BAB 63
'Kamu basah," suaranya menggoda.
'Kamu hebat," kataku padanya.
Dia jago banget main cinta.
'Aku mau cicipi kamu."
'Silakan aja."
Dia buka celana pendekku dan juga celana dalamku. Dia buka kakiku lebar-lebar dan aku rasakan keajaiban lidahnya di 'kucing' ku.
Aku lihat kembang api lebih banyak dari perayaan 4 Juli.
'Ya ampun, GOSHH!" teriakku saat dia dorong lidahnya ke lubangku. Aku pegang kepalanya, dan pinggangku berputar tanpa sadar. Jariku masuk ke rambutnya dan napasku tersengal.
'Aku bakal lembut. Aku nggak mau sakitin kamu atau bayinya," katanya sambil buka celananya. Aku bahkan belum kelihatan hamil, tapi aku senang dia mikirin bayi di saat kayak gini.
Dia gulingkan aku ke samping dan dia masuk dari belakangku. Dia letakkan tangannya di dadaku dan membuka bokongku dengan tangan satunya, dia masukkan 'senjatanya' perlahan dari belakang.
Aku rasakan dia masuk lebih dalam dan lebih dalam sampai aku dapat semuanya. Goyangannya makin cepat dan cepat.
'Evan!" teriakku saat aku mencapai klimaks ke awan sepuluh sekali lagi di kejantanannya.
'Kamu cantik banget, sayang. Aku nggak mau berhenti sama kamu," katanya dari belakangku.
'Jangan berhenti, sayang! Tolong jangan berhenti! Aku janji aku cinta kamu!" teriakku.
'Oh Jasmine!"
'Evan!"
'Jas...mine!"
'E.. Van!"
'Oh Jasmine!"
'Jasmine! Bangun, cepetan!" Aku dengar suaranya dari tempat lain selain dari belakangku.
Aku langsung duduk.
Ya ampun! Aku mimpi!
Evan bersandar di kusen pintu kamar, pakai setelan hitam keren dan sepatu kulit hitam yang serasi. Kemeja biru mudanya kasih sentuhan lembut ke setelan hitam dan seluruh penampilannya.
'Aku udah bilang bangun pagi karena aku mau bawa kamu ke dokter sebelum aku ke kantor," katanya, lalu dia pergi. Aku dengar pintu kamar ditutup di belakangnya.
Semoga dia nggak dengar aku panggil namanya di mimpi basahku!
Aku masuk ke kamar mandi dan mandi kilat terus sikat gigi. Aku keringkan badan setelah selesai, olesi lotion ke kulitku, dan pakai jeans longgar sama atasan yang nyaman. Aku sisir rambutku, pakai make-up tipis banget dan keluar kamar.
Aku ketemu Evan di ruang tamu. Dia lagi ngobrol sama salah satu pembantunya.
'Akhirnya," katanya saat aku jalan di sampingnya.
Aku diam aja dan ikut dia keluar ke mobilnya yang udah ada di depan.
Dia bukain pintu buat aku dan aku masuk. Dia masuk ke kursi pengemudi dan keluar gerbang depan yang besar.
'Jadi, gimana kabarmu?" tanyanya. Matanya fokus ke jalan.
'Aku baik."
'Mau cerita apa yang kamu mimpiin?" tanyanya dengan seringai lebar.
'Aku nggak mimpi apa-apa," bohongku.
'Kamu panggil namaku di mimpimu dan aku yakin kamu desah."
Sial! Dia lihat dan dengar aku!
'Mata kamu pasti salah lihat," tutupi aku.
Dia tertawa.
'Kamu mimpi basah tentang aku, Jasmine?" tanyanya, menghentikan mobil di lampu merah.
'Nggak!" mukaku merah.
Dia tertawa lagi.
'Aku benci kamu!"
'Tapi kamu nggak bilang gitu di mimpimu."
Aku nyungsep di kursi karena malu.
POV Evan
Dia merah di kursi mobil dan terus lihat ke luar jendela sepanjang perjalanan ke kantor OBGYN.
Setelah kasih tau orang tuaku berita tentang kehamilan, mama rekomendasiin dokter kandungan dan bilang dia bakal jitak aku kalau aku nggak nemenin Jasmine ke sana di hari pertama.
Aku udah berencana buat ada di sana buat dia kok.
Aku tarik mobil ke tempat parkir bangunan dua lantai yang rapi dengan jendela kaca gelap dan lingkungan luar yang alami. Aku langsung suka. Tempatnya juga privat jadi aku nggak khawatir wartawan datang.
Makasih, mama.
Aku buka pintu dan pegang tangan Jasmine saat dia keluar dan lihat sekeliling dengan takjub. Aku bawa dia ke pintu masuk dan dorong pintunya.
'Selamat pagi. Anda pasti keluarga Hollens," sapa seorang perawat dengan wajah tersenyum.
'Iya," jawabku tanpa koreksi.
'Dr. Matador akan segera menemui Anda. Silakan ikut saya ke ruangan."
Kami ikut dia menyusuri lorong dan masuk melalui pintu ganda.
'Silakan tunggu di sini," katanya sebelum meninggalkan kami.
Aku duduk di kursi di samping tempat tidur kecil dan buat diri aku nyaman. Ponselku bergetar di saku.
'Evan, boleh aku tanya sesuatu?" Suara Jasmine keluar pelan.
Aku lihat dia. Dia kelihatan takut dan nggak nyaman.
'Apa itu?" tanyaku, mengalihkan perhatianku kembali ke ponsel dan balas pesan teks Aria.
'Kita nggak pernah bahas tentang kita," katanya.
'Apa yang perlu dibahas, Jasmine? Kamu pergi ke jalanmu dan aku ke jalanku. Kamu sekarang hamil dengan bayiku, dan kamu mendingan berharap itu bayiku, jadi aku ada di sini buat anakku. Kalau itu nggak ada hubungannya sama bayi, aku nggak mau denger."