BAB 50
'Dia selingkuh sama bosnya," Zenia nyerobot masuk kamar gue.
Emak buka mulut mau ngomong sesuatu, tapi gak ada yang keluar. Dia ngeliatin Zenia sama gue bergantian terus keluar kamar.
'Lo beneran resign?' Zenia nanya, mulai dari emak berhenti ngomong.
'Iya! Gue emosi. Gue lihat dia sama Jessica barengan dan gue langsung keseleo. Dia mukul Bradley, gue bela Bradley dan gue resign.' Gue jelasin singkat. Gue lagi gak mood buat cerita detail. Gue gak enak badan karena tahu gue nyesel sama yang gue lakuin.
'Jasmine, itu sesuatu yang bodoh banget yang lo lakuin. Seharusnya lo gak biarin emosi lo nguasain lo kayak gitu. Seharusnya lo ngomong sama Evan.'
'Ngapain? Dia udah sibuk sama Jessica dan fakta dia gak nelpon gue sama sekali selama akhir pekan, bikin gue makin seneng sama keputusan gue. Dia cuma topeng. Mending Bradley deh. Setidaknya gue tahu apa yang bisa gue harapkan dari dia.'
'Lo mau biarin sebagian kecil itu nentuin pilihan lo?'
'Zenia! Ini hidup gue, bukan hidup lo, dan ini bukan cerita putri dongeng omong kosong yang biasa kita baca waktu kecil! Gak ada yang namanya hidup bahagia selamanya! Lo cuma harus ikutin arus, dan itu persis yang gue lakuin sekarang.'
Gue rebahin kepala gue lagi di bantal. Telepon gue bunyi. Nama Bradley muncul di layar.
'Hai sayang,' Bradley ngomong.
'Hai. Ada apa?'
'Kita bisa jalan-jalan hari ini?'
'Tentu saja.'
'Gue jemput jam 2 siang ya.'
'Oke, gue siap-siap.'
Gue gak nerima telpon, pesan pribadi, whatsapp, atau video call dari Evan seminggu penuh itu dan gue gak peduli. Gue senang sama keputusan gue dan gue sama Bradley menghabiskan waktu seminggu bareng.
Dia ngajak gue belanja, kencan makan malam, ke bioskop, bahkan ke pantai.
Gue ngelihat sisi dia yang gak pernah gue lihat sebelumnya. Sisi yang lebih penyayang, perhatian, manis, dan tulus. Orang bisa berubah. Lo cuma harus kasih mereka kesempatan buat berubah.
Udah akhir pekan. Waktu cepet banget berlalu kalau lo nikmatin hidup.
Gue lagi tiduran di kamar waktu telepon gue bunyi. Nama Bradley muncul dan gue langsung senyum. Perlahan tapi pasti gue jatuh lagi ke pelukannya.
'Hai sayang,' gue jawab.
'Siapa ini?' Gue denger suara cewek tajam nanya dari ujung telepon.
Gue lepas telepon dari telinga gue dan ngelihat layar. Itu memang nomor telepon Bradley.
'Ini Jasmine. Siapa ini?' Gue balik nanya, nadanya sama kayak dia.
'Ini tunangan Bradley dan mamanya anak dia!'
'Mama, mama! Itu daddy?' Suara anak kecil nanya dari latar belakang.
'Enggak sayang. Ayahmu di kamar mandi,' dia bilang ke anak itu.
'Sekarang dengerin gue, gue gak tahu lo siapa atau apa yang lo mau, tapi gue gak bakal biarin lo nyoba ngerusak pernikahan gue dan rumah tangga gue.
Gue udah lihat banyak pesan teks antara lo sama dia jadi gue tahu gue gak salah. Jauhin tunangan gue dan rumah bahagia gue! Cari cowok lain sana dasar jalang!'
Sebelum gue sempat jawab, dia nutup teleponnya.
Gue ngerasa sesuatu di diri gue menghilang. Telepon itu mental dari kasur dan jatuh ke lantai.
Apa yang udah gue lakuin?
Gue ngumpat dan nampar diri gue sendiri secara mental. Gue bikin diri gue percaya sama Bradley dan ngebiarin dia balik lagi ke hidup gue cuma buat tahu apa dia pantas buat kesempatan kedua, tapi dia cuma manfaatin gue.
Tunggu aja sampai gue ketemu si badut itu!
Ada ketukan di pintu depan. Gue keluar kamar dan ngintip dari jendela.
Gue lihat mobil mahal parkir di trotoar di bawah. Jantung gue berdebar beberapa kali.
Evan balik. Gue tahu dia gak bakal ngebiarin gue pergi gitu aja.
Gue buka pintu perlahan.
'Halo Jasmine. Ganti baju. Kita perlu ngomong.'
'Ngapain lo di sini? Dan kok lo tahu gue tinggal di mana?'
'Gue Hollen. Emang ada yang gak kita tahu?' dia ngangkat alisnya persis kayak kakaknya.
Kenapa Emily di sini dan apa yang dia mau?
Nurut sama perintahnya, gue ganti baju terus ngikutin dia keluar.
'Kenapa lo resign dari kerjaan jadi asistennya?' dia nanya begitu kita sampai dan duduk di restoran pilihannya.
'Emang gue harus jawab itu?' gue nanya. Gue gak mau diintimidasi sama Hollen lainnya.
'Iya,' dia jawab singkat, sambil minum wine.
'Dia yang nyuruh lo buat ini?'
'Dia bahkan gak tahu gue di sini. Gue denger apa yang terjadi jadi gue mutusin buat dateng sendiri. Gue di sini bukan buat jadi mak comblang, dan gue gak suka bertele-tele.
Kakak gue peduli sama lo Jasmine. Gue belum pernah lihat dia kayak gitu sama cewek lain.'
'Oh ya? Bahkan Jessica gak?'
'Kenapa lo takut sama dia banget? Dari yang gue pahami, lo pergi karena dia.'
'Karena dia masih berhubungan sama dia dan dia bohong sama gue soal itu. Dia bohong di depan gue, Emily. Gue lihat dia nge-post foto di kamarnya dengan hampir gak pake apa-apa dan gue lihat mereka barengan di Gala.'