2 tahun lalu
Sudut Pandang Hujan
Dua Tahun lalu, sebelum MLA.
"WOI! GUE BILANG JANGAN GERAKIN IKAN GUE!" teriak Red, jadi kita ngakak waktu Shadow lari dari dia.
"Gimana, mulut lo berisik banget." Kata Terbang yang kelihatan baru bangun tidur.
"LO IBLIS!" teriak Red waktu dia lihat ikan peliharaannya ngambang.
"Ini Hujan, ada sesuatu yang terjadi sama airnya." Kata Shadow, jadi gue natap dia.
"Apaan sih? Lo sendiri yang masukin gue ke air." Kata gue sambil ngeliatin Red yang udah marah banget sama kita.
"KASIH OKSIGEN BUAT IKAN GUE!" teriak Red, jadi kita ngeliat Hydro di samping Gelap lagi makan kue.
"Apa?" tanyanya kaget waktu dia ngeliat Shadow dan gue natap dia.
"Dia bilang, kasih oksigen ke ikannya." Kata Gelap ke Hydro, Hydro nyemburin makanan yang dia makan terus langsung ngeblush. Mata gue menyipit.
"Salah lo mikirnya, Bro." Gelap ngomong ke Hydro, jadi kita natap dia.
"Nih, ikannya mana?" tanya Hydro dan berdiri.
"IKAN BERENANG, CEPETAN!" teriak Red ke Hydro, Hydro langsung nyamperin akuarium tempat ikan mati Red ditaruh, dia ngelakuin sesuatu ke badan ikan sebelum akhirnya berenang lagi. Shadow dan gue narik napas dalam-dalam dan di saat yang sama kita saling pandang.
"Nanti gue bunuh ikan Red." Bisik gue ke Shadow, jadi Red natap gue dengan tatapan nggak enak.
"Coba aja, biar lo nggak ketangkep duluan." Red ngancem sambil senyum ngeliatin ikan peliharaannya.
"Berisik amat mulut kalian ini?" tanya Terbang marah ngeliatin kita bertiga.
"Red yang teriak-teriak ke kita." Kata Shadow, jadi Terbang ngeliatin Red yang udah kesel.
"Maafkan aku ya Tuhan." Kata Red, Terbang cuma natap dia.
"Zero mana?" tanya Hydro.
"Sama orang tuanya." Jawab Gelap terus ngambil makanan, bener-bener kelaperan.
"Hujan." Kita ngeliatin pintu, ada seseorang yang masuk.
"Eh, tuh dia." Kata gue sambil ngeliatin Zero, Zero senyum terus masuk.
"Papa manggil lo, katanya ajak Red sama Shadow juga." Katanya, jadi gue manyunin dahi.
"Kenapa?" tanya gue.
"Nggak tau." Jawabnya terus ngomong sama Gelap.
"Iblis Zero, bagi dong makanannya." Keluh Gelap waktu Zero ngambil makanan yang dia pegang.
"Dia di depan gedung kita, Laksamana dan Admin nungguin kalian sama dia." Kata Zero, jadi gue ngeliatin Red dan Shadow terus pamitan kalau kita mau pergi ke Tuan Steler.
Kita bertiga jalan ke arah seberang gedung Stelers di saat yang sama.
"Ada apa ya?" tanya Shadow.
"Mungkin kita dipanggil karena Tuan Steler marah gara-gara mulut Red." Kata gue, tatapan Red menusuk gue. Kita berhenti jalan waktu Tuan Steler ada di depan kita.
"Selamat siang Tuan Steler, ada apa? Tumben manggil kita." Kata gue, Tuan Steler senyum ke kita bertiga sementara Laksamana dan Admin cuma natap kita.
"Ayo, masuk dan kita ngobrol di dalam." Kata Tuan Steler dan nuntun kita masuk ke dalam gedung Steler, ini pertama kalinya kita bisa masuk ke tempat ini. Ini nggak boleh buat murid Cahaya Bulan kecuali Stelers mengizinkan.
Kita cuma diem ngikutin Tuan Steler sampai kita sampe di pintu yang bertuliskan 'Ruang Kontrol'.
Tuan Steler buka pintunya dan nunjukin kita ke ruangan putih, semua yang ada di sekeliling putih kecuali benda-benda aneh yang ada di sini.
Kita masuk dan memutar mata, Tuan Steler menghadap kita sambil senyum.
"Besok kalian berangkat ke arena." Katanya, jadi gue senyum.
"Tinggal beberapa hari lagi dan pertandingannya akan berlangsung dan kalian tahu pentingnya kita menang, kan?" Dia nanya, jadi kita ngangguk.
"Gimana kalau ada makhluk kalian yang nggak mau menang?" Dia nanya, jadi Red dan Shadow dan gue saling pandang.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tuan Steler nanya, jadi kita diem.
"Kita semua di grup pengen menang." Kata Shadow sambil ketawa ke Tuan Steler.
