BAB 70
'Makasih, detektif," kataku sambil mengantar mereka keluar.
'Hai, sayang, apa kabar?" tanya Aria padaku saat dia masuk lewat pintu sejam kemudian.
Aku sedang bersiap-siap untuk menemui Jasmine di rumah sakit.
'Aku mau keluar," jawabku.
'Kemana?'
'Rumah sakit.'
'Kamu mau menemuinya lagi, Evan? Kamu udah kesana lebih dari seratus kali sejak dia masuk rumah sakit! Jadi kamu gak mau habiskan waktu sama aku hari ini, malah mau menemuinya?'
'Dengar, jangan mulai lagi, oke. Aku mau menemuinya dan ada buat anakku.'
'Anak yang mungkin bukan anakmu?!'
Darahku mendidih. Tinggal tunggu Aria aja buat ngerusak mood-ku dan nyebutin detail itu lagi di depan mukaku.
Tampa banyak omong, aku ambil kunci mobilku dan pergi. Aku gak mood buat debat sama dia tapi aku gak bisa singkirin pikiran itu dari kepalaku.
Gimana kalau dia bener dan dia bukan anakku?
Gimana cara aku nerimanya?
Aku sampai di rumah sakit dan berjalan ke arah Jasmine yang tersenyum.
'Kamu balik secepat ini?' tanyanya.
'Iya. Aku udah bilang bakal balik lagi dan aku bawain ini buat kamu. Kesukaanmu, sup ayam," kataku sambil nyerahin mangkuk berisi sup yang masih ngepul.
'Makasih," katanya dan mulai makan.
'Oh Evan, aku udah mikir kita harus mulai milih nama bayi walaupun kita gak tau jenis kelamin bayinya. Masih bisa seru sih milih nama cowok atau cewek. Gak gitu menurutmu?'
'Wah. Itu bahkan belum kepikiran sama sekali. Aku gak tau harus mulai dari mana," kataku sambil tertawa kecil dan dia ikut tertawa.
*Dua Bulan Kemudian*
Pov Jasmine
Aku lagi di taman bareng Emma Hollen- mamanya Evan. Dia sangat mendukung aku dan bayiku dan dia nyempetin waktu buat ada buat kita.
Kadang, kita pergi belanja atau makan siang di restoran, atau jalan-jalan keliling taman atau duduk di rumah dan nge-gosip cewek, seperti yang dia bilang. Dia wanita yang luar biasa dan aku suka dia.
'Hari di luar sangat indah," katanya saat kita duduk di bangku taman.
Fisher dan penjaga lain mondar-mandir di dekat kami.
'Iya," jawabku sambil tersenyum.
'Jadi Jasmine, kamu bilang ada sesuatu yang mau kamu omongin. Apa itu, sayang?' tanyanya dan nyerahin aku sebotol air buat ngilangin hausku.
Aku merasa bisa curhat ke dia dan bilang apa aja. Dia sangat membumi dan pengertian dan baik hati. Aku gak nyangka gimana anaknya bisa beda banget. Pasti dia nurun dari ayahnya.
'Apa kamu percaya Evan dan aku bakal balikan lagi setelah bayinya lahir?' tanyaku.
Aku masih cinta sama Evan. Dan aku gak bisa berhenti ngebayangin kita jadi keluarga yang solid setelah bayinya lahir. Aku gak mau co parent. Aku mau bayi dan aku punya hubungan yang stabil sama Evan aja. Aku gak bisa ngebayangin bercinta sama pria lain selain dia.
Emma menyisir rambut panjangnya, sama seperti yang dilakukan anaknya. Dia menghela napas dan berbalik ke arahku.
'Kamu masih cinta sama dia, kan?' tanyanya.
'Iya, aku cinta sama dia," jawabku jujur. Aku gak malu bilang itu dan gak akan pernah.
'Aku bisa lihat itu di matamu, Jasmine, tapi izinkan aku memberitahumu sesuatu tentang anakku.
Evan Hollen itu spesies yang benar-benar beda kalau soal wanita. Dia sulit ditebak dan gak bisa diprediksi tapi percayalah padaku ketika aku bilang dia mencintaimu dan cintanya masih ada buatmu tapi dia takut buat nunjukin betapa dia masih mencintaimu.
Aku gak akan menghakimi kenapa kamu lakuin itu, tapi kamu udah nyakitin dia di tempat yang belum pernah dia sakiti sebelumnya. Hatinya.
Tapi aku percaya waktu menyembuhkan segalanya dan apa aja mungkin terjadi.'
Aku menghela napas.
'Kalian bertiga bisa jadi keluarga lagi," tambahnya dan mengusap perutku dengan lembut dan main-main. Aku semakin besar setiap hari.
'Aku gak nyangka dia bakal sama Aria Goode selama ini," kataku sambil mengingat dia datang ke rumah besar tadi malam dengan dress paling ketat yang pernah aku lihat di seorang wanita.
'Aria cuma properti. Evan punya dia buat bantu hati yang hancur. Dengan kata lain, satu-satunya tujuannya adalah buat ngehentiin dia nerima kamu balik dan dia cuma bertindak sebagai pagar buat memisahkan kalian berdua. Aku gak percaya dia cinta sama dia.'
'Kenapa kamu bilang gitu, Emma?'
'Karena kamu. Dia bisa kasih tau aku ratusan alasan kalau kamu cuma tinggal sama dia karena bayi dan dia mau ngasihmu perlindungan dan polisi masih belum nyelesain kasus tentang penyerangmu.. Blah blah blah, tapi aku tau ada lebih dari itu.'
Senyum muncul di wajahku.
'Tapi serius Jasmine, kamu gak inget siapa yang nyerang kamu?' tanyanya sambil mengerutkan alisnya.