Penutup
Epilog.
Sudut pandang orang ketiga
"Zero anakku, kemarilah." Gak lama, Zero kecil langsung noleh ke Ayah nya pas dipanggil. Sambil senyum, Zero berdiri terus lari ke Ayahnya.
Ini pertama kalinya Ayah nya manggil dia.
"Papa." Zero senyum terus meluk Ayahnya. Ayahnya meluk dia sambil senyum terus gendong dia.
"Gimana hari pangeran kita?" Tanya Ayahnya, Zero nunjuk mobil yang dia pegang terus ngeliat Ayahnya.
"Papa, mobil." Kata Zero, Ayahnya ketawa terus merebut mainannya dari Zero terus nyalain tv terus nunjukin pemain di dalem MLA ke Zero.
"Nanti kalo udah gede, kamu juga harus sekuat itu." Kata Ayahnya jadi Zero ngeliat TV terus turun dari gendongan Ayahnya terus deketin TV.
"Kuat?" Tanya Zero terus noleh ke Ayahnya.
"Iya, kita harus lincah sama pinter biar kita menang." Kata Nyonya Steler sambil senyum jadi Zero ngeliat balik ke TV terus geleng kepala.
"Udah biasa, Mobil." Katanya terus ngambil mainan dari Ayahnya.
"Tuan Steler, Tuan dan Nyonya Mondz udah dateng." Tuan Steler ngeliat ke pembicara, Tuan Steler ngangguk.
"Bawa kesini." Katanya jadi pembicara langsung nurut terus pergi. Tuan Steler ngeliat anak laki-lakinya yang lagi main mobil terus narik napas panjang.
"Cahaya, aku seneng bisa ketemu kamu lagi." Tuan Steler ngeliat ke pembicara, Tuan Steler langsung senyum terus nyapa orang yang nyapa dia.
"Gaze, gak ada yang berubah sama penampilanmu." Kata Tuan Steler terus ngeliat perempuan yang bareng dia.
"Dia Luxia, istriku." Kata Tuan Mondz terus ngambil gandengannya di pundaknya.
"Kamu emang suka cewek ya Gaze, seneng ketemu kamu Luxia." Kata Tuan Steler sambil senyum.
"Ayah, bayi." Mereka semua ngeliat Zero yang lagi ngeliat Nyonya Luxia, Tuan Steler cemberut terus ketawa.
"Nak, gak ada bayi." Kata Tuan Steler terus ngegendong Zero.
"Sebenernya ada." Kata Tuan Mondz ketawa jadi Tuan Steler ngeliat dia.
"Istriku hamil 3 bulan anak kedua kita." Kata Tuan Mondz ketawa jadi matanya membesar terus dia ketawa.
"Beneran? Zero nebak ada bayi di dalem perut istrimu." Kata Tuan Steler ketawa terus nyium anaknya.
"Bulan." Kata Zero jadi Nyonya Luxia ketawa.
"Bulan? Itu yang kamu mau namain dia?" Tanya Nyonya Luxia ke Zero yang langsung ngangguk sambil senyum.
"Jangan dengerin anakku." Kata Tuan Steler ketawa.
"Kalo gitu, lanjutin aja, nanti kalo dia keluar kita panggil dia Bulan." Nyonya Luxia senyum terus nyuruh Zero loncat kegirangan.
~~~
"Zero! Mama mu bakal marah!" Zero cuma ketawa pas dia lari keluar dari Moonlight.
"Tolong bilangin bentar lagi!" Teriak Zero yang umurnya dua belas tahun.
"Zero! Aku serius!"
"Terserah kamu Shadow! Gelap gak bakal ngecewain aku!"
"Kamu dibuli!"
Zero cuma ketawa pas dia lari keluar Moonlight buat ke kota bawahnya.
Matanya membesar karena takjub ngeliat dekorasi yang bagus di sekitar kota.
"Keren." Katanya pas dia ngeliat sekeliling, pas dia gak ngeliat jalannya dia tiba-tiba nabrak seseorang.
"Kamu gak papa?" Dia buka matanya pas orang itu ngomong, dia ngeliat apa yang dia tabrak terus tiba-tiba malu.
