Fasilitas
Ukuran tempat yang lagi gue injek sekarang bikin melongo, kayaknya ini sekolah swasta kecil gitu ukurannya. Dari barang-barang mahal yang ada di sini, gue bisa ngerasain ego gue kesentuh pas merhatiin ukuran, luas, dan keindahan tempat ini. Temen-temen gue pada duduk di sofa panjang di depan televisi layar datar yang gede banget. Kayak bioskop, segede ini TV-nya. Laksamana Kepala bilang kamar kita ada di lantai tiga dan dua. Kamar cewek di lantai dua fasilitas ini, sedangkan kamar cowok di lantai tiga. Ada juga Elevator di samping karena katanya Fasilitas ini punya enam lantai.
"Bulan." Gue noleh pas dipanggil, tapi gak ada siapa-siapa di belakang gue. Terus ada yang nyentuh gue dari belakang, pas gue nengok, eh ternyata Zero lagi senyum. Gue ada di dapur Fasilitas ini karena lagi jalan-jalan keliling seluruh Fasilitas.
"Zero, bagus deh lo di sini. Lo kaya banget." Kata gue sambil ngeliatin lagi seluruh dapur, segede kamar hotel, jadi dapurnya emang luas banget.
"Seragam Moonlight cocok buat lo." Dia bilang gitu, makanya gue senyum dan ngeliatin dia.
"Makasih." Kata gue.
"Lo makin cakep." Dia bilang gitu, entah kenapa tiba-tiba detak jantung gue jadi cepet dan pipi gue panas.
"T-makasih." Gue gagap dan buang muka.
"Bulan." Zero dan gue noleh ke orang yang manggil, ternyata Shadow.
"Laksamana Kepala nyariin lo, ada yang mau dia omongin." Katanya.
"Lagi ngapain lo di sini?" tambahnya.
"Cuma jalan-jalan doang." Kata gue.
"Curiga, lo udah laper aja." Kata dia sambil ngakak.
"Hoi, nggak ah. Yuk, cabut. Ze--" Gue belum selesai ngomong, tiba-tiba dia udah ngilang.
"Terus gimana?" Shadow nanya. Gue ngeliatin Shadow, dan di situ gue ngelihat Zero di belakang dia, ngasih isyarat buat kita ke ruang tamu.
"Yuk, cabut." Kata gue dan jalan duluan.
"Hoi, pecundang HAHAHHA!" Shadow manggil gue. Gue diemin aja dan langsung duduk di samping Hujan.
"HAHAAH gue lihat Bulan di dapur, udah laper aja." Kata Shadow.
"Baru aja makan beberapa menit lalu, sekarang udah laper lagi?" Hujan nanya ke gue.
"Hoi, nggak ah, cuma jalan-jalan doang." Kata gue sambil ngeliatin Zero yang lagi di samping Laksamana Kepala.
"Mungkin besok lo udah mulai latihan." Kata Laksamana Kepala.
"Nah, Laksamana Kepala dan gue udah sepakat, karena lo mulai latihan besok, kita cuma bakal kirim guru ke sini buat ngajarin lo mata pelajaran." Kata Admin Kepala.
"Bukan berarti lo mau ikut game. Bukan berarti lo nggak belajar lagi. Sebagai murid Moonlight, kita nggak cuma pake kekuatan mentah. Kita juga harus pake logika di setiap tindakan yang kita ambil, apalagi lo karena lo bakal berantem di game." Kata Laksamana Kepala.
"Kita mau kasih tau lo, pas lo main game, lo juga harus pake bakat dan kekuatan lo. Soalnya malu banget kalo Moonlight kalah." Kata Admin Kepala.
"Kalo malu ngalahin Moonlight, kenapa lo nyari dua makhluk tambahan buat ngalahin kita di game?" Pertanyaan filosofis Red. Gue cuma buang muka pas Zero tiba-tiba ngeliatin gue.
*"Anggap aja cewek itu nggak ada."* Kata Zero di pikiran gue, gue cuma ngangguk.
"Hoi cewek rambut merah, coba lo nilai kita kalo lo emang makhluk paling kuat di dunia ini." Cloud bilang, dia malah mancing Red.
"Beneran ---"
"Emang lo nggak mau diem Red? Kita bakal terpaksa masukin lo ke Penjara Bulan." Laksamana Kepala bilang gitu, Red langsung diem dan nggak bersuara.
"Mungkin waktu lo bakal dibagi, pagi lo latihan, pas siang lo belajar." Kata Admin Kepala.
"Ada pertanyaan lagi?" Admin Laksamana Kepala nanya. Kenapa Zero misah dari kita? Harusnya dia sama kita dong? Gue mau angkat tangan buat nanya, tapi Zero udah bilang di pikiran gue.
*"Soalnya orang tua gue nggak mau gue sama orang lain. Yang mereka mau cuma gue ada di gedung dan latihan di sana."*
"Bulan, ada pertanyaan?" Laksamana Kepala nanya gue, gue ngeliatin kebiasaan Zero yang geleng-geleng, jadi gue ikut geleng juga.
"Kalo gitu, lo bebas keliling seluruh Fasilitas, terus bebas ngelakuin apa yang lo mau. Gue cuma mau nyuruh lo tidur cepet aja sekarang, biar badan lo bisa istirahat yang lama," Laksamana Kepala bilang gitu, kita ngangguk.
"Kita balik ke kantor karena masih banyak yang harus dikerjain." Kata Admin Kepala.
"Makasih." Kata gue sambil senyum, mereka juga senyum ke gue sebelum keluar dari fasilitas.
"Eh, tunggu bentar gue duluan!" Star teriak ke mereka yang sekarang udah di Elevator.
"Lo Bulan?" Ice nanya gue. Gue geleng.
"Gue keliling chin dulu aja." Kata gue. Red natap gue dulu sebelum dia nutup pintu Elevator. Sekarang, tinggal Zero dan gue doang di ruang tamu.
"Jam berapa lo pulang ke gedung lo?" Gue nanya. Dia duduk di sofa depan gue terus loncat ke sana.
"Nanti, pas udah selesai keliling Fasilitas ini." Dia bilang gitu, gue senyum.
"Mau jalan-jalan sama gue nggak?" Gue nanya.
"HMM, nanti gue tunjukin sesuatu, jadi gue pasti ikut lo deh." Dia bilang gitu, gue senyum makin lebar.
"Ngomong-ngomong, kenapa lo tiba-tiba ngilang?" Gue nanya.
"Bagian dari kekuatan gue, teleportasi." Dia jawab.
"Beneran? Itu kekuatan lo." Kata gue. Dia ketawa.
"Tau nggak sih, ada Kebun Rahasia di sini?" Dia nanya, mata gue langsung berbinar pas dia bilang gitu. "Mau lihat nggak?" Dia nanya, gue ngangguk. Dia nyamperin gue dan ngulurin tangannya di depan gue, gue kaget juga sama apa yang dia lakuin, tapi gue juga langsung nerima tangannya.
"Pegangan ya, kita teleportasi." Dia bilang terus ngedip.