150
"Menurut lo, Alex bakal maafin gue nggak?" Michelle ngomong ke saudarinya pas mereka lagi duduk di halaman belakang Caroline buat minum teh... "Maksudnya apa sih? Sekarang lo khawatir dia bakal nikah sama cewek itu? Gue denger dia pindah ke *penthouse*-nya. Lo pikir dia bakal ngejauhin anak lo dari lo? Kalian berdua emang nggak deket dari awal, kan," kata Caroline, pikirannya melayang ke Charles dan Gina... Dia akhirnya pindah dari rumahnya, dan meskipun mereka udah beberapa kali ngobrol di telepon. Dia hampir nggak pernah ketemu dia lagi. Hatinya hancur tahu kalau anaknya, yang selalu deket sama dia, perlahan mulai menjauh. Dia nggak mau hubungannya sama Charles kayak Alex dan Michelle. Mereka kayak ibu dan anak yang nggak akur, dan kalau dia nggak ada di sana dan lihat pas Michelle hamil, orang bisa salah sangka Michelle sebagai ibu tiri jahat yang nggak suka sama anak tirinya. Tapi dia ada di rumah sakit pas Alex lahir, dan Michelle seneng banget... Itu bikin Caroline mikir, di mana sih semuanya jadi salah? Kenapa Michelle menjauh dari anaknya, yang dulu dia sayang banget? Caroline udah nanya pertanyaan yang sama ke saudarinya itu belasan kali, tapi Michelle cuma diem aja dan nggak mau ngasih alasan...
Michelle ngegeleng... "Bukan itu, tapi..." Dia menggantung kalimatnya dan nahan air mata yang mau jatuh dari matanya... "Gue udah merhatiin Alex dan cewek ini, dan dia kelihatan bahagia banget... Dia lebih sering senyum akhir-akhir ini, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia terasa kayak anak gue lagi," kata Michelle dengan suara pelan, hatinya sakit... Dia bahkan nggak bisa nyangkal kalau Juliet bikin Alex bahagia, dan bahkan setelah ngobrol sama Juliet, dia bisa tahu kalau Juliet peduli sama anaknya dan bener-bener khawatir sama dia, dia nggak marah kayak yang dia pikirkan, malah dia ngerasa lega dan mungkin dia nggak marah sama *background*-nya Juliet tapi sama kenyataan kalau dia nggak bisa menjalankan perannya sebagai ibu dan egois dan cuma mikirin diri sendiri... dia tahu dia gagal jadi ibu yang baik buat Alex, dan dulu, dia pikir dia udah ngelakuin hal yang benar. Dia selalu mikir dia ngelakuin hal yang benar, tapi sekarang dia nggak yakin lagi mana yang benar, tapi semua yang dia rasa benar mulai terasa salah selama ini... keputusannya. keputusan sialannya udah bikin hidupnya jadi sesuatu yang dia nggak yakin lagi...
"Akhir-akhir ini gue terus mikirin ayahnya... Dulu Alex masih kecil dan dia harus ngalamin semua itu...itu bener-bener berantakan, dia dewasa lebih cepat dari seharusnya," lanjut Michelle dan Caroline ngejatuhin cangkir tehnya ke tatakannya... rasanya bukan saudarinya yang ngomong, tapi orang lain... "Lo baik-baik aja kan... apa lo perlu ke dokter?" tanya Caroline dengan nada khawatir. Jarang banget lihat Michelle jadi emosional... dia selalu jadi saudara yang dingin dan keras kepala yang nggak mau ada ruang buat kerentanan. Dia selalu nyebut mereka sebagai kelemahan dan itulah cara dia nyoba ngerawat Alex, tapi Alex udah lama keluar dari genggamannya dan nemuin cinta sejati di pelukan seseorang yang nggak bikin dia merasa kayak lagi melakukan kejahatan pas dia sedih...
Michelle narik napas panjang dan menutup wajahnya dengan tangannya... dia ngerasa kata-katanya perlahan mulai hancur, dan nggak ada yang bisa dia lakuin buat ngatasinnya... "Gue ngerasa makin bersalah setiap hari, dan itu ngebunuh gue... Gue nggak yakin bisa hidup kayak gini lagi," kata Michelle dan berdiri... dia ngambil tasnya, dan Caroline ngelakuin hal yang sama, bener-bener khawatir sama keadaan saudarinya... Michelle bikin dia takut karena cara dia tiba-tiba bertingkah... "Ada apa sih, Michelle... lo bisa cerita ke gue. Ada sesuatu yang terjadi, nggak," tanya Caroline, dan Michelle cuma narik napas panjang dan pergi, ninggalin Caroline yang bener-bener bingung kenapa dia kayak gitu... Caroline ngikutin saudarinya sampe Michelle nyampe tempat supirnya nungguin dia sama mobilnya. Dia masuk ke mobil dan bahkan nggak bilang selamat tinggal ke Caroline, yang berdiri di sana dengan tatapan bingung dan penasaran di wajahnya... Michelle ngebelai rambutnya dan narik-narik sedikit... pikirannya kacau, dan dia hampir nggak bisa narik napas panjang tanpa harus khawatir... dia capek hidup dalam rasa bersalah dan ketakutan yang konstan...
Teleponnya bunyi saat itu, dan Michelle buka tasnya buat ngambil telepon dan ngecek siapa yang nelpon. Dia langsung membeku pas lihat ID penelponnya, matanya beralih ke spion buat ngeliatin supirnya dan sama kayak supirnya yang dulu bertingkah, dia kelihatan lagi ngurusin urusannya sendiri tapi pendengarannya masih berfungsi... "Keluar dari mobil," kata Michelle dengan suara pelan, dan dia langsung ngelakuin apa yang disuruh tanpa banyak tanya... dia nggak mau ambil risiko dipecat kayak supirnya yang dulu yang disuruh keluar dari mobil... berita tentang apa yang terjadi hari itu udah nyebar di kalangan karyawannya setelah supir hari itu dipecat... semua orang jalan di sekelilingnya kayak di atas telur, takut kalau ada yang nggak sesuai sama keinginannya bisa bikin mereka dipecat.. mereka nggak mau salah sama Michelle Graham. Nggak ada yang mau nerima mereka kerja lagi kalau mereka tahu mereka dipecat sama dia....
"Lo mau apa sih!" Michelle teriak ke telepon pas supirnya udah keluar dari mobil, dan pintunya udah ditutup. Matanya penuh amarah saat dia ngomong...