"Gak papa." Katanya sambil ngalihin pandangan.
"Kamu anak baru di kota ini?" Tanya cewek itu ke dia.
"G-gak, aku cuma jalan-jalan." Jawaban Zero bikin kaget sambil dia gak bisa ngeliat cewek itu.
"Kelihatannya gitu juga, nama kamu siapa?" Dia nanya Zero.
"Aku Zero, kamu siapa?" Dia nanya ke anak laki-laki itu.
"Namaku Bulan, orang tua kamu di mana?" Bulan nanya dia.
"Jujur, aku emang kabur buat kesini." Kata Zero jadi dahi Bulan berkerut.
"Kamu kabur? Kenapa, mereka nahan kamu?" Tanya Bulan, Zero ketawa terus geleng kepala.
"Gak, aku pengen ngeliat sesuatu di sini. Perayaan itu cuma ada sekali sepuluh tahun." Kata Zero jadi muka Bulan tiba-tiba cerah.
"Maksud kamu, nerbangin lentera?" Tanya Bulan jadi Zero tiba-tiba senyum.
"Iya! Kamu tau jam berapa itu mulai?" Tanya Zero.
"Malam ini, kamu terlalu cepet kaburnya." Kata Bulan jadi Zero cemberut.
"Gitu ya, kamu bisa nerbangin lentera juga?" Zero nanya, Bulan ngangguk.
"Iya, ini pertama kalinya aku nerbangin lentera jadi aku kesini buat beli lentera." Kata Bulan jadi mata Zero membesar.
"Aku juga!" Kata Zero semangat jadi alis Bulan naik.
"Nanti gak dimarahin mama kamu?" Tanya Bulan, Zero langsung geleng kepala.
"Gelap sama Shadow yang bakal urus dia." Kata Zero.
"Kalo gitu, ayo?" Kata Bulan terus ngajak Zero ke toko Lenteranya.
"Kamu juga mau beli?" Bulan nanya pas dia bisa dapet lentera buat dibeli. Zero ngangguk.
"Aku gak punya uang." Katanya jadi Bulan ngintip ke kantongnya terus ngambil perak.
"Nih, bisa buat bayar. Ambil aja yang kamu mau." Kata Bulan bikin mata Zero membesar.
"B-beneran?" Tanya Zero, Bulan ngangguk terus ngeliat ke penjual.
"Nih bayarannya buat apa yang dia ambil." Kata Bulan sambil senyum terus ngasih lentera yang dia pegang ke penjualnya.
Dua orang itu seneng keluar dari toko terus pergi ke dataran tinggi kota.
"Di bawah, Lentera bakal mulai terbang, jadi kita bisa ngeliat mereka di bawah." Kata Bulan terus ngeliat Zero.
"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" Bulan nanya pas dia ngeliat Zero natap dia, Zero geleng kepala.
'Aku cuma mikir, orang tua kamu di mana.' Kata Zero.
"Bohong, yang aku baca di pikiran kamu, berapa umur aku." Kata Bulan bikin mata Zero membesar.
"Kamu bisa baca pikiran aku?" Tanya Zero, Bulan ngangguk.
"Iya, umurku 10 tahun, dan ibuku di rumah." Kata Bulan terus berdiri.
"Mau main dulu gak biar kita gak bosen?" Tanya Bulan, senyum langsung muncul di bibir Zero terus ngangguk.
"Oke!" Kata Zero, dua orang itu main sampe hampir gelap. Mereka nunggu lenteranya dinyalain dan mereka terbangin. Dimulai pas mereka nerbangin lentera mereka bareng terus duduk di rumput terus ngeliatin lentera mereka terbang.
"Keren banget." Kata Bulan sambil ngeliat lentera.
"Iya." Zero ngeliat Bulan yang langsung ngalihin pandangannya.
"Aku harus pergi, mungkin mereka khawatir." Kata Zero terus berdiri.
"Gitu ya? Kapan lagi kamu mau kabur biar kita bisa main?" Tanya Bulan, Zero ngangkat bahu.
"Gak tau, mungkin gak sama sekali atau mungkin sepuluh tahun lagi. Tergantung." Kata Zero jadi Bulan sedih.
