Hari Pertama
Hari Pertama Bulan di Cahaya Bulan
Sudut Pandang Star
Gue seneng karena kita punya temen baru, soalnya muka temen-temen gue juga bosenin. Untungnya, ada Bulan sama Cloud nambah di geng kita.
Gue merhatiin Bulan yang lagi celingak-celinguk di luar ruang sejarah, dia emang lumayan sih, tapi Hujan lebih cakep.
"Ruangan Zero di mana ya?" Pertanyaan tiba-tiba dari Bulan bikin gue kaget, emang dia Inform ya?
"Ngapain lo nyari ruangan anaknya pemilik Cahaya Bulan?" tanya Cloud, buset. Harusnya mereka Inform dong?
Zero kan udah meninggal lama, dua tahun lalu pas dia mati di game MLA, Gelap, Red, dan Shadow nemenin dia main MLA tapi sialnya Gelap ngebunuh dia. Mantan Murid Cahaya Bulan yang pindah ke sekolah lain.
Kata Shadow gitu sih, mereka ngeliat Gelap di belakang Zero terus nusuk Zero dari belakang.
Gue langsung kaget ah, Bulan serem.
"Ayo cabut." kata gue pas pintu ruangan kita kebuka, gue langsung duduk di kursi gue yang ada Hujan sama Shadow di samping gue.
"Bulan serem." bisik gue ke Shadow, gue gak mau Hujan denger soalnya gue tau Bulan temennya dia.
"Kenapa?" tanya Shadow ke gue, gue liatin Bulan yang ada di luar sambil mandangin gedung Stelers.
"Dia nyari ruangan Zero." kata gue jadi Shadow ngeliatin gue.
"Oh? Mungkin Laksamana gak cerita apa-apa soal Zero." kata Shadow.
"Kayaknya murid baru lo pada agak gesrek." Kata guru kita sambil merhatiin Bulan yang lagi dadah-dadah ke gedung Stelers.
"Tuh, dia kesurupan, gak ada siapa-siapa di sana." kata gue ke Shadow.
Shadow diem aja, kita liatin Bulan masuk dan kenalan di depan, temen-temen sekelas langsung diem tapi guru kita langsung nenangin.
Dia duduk di paling belakang yang ada kursi kosong, gue makin merinding karena itu tempat duduk Zero pas dia masih hidup.
Guru kita mulai ngajar, gue gak bisa fokus karena gue merhatiin Bulan, dia emang aneh.
Sampe bel bunyi, Hujan ngajak dia ikut kita.
"Gue duluan ya, gue mau ke suatu tempat." kata Bulan jadi gue liatin dia.
"Udah hapal jalanan di Cahaya Bulan?" tanya Cloud.
"Belum, yang penting gue mau ke suatu tempat, nanti gue tunggu kalian di sini deh." Kata dia terus lari dari kita. Gue langsung ngeliatin temen-temen gue.
"Gue ke toilet dulu ah, bentar lagi nyusul." pamit gue, mereka ngangguk jadi gue langsung nyusulin Bulan.
Gue kaget pas dia berhenti di lorong. Ngapain dia di sana?
"Eh, gue kira lo udah cabut." Mata gue membelalak pas dia ngomong sambil gue liatin ke depannya.
"Dia ngomong sama siapa sih?" bisik gue dalam hati, gak ada siapa-siapa di depannya dan dia juga sendirian.
Gue liat dia jalan pergi dari gue jadi gue langsung ngikutin dia, gue pelan-pelan mengerutkan dahi pas ngeliat Bulan ke Kantin 3.
Ngapain dia ke Kantin 3? Gak ada orang dan gak ada yang makan. Sejak Zero meninggal, Kantin 3 ditutup soalnya Zero selalu makan di sana.
"Lo bisa baca pikiran gue gak?" tanya Bulan ke siapa pun yang dia ajak ngomong.
"Kita sama, gue juga bisa baca pikiran makhluk." Kata dia, gue meluk diri sendiri karena ketakutan banget.
"Lo gak benci gue kan?" "Ngomong-ngomong, ruangan lo di mana?" Gue berhenti jalan dan ngumpet di balik kursi tua.
Gue liatin lagi Bulan yang masuk ke Kantin 3 yang gelap. Ya ampun, dia kesurupan?
Gue pelan-pelan ngintip dari jendela dan ngeliat dia duduk di meja tempat Zero selalu makan, apa dia ngeliat Zero? Apa dia punya mata ketiga? Serem.
Gue makin ketakutan pas ngeliat Bulan nyoba makan, gue ngintip apa yang dia makan tapi gak ada apa-apa, dia gak makan apa-apa. Gue langsung lari dari kantin 3 dan pergi ke kantin tempat kita makan.
"Oh? Kenapa lo?" tanya Hujan, gue nelen ludah dan ngatur napas.
"B-Bulan!" kata gue, dahi mereka langsung berkerut.
"Dia kesurupan!" kata gue jadi Hujan langsung berhenti dan ketawa.
"Lo ngomong gitu?" tanya Hujan sambil ketawa.
"Gue liat dia di kantin 3 soalnya gue ngikutin dia terus dia ngomong sama orang yang gak bisa gue liat." kata gue jadi Hujan, Ice, dan Cloud ketawa.
"Lo kali yang rada gesrek." kata Hujan terus makanan ngehantam mulut gue.
"Eh, makan, cuma laper doang kali." Kata dia sambil ketawa.
"Beneran tau!" kata gue.
"Makan aja." kata Ice sambil ketawa, gue muter badan dan nelen makanan yang Hujan lempar ke gue.
Kenapa mereka gak percaya?