Simpati
Sudut Pandang Bulan
"Kecuali Laksamana bilang kamu boleh bunuh dia, kamu gak boleh sentuh dia." Kata Shadow ke aku, aku cuma liatin dia. Cuma kita berdua di koridor, pas banget abis kelas. Dia natap aku.
"Kenapa?" Tanyanya dengan tatapan tajam pas aku mandangin dia.
"Apa hubungan kamu sama Gelap?" Tanyaku sambil menghentikannya, Tiba-tiba auranya berubah, matanya jadi dingin dan telapak tangannya mengepal.
"Gak apa-apa kalau kamu gak mau cerita." Kataku sambil senyum ke dia, Aku berbalik biar bisa pergi dari dia waktu dia ngomong.
"Dia kembaran aku." Katanya sambil menghentikan aku, Aku natap dia dan aku lihat kemarahan di matanya saat dia memalingkan muka.
Kembarannya Gelap? Kalau iya, kenapa dia mau bunuh Gelap? Kenapa dia marah banget sama Gelap?
"Dari kecil, dia udah jadi yang paling cantik di mata mama dan papa." Katanya dan aku bisa lihat kecemburuan di matanya. "Buat mereka dia yang terbaik dan terkuat, mereka selalu bikin aku bandingin dia." Katanya jadi aku nelen ludah.
"Tapi itu gak cukup buat kamu setuju bunuh Gelap." Kataku jadi dia natap aku.
"Aku tahu." Katanya dan memalingkan matanya. "Tapi dia bunuh orang tua kita, Bulan." Katanya, itu alasan aku buat natap dia. Gelap bunuh orang tua mereka? Gak mungkin.
"Aku lihat gimana dia nyakar leher papa kita." Aku lihat air matanya menetes, "Aku lihat gimana dia bunuh orang tua kita, Bulan." Katanya, jadi aku mendekat buat meluk dia.
"Aku gak ngerti, kenapa buat dia kayak semua itu cuma gak ada artinya." Tambahnya dan terus nangis.
"Semuanya, orang tua kita lakuin buat besarin kita dengan baik, tapi aku gak tahu kenapa dia lakuin semua itu, Bulan." Katanya, aku natap dia dan ngusap air mata yang netes dari matanya, Aku gak percaya sama apa yang dia bilang. Aku gak pernah bener-bener mikir Gelap bakal bisa ngelakuin apa yang dia bilang.
"Jadi segitu marahnya aku sama dia, Bulan." Katanya dan natap aku. "Sejak aku jadi saksi semua itu.... aku udah tolak dia sebagai saudara aku." Tambahnya.
Aku gak tahu harus bilang apa ke dia, aku gak tahu apa yang bisa aku lakuin biar dia gak sedih lagi, ini baru pertama kali aku lihat dia jadi gitu. Baru pertama kali aku jadi saksi dia nangis. Dan bahkan aku gak percaya Gelap bisa bunuh orang tuanya.
Apa cuma gitu sama Gelap? Bahkan orang tuanya sendiri aja dia bisa bunuh, bahkan Zero aja dia bisa bunuh. Dia lebih buas dari binatang karena apa yang dia lakuin,
"Tunggu dulu." Kataku sambil ngusap air mata Shadow.
"Kita balas dendam ke orang tua kamu." Kataku sambil natap dia, dia natap aku. "Kita bakal adili kematian orang tua kamu." Tambahku dan memalingkan muka, Gelap bakal bayar atas apa yang dia lakuin.
Pada malam hari Laksamana manggil aku buat ngomongin soal rencana.
"Kita ada beberapa perubahan di rencana Bulan." Kata Laksamana sambil duduk.
Aku cuma natap dia, Admin mana?
"Apa yang kita harapkan saat Hasreffa datang adalah bakal ada penundaan, jadi kita bakal ubah rencananya." Kata Laksamana dan berdiri terus jalan ke arahku terus berdiri di sampingku dan senyum.