"Gitu ya? Oke, hati-hati ya." Kata Bulan terus senyum ke Zero.
"Oke." Kata Zero terus noleh ke Bulan, dia narik napas panjang terus ngadep Bulan lagi.
"Kenapa?" Tanya Bulan ke Zero, Zero cuma senyum terus cepet-cepet ke samping Bulan terus nyuri cium dari dia, bikin Bulan kaget.
"Selamat tinggal!" Kata Zero seneng pas dia lari dari Bulan yang masih kaget.
~~~
"Zero, kamu bakal ikut MLA apapun yang terjadi, kalo kamu gak mau dan kalo kamu mau." Zero cemberut pas denger dari Ayahnya.
"Tapi Ayah, aku gak mau." Kata Zero kesel.
"Kamu pewaris Moonlight, gimana kamu bisa urus sekolah kalo kamu gak ikut permainan sederhana?" Tuan Steler nanya kesel. Zero narik napas panjang.
"Ayah, aku udah bilang aku gak tertarik pas soal permainan itu--"
"Terus kamu tertarik sama apa? Sama mobil? Kamu buang-buang energi buat mobil dan hal yang gak berguna?" Tuan Steler nanya marah.
"Lebih bagus dari pada menangin permainan dan pengen jadi makhluk kuat." Kata Zero, bikin Tuan Steler marah.
"Zero Steler." Pejabat bilang Tuan Steler.
"Saudara, aku yang bakal ngomong sama dia." Laksamana bilang pas dia masuk ke ruangan, Tuan Steler megangin dahinya terus pergi dari ruangan Zero.
"Zero, anakku, dengerin aja Ayahmu." Zero muter bola matanya.
"Kakakmu cuma ngebentuk kemampuanmu buat jadi pewaris Moonlight, inget, semuanya tergantung sama kamu. Masa depan sekolah ini tergantung sama kamu." Kata Laksamana.
"Tapi aku gak mau."
"Zero, kamu gak mau buktiin ke Ayahmu kalo kamu bagus? Ini kesempatannya." Laksamana bilang jadi Zero narik napas panjang.
"Kamu bisa buktiin ke Ayahmu kalo dia salah mikirin kamu." Kata Laksamana.
"Kenapa kamu selalu ngikutin dia? Kamu gak dengerin sisi aku." Kata Zero pas dia noleh di depan jendela.
"Demi kamu kita mikir Zero." Kata Laksamana terus nyamperin keponakannya.
"Kamu satu-satunya pewaris semua kesulitan Steler. Makanya kita peduli sama kamu." Kata Laksamana terus meluk keponakannya. Napa pikit si Zero.
"Jadi ikut sekarang, aku denger Gelap sama Shadow bakal ikut." Laksamana bilang sambil senyum jadi Zero nelen ludah terus ngangguk.
"Oke." Kata Zero meskipun dia cuma dipaksa.
~~~
"Apa? Cewek yang kamu impiin?" Tanya Hydro.
Zero ngangguk.
"Aku nyari dia di Moonlight tapi aku gak nemuin dia." Kata Zero terus ngeliat ke langit.
"Terus siapa itu?" Hydro nanya kaget sambil ngeliat ke depan.
"Aku juga gak tau." Kata Zero terus narik napas panjang.
"Mungkin cewek itu udah lama mati? Atau mungkin itu bagian dari imajinasimu?" Katanya jadi Zero ngeliat dia.
"Gitu ya?" Zero nanya, ngangguk.
"Iya, gak mungkin kamu ngimpiin seseorang yang gak kamu kenal dan liat, mungkin itu bagian dari imajinasi kamu atau kehidupan kamu sebelumnya." Katanya jadi Zero ketawa
"Gimana kalo dia hidup dan nyata?" Zero nanya
"Eh, mungkin kamu orang yang ditakdirkan." Katanya jadi Zero senyum.
"Aku bakal nyari dia." Kata Zero terus duduk. Hydro ketawa terus nonjok Zero.
"Kita bahkan gak tau kalo dia hidup." Kata Hydro terus ngeliat matahari terbenam.
"Tapi lanjutin aja, aku bakal dukung kamu." Katanya terus senyum ke Zero.
