Panah
Sudut Pandang Star
Aku bangun pagi-pagi, nggak nyadar kalau kita ketiduran di ruang tamu. Aku senyum pas inget gimana kita ketakutan semalam, kita nonton acara serem banget jadi di ruang tamu kita semua tidur.
Aku satu-satunya yang bangun. Aku ambil selimut di sebelahku dan meluk Hujan dengan lembut, aku senyum pas liat dia tidur nyenyak.
Baru aja mau keluar dari Fasilitas, aku berhenti karena denger suara berisik di dapur, aku manyun dan jalan ke dapur tempat aku denger suara itu tapi pas sampe nggak ada siapa-siapa.
Hanya tumpukan cucian piring yang ada di sana, aku celingak-celinguk dan liat kotoran di seluruh Fasilitas.
Aku jalan keluar dari fasilitas lagi pas bisa liat Laksamana Kepala dateng ke sini jadi aku langsung lari ke temen-temenku yang lagi tidur.
"Guys bangun!" teriakku tapi mereka cuma bergerak dan tidur lagi.
"Sialan!" kataku dan ambil dua tutup panci di dapur terus ngebunyiinnya.
"Apaan sih?!" Red nanya kesel.
"Bangun cepetan, Laksamana Kepala sama Admin Kepala dateng!" teriakku biar mereka bangun cepet.
"Dapur! Woi Star, beresin!" Ice teriak ke aku.
"Biar aku yang urus." Bulan merengek jadi aku ngangguk dan bantu Hujan beresin kasur kita, Red ngelap meja dan Shadow ngambil barang-barang berantakan dan Ice nyapu.
Aku ngintip dari jendela dan liat mereka udah deket Laksamana Kepala.
"Mereka dateng!" teriakku, pintu tiba-tiba kebuka dan pas temen-temenku nyamperin aku, mereka udah selesai. Inget Bulan nelen aku, dia lagi nyuci piring dan aku tau bakal lama buat dia nyuci semua piring
"Selamat pagi murid-murid." Kata Admin Kepala.
Laksamana Kepala manyun.
"Ada yang ilang, Bulan mana?" tanya Laksamana Kepala, bikin kita semua saling pandang.
"Dia di dapur." Aku gagap, mata Laksamana Kepala menyipit ke kita terus jalan ke dapur. Kita hampir keabisan napas pas nyamperin dapur tapi kita juga langsung nghela napas lega pas liat dapur bersih, sesuatu yang bikin aku penasaran.
Sebelumnya berantakan banget, nggak mungkin dia bisa langsung beresin dapur.
Pas Laksamana Kepala liat Bulan, dia nyuruh kita siap-siap karena latihan kita mau mulai.
Aku masih nggak percaya karena pas aku liat dapur berantakan dan penuh barang, tapi sekarang nggak ada yang bisa lacak kekacauan itu.
Pas kita sampe di ruang Latihan kita dikasih waktu buat ambil senjata, aku langsung ambil inisiatif buat ambil senjata, aku langsung ambil Tongkat Emas yang ujungnya meruncing. Aku liat Bulan megang busur Zero.
Dahiku berkerut, pas dia ambil anak panah dan ngelepasnya. Anak panah itu berubah jadi Lima, aku nelen ludah. Dia bisa megang busur Zero.
Aku langsung nyamperin Shadow.
"Shadow." Aku manggil jadi dia nengok ke aku.
"Liat Bulan." Kataku jadi dia liat Bulan.
"Kenapa?" Dia nanya.
"Dia megang anak panah Zero." Kataku jadi dia liat Bulan lagi dan liat aku.
"Emangnya bener nggak ada dari kita yang bisa megang busur itu jadi kita nggak bisa nembak." Kataku. Dia liat aku.
"Mungkin cuma kebetulan anak panahnya milih dia." Katanya, aku geleng-geleng kepala.
"Cuma Zero yang milih busurnya. Busur dan anak panahnya punya pikiran sendiri." Kataku.
"Zero satu-satunya yang megang busur itu, makanya pas hari api mati, butuh sepuluh orang lagi buat ngangkatnya." Kataku Shadow liat aku dan nepuk pundakku.
"Lo mulai paranoid lagi, udah deh." Katanya jadi aku kaget.
"Gue nggak paranoid oke, gue cuma bilang mungkin Bulan kesurupan." Kataku. Dia ketawa dan liat aku.
"Kalo dia kesurupan pasti ada hal-hal yang dia lakuin yang bakal nyakitin kita." Shadow bilang terus ngebelakangin aku.
Aku cuma manyun dan liat lagi ke Bulan yang lagi liatin anak panah.