BAB 76
Sudut Pandang Evan
'Hami.. Hamil?' Aku gagap, mengambil kotak tisu di mejaku dan mencoba untuk membersihkan diri.
'Iya,' jawabnya.
'Gimana? Kita udah hati-hati banget. Kamu bilang kamu pake pil dan aku tetep pake pengaman juga kan sama kamu, seringnya.'
'Aku tau, Evan. Tapi kecelakaan bisa terjadi.'
Ya Tuhan, beri aku kekuatan.
'Kamu marah, ya?' tanyanya dan terlihat seperti dia akan menangis.
'Nggak. Aku cuma nggak nyangka aja. Kamu udah tes kehamilan? Udah ke dokter?' tanyaku.
'Nggak dan nggak. Aku cuma sering banget muntah pagi ini dan nggak enak badan.'
'Oke. Ayo pergi,' kataku dan melepas jaketku dari sandaran kursi. Aku ambil kunci mobilku dan menuntunnya keluar dari kantor.
Aku memutuskan untuk membawanya ke Dr. Matador. Dia adalah dokter kandungan yang hebat dan dia nggak bocorin info ke media buat cari untung. Ortu gue percaya sama dia dan gue juga.
'Halo, Tuan Hollen. Ada yang bisa saya bantu hari ini?' tanyanya saat melihatku masuk. Dia lagi ngobrol sama perawat dan gue yakin dia juga lagi ngegombalin dia.
Bukan urusan gue.
'Ini pacar saya dan dia pikir dia mungkin hamil. Kita harus mastiin itu,' jelasku ke dia.
'Tentu,' jawabnya dan menggiring kami ke ruangan pribadi.
'Nah, Nona Goode, ini namanya Demo USG Lanjutan. D-U-L singkatnya. Bahkan kalau kamu hamil sehari, kita bisa liat bayinya di monitor,' kata Dr. Matador sambil menyuruhnya berbaring dan mengangkat kausnya.
Kepalaku pusing dan otaku kayak mental-mentul ke dinding. Jujur aja, gue juga nggak mau dia hamil. Gue nggak bisa bayangin punya dua anak dari beda cewek di usia semuda ini. Mama bakal bunuh gue dan papa bakal malu dan kecewa sama anak sulungnya. EJ nggak bakal ngelakuin hal sebodoh ini dan dia yang paling kecil.
Gue sisir rambut gue dengan jari-jari dan berdoa supaya dia nggak hamil.
Sebuah gambar muncul di monitor di seberang ruangan dan jantungku mulai berdebar.
'Hmm. Iya,' kata dokter itu.
'Iya apa?' tanyaku.
'Nona Goode, maaf tapi kamu nggak hamil. Nggak ada tanda-tanda bayi di rahim kamu,' katanya dan mengelap gel dari perutnya.
'Oh, syukur Alhamdulillah,' kataku dalam hati tapi gue ngomongnya agak keras. Dia denger dan air mata keluar dari matanya.
'Saya kasih kalian waktu sebentar,' katanya dan pamit dari ruangan.
'Mungkin kamu makan sesuatu yang bikin perut kamu nggak enak,' kataku padanya. Dia menghapus air matanya dan berdiri.
'Kita bisa langsung pergi?' tanyanya, tanpa menunggu atau melihat ke arahku, dia keluar ruangan. Gue ngikutin di belakangnya.
Makasih ya Tuhan.
'Kamu seneng, kan?' tanyanya saat kita di mobil dalam perjalanan pulang.
'Kok ngomong gitu?'
'Soalnya kamu keliatan lega banget pas denger nggak ada bayi, kayak beban di dada kamu sejak aku bilang mungkin hamil. Gue yakin kamu nggak marah pas tau Jasmine hamil.'
Mulai lagi deh!
'Jadi ini masalahnya? Kamu pengen hamil karena Jasmine hamil? Kamu beneran minum pil KB atau kamu bohong sama gue soal itu?'
'Tentu aja gue minum pil tapi bisa aja gue lupa...'
Gue nggak biarin dia selesai ngomong.
'Jangan coba-coba, Aria! Jangan berani-beraninya nyoba ngejebak gue biar kamu hamil! Lo tau beneran kalo lo nggak minum pil makanya lo nggak repot-repot tes kehamilan!'
'Evan...'
'Jangan ‘Evan' gue. Udah jangan! Lo udah kelewatan batas dengan ngelakuin hal yang bodoh. Gimana gue bisa nyaman lagi berhubungan seks sama lo?'
Gue marah banget dan gue salurin amarah gue ke pedal gas. Biasanya butuh setengah jam dari dokter kandungan ke rumah, tapi gue sampe dalam lima belas menit. Setengah waktu.
Mama lagi di sana. Dia lagi duduk sama Jasmine dan Zenia di ruang tamu, liat-liat majalah sambil ngobrol dan ketawa.
'Hai sayang,' kata mama dan nyamperin dan meluk gue. Gue bales pelukan lemah dan naik ke atas tanpa kata-kata lain. Aria ngikutin dari belakang.
Sudut Pandang Jasmine
Emma beneran yang terbaik.
Mama kedua gue. Dia, Zenia dan gue lagi ngabisin sore bareng, mikirin nama bayi dan mikir kira-kira dia bakal kayak gimana.
'Dia bakal punya mata Evan. Ya ampun, dia bakal jadi perusak hati kalau dia punya mata ayahnya,' canda Emma.
'Dia bakal punya rambut gila Jasmine,' kata Zenia sambil ngusap rambut di kepala gue.
Kita denger pintu dibuka dan ditutup dan Evan dan Aria masuk. Dia masang muka cemberut dan matanya gelap kayak malam.
‘Mereka lagi berantem?' gue tanya ke diri sendiri.