~~~
Bulan berdiri sambil ngeliat Moonlight yang kacau, dan gak berwarna, ini pertama kalinya dia bisa ke Moonlight yang udah rusak.
Setelah apa yang terjadi, seminggu yang lalu, ini pertama kalinya dia kesini.
Gak kayak pas dia pertama kali dateng kesini, Moonlight gak bernyawa dan gak berpenghuni, sekelilingnya sepi dan cuma udara dingin yang bisa dirasain. Kota hantu kayaknya udah jadi sekolah populer.
Dalam seminggu, judul beritanya semua tentang berita Moonlight, Tuan Steler ditangkap dan dihukum mati karena katanya ngelakuin keluhan ke murid yang belajar disini.
Nyonya Steler, di sisi lain, gak punya pengetahuan tentang apa yang bakal dilakuin Tuan Steler.
Bulan narik napas panjang terus ngeliat gerbang kedua Moonlight.
"Baru seminggu tapi gerbang Moonlight udah langsung berkarat." Bulan ngeliat ke pembicara, Gelap. Di belakangnya ada Ice, Cloud, Star dan Terbang.
"Karena sihir yang ngebungkusnya udah hilang, makanya." Kata Terbang terus mulai jalan masuk.
"Sihir? Ada sihir yang ngebungkusnya." Kata Star terus masuk ke dalem gerbang Moonlight.
"Sihirnya Laksamana, dia ngerawat suasana yang bagus." Kata Terbang terus ngeliat ke arah Bulan.
"Aku mau jalan-jalan aja, kita ketemu di mobil aja ya." Katanya jadi mereka ngangguk Bulan, Gelap ngeliat kelakuan Bulan.
"Kamu juga mau jalan-jalan?" Tanya Gelap. Bulan ngangguk jadi Gelap senyum.
"Oke, kita ketemu di mobil aja." Kata Gelap terus ngebelakangin Bulan, Bulan mulai jalan ke arah fasilitas yang rusak yang dulu jadi rumah temen-temennya.
Keliatan beda banget dari sekarang, jendelanya pecah dan dalemnya kacau. Bulan narik napas panjang sebelum masuk ke pintu fasilitas yang rusak.
Dia ngeliat sekeliling dan inget hal yang seharusnya mereka barengin.
"Oh, kamu mungkin masih laper sama itu Bulan ha." Shadow ngejek lagi.
"Aku malu buat nampar kamu." Bulan balik.
"Kalian tau gak sih, itu pas debu mulai di rumah kita," Kata Star terus ngambil gigitan hotdog yang dia pegang.
"Genit." Red bilang sekali terus muter bola matanya
"Cloud, kamu bakal makan juga." Shadow ngejek Red. Alis Red naik sementara Cloud cuma melototin Shadow.
"Ikutin Shadow!" Star teriak pas tangan kirinya diangkat di udara.
"Fuck HAHAHAAHAHAH."
Senyum Bulan muncul pas dia inget memori yang udah mereka lakuin sebelumnya. Bulan naik ke lantai dua yang dulu kamar cewek.
Semuanya keliatan balik normal pas Bulan ngeliat kamar Red dan Hujan dan keliatannya dua orang itu masih berantem karena sesuatu, dalam sekejap lingkungan berubah lagi dan balik ke keadaan kacau.
Bulan terus pergi ke ruang latihan sampe dia mendarat di atap fasilitas tempat mereka pertama kali piknik bareng Zero.
Bulan senyum pas dia ngeliat tempat itu.
"Oi itu punya gue."
"Minta aja pahitnya."
"Kamu ah, itu ciuman gak langsung."
A/n: puter Infinity by Jaymes Young
Bulan narik napas panjang pas dia inget memori dia sama Zero, Bulan ngeliat ke langit terus senyum.
"Bulan." Dia kaget denger suara itu, semua memori kayak balik lagi dari pertama kali dia ketemu itu sampe bilang selamat tinggal.
Dia noleh ke belakang tapi gak ada orang di sana, di sana hatinya mulai berdetak lebih cepet karena dia tau cuma satu orang yang ngelakuin itu ke dia.