"Gimana kalau gue bilang Zero nggak mau menang, apa yang akan kalian lakukan?" Dia nanya, jadi kita kaget.
Jangan sampai Zero nggak menang MLA? Kenapa? Pencapaian besar buat seorang murid bisa menangin pertandingan sebesar itu.
"Kita akan menghentikannya." Kata Red, jadi gue natap dia.
"Dengan cara apa Red?" tanya Tuan Steler, Red nggak jawab. "Kekuatan Zero terlalu kuat, gimana cara lo bisa menghentikan anak gue?" Tuan Steler nanya, nggak ada yang berani jawab pertanyaan dia, dia bener.
Zero kuat dan pintar jadi kita nggak bisa sembarangan menghentikannya.
"Gue bawa kalian ke sini buat jadi bagian dari proyek baru kita." Tuan Steler senyum dan ngeliatin Admin, itu jadi sinyal buat Admin maju ke depan kita, sesuatu yang langsung diikutin Admin.
"Ini Mesin Memori." Kata Admin dan nunjukin alat ke kita. Ada juga sesuatu yang udah dia keluarin dari tangannya. Bentuknya lingkaran dan bersinar, ada gambar yang bergerak di dalam lingkaran ini, sesuatu yang gue nggak tau itu apa.
"Lingkaran ini adalah kenangan palsu." Kata Admin dan naruh di atas mesin yang dia sebut Mesin Memori.
"Lewat mesin memori, otak manusia bisa menyerap memori palsu yang baru aja gue masukin." Kata Admin dan senyum ke kita.
"Dan kalian bertiga, itu yang akan kita gunain buat nyari tau, efektif atau nggak." Kita langsung manyunin dahi dan saling pandang.
"Ini ilegal, Tuan Steler." Kata Shadow.
"Maaf tapi, kita nggak setuju sama apa yang lo mau." Kata gue dan ngeliatin Admin dan Tuan Steler yang ada di depan kita.
"Kalau gitu, kita nggak punya pilihan lain selain melakukan dengan cara orang suci." Kata Tuan Steler sambil senyum dan kita narik napas dalam-dalam, mata kita melebar dan langsung pingsan karena apa yang udah Tuan Steler lakuin.
Gue nggak tau apa yang terjadi selanjutnya setelah gue nggak sadar.
Waktu gue buka mata, gue langsung kaget waktu gue inget apa yang udah Zero lakuin ke gue semalam, dia maksa gue. Air mata gue langsung ngalir dan gue ngeliat sekeliling. Gue di mana? Kenapa Shadow dan Red ada di sini?
Tempat apa ini dan kenapa gue liat putih semua.
"Bagus lo udah bangun." Gue ngeliat ke speaker, Tuan Steler. Ngapain dia di sini?
"K-Kenapa lo di sini?" tanya gue. Gue ngeliatin Red dan Shadow yang baru bangun.
"Kepala gue sakit." Kata Shadow. Gue ngeliatin Tuan Steler lagi.
"Kita liat lo nggak sadar di depan gedung, jadi kita bawa lo masuk." Katanya terus menyipitkan mata.
"Gimana perasaan lo?" Tanyanya.
"Kepala gue sakit." Kata Shadow. "Gue ngerasa, otak gue bergerak." Katanya, dan Tuan Steler ketawa.
"Itu karena Gelap nonjok lo, Shadow." Kata Tuan Steler, jadi Shadow ngeliatin Tuan Steler.
"Gelap ada di sini?" tanya Shadow, Tuan Steler ngangguk.
"Dia binatang ... setelah apa yang dia lakuin ke mama dan papa." Kata Shadow marah dan nurunin telapak tangannya.
"Hujan, gue tau lo marah banget sama anak gue Zero." Gue langsung ngerasa marah waktu dia nyebut Zero.
"Tapi lo harus berjuang sama temen-temen MLA lo." Kata Tuan Steler dan narik napas dalam-dalam.
"Situasi mereka bertiga sulit tapi lo harus berjuang." Dia terus senyum ke kita.
"Jadi, gue mohon, kalau lo mau ngilangin marah, sedih dan menyembuhkan kakek Red." Kata Tuan Steler sambil ngeliatin Red. "Lo menangin pertandingannya." Tambahnya.
"Nggak gampang buat gue karena anak gue sendiri nggak mau menangin pertandingan." Gue nurunin telapak tangan gue lagi, lo beneran mikir tinggi banget tentang diri lo sendiri Zero.
"Lakuin semuanya buat kita menang, ngerti?" Tuan Steler nanya, kita ngangguk tiga alasan yang bikin dia senyum.
"Pergi ke asrama kalian dan istirahat." Katanya, jadi kita langsung bangun dari kasur kita terus keluar dari ruangan yang gue nggak tau buat apa.
"Ngomong-ngomong." Kita berhenti jalan dan ngeliatin Tuan Steler lagi, dia narik napas dalam-dalam terus ngeliatin kita.
"Bunuh Zero kalau dia berencana sesuatu buat ngalahin Cahaya Bulan."