BAB 37
'Halo, Mama," sapanya sambil nyium kedua pipinya.
'Halo, sayang. Apa kabar?' tanyanya.
'Baik kok. Ma, ini kencanku, Jasmine Blackman. Jasmine, ini Emma Hollen, Mama ku," dia ngenalin sambil senyum kayaknya dia seneng banget ngenalin aku ke Mamanya.
'Halo sayang, selamat datang di rumah kita," katanya langsung dan aku ditarik buat pelukan lagi.
'Makasih," jawabku.
'Silakan duduk,' dia memberi isyarat.
Evan dan aku duduk lagi.
Makan malam disajikan oleh dua koki dan Dory.
'Tuan, ada tamu lain," seorang pria berseragam hitam berkata sambil masuk ke ruangan.
Pasti dia satpam.
'Nggak ada. Semua udah di sini," jawab Mr. Hollen.
'Dia bilang dia diundang," jawabnya.
'Siapa?' tanya Mrs. Hollen, matanya beralih ke pintu.
'Halo semua orang,' Jessica menyapa dengan senyum cerah di wajahnya saat dia masuk.
Semua orang membeku, termasuk aku.
Sudut Pandang Evan
Ya ampun, nggak banget! Aku nggak bakal biarin Jessica ngerusak ini.
'Kamu ngapain di sini?' Mama nanya ke dia dengan muka cemberut nggak sopan. Dia nggak suka Jessica sejak SMA. Dan gitu juga sama kembaran aku.
'Kamu nggak diundang di sini, jadi kenapa kamu nggak malu aja dan pergi!' Emily membentak dia.
'Maaf,' Jessica membela diri.
'Nggak! Kamu yang harusnya minta maaf!' Emily ngegas.
'Semuanya, aku yang urus,' kataku sambil berdiri dan nyamperin Jessica. Aku naruh tangan di punggungnya dan nuntun dia keluar area ruang makan tanpa perdebatan lagi.
'Kamu mikir apa sih?' Emosi ku naik.
'Aku cuma mau gabung sama kamu dan keluarga kamu buat makan malam.'
'Kamu tau dari mana? Aku nggak pernah ngundang kamu.'
'Kakak kamu nge-post meja makan di Instagram dan aku salah satu pengikutnya jadi aku liat.'
'Itu bukan berarti kamu bisa muncul kayak gini Jessica. Itu bentuk nggak sopan dan Mama ku nggak suka.'
'Itu karena kamu udah punya kencan? Dia ngapain juga di sini?' dia ngegas, naruh tangannya di pinggang.
'Aku yang ngundang dia,' jawabku.
'Apa! Asisten kamu? Kamu ngundang asisten kamu ke makan malam ini tapi kamu nggak bisa ngundang aku?'
'Kamu tau nggak, aku nggak mau kayak gini lagi sama kamu. Pergi aja.'
'Evan!'
Aku nunjuk ke arah pintu masuk utama. 'Pergi!'
Dia ngangguk dan jalan ke pintu sementara aku balik ke ruang makan tanpa ngeliat Jessica lagi.
'Dia udah pergi?' Emily nanya sambil teriak.
'Maaf soal ini semua, terutama kamu Jasmine,' aku minta maaf.
'Nggak papa, Sayang, semua orang tau dia gila,' Papa bercanda yang bikin kita semua ketawa.
Suasana udah bersih dari gangguan mendadak Jessica dan makan malam berlanjut lancar. Aku genggam tangan Jasmine di bawah meja sepanjang waktu.
Mama nyuruh koki nyiapin nasi goreng sama sayuran campur, kentang tumbuk sama saus cranberry atau gravy, ayam bakar dan atau ikan bakar, salad sayuran, lasagna dan pai makaroni.
Anggur Perancis yang enak disajikan dari gudang anggur Papa.
Cara Jasmine makan, aku tau dia suka banget.
Buat makanan penutup, kita ada cheesecake stroberi.
'Aku sama kakak ku suka banget cheesecake stroberi,' katanya pelan ke aku.
'Ingetin aku buat nyuruh koki bungkusin sepotong buat dia bareng beberapa makan malam sebelum kita pergi,' kataku balik.
Dia ngangguk setuju.
Pas makanan penutup udah selesai, dan Mama, Papa, Halley dan Martin mulai ngomongin 'jaman dulu', aku pamit sama Jasmine buat tur.
'Kita udah mau pergi?' tanyanya, sambil megang tangan ku pas kita jalan ke lift.
'Nggak. Aku mau ajak kamu ke atas,' jawabku.
Pas kita nyampe, kita masuk ke kamar yang aku tempati waktu kecil pas gede bareng orang tua ku.
'Dulu ini kamar aku waktu kecil dan sebelum aku punya rumah sendiri.'
Dia liat sekeliling, matanya tertuju ke foto The King Of Pop: Michael Jackson yang nempel di dinding.
Aku suka banget Michael Jackson. Bodo amat.
Kita keluar ke balkon yang nempel ke kamar. Langit nunjukin bintang-bintangnya yang megah dan Jasmine pelan-pelan ditarik ke pelukan ku.
'Aku bisa kayak gini selamanya,' kataku di telinganya.
'Sama aku?' tanyanya.
'Tentu aja sama kamu. Cuma kamu.'
Wangi manisnya nyium aku dan kehangatannya meluk aku dengan mudah. Aku cium keningnya, ngerasain detak jantungnya yang cepet.
Sudut Pandang Jasmine
Aku berdiri di pelukannya sambil ngeliat ke langit dari balkonnya.
Pelukannya ngasih efek yang besar ke aku dan aku harap dia nggak denger detak jantung ku yang nggak karuan.
Dia nuntun aku balik ke kamar dan langsung nyari bibirku. Dia buka bibir bawah ku pake lidahnya terus dia nempel ke aku. Aku nyerahin diri ku langsung ke setiap sentuhannya dan ciuman romantis di antara kita. Kakiku mulai bergerak mundur ke arah kasurnya.
Bokong ku kena kasur dan dia melayang di atas ku, nggak ngelepas ciumannya buat apapun. Tangannya kelilingin tubuh ku dan nemuin jalannya di bawah rok. Kulit ku merinding pas mulutnya berjalan ke leherku dan tangannya bergerak lebih tinggi dan lebih deket ke area pribadi ku.