"Hasreffa datang minggu ini, jadi rencana kita buat nyuruh dia hidupin Zero lagi adalah pindah hari Selasa, Tuan dan Nyonya Steler bakal datang biar mereka bisa gabung di hidup Zero." Katanya dan megang tanganku.
"Kamu gak boleh bunuh Gelap sampai Zero hidup, Bulan."
"Oke." Cuma itu yang aku bilang ke dia terus berdiri, dia natap aku.
"Admin mana?" Tanyaku. Dia mengangkat bahu.
"Ada yang lagi dibenerin," katanya.
"Aku mau istirahat." Kataku dan berbalik dari dia.
"Bulan." Aku berhenti jalan waktu dia manggil aku.
"Kamu gak bakal batalin rencananya kan?" Tanya Laksamana, Aku merem dan berbalik ke dia.
"Gelap bunuh orang tua Shadow." Kataku jadi mereka saling natap. "Aku gak bakal batalin percakapan karena aku bakal balas dendam ke Zero dan mereka yang dibunuh Gelap." Tambahku terus berbalik lagi ke dia.
Aku terus jalan keluar dari kantornya, waktu aku keluar aku mulai jalan ke arah asrama tapi aku juga langsung berhenti waktu aku lihat bangunan Stelers.
Aku cuma natap pintunya, ada sesuatu di diri aku yang nyuruh aku masuk ke sana tapi aku kaget dan narik napas panjang.
Hanya Laksamana yang harus aku percaya, Gelap dan Terbang mungkin cuma bohongin aku.
Aku membalikkan badan dari bangunan itu dan mau jalan waktu aku dihentikan lagi.
Aku langsung ngumpet di balik pohon waktu aku denger langkah kaki ke arah pintu masuk bangunan Stelers
Aku mengerutkan dahi waktu aku lihat Admin megang kotak dan di dalamnya bersinar, karena kacamata yang dipake Admin aku lihat beberapa gambar keluar dari cahaya.
Dahi aku makin berkerut waktu aku lihat diri aku di sana sambil hadapan Zero, Aku keluar dari tempat persembunyian tempat aku mau sembunyikan Admin dari aku, Aku mau ngikutin dia waktu seseorang narik aku balik ke pohon.
Aku mengerutkan dahi buat lihat siapa itu, Aku langsung dorong dia dari aku.
"Kamu gak boleh ngikutin dia." Kata Gelap sambil natap aku. Aku natap Admin yang masuk ke dalem bangunan Stelers.
Aku menatap Gelap.
"Kenapa kamu berhentiin aku?" Tanyaku dengan marah.
"Karena kamu lagi melanggar batas dan salah satu hukum Moonlight adalah dilarang masuk ke dalem bangunan Stelers." Katanya aku langsung nyerbu dia dan cekik dia, dia kayak kaget sama apa yang aku lakuin jadi aku kencengin genggaman aku ke dia.
"Dia bunuh orang tua kita, Bulan."
"G-Gelap." Katanya dengan lemah.
"Dia bunuh Zero."
"G-Gelap.."
"Kamu gak boleh bunuh Gelap sampai Zero hidup."
Aku dengan kasar ngelepas Gelap terus pergi dari dia, Aku bisa lihat ketakutan di matanya sesuatu yang nelan aku.
"Mereka bikin kamu jadi monster, Bulan."
Aku natap tangan aku yang gemetar, terus aku natap Gelap lagi.
"K-kamu berencana bunuh aku... Apa benar begitu?" Tanyanya dengan sedih. Aku gak jawab, aku cuma berbalik dari dia dan mau jalan dari dia waktu dia ngomong.
"Terbang benar...." Katanya sambil menghentikan aku.
Jantungku berdebar sangat cepat, seakan aku mau menyerang sambil membalikkan badan dari Gelap.
"Mereka bikin kamu jadi monster." Aku menurunkan telapak tangan aku ke apa yang Gelap bilang.