Cinta Ibu
POV Hujan
*Setelah GAME MLA. Markas Besar Cahaya Bulan di Arena.
Kita semua diam sambil membungkuk, cuma tangisan Terbang dan Gelap yang kedengaran sementara mayat Hydro dan Zero diletakkan di depan kita. Aku menurunkan telapak tanganku sambil menatap mayat Zero.
Untuk pertama kalinya, Cahaya Bulan kalah dari MLA. Castro menang. Aku menurunkan telapak tanganku, aku gak peduli kalau aku bunuh Zero kalau akhirnya kita juga kalah.
"A-anakku di mana..." Kita semua langsung menoleh ke pembicara dan baru masuk pintu, aku tiba-tiba deg-degan pas lihat Nyonya Steler dan di belakangnya ada Tuan Steler yang ngeliatin kita bertiga, mereka adalah Admin dan Laksamana yang gampang banget jalan ke samping mayat Zero.
"Zero, anakku!" Aku nutup mata pas denger Nyonya Steler merintih sambil meluk mayat Zero. Isak tangis Nyonya Steler diiringi tangisan Admin dan Laksamana. Tiba-tiba air mata gue ngalir karena apa yang gue saksikan sekarang.
"Maaf." Bisikku, aku kaget pas Shadow megang tangan gue, aku natap dia. Dia ngeliatin gue dan geleng-geleng, seolah bilang ini bukan salah gue dan Gelap yang salah, gue tiba-tiba ngerasa berat. Gue liatin Nyonya Steler nangis lagi sambil meluk mayat Zero.
Kenapa gue gak mikir kalau seorang ibu nunggu anaknya balik? Kenapa gue gak mikir kalau Nyonya Steler nunggu Zero keluar.
Gue mengepalkan tangan dan duduk terus nangis.
"Zero, anakku." Gue liatin Nyonya Steler manggil Zero dan meluk anaknya. "Mama tunggu kamu keluar ya." Kata Nyonya Steler sambil meluk Zero. Gue lihat senyum Zero di bibirnya saat meluk ibunya.
"Aku janji, kita bakal keluar dari game ini sepenuhnya." Kata Zero dan natap ibunya. "Kalau game-nya selesai, janji sama aku kalau Gelap dan Hydro bikinin kita pai apel." Kata Zero sambil senyum, Nyonya Steler ketawa dan ngacak-ngacak rambut Zero.
"Asal kamu baik-baik." Kata Nyonya Steler, Zero ngangguk dan natap Gelap pas Gelap manggil dia.
Gue buang muka dan lihat Shadow dan Red natap gue.
"Maaf ya..." Ucapku sambil nangis dan ngeliatin arah Nyonya Steler dan Zero. Seolah hati nuraniku ngebunuh gue saat liat tingkah Zero dan Nyonya Steler.
Katanya, salah satu yang paling menyakitkan bagi seorang ibu adalah melihat anaknya meninggal. Gue ngerasain sakit yang dirasain Nyonya Steler sekarang, gue takut kalau dia tahu kalau gue bunuh anaknya dia bakal bunuh gue.
"S-siapa yang ngelakuin ini ke... a-anakku?" Lemah tapi penuh amarah Nyonya Steler bertanya.
Gue, pengen bilang itu tapi gue tahu Red dan Shadow gak bakal biarin gue ngelakuin itu. Nyonya Steler ngeliatin kita, matanya bengkak saat dia berbalik ngeliatin kita. Gue bisa lihat rasa sakit dan kebencian di matanya.
"SIAPA?!" Teriak Nyonya Steler.
"Gue gak tahu."
"Itu Gelap."
Kita natap Shadow di saat yang sama pas mereka ngomong ke Gelap, gue natap Gelap yang kaget dengan apa yang Shadow bilang.
"W-apa?" Tanya Gelap kaget sambil ngeliatin arah Shadow, gue cuma diem sambil membungkuk.
"Lo sama dia kan?" Gue denger Shadow nanya ke Gelap.
"G-gue sama dia tapi gue gak bunuh dia." Bingung dan dengan suara parau kata Gelap.
"Pembohong!" Teriak Shadow jadi gue natap dia.
"Gue sama Red bisa lihat gimana caranya lo nusuk Zero pake panah yang lo pegang." Kata Shadow jadi gue natap Gelap dengan mata lebar dan jelas gak ada yang tahu apa yang terjadi.
"Gak mungkin apa yang lo bilang." Kata Terbang.
"Bener apa yang gue bilang." Kata Shadow dan ngeliatin Nyonya Steler yang lagi natap Gelap.
"Itu gak bener Nyonya Steler, aku gak bisa bunuh temenku." Nangis Gelap sambil berbalik natap Nyonya Steler.
"Kita lihat lo Gelap, apa lo masih mau menghargainya?" Tanya Shadow.
"Kenapa lo nyalahin gue? Lo gak punya cukup bukti buat nyalahin gue Shadow apalagi lo gak punya bukti kuat buat bilang gue bunuh dia. Kalo lo mau ke tempat di mana Zero dan gue pergi, kenapa lo gak bantu kita buat bunuh musuhnya?" Tanya Gelap sambil nangis.
Gue natap Shadow.
"Lo gak punya lawan, Gelap." Red berkata lembut jadi gue natap dia, gue menurunkan telapak tangan gue dan natap lagi ke Gelap yang melemah karena apa yang terjadi.
"Cuma lo dan Zero di sana." Red nambahin.
"Gimana kita mau ngedeketin lo kalo kita lihat gimana lo bunuh Zero?" Kata Shadow dan ngeliatin saudaranya.
"Bukankah panah lo mengarah ke belakang Zero?" Shadow nambahin jadi gue natap panah yang diletakkan di meja, dari tempat gue duduk gue lihat desain panahnya, gue nelan ludah.
Gue inget ngambil panah Gelap buat berharap bisa dipake dalam kasus Castro yang gak berlanjut karena kedatangan Velandra yang tiba-tiba.
Gelap diam sambil natap saudaranya.
"Gue bisa buktiin gue gak ngelakuin apa-apa ke Zero." Kata Gelap dengan suara bergetar dan ngeliatin Nyonya Steler.
"Keluar." Tuan Steler berkata lembut ke Gelap. Gelap natap Nyonya Steler.
"Nyonya Steler--"
"Ambil barang-barangmu." Kata Nyonya Steler dingin dan natap Gelap.
"Mulai sekarang kamu bukan Murid Cahaya Bulan lagi." Dia nambahin dan mencium kening anaknya.
Gue minta maaf.