Hatinya berdetak lebih cepet pas seseorang nyentuh dia dua kali, dia nelen ludah dan air mata mulai terbentuk. Dia pelan-pelan ngeliat siapa yang nyentuh dia dan di sana air matanya mengalir pas dia ngeliat Zero senyum ke dia sambil bawa bunga.
"Z-zero..." Bulan manggil, Zero nyamperin dia dan ngasih bunga yang dia pegang.
Bulan yang nangis ngeliat bunga yang dibentangin di depannya sebelum dia nerima itu.
"Zero..." Dia manggil namanya pas dia nerima bunganya. Zero senyum ke dia terus ngeliat langit.
"Makasih." Kata Zero sambil ngeliat ke langit.
Bulan masih gak bisa ngomong, karena udah lebih dari sebulan sejak terakhir dia muncul ke dia.
'Makasih udah ngelaksanain permintaan gue. "Zero bilang terus ngeliat Bulan.
"Aku kira... Kamu gak bakal nunjukin aku lagi." Kata Bulan terus tiba-tiba meluk Zero, Zero senyum terus meluk Bulan.
"Aku ngawasin kamu, aku tau setiap gerakanmu, kamu bahkan gak bisa ngeliat aku, tapi aku bisa ngeliat kamu." Kata Zero terus noleh ke Bulan terus ngapus air matanya.
"Sekarang, semuanya udah selesai, berantakan udah selesai, aku bisa istirahat dan aku bakal tenang, bareng mereka Shadow, Hujan dan Red." Kata Zero terus benerin rambut Bulan.
"Kenapa... Kenapa kamu gak balik lagi kesini buat bareng aku?" Bulan nanya, Zero senyum ke dia terus narik napas panjang.
"Karena aku tau ada hal lain yang cocok buat kamu dan bakal ngerawat kamu dan gak nyakitin kamu." Kata Zero terus meluk Bulan lagi.
"Apapun yang terjadi, kamu masih satu-satunya Bulan di dunia ku." Kata Zero terus nyium dahi Bulan.
"Sekarang, ini terakhir kalinya kita bakal ketemu, ini tempat semuanya bakal berakhir Bulan, makasih udah nyelesaiin semuanya." Zero senyum terus megangin tangan Bulan.
"Kamu bebasin seluruh Moonlight, juga aku." Dia nambahin terus nyium kedua tangan Bulan. Bulan gak bisa ngomong, yang bisa dia lakuin cuma nangis sambil ngeliat Zero.
"Hoi Bulan! Udah waktunya pergi!" Mereka berdua ngeliat orang yang teriak di dagu. Gelap, ngeliat Bulan, Bulan ngeliat Zero yang pelan-pelan menjauh dari dia sambil senyum.
"Aku perlu..." Bulan bilang pergi dan ngapus air matanya terus senyum ke Zero.
"Aku punya banyak... Aku belajar pelajaran dari kamu, makasih udah jadi bagian hidupku." Bulan bilang ke Zero sambil senyum. Zero senyum terus narik napas panjang terus ngeliat matahari.
"Waktunya bakal dateng, kita bakal jadi pahlawan cerita lain." Kata Zero terus ngeliat Bulan, Bulan senyum terus meluk Zero lagi.
"Bahagia ya... Aku cinta kamu." Zero bisik terus nyium Bulan lagi.
Terus meluk satu kali terakhir.
"Aku cinta kamu." Zero bisik pas dia meluk Bulan, Bulan senyum terus ngeliat mata Zero, air mata Bulan netes dan nyentuh pipi Zero.
"Aku cinta kamu." Bulan bisik pas air matanya mengalir, Zero senyum terus pelan-pelan ngelepas Bulan.
Bulan mulai jalan pergi dari Zero, Zero senyum dan ngeliatin Bulan sampe dia ngilang dari pandangannya.
Angin dingin yang kuat berhembus sebelum dia ngeliat matahari terbenam.
"Sekarang, aku bahagia, karena Bulanku udah nemuin Dunia baru buat ngebahagiain dia." Zero yang senyum bilang di pikirannya terus ngeliat Gelap yang nunggu Bulan keluar dari fasilitas tua.
Zero senyum pas Gelap mukul Bulan.
"Sampe jumpa lagi, Bulan."
~~ Selesai. ~~