BAB 35
'Gak ada cowok. Aku ada kencan makan malam sama Tuan CEO Hollen Tower!" Aku teriak sambil joget-joget konyol.
Zenia nyamperin aku, meluk erat sambil menjerit, 'Seriusan?! Dia mau bawa kamu kemana?'
'Ke rumah orang tuanya,' jawabku, rasa dingin menenangkan sarafku yang panas.
'Apa?' Zenia bertanya, mundur selangkah. 'Dia udah ajak kamu ketemu ortunya?'
'Nggak... Ya, sih... Lebih kayak kencan bisnis gitu.'
'Diem deh lo. Berhenti coba buat ngerem ini. Dia ajak kamu ke rumah ibu dan bapaknya buat makan malam, ini berita bagus. Dia suka sama kamu, Jassy. Berapa banyak cowok kaya yang ajak asistennya ke rumah keluarga mereka?'
'Beberapa.'
'Tepat banget. Kamu udah kasih kesan sama cowok ini.'
'Gila, terserah deh! Bisa gak sih kamu pake sihir kamu buat aku malam ini? Aku makan malam sama ibu, bapak, saudara perempuan, dan adik laki-lakinya. Aku mau kasih kesan pertama yang bagus, apalagi sama ibunya, soalnya aku udah ketemu bapaknya.'
'Beneran?'
'Iya. Dia dateng ke kantor buat rapat sama anaknya. Percaya gak sih, dia meluk aku bukannya salaman kayak cowok normal? Dia gak sombong buat ukuran orang kaya. Dia baik banget, ramah, dan lucu juga.'
'Jas, ini bagus banget. Mainkan kartumu dengan benar dan kamu bakal jadi Nyonya Hollen berikutnya.'
Aku tertawa.
Ngebayangin diri sendiri nikah sama Evan Hollen. Itu hampir semua mimpi wanita. Aku butuh tangga yang panjang banget buat naik ke level itu.
'Ayo, kita pilih sesuatu buat aku pake.'
Zenia suka banget sama fesyen.
Kami ngobrak-ngabrik lemari aku, nyari baju yang sempurna.
'Gimana yang hitam ini?' tanyaku.
'Nggak. Hitam terlalu biasa. Kamu bakal keliatan kayak cewek lain yang pernah dia pacarin dan udah bosen. Kamu mau tampil beda, bukan nyatu.'
Aku memutar mata ke arahnya.
Cewek ini gila.
'Oke, yang merah ini bagus, deh,' kataku lagi, ngambil gaun dari gantungan dan ngasih ke dia.
'Nggak. Merah terlalu berisik buat kencan pertama. Kamu gak mau berlebihan. Merah itu warna yang kuat. Simpan buat kencan ketiga.'
Aku gak tau ada kode warna buat hal-hal kayak gini, tapi serahin aja sama saudara perempuanku, dia bakal ubah semuanya biar sesuai sama ego fesyennya.
'Minggir,' kata Zenia, mendorongku ke samping dan berdiri di lemari. Dia ngecek-ngecek gaunku.
'Ini!' katanya, ngelempar gaun dua potong putih dengan lengan renda panjang.
'Ini?' tanyaku kaget.
Dia mencibir reaksimu.
'Iya. Cukup sopan buat ortunya, tapi sekaligus kamu gak mau bikin dia bosen. Jadi, eksposur rendanya harusnya cukup buat bikin dia terus merhatiin kamu,' jawabnya dengan senyum puas.
Aku mencibir kali ini.
'Oke. Mari kita mulai sama kasur jerami di kepala kamu.'
'Apa! Rambutku bukan kasur jerami!' tegurku.
'Iya deh iya deh.'
Dia ngasih aku sampo dan kondisioner Argan Oil-ku.
Setelah keramas dan nge-angin rambut, aku motong kuku jari kakiku dan saudara perempuanku ngecat mereka. Aku ngeliatin dia nyocokin baju sama aksesoris dan mutusin gaya rambut yang sempurna buat rambutku.
Terus akhirnya, waktunya dandan.
Aku keluar dari kamar mandi, ngelap kulitku, pake losion, dan masuk ke gaun dua potongku, hati-hati banget biar gak ninggalin noda kotoran.
Gaun itu melukku di semua tempat yang pas, tapi bikin pantatku keliatan kegedean buat seleraku.
Aku langsung manggil Zenia ke kamar.
'Aku gak bisa pake ini!' protesku.
'Kenapa?' tanyanya.
'Ini terlalu genit. Lihat ini! Aku punya dua pantat!' Aku membelakanginya biar dia bisa lihat sempurna.
'Sialan, kamu bakal bikin cowok itu ngiler ke kamu.'
'Zenia, stop!'
'Jassy, santai aja, kenapa sih! Kamu keliatan keren. Aku gak liat masalahnya. Kamu punya pantat yang bagus, kenapa emangnya? Dia cuma bakal nyubit doang,' dia tertawa.
'Aku mau ketemu ortunya. Aku keliatan kayak pelacur.'
'Nggak, kamu gak keliatan kayak gitu. Kamu keliatan cantik dan elegan banget.'
Dia nuntun aku ke kursi di meja komputermu, nyolokin catokan rambutku, dan mulai menata rambutku.
'Waktunya aksesoris sekarang,' katanya ketika dia selesai dengan rambutku. Dia ngasih aku gelang hitam, gelang emas, dan kalung emas. Bukan emas beneran, ya, kalo iya aku udah gadai dari dulu.
'WOW!' katanya, mundur selangkah dan mengagumi proyek nya ketika semuanya selesai dan aku udah siap pergi.
Jam 6:25 sore. Aku mondar-mandir di ruang tamu. Telapak tangan berkeringat dan bergumam buat nenangin diri.
'Gila, tenang, dong. Kamu kayak ayam tanpa kepala. Santai!' Zenia menegur.
'Dia bakal sampe sini bentar lagi, Zenia,' kataku, sekarang duduk.
'Tunggu! Dia mau ke sini!?'
'Iya.'
'Sialan, kamu bikin aku keliatan kayak budak pelarian sementara kamu keren banget. Aku gak bisa ketemu dia kayak gini!' dia lari ke kamarnya.