Perpisahan dengan Zero Steler
Waktu istirahat, dan kita keluar dari ruangan Sejarah, kita mau ke kantin.
"Bulan, kamu baik-baik aja?" tanya Shadow di sebelahku, aku ngangguk.
"Maaf ya, kita gak belain kamu tadi, soalnya Nyonya Perez itu Guru yang kita takuti," kata Star.
"Gak papa, santai aja. Kamu gak punya kewajiban apa-apa ke aku," kataku sambil jalan.
"Maksudnya gak punya kewajiban apa? Kamu kan udah jadi temen kita," kata Hujan.
"Maksud kamu Bulan itu pengecut," sahut Red yang lagi mimpin kita jalan. "EH, pada ngeliatin apa sih?" tanya Red ke orang-orang yang merhatiin kita jalan. Baru deh aku sadar kalau hampir semua Murid Cahaya Bulan gak kuat sama kelakuan Red, jadi mungkin emang agak aneh aku bisa akrab sama Red.
"Makasih ya buat yang tadi," kataku, dia langsung berhenti jalan terus naikin alisnya ngeliatin aku.
"Emang? Aku gak nolongin kamu tadi, aku cuma laper makanya aku jawab pertanyaan, lagian juga aku tau kamu gak dengerin," katanya sambil natap aku terus mulai jalan lagi.
"Udah, biarin aja, emang gitu orangnya," kata Hujan, kita jalan bareng lagi, aku ngeliat ke lorong yang gak ada murid lewat. Disitu aku liat Zero lagi berdiri dan ngeliatin aku, terus aku baru inget dia ngajak aku pas istirahat.
"Kalian duluan aja, aku mau ke tempat lain," kataku, sambil cemberut ke mereka.
"Kamu udah hafal jalan di Cahaya Bulan?" tanya Cloud.
"Belum, tapi aku harus pergi, nanti aku tunggu di sini lagi," kataku terus lari ninggalin mereka. Aku pergi ke lorong tempat aku liat Zero tadi tapi pas sampe dia udah gak ada.
"Dia udah pergi?" tanyaku ke diri sendiri.
"Kamu lelet banget," aku kaget pas ada yang ngomong di belakangku, pas aku noleh gak ada apa-apa sampe ada yang nyentuh punggungku dan pas aku liat siapa yang nyentuh, aku liat Zero lagi senyum ke aku, jadinya aku ikut senyum.
"Eh, kukira kamu udah pergi," kataku sambil ngeliatin dia.
"Ayo, kita ke kantin 3. Makanannya lebih enak dari kantin 1 dan 2," katanya terus jalan, jadi aku ngejar dia dan ikut, Emang gak ada ya murid yang ngeliatin kita di sini? mungkin bakal ada orang yang ngeremehin aku lagi kalau mereka liat aku sama Zero, anaknya pemilik Cahaya Bulan.
"Kantin 3 itu khusus, kamu ngambil sendiri makanannya, terus jarang ada yang masuk kantin 3 jadi gak ada yang ngeremehin kamu," katanya, itu yang bikin aku kaget.
"Kamu bisa baca pikiran aku?" tanyaku. Dia senyum dan ngangguk.
"Kita sama, aku juga baca pikiran makhluk-makhluk," kataku sambil senyum.
"Tau gak, pas kamu tahan-tahanin kelakuan temen-temen sekelasmu dulu, aku gak tau kenapa mereka jadi Murid Cahaya Bulan," katanya terus belok, jadinya aku ikutan belok.
"Kamu gak benci aku?" tanyaku, dia ngeliatin aku sambil jalan terus ketawa.
"Kalo aku benci kamu, gak mungkin aku ngajak kamu istirahat bareng," katanya. Aku narik napas lega denger jawabannya.
"Ngomong-ngomong, ruanganmu di mana?" tanyaku.
"Kita sama jadwalnya jadi kamu temen sekelasku," katanya, jadi mataku langsung membulat.
"Kenapa kamu gak masuk Sejarah tadi?" tanyaku.
"Aku benerin sesuatu terus aku telat, Nyonya Perez gak bisa dateng telat, aku bisa aja di tahan kalo aku masuk HAHAHAHA," katanya, jadi aku ketawa, ketawanya lucu.
"Kamu juga anggota MPA?" tanyaku. Dia ngangguk.
"Tapi aku gak bisa ikut latihanmu karena aku punya waktu latihan sendiri," jelasnya. Kita masuk pintu besar, aku hampir kaget liat dalamnya, areanya penuh makanan tapi yang ada di sini cuma sedikit, aku hampir bisa nebak yang ada di sini.
Kenapa mereka gak makan di sini? apa karena jauh? kayak yang Zero bilang, kita ambil sendiri makanannya jadi kita beli beberapa makanan enak sebelum duduk di meja besar.
"Laksamana Kepala bilang kamu anaknya pemilik Cahaya Bulan ini. Kukira kamu aneh karena pas aku liat kamu tadi kamu tiba-tiba buang muka," kataku sambil makan. Dia ketawa, aku sadar Zero hobinya ketawa. Aku seneng bisa sama dia karena dia jago ngelawak.
Pas kita makan berdua kita becanda, kayak yang Zero bilang gak ada yang ngejek atau ngeremehin aku di tempat ini. Itu hal yang keren, makasih. Setelah aku dan Zero makan, dia nawarin buat nganter aku ke kantor Laksamana karena aku belum hafal seluruh Cahaya Bulan.
Sambil aku jalan dan ngobrol sama Zero aku merhatiin murid-murid yang ngeliatin aku.
"Biarin aja, mereka cuma iri karena aku sama kamu HAHAHAHA," katanya yang bikin aku ketawa. Di depan pintu kantor Laksamana kita berhenti.
"Sampe sini aja, besok kita istirahat bareng lagi," katanya, jadi aku ngangguk.
"Kamu ikut kita di Fasilitas juga?" tanyaku. Dia geleng.
"Enggak, aku dipisah dari kalian tapi aku bisa dateng kalau mau," katanya terus senyum. "Udah, masuk aja, temen-temenmu udah di dalem nungguin kamu," katanya, jadi aku ngangguk, aku baru mau buka pintunya tiba-tiba pintunya kebuka sendiri dan hal pertama yang muncul itu muka khawatirnya Hujan
"Dia udah di sini," kata Hujan dan langsung meluk aku.
"Kukira kamu nyasar. Tapi gimana caranya kamu bisa kesini? Kamu pergi kemana, Bulan?" katanya.
"Aku gak dianterin sama ---" aku ngeliat ke belakang Zero tapi dia udah gak ada, dia udah pergi ya?
"Siapa?" tanyanya.
"Gak ada," jawabku terus senyum ke dia.
"Ayo, Laksamana nyariin kamu, dia mau ngasih kamu sama Seragam Cloud," katanya terus narik aku masuk ke kantor Laksamana.