sama Sally." Aku bergumam lebih ke diriku sendiri.
"Nih, aku percaya ini milikmu."
Dia meraih tanganku dan memberiku sesuatu.
Mataku berkaca-kaca begitu aku menyadari apa itu.
"Cincinku."
"Cincin pernikahanmu, kan?" Badai berbisik dan aku merasa darahku naik ke kepala.
Aku melihat sekeliling untuk memastikan gak ada yang mendengarnya.
"Itu--itu bukan." Aku tergagap.
"Kamu gak perlu bohong. Sama aja, Selamanya dan Keduanya, SDN dan di Seth itu ZDN, inisialmu," dia menambahkan.
"Tapi itu gak membenarkan. Itu cuma cincin tunangan. Bahkan, aku gak butuh itu. Kamu bisa balikin ke dia." Aku memberi tahu dia saat aku mengembalikannya meskipun aku benar-benar ingin cincin itu kembali.
"Gimana dengan ini?" dia menunjukkan padaku foto di ponselnya dan napasku tersentak.
Itu foto aku dan Seth di pernikahan kami.
Agak lucu karena kita gak saling pandang.
Aku cemberut sementara dia melihat ke arah lain sambil mencibir.
Keluargaku mengira itu lucu.
"Kenapa kamu punya itu?" Aku bertanya padanya.
"Seth nunjukin ke aku saat dia mabuk dan mengeluarkan emosinya. Tapi jangan khawatir, anak-anak mabuk berat waktu itu jadi cuma aku dan dia. Aku bahkan gak yakin dia inget apa yang terjadi malam itu." dia tertawa.
Tanganku mendarat di dadaku, dan aku merasakan jantungku berdetak kencang.
"Jangan khawatir. Rahasiamu aman bersamaku. Tapi karena Seth itu kayak saudara buatku, aku mau kamu tau kalau dia sayang sama kamu. Dia beneran sayang."
Aku mencibir kata-katanya.
"Kalo bener, dia gak seharusnya ciuman sama cewek lain, gak di belakangku, dan gak di depanku. Dia harusnya bilang apa yang salah. Dan dia seharusnya jenguk saat aku hampir mati." Aku bergumam dan dia gak menjawab.
"Aku hampir gak bisa makan dan tidur karena apa yang terjadi. Dan aku menyesal. Kali ini, aku akan hidup untuk diriku sendiri dan untuk orang-orang yang peduli padaku..."
"Jadi kamu menyerah?" dia bertanya sambil mengangkat alisnya.
Wow, aku gak percaya Badai ngasih saran cinta ke aku.
"Aku gak pernah nyangka bakal ada hari di mana Badai yang terkenal bakal ngasih aku semangat tentang cinta." dan dia tersenyum pada celotehanku.
"Itu karena orang-orang yang terlibat spesial buatku," katanya saat matanya tertuju pada Cali yang cemberut karena Max dan Langit.
Senyum lembut keluar dari bibirku.
"Kamu beneran ke sini buat aku atau buat orang lain?" dan pipinya memerah mendengar kata-kataku.
Ya Tuhan, Badai salting karena Cali. Pemandangan langka banget.
"Aku serius oke. Pikirkan baik-baik. Ngomong-ngomong, dia emang jenguk kamu. Aku yakin aku liat dia keluar dari kamarmu terakhir kali." dia menyatakan sebelum memunggungi aku dan kembali ke cewek berambut hitam yang dia perhatiin sejak tadi.
Dan di sini aku, ditinggalkan dengan pertanyaan di kepala.
Jadi itu bukan mimpi? Dia beneran jenguk aku. Dan kata-kata Badai cocok dengan apa yang kudengar Seth katakan padaku.
Tapi kenapa? Kenapa dia pikir aku selingkuh?
Harusnya aku cari tau?
Aku menggigit bibirku karena frustasi.
Apakah dia sepadan? Apakah dia sepadan dengan patah hati yang terus-menerus?
Aku menggelengkan kepala.
Dia udah bikin hatiku patah sekali, dan dia gak berjuang untuk cinta kami. Apa yang bikin aku mikir dia bakal berjuang buat kita kali ini?