21
Alex menghentikan mobilnya di depan rumah Juliet dan keluar... Dia balik lagi ke sini. Dia terus balik lagi ke sini. Satu-satunya tempat dia bisa pergi untuk melupakan semua masalahnya... Dia berjalan perlahan ke pintu depan Juliet dan membunyikan bel pintu... hatinya berat...
Juliet membuka pintunya dan melihat Alex berdiri di luar... Sudah larut dan lewat waktu makan malam, dan dia terlihat... sepertinya sedang tidak dalam *mood* yang bagus. Wajahnya cemberut dalam, saat dia menatap Juliet dan perutnya keroncongan... "Ada kemungkinan aku bisa makan malam di sini?" Dia bertanya dengan suara pelan dan berhasil tersenyum padanya... Apa dia punya hari yang buruk di kantor, kebalikan dari hari Juliet, dia bertanya-tanya...
Juliet memikirkannya selama beberapa detik sebelum membiarkannya masuk ke rumahnya... Alex masuk ke rumah Juliet dan menghela napas dalam-dalam... Hatinya terasa lebih ringan sekarang setelah melihat Juliet... Juliet menutup pintunya dan bertanya-tanya apa yang bisa dia tawarkan untuk dimakan. Juliet bukan orang yang jago masak, tapi tahu cara memberi makan dirinya sendiri... Juliet punya sisa pasta di kulkas dan bertanya-tanya apakah Alex mau. Alex tidak terlihat dalam *mood* yang ceria seperti biasanya malam ini. Juliet menyadari *mood* Alex berubah setelah dia menerima telepon tadi... Juliet tidak menyangka dia akan kembali, apalagi selarut ini...
"Aku punya pasta, apa kau mau?" Juliet bertanya dan Alex mengangguk... dan Juliet juga mengangguk dan menuju dapur. Juliet berhenti di tempatnya dan berbalik untuk melihat Alex yang juga mengikutinya ke dapur... "Kamu bisa menunggu di ruang tamu, aku harus memasukkannya ke *microwave*. Aku akan kasih tahu kalau sudah selesai," Juliet berkata padanya, tapi dia menghela napas...
"Boleh aku ikut?" Alex bertanya dan Juliet terlihat bingung... Juliet mengangguk pelan dan berjalan ke dapur, Alex berjalan di belakangnya. Peringatan dalam kepalanya berdering sedikit, tapi Juliet menekannya. Juliet tahu Alex tidak bisa menyakitinya, tapi sebagai seseorang yang sekarang hidup sendiri, tidak ada salahnya untuk berhati-hati. Juliet meletakkan salah satu pisau dapurnya di bak cuci piring dan melirik Alex saat dia duduk...
Alex terus memperhatikannya saat Juliet mengeluarkan pasta dari *freezer* dan meletakkannya di *microwave*... Alex tahu makanan mewah akan disiapkan untuknya di rumahnya, jika dia menelepon dan memberi tahu mereka bahwa dia akan makan malam. Tapi dia tidak akan menikmatinya... Rumah itu membuatnya sesak dan pengingat konstan akan masa kecilnya, tetapi dia tetap memilih untuk tinggal di sana dan tidak pergi. Mungkin suatu hari dia bisa mengatasi dan sembuh dari masa lalunya... Mungkin serangan paniknya akhirnya akan hilang selamanya...
Dia bahkan belum pernah mengalaminya sejak dia bertemu Juliet setelah malam itu... Juliet bisa merasakan tatapannya padanya saat dia menunggu makanan.
Juliet berbalik untuk melihatnya dan sedikit tersenyum... "Apa kamu punya hari yang buruk di kantor?" Juliet bertanya dan Alex mengangguk.
"Bisa dibilang begitu..." Katanya dengan suara pelan. Kecurigaannya benar... "Paman Alex mampir hari ini," Alex menambahkan dan membuat Juliet bertanya-tanya apakah dia memiliki hubungan yang buruk dengan pamannya. Juliet ingin tahu lebih banyak...
"Apa kamu dekat dengannya?" Ucapnya, Juliet tidak pernah punya paman jadi dia tidak tahu siapa itu... tapi dia punya bibi yang mengerikan... Yang belum muncul, tapi Juliet sedang menunggunya...
"Ya, dalam artian tertentu..." Alex menjawab dan kemudian suara dari *microwave* datang... Juliet mematikannya dan meletakkan pasta di piring sebelum meletakkannya di depannya... Juliet lalu menuangkan segelas air untuknya dan duduk...
Alex mengambil segelas air dan meminumnya sebelum dia mulai makan. Dia makan dalam diam dan Juliet memperhatikannya. Alex terlihat seperti memikul banyak beban di pundaknya, Juliet tidak tahu mengapa Juliet terus mendapatkan perasaan seperti itu darinya...
Sepertinya Alex punya banyak hal yang terjadi dalam hidupnya... kehidupan seperti apa yang dia jalani... "Mau cerita?" Juliet mendesak sedikit ketika Alex hampir selesai dengan makanannya... Juliet tidak bisa menahan diri untuk tidak ingin tahu tentangnya. Alex menjatuhkan garpu di tangannya dan mengambil segelas air... "Aku tidak yakin... kadang aku merasa sesak... seperti aku ingin meninggalkan segalanya, tapi aku tidak bisa." Alex perlahan mulai terbuka padanya dan Juliet mendengarkannya... "Aku harus berada di sana... Aku tidak bisa pergi," lanjutnya, Juliet melihat perjuangan di matanya. Pekerjaannya pasti benar-benar membebani dirinya...
"Kenapa kamu tidak berhenti saja?" Juliet bertanya dan Alex mengangkat matanya untuk menatapnya. "Aku berharap bisa setiap hari ketika aku bangun, tapi Ayah tidak ingin aku melakukannya jadi aku tidak bisa. Tidak ada orang yang akan melakukan pekerjaanku jika aku berhenti," Alex berusaha menjelaskan dengan cara yang paling lugas yang bisa dia pikirkan tanpa mengungkapkan bahwa dia adalah ketua Grup Graham... "Apa Ayahmu suka dengan tempatmu bekerja?" Juliet bertanya dan Alex hampir tertawa kecil. Lebih tepatnya dia memilikinya...
"Dia akan suka, dia sudah almarhum," Alex berkata dan yang bisa dikatakan Juliet hanyalah "Maafkan aku." Dan Alex tersenyum padanya. "Kamu tidak perlu minta maaf, dia meninggal saat aku masih muda," Juliet punya sedikit firasat tentang bagaimana kehidupannya sekarang...
"Apa kamu ingin membuatnya bangga?" Itulah kesimpulan yang Juliet dapatkan dan Alex menggelengkan kepalanya. Bagaimana dia bisa menjelaskannya padanya. Lebih seperti dia tidak ingin perusahaan itu jatuh ke tangan yang salah... Dia yakin para pemegang saham akan bersenang-senang ketika mereka tahu dia mengalami serangan panik. Mereka akan menganggapnya 'tidak layak' menjadi ketua, seperti yang mereka lakukan pada Ayahnya... Tapi Ayah tidak memberi mereka kesempatan dan Alex juga tidak akan melakukannya...
"Lebih seperti menjunjung warisannya...sesuatu seperti itu."