Terbang
Suasana sepi, lorong damai, aku senyum dan mulai jalan ke Kamarku di Asrama Cahaya Bulan.
Sejak Game-nya selesai, kita nggak lagi di Fasilitas, mereka kasih kita nomor asrama sendiri.
Aku langsung buka kamarku dan senyum ngelihat ukurannya. Aku sendirian di sini, nggak ada teman.
Aku masuk dan lihat-lihat. Ukurannya sama kayak kamar aku di Fasilitas, bedanya cuma kamar ini ada dapur sama kamar mandinya.
Aku duduk di kasur empuk di sampingnya terus rebahan, aku lihat langit-langit kamar aku dan mulai meditasi.
Banyak banget yang terjadi sejak aku masuk Cahaya Bulan. Aku nggak nyangka ini bakal terjadi tapi aku masuk sekolah yang terkenal banget.
Setelah percakapan aku sama Laksamana dan Admin kemarin, aku nggak ketemu murid Cahaya Bulan yang berantem sama aku, kayak semuanya balik normal dalam sekejap, aku bisa jalan normal tanpa ada yang ngelempar telur atau ngumpat ke aku.
Tapi mereka Red, aku masih belum bisa ngobrol sama mereka sejak kemarin, aku juga nggak lihat mereka, sesuatu yang bikin aku kaget. Apa mereka ngehindarin aku?
Tiba-tiba Zero muncul di pikiran aku, aku ngerasa sakit lagi pas inget apa yang dia bilang ke aku di Game MLA terakhir. Makanya dia kayak ngomong selamat tinggal karena itu beneran terakhir kali aku ketemu Zero.
Aku nggak nyangka dia udah lama mati, buat aku dia biasa aja, sejak pertama kali aku lihat dia di kantor Laksamana.
Kening aku berkerut, kalau Zero udah lama mati, kenapa dia masih muncul ke aku waktu itu? Aku juga selalu lihat dia di area terlarang gedung Steler.
Aku langsung duduk dari kasur tempat aku mau rebahan terus lihat ke cermin di depan aku, mata aku menyipit sambil ngelihat bayangan aku, kenapa aku ngerasa aneh di area terlarang itu?
Aku langsung bangun dan keluar dari kamar, aku keluar dari gedung asrama terus jalan ke sisi seberang gedung Steler. Sambil jalan aku perhatiin murid-murid ngehindarin aku seakan aku makhluk serem.
Aku ngelihat ke atas ukuran Gedung Steler, Ada apa di gedung ini? Kenapa semua murid Cahaya Bulan dilarang masuk ke sini?
"Kamu ada rencana mau masuk?" Aku lihat pembicaranya dari belakang aku, kening aku berkerut pas ngelihat Terbang berdiri di belakang aku sambil ngelihat aku dengan seringai di bibirnya.
"Kamu di sini?" tanya aku, dia ketawa dan nyamperin aku.
"Emang aku nggak boleh di sini?" tanyanya dan ngelihat ke gedung Steler.
"Kamu mikir apa yang ada di dalam gedung itu?" tanyanya dan ngelihat aku lagi. Aku buang muka karena ngerasa aneh sama dia, kenapa aku kayak dia tahu apa yang ada di dalam.
"Aku cuma lewat doang ke sini."
"Kamu dari mana?" tanyanya dengan senyum di wajahnya. 'Kamu baik-baik aja di asrama kamu?" tanyanya dan ketawa.
Aku cuma natap dia dan mulai jalan ngejauh dari dia dan gedung Steler pas dia ngomong.
"Kayaknya kamu nggak sebodoh itu buat setuju sama yang Laksamana mau, kan?" tanyanya menghentikan aku, aku noleh ke dia dan lihat dia balik badan ngejauh dari aku.
Dia tahu kita ngomongin Laksamana?
dia ngelihat aku dengan senyum di wajahnya.
"Karena kalau iya, kamu terlalu bodoh buat ngelakuin itu." Aku turunin telapak tangan aku pas aku balik ngelihat dia.
"Kamu rekam game-nya terus kamu bantu mereka, apa yang bakal Zero bilang kalau dia lihat kamu sekarang." katanya yang ganggu aku.
Aku nyamperin dia dan ngelihat dia serius di matanya.
"Kamu nggak tahu apa-apa." kataku yang ketawa keras ke dia, aku cuma ngelihat dia ketawa sampai selesai dan mulai ngelap air mata yang netes dari matanya lucu.
"Kamu bikin hari aku terlalu bagus Bulan." katanya dan nyilangin tangannya.
"Dibanding kamu, aku tahu banyak yang kamu nggak tahu." katanya terus nunjuk gedung di belakang dia.
"Apa yang ada di dalam itu aku tahu juga." katanya sambil balik badan senyum bodoh ke aku.
"Semua yang aku tahu Bulan, Apalagi bau busuk Cahaya Bulan." katanya serius menghentikan aku, dia senyum ke aku dan nepuk bahu aku. "Aku perhatiin kamu kehilangan sesuatu." katanya yang bikin dia berkerut ke aku.
"Kamu nggak ngerasa sakit sekarang? Aku nggak bakal kaget." katanya.
