BAB 44
'Kita mau makan di mana sih?' tanyaku, masuk dan pasang sabuk pengaman.
'Restoran. Cuma beberapa kilometer dari sini. Di pinggir pantai. Aku tahu kamu bakal suka,' jawabnya. Dia injak pedal gas dan bawa kita ke tempat yang dia mau.
Kita masuk ke restoran pantai yang bagus banget. Matahari udah ada di atas garis cakrawala dan bikin efek oranye di langit, terus mantul ke seluruh restoran. Keren abis. Karya seni yang sempurna.
'Kamu keliatan cantik banget, deh,' katanya, narik kursi buat aku pas pelayan bawa kita ke meja, 'Kayak ratu.'
'Makasih,' jawabku, duduk nyaman di kursi.
Dia duduk di seberangku, natap mataku pake mata abu-abunya. Aku kelelep di matanya. Matanya adalah duniaku dan itu hal favoritku dari penampilannya. Itu hal pertama yang aku perhatiin tentang dia pas pertama kali datang wawancara di Hollen Tower. Gimana matanya berbinar pas dia senang atau ketawa, dan gimana matanya jadi lebih gelap pas dia marah.
'Mau pesan apa?' pelayan balik lagi ke kita dan ganggu lamunanku.
'Boleh. Sayang, kamu mau apa?' dia nanya aku duluan.
'Aku mau nasi, lobster potong dadu saus mentega bawang putih, sayuran hijau, dan kentang... Minumnya, aku mau segelas anggur merah.'
Dia senyum pendek yang manis banget.
'Aku samain aja kayak dia.'
Kita kasih menu ke dia dan dia menghilang ke arah dapur.
'Kamu nggak papa, sayang?' dia nanya aku, megang tanganku di meja. Dia usap telapak tanganku dan aku susah banget buat nggak langsung nyerbu dia di meja.
'Aku nggak papa,' jawabku, 'Kamu gimana...?' Aku langsung dipotong sama seorang cewek yang datang ke meja kita.
'Evan? Evan Hollen?' dia nanya, jalan ke arahnya.
Dia lepasin tanganku dan matanya langsung ke arah dia. Dia langsung berdiri dan meluk dia.
Aku ngerasa sesuatu di dalam diriku meledak pas aku liat badannya nempel sama cewek lain.
Siapa dia?
'Udah lama banget,' kata dia lagi sambil senyum lebar.
'Nggak nyangka aku bisa ketemu kamu di sini. Apa kabar?' dia nanya.
Mereka goyang-goyangin badan dalam pelukan sebelum lepas.
Coba aja mereka kayak gitu lebih lama... Aku udah nyerbu dia!
Astaga, apa sih yang aku omongin?
Tenang, Jasmine. Tenang!
Aku nggak bisa tenang pas jalang ini meluk cowokku! Dia cowokku!
Dia datang dari mana sih?
Dia cuma datang dan ngerusak waktu kita.
'Jasmine!' aku denger suaranya.
'Hah?' tanyaku, membungkam suara-suara di kepalaku.
'Aku mau kenalin kamu sama seseorang. Ini Ashley Simmons. Kita kuliah bareng dan orang tuanya partner di industri kita.'
'Hai. Senang ketemu kamu,' kata dia.
'Sama-sama,' jawabku singkat sambil senyum palsu.
Aku bisa liat banget siapa cewek ini.
'Jadi, apa aku ganggu? Soalnya aku bisa aja...' dia ngomong ke dia.
'Sebenernya kita lagi kencan,' kataku.
Matanya melotot ke aku dan aku nggak lepas pandangan darinya.
Kita bisa kayak gini sepanjang malam, jalang!
'Bagus,' kata dia. Dia jinjit ke telinga Evan. Badan tingginya ngalahin tingginya dia.
'Dia kan asisten kamu?' aku denger dia nanya.
Aku diem.
'Iya, dia asisten aku dan sekarang kita pacaran. Ada masalah, Ashley? Soalnya nggak ada masalah pas kamu tidur sama Mike, asisten kamu.' Dia langsung nge-down dia.
Aku tepuk tangan dalam hati.
'Selamat, deh. Semoga langgeng,' kata dia sambil senyum palsu.
'Makasih,' aku dan Evan bilang barengan.
'Oke, senang ketemu kamu lagi, Evan. Semoga nggak tiga tahun lagi kita ketemu.' Setelah ngomong gitu, dia pergi dari meja kita dan keluar restoran.
'Gebetan kamu pas kuliah?' tanyaku, cemburu masih berputar-putar di perutku.
'Apaan sih? Nggak! Kita cuma ambil beberapa kelas bareng. Aku nggak pernah punya pacar pas kuliah.'
'Masa sih? Kenapa?'
'Nanti aja, deh. Aku mau malam ini cuma tentang aku dan kamu.'
Pelayan datang lagi dan nyajiin makan malam dan segelas anggur merah.
Malamnya berjalan lancar banget setelah itu. Kita ngobrolin semua hal. Angin laut berhembus di sekitar kita, ngilangin semua gangguan dari restoran saat kita kelelep dalam satu sama lain.
Jam 11 malam pas kita balik ke hotel.
'Selamat malam,' katanya pas kita berdiri di depan pintu kamarku. Dia cium keningku terus bibirku.
'Aku nggak mau selesai,' bisikku di antara ciumannya.
'Kamu mau apa?' dia nanya dengan suara menggoda biasanya. Dia cium leherku, bikin merinding di seluruh tubuhku.
'Mau tahu?' tanyaku balik. Aku pegang tangannya dan buka pintu, narik dia di belakangku saat aku bawa kita ke kamar tidur.