Game Terakhir
Sinar mentari nyentuh aku, aku pelan-pelan buka mata dan lihat perubahan tempat. Kecurigaanku bener, tempatnya bakal berubah. Dinding labirin udah gak ada, sekelilingnya jadi luas banget dan dari sini tempat aku berdiri aku bisa jelas lihat ukuran markas yang perlu diancurin Gelap.
"Selamat buat murid-murid, kalian berhasil masuk ke babak final permainan, di babak terakhir permainan temanya Sekolah, Markas di tengah harus diancurin. Siapa yang paling banyak ngasih kerusakan bakal jadi pemenang. Sepuluh menit lagi babak Final dimulai, hati-hati sama lawan dan monsternya. Semoga berhasil."
Waktu mati, artinya gak ada pembantaian yang terjadi. Kecuali pas permainan mulai.
Aku lihat Pria yang ngerapiin tempatku berdiri, dia juga ngelihat markas itu.
"Ini hari terakhir." Dia bilang dan narik napas dalem terus lihat aku. Aku senyum dan nyamperin dia terus meluk dia.
"Makasih." Aku bilang, dia jelas kaget sama yang aku lakuin tapi dia meluk balik juga.
"Sampe jumpa lagi." Dia bilang, aku senyum dan ngelepas pelukan terus ngelihat dia dan narik napas dalem.
"Kurangin ngegodain, makanya kamu selalu kena masalah." Aku bilang dia ketawa.
"Kurang-kurangin kebaikan, makanya kamu selalu kena masalah." Dia bales, jadi aku ketawa. Kita berdua berhenti ketawa dan ngelihat markas itu.
"Permainan bakal selesai dalam beberapa saat." Dia bilang, bikin aku senyum.
"Kamu bakal minta apa buat jaga-jaga?" Aku bakal tanya.
"Ketemu lagi?" Dia bales, jadi aku ketawa ngelihat dia terus pura-pura mukul lengannya.
"Wkwkwk." Aku bilang sambil senyum.
"Aku ambil barang-barang kita aja." Dia bilang terus nepuk pundakku dan masuk ke gua tempat kita nginep.
Banyak banget yang terjadi di permainan ini, dari awal sampe akhir, Berbahaya tapi seru. Aku udah nikmatin tinggal beberapa hari di permainan ini. Kalo bukan karena permainan ini aku gak bakal tau kenapa Zero gak mau menang, juga karena di permainan ini aku ketemu Gelap.
Tapi juga karena permainan ini, Red hilang kepercayaannya sama aku dan aku tau setelah permainan ini, beberapa temenku bakal kecewa, sesuatu yang udah aku siapin.
"Bulan." Aku lihat ke belakang tapi gak ada siapa-siapa, aku ngerasa ada sentuhan ganda di pundakku sesuatu yang bikin jantungku deg-degan. Cuma satu makhluk yang selalu ngelakuin itu dan itu gak lain adalah
"Zero...." Aku panggil pas aku hadepin arah di mana seseorang nyentuh pundakku. Aku senyum lihat dia berdiri di depanku dan senyum sambil masukin dua tangannya ke saku.
"Zero." Aku senyum dan loncat buat meluk dia, aku denger ketawanya yang lemah. Air mata aku langsung ngalir pas aku meluk dia erat.
Aku seneng banget karena aku lihat dia lagi. Aku kira aku gak bakal lihat dia setelah permainan.
"Aku kira kamu gak bakal nunjukkin diri lagi." Aku bilang dan ngelepas pelukan terus nyentuh pipinya, dia senyum tapi aku bisa lihat kesedihan di matanya. Hal-hal yang gak aku ngerti.
"Aku kangen kamu." Aku bilang, dia pegang tanganku sambil megang pipinya dan cium tangan itu.
"Aku cinta banget sama kamu." Dia bilang bikin aku senyum.
"Aku juga cinta banget sama kamu." Aku bilang, aku berhenti pas aku lihat air matanya netes pas tanganku diteken ke bibirnya.
"Kenapa kamu nangis? Kamu gak seneng? Aku bakal kalah di permainan kayak yang kamu bilang." Aku bilang ke dia, dia buka matanya terus narik aku deketin dia dan meluk aku. Dia gak ngomong tapi aku bisa ngerasain dia mengerang pas dia meluk aku.
"Ada apa sama kamu Zero? Kenapa kamu nangis?" Aku tanya. Tapi dia gak jawab.
"Zero--"
"Kamu bakal selalu inget Bulan, bahkan pas aku gak ada di samping kamu, aku selalu ngawasin kamu." Dia bilang sambil meluk aku erat.
"Kamu ngomong apa sih? Setelah permainan kita bakal pergi bareng." Aku bilang, dia lepas pelukan dan ngelihat aku, aku bisa lihat kesedihan di matanya.
"Bulan... Aku nangis banyak banget karena kamu." Dia bilang dan nempelin dahi kita.
"Aku ketawa banyak banget karena kamu, dan aku percaya cinta karena kamu." Dia bilang dan cium dahiku.
"Janjiin satu hal sama aku Bulan." Dia bilang dan pegang dua tanganku terus cium sambil dahi kita nempel.
"Jangan nangis pas mataharinya udah gak ada, Karena air mata gak bakal biarin kamu lihat bintang." Dia bilang yang bikin emosi aku berat, aku gak tau apa yang dia mau sampein di apa yang dia bilang tapi aku tau sesuatu yang buruk bakal terjadi.
"Aku tau, setelah permainan ini. Hutan kamu bakal gelap, pohon-pohon kamu bakal sedih, dan semua kupu-kupu kamu bakal patah sayapnya." Dia bilang sambil nangis.
'Kenapa kamu kayaknya lagi ngomong selamat tinggal sama aku?" Aku gak bisa nahan buat gak nanya dia. Dia cium bibirku, ciuman yang penuh cinta.
Aku langsung bales ciumannya, ciuman yang penuh cinta tapi disertai kesedihan.
"Semoga matamu pergi ke bintang, ke angin jiwamu.... kamu semua warna jadi satu, dan penuh cahaya. Aku cinta kamu Bulan Laureen Venumous." Itu adalah hal terakhir yang dia bilang sebelum dia menghilang. Air mataku terus ngalir dan aku duduk karena lututku masih lemes.
Aku gak tau apa maksudnya, kayaknya dia ngelepasin aku. Aku gak mau mikirin beberapa hal negatif tapi itu terus masuk ke otakku.
"Zero..." Aku nangis nyebut namanya sambil duduk di tanah dan megangin dada. Aku ngerasain hembusan angin yang kenceng, di saat yang sama angin dingin meluk aku yang bikin aku nangis lebih dari yang aku tau kenapa.
"Bulan." Aku abaikan yang manggil, dia langsung ada di depanku dan nyentuh daguku.
"Apa yang terjadi?" Gelap nanya khawatir, air mataku cuma terus ngalir pas aku ngelihat dia.
"Zero.." Itu aja yang aku bilang, dia meluk aku dan akhirnya ikut nangis karena rasa sakit yang aku rasain.
"Permainan terakhir bakal mulai dalam enam puluh detik."