"Ngomong-ngomong, lima sampai tujuh hari dari sekarang, murid baru bakal pindah ke sini." katanya dan nyamperin aku terus berbisik.
"Kelihatan lebih seru kalau aku nggak bilang siapa. Tapi lebih seru lagi apa yang bakal terjadi sebelum akhir tahun ajaran." katanya dan ngelihat aku bodoh.
'Buka Mata kamu Bulan, musuh asli kamu ada di samping kamu." katanya bermakna sebelum ninggalin aku sendirian di sini di depan gedung, aku lihat jalan yang udah Terbang ambil.
Musuh asli aku ada di samping aku.
Aku lihat lagi ke Gedung Steler. Aku narik napas dalam-dalam terus jalan pergi dari sana.
Sambil jalan aku mikirin apa yang udah Terbang bilang ke aku. Kalau dia tahu apa-apa, mungkin dia bisa bantu aku.
"Bulan." Aku noleh ke pemanggil dan ngelihat Hujan ngos-ngosan sambil di depan.
"Aku nyariin kamu dari tadi." katanya dan nyamperin aku terus megang tangan aku.
"Ayo, Laksamana nyuruh kamu ke aku." katanya.
"Apa yang terjadi sama kamu?" tanya aku sambil ngelihat dia.
"Aku ngelihat kamu berdiri di depan gedung Steler terus aku panggil kamu tapi kamu nggak nengok jadi aku lari aja." katanya dan kita mulai jalan ke kantor Laksamana.
"Kamu ngomongin apa?" tanyanya tiba-tiba jadi aku ngelihat dia.
"Siapa?" tanya aku, dia ngelihat aku. "Laksamana lah." katanya jadi aku buang muka.
"Itu nggak penting lagi." kataku sambil jalan.
"Cuma bisa bertanya-tanya." katanya makanya aku berhenti jalan, jadi dia hadapin aku.
"Murid-murid hampir ngebunuh kamu di sini kemarin, dan sekarang Cahaya Bulan kayak kota hantu yang super sepi." katanya, aku cuma senyum ke dia dan megang tangannya.
"Ini buat mereka." kataku yang bikin dia berkerut.
"Buat mereka?" tanyanya, aku cuma senyum ke dia terus satukan telapak tangan kita dan jalan lagi ke kantor Laksamana.
"Buat mereka apa?" tanyanya, aku noleh ke dia.
"Kamu bakal tahu juga." kataku, kita masuk kantor Laksamana bareng.
"Kamu manggil aku?" tanya aku, Admin ngelihat kita dan senyum.
"Iya, Hujan, kamu bisa tinggalin kita sekarang." kata Laksamana jadi Hujan ngelihat aku khawatir. Aku cuma kasih kode ke dia kalau semuanya bakal baik-baik aja jadi dia ninggalin aku sama mereka Laksamana dan Admin.
Laksamana senyum ke aku dan kasih isyarat buat aku duduk.
"Kita punya kabar baik buat kamu Bulan." Katanya dan duduk di depan aku, dia ngelihat Admin yang duduk di sebelah aku.
"Hasreffa mau ke sini." kata Admin, berkerut ke aku. Itulah yang Dark bilang ke aku kalau pemenang MLA mau ketemu buat nanya.
Laksamana ngambil sesuatu dari bawah mejanya dan ngasih ke aku, berkerut pas aku lihat daftar murid baru Cahaya Bulan dan dari bawahnya tertulis nama Dark. Aku ngelihat dia.
dia senyum di bibirnya.
"Hasreffa bareng Dark yang mau ke sini Bulan." kata Admin dan ngambil dari aku daftar yang aku pegang.
"Ini waktu yang tepat buat ngelakuin rencana kita Bulan." Kata Laksamana dan megang tangan aku.
"Salah satu kekuatan kamu adalah ngendaliin pikiran, pas kita ada pesta sama Hasreffa aku bakal bawa kamu buat ngendaliin apa yang dia pikirin." Kata Laksamana menghentikan aku.
"Kamu bakal nyuruh dia buat hidupin Zero dan--"
"Tunggu, apa aku mikir cuma Dark yang bakal pindah?" tanya aku, mereka berdua saling pandang dan membungkuk. Aku berkerut pas ngelihat air mata Laksamana berlinangan.
"Aku kira kamu mau bantu kita buat Zero hidup lagi?" tanya Laksamana dan narik napas dalam-dalam terus lepasin tangan aku.
"Kamu nggak mau bareng Zero lagi Bulan?" tanya Admin jadi aku ngelihat dia.
"Mau." kataku.
"Bener banget, kita juga mau bareng Zero Bulan, jadi kita minta bantuan kamu buat ngendaliin pikiran Hasreffa buat hidupin Zero, terus kita bakal lepas Dark ke kamu." Kata Laksamana dan senyum tipis ke aku.
"Kamu bisa hidupin Zero dan bareng dia, kamu bahkan bisa balas dendam ke orang yang bunuh dia." Kata Laksamana jadi aku nelen ludah.
"Aku belum terlalu jago pake kekuatan aku." kataku, Admin senyum ke aku.
"Kita bakal ajarin kamu Bulan, kita bakal asah kekuatan kamu." kata Admin senyum.
Aku cuma senyum balik ke dia terus buang muka.